
Sepulang dari rumah orang tua Zain, Fika diantar pulang sampai rumah. Hari itu hari yang cukup menyenangkan sekaligus mendebarkan untuk Fika dan Zain.
"Terimakasih Fika." Ucap Zain
"__".Fika hanya membalas dengan senyuman yang sangat manis.
"Sampai jumpa lagi." Lanjut Zain.
Fika keluar dari mobil dan melambaikan tangan. Zain berlalu meninggalkan Fika.Fika masuk ke rumah dengan senyum-senyum sendiri mengingat kejadian hari ini, begitu pula Zain yang senyum-senyum sendiri di mobilnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak menyangka secepat ini merasa jatuh cinta.
__ADS_1
*******
Keesokan harinya ibu Siti,ibunya Zain mengajak Malika untuk menemani berbelanja keperluan Zain lamaran. Ibu Siti sangat antusias akan hal ini, mulai dari pergi ke toko emas membeli perhiasan, memesan makanan, buah-buahan dan baju untuk FIka saat lamaran.
Ibu Zain mengirimkan pesan ke Zain,"Ibu sedang berbelanja dengan Malika untuk keperluan lamaranmu, untuk cincin kamu pilih sendiri dengan Fika ya".
Zain membaca pesan dari ibunya dan membalas, "Ya bu."
Di stasiun Zain akan segera menyetir ke Cirebon. Sebelum keberangkatan dan mematikan ponselnya dia menyempatkan untuk mengirim pesan ke Fika. "Insyaalloh minggu depan aku ajak kamu untuk memilih cincin pertunangan kita,saat ini aku akan jalan ke Cirebon." Setelah mengirim pesan ke Fika kemudian Zain mematikan ponselnya. Saat memyetir seorang masinis tidak diperbolehkan mengaktifkan ponsel.
__ADS_1
Fika yang sedang mengajar di kampus, menyempatkan mengintip pesan yang dikirim Zain, hanya mengintip notif tanpa membaca secara keseluruhan. Fika tersipu malu membaca pesan dari Zain. Antara tersenyum tersipu malu sambil mengajar, begitulah ekspresinya. Selesai mengajar Fika baru bisa membalas pesan dari Zain. "Baik mas".
Namun pesan yg terkirim masih centang satu, menandakan ponsel Zain tidak aktif. Tidak masalah untuk Fika, dalam hati berbicara, " mungkin masih dalam perjalanan." Selesai mengajar Fika menuju kantor dosen, selama jeda jam ngajar untuk istirahat.
Sesampainya di Cirebon, dan setelah selesai laporan, seperti biasa Zain menuju ke mes masinis. Setelah itu Zain bergegas mengganti pakaian dan membersihkan diri. Selesai urusan pribadi baru mengaktifkan hp. Zain menerima pesan balasan dari Fika, namum tak mbalasnya kembali. Terkesan cuek, tp sebenarnya Zain bingung mau menanyakan apa lagi.
********
Seminggu berlalu, Zain dan Fika sudah di toko emas. Zain menyerahkan urusan pilih cincin sesui keinginan Fika.Yang penting Fika suka dan nyaman di pakai. Untuk Zain, tidak membeli cincin, karena dia tau kalau seorang laki-laki tak boleh memakai emas. Zain memang bukan lulusan pondok pesantren, tapi termasuk laki-laki yang selalu ingin belajar ilmu agama dan memperbaiki diri. <“Emas dan Sutra diharamkan bagi orang-orang muslim (laki-laki).” (HR Ahmad)>
__ADS_1
Tak begitu lama Fika memilih cincin, Fika memilih cincin dengan kadar emas 18 Karat dan berat 3 gram lebih sedikit. Setelah menghitung berat dan harga, pelayan toko menyebutkan harga cincin tersebut ke Fika.Fika menunjukan ke Zain cincin dan harganya. Namun Zain baru sadar ternyata tidak membawa uang cash sebanyak itu untuk membayar cincin. Akhirnya membayar dengan kartu debit. Bukan kartu kredit, karena Zain paling anti menggunakan kartu kredit, bukan pelit, namun tak mau berhutang dengan hal seperti itu.
Setelah transaksi pembayaran, pelayan membungkus cincin tersebut. Selesai memilih cincin, mereka berdua pergi ke kedai Ramen dekat toko perhiasan tersebut, untuk makan siang.