
Bukti awal rekaman telah diperoleh Kintano sebagai barang bukti, namun setidaknya ia harus menemukan satu alat bukti sebagai bahan laporan untuk kepolisian.
Seharusnya Angel lah yang bisa jadi alat bukti akibat perbuatannya, namun dengan kondisi seperti ini apa mungkin Angel dapat mengingat dan menyatakan dengan benar bahwa Steve lah pelakunya.
Percuma saja jika kurang alat bukti, pelaku pasti bisa mengelak dengan berbagai alasannya pikir Kintano.
" Maaf Angel, apakah kamu bisa mengingat orang ini? " tanya Kintano sambil menunjukan bukti foto yang sudah diprint.
Angel mencoba mengingatnya, ia tak dapat mengingatnya.
" Aku ga tau..."
" Emangnya siapa dia?" Tanya Angel lebih lanjut.
" Steve...apa kamu ingat dengan nama Steve?"
" Ga, yang ku tahu lelaki yang ku kenal cuma kamu Kintano. "
" Apakah aku punya banyak teman memangnya?"
" Iya, kamu punya banyak teman sebelum kecelakaan menimpamu" jelas Kintano.
" Percayalah pada saatnya nanti, kamu mengingatnya. "
Kintano berusaha mencari cara lain untuk mengumpulkan bukti - bukti lainnya.
Mungkin ada baiknya aku meminta Stevan membantuku, karena dia kan orang dalam di perusahaan Angel, sebelum Angel resign.
Kintano menelpon Stevan, janji ketemuan di sebuah cafe untuk membicarakannya pada Stevan.
Pada waktu yang ditentukan , Stevan pun datang menemui Kintano. Kintano menjelaskan perihalnya pada Stevan panjang lebar. dan akhirnya Stevan mau bantu Kintano .
Stevan mulai atur strategi untuk mencari cara agar bisa mendapatkan bukti tambahan dari Steve.
Kesempatan emas bagi Stevan ,ketika ia dipanggil keruangan Steve. Ia menggunakan kamera tersembunyi berbentuk pulpen, untuk merekam setiap pembicaraan Steve, namun kali itu ia gagal, karena Steve hanya membicarakan kebutuhan anggaran bagian IT perusahaan saja.
Hari berikutnya, Stevan memasang kamera pengintai dan penyadap suara dimeja kerja Steve. Sebelum menaruhnya diruangan Steve ia terlebih dahulu memblur CCTV diruangan Steve, melalui ruang kontrol CCTV perusahaan itu.
Stevan stanby diruang kontrol CCTV.
Steve masuk ke ruang kerjanya, terlihat jelas di CCTV. Setiap gerakan Steve dapat diamati dengan jelas oleh Stevan.
__ADS_1
Dilihatnya dari ruang kontrol itu, Steve sedang menelpon seseorang. Selanjutnya Stevan mengontrol dan mengarahkan alat rekam yang sudah di taruh ditempat tersembunyi itu ke arah Steve yang sedang ngobrol.
.................suara Steve masih belum terdengar jernih.
....aku........suara Steve masih belum terdengar jernih. Stevan mencoba memperbaiki kembali audio penyadap suaranya.
" Jangan kamu bocorkan pada siapapun tentang apa yang pernah kulakukan pada Angel, paham..."
Suara pembicaraan Steve kali ini dapat terdengar jelas oleh Stevan.
" Kalau sampai suami Angel tahu bahwa aku penyebabnya, maka aku tak segan - segan membunuhmu !"
Stevan terkejut mendengar ancaman Steve pada lawan bicaranya. Namun Stevan masih bingung dengan siapa lawan bicaranya itu?
Ah, sudahlah tak penting aku tahu siapa lawan bicaranya. Yang terpenting disini aku sudah dapat bukti tambahan buat pak Kintano atas apa yang diperbuat Steve pada istrinya. pikir Stevan saat itu.
" Ya , aku akan penuhi yang kau minta. "
Terdengar kembali oleh Stevan pembicaraan Steve yang telah tersadap itu.
" Ok, berapa yang kau mau?"
" Ok, 50 juta. Pulang kerja aku kasih."
" Ga bakalan aku keluarkan dari kantongku uang sebanyak itu."
" Nah, aku gunakan saja uang kantor "
Suara Steve masih terdengar dengan jelas dari ruang kontrol.
Terlihat kemudian Steve keluar dari ruangannya , ia menuju ke Susi bendahara perusahaan, namun Stevan tak bisa mendengar pembicaraan mereka hanya gambar saja. karena tak terpasang alat sadap di ruang Susi. Namun nampaknya Bu Susi terlihat membuka lemari brankasnya dan mengambil setumpukan uang dan menyerahkannya pada Steve.
