
Kereta yang ditumpangi Fika mulai berlaju cepat.
Fika merasa sangat lelah, sehingga menyandarkan badanya dikursi dan memakai selimut.Sementara di lokomotif Zain dan Arga fokus untuk menyetir kereta, sambil sesekali memakan, bakpia yang diberikan Fika tadi.
"Lumayan ni, mumpung gratisan," oceh arga.
"Ya kamu mah maunya yang gratisan," balas Zain.
"Fika cantik Zain, kalau kamu gak gerak cepat biar aq yang embat..hahaha," ucap Arga membuka pembicaraan tentang Fika.
"Eh dasar playboy buaya darat, siapa aja diembat," sahut Zain.
Mereka mengobrol sepanjang jalan pulang dan sambil memakan camilan untuk menghindari mengantuk. Di lokomotif hanya dilarang memainkan Hp dan merokok, kalau hanya sekedar mengobrol dan makan diperbolehkan, asal bisa tetap fokus dengan perjalanan.
__ADS_1
Di kursi penumpang, Fika duduk dengan ibu-ibu yang sangat cerewet.Padahal Fika berniat untuk tidur selama perjalanan. Namun ibu Dian, penumpang disebelahnya selalu mengajak ngobrol. Menanyakan Fika dari mana, mau kemana, orang mana,keluarganya dan sebagainya. Fika sangat males meladeninya, hingga muncul satu pertanyaan dari ibu Dian, "Sudah punya pacar atau sudah menikah?".
Deg, hati Fika terkaget mendengar petanyaan itu, karena Fika belum punya pacar ataupun suami. Tapi memang sudah waktunya dia untuk memikirkan itu, karena di umurnya yang 24 tahun banyak teman-temannya yang sudah menikah dan punya anak. Akhirnya Fika dengan seenaknya menjawab,"saya sudah punya pacar bu Dian, kebetulan pacar saya sedang nyetir kreta yang kita tumpangi".
"Owh, pacar mba Fika masinis, hebat mba". tanggapan bu Dian pada Fika.
"Iya bu, alhamdulillah." Fika tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dalam hati bilang, "bisa-bisanya ngaku gitu ya".
Setelah pembicaraan itu akhirnya bu Dian tidak bertanya lagi pada fika, membuat Fika sedikit lega akhirnya bisa memejamkan matanya. Bu dian pun tertidur pulas disebelah Fika. Malam semakin larut dan AC di kereta pada mode yang sangat dingin, Fika merasa kedinginan sehingga tidurnya tidak begitu nyaman.
Zain yang keluar dari kantor melihat Fika, sudah agak lama Arga mengamati Fika dari kejauhan. "Mungkin dia menunggu jemputan," ucap Zain dalam hati.
Sebelum Fika menuju ke pangkalan taksi di sekitar stasiun, Zain sudah mendekat dibelakang Fika dan memanggilnya, "Fika....sedang nunggu jemputan?" Iya ni mas, tp sepertinya tidak ada yang jemput,mau naik taksi aja", jawab Fika.
__ADS_1
"Ikut mobilku aja, biar aku yang antar", tawar Zain.
"Aduh ngga enak mas, ngrepotin Mas Zain terus sejak berangkat". Fika menanggapi.
Akhirnya dengan terpaksa dan juga merasa terbantu Fika ikut naik mobil Zain. Zain mengantar Fika pulang. Rumah Fika tak jauh dari stasiun, hanya sekitar 15 menit. Ternyata Fika satu perumahan dengan rumah Zain, sama-sama tinggal di perumahan Madani Estate, hanya berbeda blok saja. Rumah Zain di blok 5 sedangkan rumah orang tua Fika di blok 14.
"Wah ternyata kita sekomplek ya, bisa sering-sering main ni"bilang Zain.
"Iya mas, sekomplek kok g tau ya". Fika menanggapi.
"Aku jarang dirumah si, kalaupun dirumah buat istirahat dan tidur saja". Jawab Zain.
Mereka sudah sampai di rumah orang tua Fika.Fika masuk ke rumah tanpa memberi tawaran Zain untuk masuk, tak lupa mengucapkan terimakasih. Zain Sadar ini sudah hampir tengah malam, tak nyaman jika dilihat tetangga.
__ADS_1
Kemudian Zain pulang menuju rumahnya. Sampai dirumah Zain langsung membersihkan badannya dengan mandi air hangat, dan segera istirahat tidur seusai mandi.