
Zain dinas ke Semarang hanya sehari. Berangkat pagi pulang petang. Sepulangnya Zain dari Semarang, Fika sakit demam, tubuhnya menggigil kedinginan. Fika juga muntah-muntah. Badannyab terasa lemas.
Fika tak mau dibawa ke klinik ataupun diperiksa oleh dokter. Tapi dia hanya meminta obat penurun panas. Kebetulan stok dirumah juga tak ada obat penurun panas. Zain dengan segera pergi ke apotek. Jam menunjukan pukul 23.00 WIB. Apotek paling dekat rumah sudah tutup.
Zain berkeliling, mencari apotek yang buka.Hatinya juga tak tenang meninggalkan Fika sendri. Akhirnya Zain menemukan apotek Kimora Farma yang buka selama 24 jam. Akhirnya Zain memutuskan membeli penurun panas di tempat tersebut. Dia juga membeli vitamin.
Ketika ingin membayar ke kasir, Zain mengenali orang tersebut. "Monita?" Panggil Zain.
"Hai Zain, lama tak jumpa, Apa Kabarmu?" Tanya Monita.
"Baik.."Jawab Zain.
Monita adalah teman SMA Zain. Zain mengagumi Monita saat dia masih bersekolah SMA. Ya...mukanya mirip sekali dengan Fika istrinya.
"Untuk siapa obatnya?"Tanya Monita lagi.
__ADS_1
"Untuk Istriku."
"Sudah menikah?Aku tak diundang?" Tanya monita untuk kesekian kali.
Zain hanya tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan Apotek untuk segera pulang.
Monita adalah seorang janda, apotek tersebut adalah miliknya. Kebetulan malam itu dia sedang mengecek apoteknya dan ia menggantikan kasirnya yang sedang ke toilet.
Sebenarnya saat SMA juga dia menaruh hati pada Zain. Begitu pula Zain. Tapi Zain tak pernah mengungkapkan karena fokus dengan sekolahnya. Begitupun Monita, dia hanya memendamnya.
Selama ini mereka hanya berhubungan lewat sosial media. Itupun sangat jarang sekali, hanya say hello.
Ketika Zain sampai dirumah, langsung saja dia membantu istrinya untuk minum obat dan vitamin. Setelah istrinya minum obat, Zain membantunya untuk istirahat kembali.
Tak lama Fika tertidur karena efek obat yang ia minum. Zain tidur di sebelah Fika. Dia agak membutuhkan waktu untuk terlelap, karena dia membayangkan kembali pertemuannya dengan Monita tadi.
__ADS_1
Ketika Zain telah terlelap, Fika terbangun karena ingin minum. Fika mendengar suaminya mengigau. Namun saat mengigau Zain menyebut nama seseorang dan Fika mendengarnya. "Monita...Mon...Mon." Itulah nama yang didengar oleh Fika.
Seketika hatinya merasa sakit. Saat Fika meletakan kembali gelas ke atas meja dekat tempat tidur, ia menjatuhkan obatnya. Fika melihat ada juga kertas yang terjatuh.Dia melihat ada sebuah kartu nama yang bertuliskan nama, nama yang sama telah dipanggil suaminya saat dalam keadaan tertidur.
"Kamu selingkuh mas?" gejolak hati Fika berucap dalam hati. Dia menangis semalam. Merasa sakit, merasa dikecewakan.
Zain sama sekali tak tahu ada kartu nama di kantong pembelian obat.
Keesokan harinya ketika Zain terbangun, Fika sudah duduk termenung semalaman ditepian ranjang. Dikecup kening tak respon, dikecup bibir tak respon. Zain merasa bingung menghadapi sikap istrinya. Fika masih lemas, ditambah lagi mendengar suaminya mengigau menyebut nama perempuan lain, membuat sekujur tubuhnya terasa sakit.
Kenapa sayang.?"Tanya Zain, Fika pun tak menjawab. Masih terdiam. Zainpun bergegas ke kamar mandi."
Setelah usai mandi dia membuatkan sarapan untuk Fika dan dirinya.
Zain membuatkan teh hangat dan roti isi untuk Fika. Dia membawa sarapannya ke kamar dan menyuapi Fika makan. Pagi ini demamnya telah turun, hanya matanya saja yang bengkak karena menangis semalaman.
__ADS_1