
sosok tenang tersebut terlihat dengan jelas tanpa penghalang,gemerlap lampu kota sebagai penerangan menambah kesan tanpanya seorang ketua geng tersebut.
"santai dulu kawan,jangan terburu-buru, karena semua yang ada di sini sangat mencintai kedamaian"ujarnya dengan sudut bibir yang sedikit terangkat.
"persetan dengan semua ocehan kalian,kamu dengar baik-baik, saya disini ingin langsung menantang mu, bagaimana!!!"seru Sean, senyuman mengejek selalu terbit di ujung bibirnya.
"tapi tunggu dulu,kalau kamu takut, itu mudah.
cukup kamu akui saja kekalahan mu malam ini"imbuh Sean dengan percaya dirinya.
"bos apa kamu takut!!!"ucap teman-temannya dengan memperagakan ekspresi ketakutan.
gelak tawa menggema.
yang membuat nyali seorang Sean sedikit menciut,
namun tidak mengurungkan niatnya menantang Raffa.
"sebenarnya aku sedikit takut,tapi tidak afdol rasanya mengakui kekalahan tanpa duel terlebih dahulu,ya gak bro!!!!"ujar Raffa.
"bagus kalau begitu"Sean langsung ingin bersiap-siap.
"tunggu dulu bung,apa kau ingin membuang waktuku sia-sia?"tanya Raffa.
"apa yang kau inginkan?"tanya balik Sean.
"aku mempertaruhkan jagoan ku ini"ujar Raffa sembari menepuk motor kesayangannya.
"baiklah,"Sean memberi kode kepada anak buahnya untuk mengambil sebuah motor sport pengeluaran terbaru berwarna black tersebut sebagai taruhannya,tidak tanggung-tanggung karena Sean memang dari keluarga berada.
"wow,aku salut dengan mu keberanian mu kawan"pujinya.
terdengar suara teriakan dimana-mana,
__ADS_1
pendukung demi pendukung menggebu menjadi penonton dan saksi di arena balap liar tersebut.
saat sudah siap, Raffa dan Sean sudah berada di atas motor mereka masing-masing, terlihat seorang wanita cantik dan seksi membawa sebuah sapu tangan pertanda dimulainya pertandingan.
"kalian siap??"tanya wanita tersebut dengan bibir merah menggoda.
di susul dengan acungan jempol oleh Raffa dan Sean.
sapu tangan merah tersebut di lambaikan dan terjatuh.
saat itu juga kedua motor tersebut melaju dengan kekuatan mereka masing-masing.
karena sudah menguasai jalanan dan skill tentunya tak butuh waktu lama untuk Raffa menyelesaikan pertandingan.
dengan gaya kilat ia sudah mencapai garis finis dan memutar kembali motornya hinga menciptakan sebuah kepulan asap membuat yang ada di sana bersorak gembira.
sedangkan Sean tak memiliki nyali lagi untuk mengolok-olok ketua geng itu kembali.
"apa kita bisa berteman"ucap Raffa setelah melihat Sean berbalik.
Raffa mengerti Sean orangnya songong tapi mungkin karena selama ini ia belum terlalu mengenal dunia malam seperti raffa,bukan menghabiskan malam di bar seperti yang biasa di lakukan anak muda,juga bukan menghabiskan malam dengan para wanita cantik,akan tetapi menghabiskan malam dengan jalanan,angin menjadi teman,dan bintang menjadi saksi.
Sean berbalik dan menyambut uluran tangan dari Raffa.
memang di kalangan ini adalah kekuasaannya, Raffa terus memperluas kelompoknya, karena saat ini ada yang menjadi musuh utama yang selalu mencari urusan dengan mereka.
***
"pagi ayah"Aerilyn yang sudah siap dengan pakaian kantornya.
"pagi,kamu sudah siap untuk kekantor?"damar menggeleng melihat kelakuan putrinya yang hanya memikirkan kerja,kerja dan kerja.
"Ayin ada meeting yang ayin tunda kemarin,mau tidak mau Ayin mengulur waktu pagi ini"timpalnya sembari mengoleskan selain kesukaannya untuk sarapan mereka.
__ADS_1
damar hanya bisa mendesah pasrah,
"kalau begini terus kapan kamu akan menikah"gumamnya pelan.
"Ayin belum kepikiran sampai ke sana ayah, Ayin masih perlu meniti karir Ayin terlebih dahulu"timpalnya lembut.
"seorang wanita tidak memerlukan karir untuk menikah"timpal sang ayah tidak kalah sengitnya.
Aerilyn hanya menggeleng menangapi perkataan ayahnya yang selalu menyangkut soal pernikahan dan pernikahan.
ketika dalam perjalanan Aerilyn mampir untuk membeli kopi favoritnya.
namun karena antriannya panjang mau tidak mau ia harus mengantri terlebih dahulu.
Aerilyn gelisah karena melihat antrian yang begitu panjang,hal itu akan banyak memakan waktunya.
tiba-tiba ada seseorang memberikan satu cap kopi yang biasa ia pesan.
"untuk kamu!!"
Aerilyn langsung melihat orang tersebut.
dengan muka dinginnya ia memaki orang tersebut dalam hati.
"jangan memaki ku,kamu akan menghabiskan waktu dua puluh tiga detik untuk menunggu antrian tersebut"ucap Raffa dengan sudut bibir yang sedikit terangkat membentuk sebuah senyuman kecil yang hampir tidak terlihat menambah kesan ketampanan pria muda tersebut.
mendengar itu Aerilyn langsung meraihnya,
saat hendak mengucapkan terimakasih dengan buru-buru raffa langsung pergi dan menghilang.
"hah,, dasar bocah nakal"gumamnya.
bersambung.......
__ADS_1