
Sore pukul empat, tatapan Kintano tertuju pada sebuah sudut pandang yang menarik diantara rerimbunan pohon tepi sungai. siapakah sosok perempuan itu?
terlihat cantik parasnya, rambut panjang yang terurai dengan potongan poni membuat penasaran Kintano untuk mendekatinya. dengan perlahan ia mendekat kepada tujuan , dan dengan percaya diri Kintano mulai merapatkan jarak, mengharap wanita yang ditujunya yang sedang asik duduk disudut tepi sungai itu tidak pergi dari pandangannya.
" maaf, bolehkah aku berkenalan denganmu?" ucap Kintano dengan percaya dirinya. perempuan itu tak menggubrisnya, ia hanya menatap Kintano sesaat lalu bergeser ke tepian bagian yang lain. Rasa penasaran Kintano membuat semangatnya bergelora untuk mengetahui gadis yang ada dihadapannya.
kedua kalinya, ketiga kalinya, keempat kalinya, bahkan sampai yang kesembilan kalinya , usaha Kintano hanya mendapatkan raut wajah yang sinis, dingin dari gadis yang ingin dikenalnya .
"aneh benar wanita ini...liar dan menarik" gumamnya dalam hati.
"ah,aku coba sekali lagi...bila yang terakhir ini, dia tidak merespon ya tak apalah ,berarti bukan rejekiku kali ini berkenalan dengan wanita cantik ini " ucap Kintano dalam hati.
diamnya wanita itu ternyata sedang mengamati gerak gerik Kintano yang masih berupaya mendekatinya.
Kintano mulai terobsesi dengan wanita yang bersikap dingin, dan cuek itu.
Perlahan namun pasti usaha kali ini mendapat respon meskipun hanya sebuah gerakan isyarat tubuh yang mempersilahkan Kintano duduk di hadapannya,disebuah kursi taman yang ada ditepian sungai.
"aku Kintano, "ucap Kintano sambil mengulurkan tangannya. Namun uluran tangan Kintano tak mendapat respon.
__ADS_1
" boleh aku berkenalan denganmu?"
wanita yang ada dihadapannya hanya menatap sesaat dan mengangguk dua kali.
"aneh,dia tak bicara sedikitpun, apakah dia bisu? " ucap Kintano dalam hati.
"siapa namamu?"
sepertinya masih belum mendapat respon dari wanita yang ada dihadapannya itu. Gadis dengan paras cantiknya itu,berdiri sejenak menatap Kintano, lalu pergi sesaat mencari sesuatu disekitar pepohonan yang rimbun, kemudian ia kembali menghampiri Kintano dengan membawa sebuah patahan ranting kayu yang didapatnya, dan sejurus kemudian ia menulis di tanah yang tidak ada rumputnya. Kintano mulai mengamati tulisan yang sedang ditulis gadis itu.
" CLAUDYRIA" demikianlah tulisan yang tergores ditanah itu tertera.
" Kamu sedang diperhadapkan dengan suatu keputusan yang sulit untuk kau jawab"
Gadis itu kembali menulis di tanah,
" Kamu harus memilih diantara dua?"
" Kamu sesungguhnya lelaki yang baik, dan bertanggung jawab."
__ADS_1
" Cintamu akan penuh liku "
Kintano semakin keheranan , mengapa gadis yang baru ia dekati dan baru berusaha mengenalnya itu tau banyak tentang apa yang ada dalam hatinya.? siapakah gadis ini?
" Sebenarnya kamu siapa? kamu tau tentang aku banyak hal...?" Kintano memberanikan diri bertanya pada sosok gadis misterius itu.
Gadis itu kembali menulis, :
" Mulai hari ini, kamu akan mengejar hasrat dan perasaanmu yang baru..."
" Maksudmu ...?" timpal Kintano pada gadis yang mengaku namanya Claudyria.
ia berdiri menatap Kintano untuk beberapa saat lamanya dan selanjutnya ia meninggalkan Kintano yang masih terdiam keheranan.
" hei, tunggu...." ucap Kintano, namun gadis itu berlari dan menjauh dari pandangan Kintano. Kintano berusaha berlari mengejarnya, namun ia tak berhasil menemukan gadis yang baru saja ia kenal.
Aneh memang gadis ini, larinya kuat, apakah ia juga memiliki kekuatan supranatural? . Kintano terengah-engah kecapaian berlari mengejar sosok gadis yang baru saja ia kenal. Mengapa ia tak mau bicara, apakah dia bisu...? apakah benar namanya CLAUDYRIA? dan mengapa ia mengetahui kegundah gulanaan hatiku belakangan ini?
ah, ada apa dengan diriku...kenapa aku tertegun dan membiarkan dia pergi begitu saja...?siapakah sejatinya gadis cantik berkulit putih dengan rambut panjang sebahu itu? kurang beruntungkah aku? gumam Kintano dalam hatinya, sambil keheranan dan penuh tanya dan berharap dapat bertemunya kembali.
__ADS_1
Ini memang pertemuan dan perkenalan yang aneh, "ah sudahlah..." sejurus kemudian Kintano tancap gas dengan motornya, dengan sejuta pertanyaan yang masih beredar diotaknya.