
Aerilyn sangat kaku saat berada dalam keramaian seperti ini,
ia yang selalu berkutat dengan bisnis tidak terlalu memperhatikan dunia luar, karena baginya itu semua tidaklah penting.
"kamu kenapa?"tanya sisi.
"aku sedikit tidak nyaman dengan tatapan mereka semua!"ujarnya dengan wajah datar.
"seorang yang berkecimpung dalam duni bisnis,masa takut pada keramaian"ejek alien.
"mana mungkin...! tapi mereka masih terlalu ingusan"remeh Aerilyn.
tiba-tiba suara riuh terdengar,
"Raffa, Raffa, Raffa,"teriak mereka.
"ini yang di tunggu-tunggu"celetuk kedua sahabatnya.
sedangkan Aerilyn hanya diam mengamati, dengan wajah biasa saja tanpa ekspresi.
saat itu Raffa muncul melangkahkan kaki jenjangnya dengan senyum yang selalu mengembang.
"dasar aneh"cicit Aerilyn.
ketika Raffa hendak melewatinya,ia tiba-tiba berhenti tepat di depan Aerilyn.
"apa kita pernah bertemu nona?"tanyanya dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Cehhhkkk anak ingusan"ucap Aerilyn pelan,tapi masih dapat di dengar oleh seorang Raffa.
"me-na-rik"Raffa menjentikkan jarinya.
"sampai bertemu lagi nona, semoga kau adalah jodohku"ucapnya agak keras karena Aerilyn sudah sedikit menjauh.
menurut para fansnya itu adalah rayuan maut seorang Raffa, yang bisa membuat mereka meleleh.
lampu di ruangan itu mulai padam, pertanda bahwa filmnya akan segera di mulai,
tanpa Aerilyn sadari kedua sahabatnya sudah duduk berdekatan dengan kekasih mereka masing-masing,
"dasar menyebalkan"keluhnya.
ia mengutuk dirinya sendiri mengapa bisa-bisa ia mau mengikuti keinginan kedua sahabatnya yang tidak sama sekali setia kawan, bisa-bisanya ia hanya jadi obat nyamuk,kan gak afdol.
mana film yang mereka tonton film anak muda jaman sekarang.
__ADS_1
sebisa mungkin ia mencoba menikmati film tersebut, tanpa ia ketahui ada sepasang nak mata yang selalu memperhatikannya didalam kegelapan.
"begitu cantik..."ucapnya.
"wow...!ada apa gerangan seorang Raffa tiba-tiba bisa memuji seseorang"timpal temannya.
"ini menantang kawan,jelas berbeda dari yang lainnya"serunya.
teman-temannya hanya menggeleng mendengar semua ocehannya.
beberapa jam berlalu, saat ini merek sudah dalam perjalanan pulang,ia mencaci maki kedua sahabatnya, meluapkan segala amarahnya yang sejak tadi ia pendam.
"mulai detik ini kali bukan sahabat ku lagi, kalian di larang keras datang ke rumah ku"teriaknya.
"loh kok gitu! kita kan gak salah apa-apa!"timpal sisi.
"gak sala bagaimananya, bisa-bisa kalian meninggalkan ku sendiri lebih memilih pacar emberan kalian itu"celetuknya.
"hehehe,itu mah kamu yang salah,siap suruh tidak punya pacar"timpal alien.
cittttt...
suara rem mobil yang di Kendarai Aerilyn,
sisi dan alien hanya bisa menuruti keinginan Aerilyn,
mereka menyadari kalau Aerilyn benar-benar marah.
"kamu si, pakai undangan mereka segala"protes Sisil.
"kok gue"timpal alien.
"sudahlah sekarang aku telpon supir pribadi papa, sudah terlalu larut gak mungkin ada taksi"Sisi meraih ponsel genggamnya.
"tunggu dulu, telpon Farhat saja, mungkin mereka belum terlalu jauh"saran alien.
"oh iyaa ya,,"
Tut tut tut
"halo sayang,bisa jemput kita gak, Aerilyn marah sama kita,ia menurunkan kami di jalan,entar aku Sherlock lokasinya oke"sisil memutuskan panggilnya.
sedangkan Aerilyn sedikit tidak menyesali perbuatannya pada kedua sahabatnya,ia tau mereka juga bukan orang biasa,tidak akan terlantar begitu saja.
setibanya di kediamannya, Aerilyn melihat sang ayah yang belum tidur,
__ADS_1
"ayah kenapa??"tanyanya sedikit mendekati pria paruh baya itu.
"entah ayah tidak tahu, akhir-akhir ini ayah selalu mencemaskan mu"timpal sang ayah dengan wajah serius.
"yah... Ayin sudah dewasa, Aerilyn tahu apa yang terbaik untuk Ayin,jadi ayah tidak perlu mencemaskan Ayin,"ujarnya sembari bersandar kepada ke bahu damar.
"ayah akan tenang bila sudah ada yang menjagamu"damar melihat wajah cantik putrinya.
"Ayin bisa jaga diri sendiri ayah"cicitnya.
"tetap saja ayah tidak tenang!"tatapnya nanar pada Aerilyn, yang menurutnya keras kepala.
"ayah harus banyak-banyak istirahat,jangan lupa minum obatnya"ucapnya mengalihkan pembicaraan.
damar mau tak mau mengalah, dengan sifat keras kepala putrinya,toh ia juga gak mungkin menang,
setelah mengantar ayahnya untuk istirahat, Aerilyn langsung bergegas ke kamarnya.
ia langsung mengganti pakaiannya yang sedari tadi membuat ia tak nyaman.
pagi harinya.
mobil sport dengan warna hitam mengkilap itu sudah berada di tengah keramaian jalan raya,
Aerilyn dengan anggun mengemudikan mobil kesayangannya tersebut.
"ahhhh"desisnya saat mobilnya terjebak macet.
"bisa-bisa sepagi ini jalanan sudah ramai"keluhan.
saat ia menoleh kesamping ia melihat seorang laki-laki yang familiar menurut pemikirannya,
namun ia segera menepisnya.
ia tidak begitu suka mengurusi urusan orang lain,apa lagi saat ini, laki-laki tersebut, membonceng seorang wanita cantik dan seksi,
tanpa rasa malu ia memeluk Raffa dengan sangat erat, namun pemandangan tersebut membuat ia sedikit tak nyaman, menurutnya pemandangan tersebut sama saja dengan menodai matanya
Aerilyn segera menurunkan kaca mobilnya,
namun kacamata hitamnya masih melekat sempurna di hidung mancungnya, namun tidak menutup sedikit pun kecantikan seorang Aerilyn.
Raffa yang tak sengaja melihatnya begitu tercengang, rupanya pemilik mobil sport yang ada di sampingnya, adalah wanita yang pernah bertemu dengannya.
BERSAMBUNG.......
__ADS_1