
Setelah Zain memperkenalkan diri pada Ayah Fika kemudian mereka mengobrol satu sama lain. Ayah ibu Fika sangat senang Zain main kerumah. Hingga tiba-tiba Zain meminta ijin ke orang tua Fika bahwa minggu depan ingin mengajak Fika main kerumah orangtuanya Zain. Zain juga mengutarakan ingin melamar Fika.
"Secepat itu mas? Ini baru pertemuan ketiga kita loh,kita belum saling mengenal. Bagaimana mas yakin dengan aku?" Tanya Fika dengan kebingungannya.
"Mas yakin sejak kita pertama bertemu dengan Fika, seiring berjalannya waktu kita pasti bisa saling mengenal." Sahut Zain
"Kalau saya setuju saja Fika main ke rumah orangtua Zain."Respon Ayah Fika. Sambil tersenyum dengan ibunya Fika karena merasa bahagia Fika akhirnya ada yang melamar, meskipun selum secara resmi.
Hari sudah larut malam. Zain pamit pulang. Tak lupa Fika mengantar Zain Keluar. Zain masuk mobil dan melambaikan tangan pada Fika sebagai salam perpisahan. Fika membalas dengan malu-malu.
Sampai di rumah, Zain merebahkan langsung badannya diatas kasur. Dia merasa hari ini telah lari maraton kejar target mencari cari istri.
******
Seminggu telah berlalu, dengan segala kesibukan Zain yang padat jadwal dinas pulang pergi luar kota. Hari ini waktunya Fika pergi ke rumah orang tua Zain.
Zain menjemput Fika ke rumahnya. Fika sudah siap dijemput oleh Zain, dia menunggu dari teras rumahnya. Setelah Zain sampe ke rumah Fika,Fika bergegas menaiki mobil Zain. Mereka berdua pergi ke rumah orang tua Zain yang jarak tempuhnya lumayan jauh, butuh waktu sekitar satu jam.
__ADS_1
Didalam mobil Zain Fokus menyetir dan Fika bermain hp mengakses sosial media.
Zain memulai perbincangannya, "baju kita senada, padahal ngga janjian ya." mereka memakai baju dengan warna sama, warna Navy.
"Oia ini mas." Jawab Fika.
"Sehati kita," sahut Zain.
"Hehehe..." Fika hanya tersenyum.
Ditengah perjalanan Fika mengajak Zain untuk mampir ke toko buah. Membeli beberapa jenis buah, sebagai buah tangan untuk orang tua Zain. Zain merasa tersentuh Fika melaksan itu tanpa disuruh. Zain semakin yakin dengan Fika dan ingin segera menikahinya.
ibu dan Ayah Zain menyambut dengan begitu ramah dan penuh kehangatan. Merasa bahagia calon menantu yang dinantinya sudah datang.
Fika memberi salam pada Ayah ibu Zain dan memberikan buah tangam yang sudah dibeli tadi.
"Cantik." Ucap Ibu Zain
__ADS_1
"Pinter pilihnya nak." Sahut ayah Zain.
Fika mudah sekali membaur dengan ayah dan Ibu Zain. Walaupun merasa sangat gugup.
Zain kedapur membuatkan minum untuk Fika, ayah dan ibu. Zain terbiasa hidup sendri, jadi untuk membuat minum teh atau kopi dia sudah ahli.Tak lama Zain membuat minuman, dan segera membawa ke ruang tamu.
"Teh untuk Fika dan Ibu, kopi untuk aku dan ayah." Ucap Zain.
"Jadi kapan kamu akan melamar Fika secara resmi Zain." Tanya ibu Zain.
Deg..Fika dan Zain kaget.
"InsyaAlloh dua minggu lagi bu."Jawab Zain
"Secepat itu, seperti lg dikejar-kejar hantu." Ucap Fika dalam hati dan sambil memperlihatkan ekspresi senyum.
"Nanti akan ibu bantu persiapannya." Sahut Siti ibunya Zain."
__ADS_1
Hari menjelang sore. Fika dan Zain bergegas untuk pamit pulang. Hampir seharian mereka dirumah orangtua Zain. Ngobrol, makan bersama, solat dzuhur berjamaah dan nonton TV bersama.