
saat perjalanan pulang, Aerilyn di kaget kan dengan beberapa begal yang menghadang perjalanannya.
orang-orang tersebut membawa beberapa pakaian dan senjata, yang membuat Aerilyn sedikit takut.
"buka pintunya,,"ucap mereka mengancam.
mau tidak mau Aerilyn membuka pintunya.
"mangsa baru nih bos"
"iya bos dia sangat cantik"ucap salah satu dari mereka.
"puhhh menjijikkan, kalian pikir kalian siapa ingin bermain-main dengan ku!"
meskipun rasa takut menyelimuti dirinya, namun ia tetap harus percaya diri walaupun itu tidak akan membuat mereka menyerah begitu saja.
"ya Tuhan aku harus apa??"
batinnya berkata dan mencari akal agar bisa lolos saat ini.
"selain cantik dia juga sangat garang bos,aku yakin akan lebih menyenangkan kalau kita bermain-main dulu bos"
"hahaha,nona mau di buka sendiri atau kami yang bukakan"mereka sudah mulai ingin melakukan tabiat menjijikkan mereka.
"jangan sentuh aku"teriak Aerilyn.
sala satu dari mereka memegang pergelangan tangan Aerilyn,
meskipun ia bersikeras ingin melepaskan diri,ia rasa itupun percuma.
"tolong tolong,"teriaknya
tak terasa air matanya sudah mengalir karena rasa takut yang teramat besar.
ketu geng dari beberapa begal tersebut sudah ingin meraih pakaiannya memegang rahangnya yang mengeras pertanda menolak semua keinginan mereka.
"menurut lah nona,jika tak ingin tersakiti"ucapnya.
__ADS_1
brakkkkkkk....
seseorang datang memukul tengkuk ketua geng mereka hingga tersungkur.
"lepaskan atau aku tak akan segan-segan"ucapnya mengancam.
"dasar anak ingusan, bunuh dia"perintah ketua mereka sembari merintih menahan rasa sakit.
perkelahian pun tidak bisa terhindari, satu lawan beberapa membuatnya sedikit kewalahan dan sudah mendapatkan luka lebam pada wajah tampannya.
ia mengusap darah di sudut bibirnya, senyuman tipis menghiasi wajah yang sudah tak karuan bentuknya.
"hanya sebatas itu kemampuan kalian, berdirilah,aku bilang berdirilah"teriakannya marah,
matanya menyala memancarkan kemarahan yang amat besar, membuat mereka berlari terbirit-birit ketakutan.
Raffa menarik napas dalam perlahan ia mengalihkan pandangannya dengan Aerilyn yang terisak-isak di sudut semak-semak.
"kamu tidak apa-apa?"tanyanya setelah menghampirinya.
karena rasa takut yang teramat dalam Aerilyn beralih memeluknya tanpa sadar.
Raffa hanya membiarkan Aerilyn melampiaskan segalanya, setelah Aerilyn sedikit tenang ia menawarkan diri mengantarkan Aerilyn.
di dalam mobil Aerilyn menggosok rahangnya yang sudah di sentuh hingga kemerahan.
membuat raffa sedikit kuatir.
"mbak tidak apa-apa?"tanyanya sembari menatanya.
Aerilyn hanya menggeleng terus menggosok rahangnya, sehingga membuat raffa memberanikan diri untuk menyentuhnya.
"mbak, anggaplah aku yang menyentuhnya,
mbak akan terluka jika terus menggosoknya"
Aerilyn terdiam kaku setelah raffa menyentuh wajahnya dengan lembut, disitulah Aerilyn tersadar kalau lelaki tampan itu terluka cukup para.
__ADS_1
"kami terluka?"
"tidak!!"raffa menjawab dengan santai dan mulai menyalahkan mesin mobilnya.
"kita mampir ke rumah sakit"Aerilyn merasa tak enak hati,
gara-gara dirinya raffa mengalami luka.
"tidak usah mbak,ini hanya luka kecil, nanti juga sembuh"tolaknya.
Aerilyn mengambil kotak obatnya, didalam mobilnya memang selalu tersedia kotak obat untuk jaga-jaga.
"berhentilah"ucap Aerilyn.
raffa menuruti keinginan Aerilyn dengan patuh kali ini.
Aerilyn mulai membersihkan lebam di wajah raffa dengan hati-hati.
"apa sakit?"ucapnya, bukannya Raffa yang meringis malah dirinya.
"tidak sama sekali, apalagi jika yang mengobati adalah bidadari surga seperti mbak"
mendengar ucapan laki-laki itu Aerilyn beralih menatapnya.menatap matanya hinga membuat mereka terdiam sejenak.
laki-laki itupun tersenyum.
membuat Aerilyn salah tingkah bukan main.
"apa mbak betul-betul sudah jatuh cinta sama saya sehingga mbak sering sekali menatap saya"
seperti memang hobinya membuat orang kesal dengannya.
melihat Aerilyn hanya terdiam, Raffa merogoh kantongnya mengambil sebuah ponsel mencoba menghubungi seseorang.
"mbak sekarang aku antar pulang ini sudah hampir malam"raffa kembali melajukan mobilnya.
didalam mobil hanya kebisuan yang tersisa, Aerilyn hanya fokus kedepannya entah apa yang ia pikirkan hanya memand kedepan.
__ADS_1
sedangkan raffa fokus mengemudikan mobilnya.
bersambung...