Wah ini sekaligus akan membongkar kejahatanmu di kantor ini Steve. gumam Stevan yang terus memantau Steve dari ruang kendali CCTV.
Cukup sudah barbuk ini untuk kuperlihatkan pada pak Kintano, agar semuanya terungkap dan sekaligus memberikan pelajaran bagi pak Steve.
Sebentar, kemana Steve? nampaknya ia keluar dari kantor. Apakah ia mengantarkan uang yang dimaksud dalam pembicaraan tadi ya? sebaiknya aku ikuti saja,kemana pak Steve pergi untuk menambahkan bukti - bukti.
Stevan menghubungi Kintano, memberikan kabar perihal Steve, sambil terus membuntuti Steve .
Lokasi yang dishare oleh Stevan memudahkan Kintano menemuinya, dan Kintano memutuskan untuk satu mobil dengan Stevan.
__ADS_1
" Ok, sekarang Steve dimana?" tanya Kintano didalam mobil Stevan. Stevan kemudian menunjukan arah ke sebuah apartemen yang ada dihadapannya itu.
" apa rencana pak Kintano sekarang. ? " tanya Stevan.
Selanjutnya Kintano memberikan penjelasan sebentar, dan mereka berdua keluar dari mobil dengan kamera intai yang sudah dipasang diantara baju mereka masing - masing.
" Lihat, itu Steve.." ucap Stevan pada Kintano sambil menunjuk ke arah sebuah loby apartemen itu.
" Oke , kita amati sedekat mungkin. Jika dia sudah menyetorkan sejumlah uang baru kita gerebek" ucap Kintano pada Stevan.
Bukankah itu Kania? karyawan yang sering diisukan selingkuh dengan pak Steve di kantor? gumam Stevan dalam hatinya.
Stevan dan Kintano terus mengamati pergerakan mereka dengan terus mengarahkan kamera pengintainya ke arah mereka berdua, hingga pada saat yang tepat sesuai aba - aba Kintano ketika Steve mulai melakukan transaksi keuangannya pada wanita dihadapannya itu.
Kintano kemudian melakukan penangkapan kepada Steve, sementara Stevan menangkap Kania yang tak lain adalah kawan sekantornya juga.
" Hei apa - apaan ini??" bentak Steve.
" Kamu ga usah banyak omong, sudah jelas terbukti semuanya. kamu jelaskan saja nanti di kantor polisi paham !" jelas Kintano.
" Semua kedokmu sudah terbongkar. "
" Kamu juga penyebab istriku sampai mengalami kecelakaan, paham " emosi Kintano memuncak, dan ia menghantamkan sebuah bogem mentah ke perut Steve. Steve pen merintih kesakitan, ia melakukan perlawanan terhadap Kintano.
Baku hantam pun tak bisa dihindari antara Steve dan Kintano.
Steve lebih sering menerima pukulan Kintano, sehingga Steve pun terjatuh. mulutnya mengeluarkan darah segar akibat pukulan Kintano, yang juga mahir bela diri itu.
" Rasakan itu Steve, kamu sudah buat istriku Amnesia dan lumpuh. " ucap Kintano dengan memberikan pukulan keras kembali ke arah pipi Steve.
" Ampun...ampun...maafkan aku ...maafkan aku..." ucap Steve memelas pada Kintano.
" kamu jelaskan saja semua di kantor polisi nanti " ucap Kintano yang selanjutnya menghubungi kantor polisi.
" Aku salah...aku salah...tapi jangan kau suruh polisi tangkap aku."
" Tidak, kamu memang ******** Steve....kamu layak masuk bui ! " ucap Kintano.
" Ya , pak Steve harus bertanggung jawab semua atas perbuatannya. Baik perbuatan dengan bu Angel ataupun dengan keuangan kantor ! " ucap Stevan menimpali.
15 menit kemudian beberapa petugas kepolisian datang ke TKP.
__ADS_1
Kintano memberikan keterangan kepada pihak kepolisian, dan memberikan dua alat bukti untuk menjadikan Steve tersangka.
Steve selanjutnya dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Berdasarkan alat bukti yang ada, Steve tidak bisa mengelak lagi , ia mengakui semua apa yang pernah dilakukannya terhadap Angel dan penggelapan keuangan kantor. Kini pupuslah sudah hasrat yang dimimpikan Steve, ia harus kehilangan semua impiannya termasuk karirnya, karena sekarang ia menjadi tersangka.