
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa. Karena limpahan karunia-Nya, saya dapat menyelesaikan penulisan buku bertema super hero ini. Didalami penyusunan buku ini saya telah berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan saya untuk penyelesaian buku ini dan menghibur para pembaca. Tetapi sebagai manusia biasa, penulisan buku ini mungkin tak luput dari kesalahan ataupun kekhilafan baik pada segi penulisan ataupun tata bahasa itu sendiri.
Buku ini saya buat semata-mata hanya untuk memberikan hiburan dari segi tulisan dan untuk membangkitkan minat baca para pembaca. Akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya kalau para pembaca bisa senang dengan buku ini.
Sekian semoga karya tulis ini dapat memberikan hiburan dan manfaat bagi para pembaca.
27, November 2020
Muhammad
Sinopsis
Firza Akhi, merupakan seorang anak yang lahir dari keluarga yang sederhana. Ia merupakan keturunan dari seorang pendekar yang tertulis dalam sejarah pernah membunuh kejahatan dan ke tidak adilan.
Saat kecil iya sudah diwariskan goblok Sakti oleh ayahnya. Setelah kematian kedua orang tuanya, iya memutuskan untuk menggunakan golok saktinya untuk keadilan. Dia pun menggunakan nama Afira, sebagai nama super heronya.
Misteri-misteri yang menimbulkan rasa curiga terus berdatangan. Di saat dia lemah, sahabatlah yang selalu ada di sampingnya. Sahabat lah yang menemani hidupnya selama ini. Walau sering terjadi kesalahpahaman, mereka semua tetap bisa saling memaafkan.
Musuh-musuh yang tidak seumuran dengannya, tidak membuatnya patah semangat. Kesulitan yang dihadapinya, dijadikannya sebagai kekuatan. Dirinya yang kemudian dikenal oleh banyak orang, tidak menimbulkan rasa sombong di dalam dirinya.
Bagaimanakah perjalanan Afira melawan musuh-musuh dari kebaikan? Akankah kejahatan dapat menaklukkannya? Atau kejahatan yang akan ditaklukkan olehnya? Kuy baca dan nikmati cerita Adira si golok sakti sampai habis.
Daftar isi
A. Kata pengantar
B. Daftar isi
C. Awalan
D. Pemegang golok sakti selanjutnya
E. Kematian sang ibu
F. Teman wanita
G. WEKTU, SI PENINDAS
• Anak buah wektu
• Amarah wektu
• Jejak darah
• Amarah Firza
• Penyelamatan 1
• Belajar ilmu bela diri
• Perlawanan wektu
• Penyelamatan 2
• Membuat kostum Adiwira dan fakta tentang Mirja
• Kekalahan wektu
• Keanehan yang terjadi
• Penyelamatan 3
• Masalah yang berdatangan
• Yang membuat kebakaran
• Api amarah
• Serangan wektu
• Kekalahan wektu
• Fakta Tentang Mirja
H. AIRI. MUSUH TERKUAT
• Fakta Tentang Wektu
• Orang tua Sania
• Pabrik misterius
• Penyelamatan 1
• Penyelamatan 2
• Wanita misterius
• Kehadiran Airi
• Hilangnya Golok Sakti
• Mencari Keberadaan Golok Sakti
• Perisai Pelindung
• Sikap Yang Mencurigakan
• Fakta
• Mencari Keberadaan Yang Dicuri Dan
• Penyelamatan
• Fakta Yang Menjanjikan
• Perlawanan Airi
• Kematian Airi
I. Akhiran
Awalan!
Kisah ini dimulai pada ribuan tahun yang lalu, di sebuah kerajaan yang bernama Wulunggis. Terdapat seorang raja yang bernama Ji Wulung. Dia adalah seorang raja sekaligus Petapa yang memiliki kesaktian yang luar biasa. Raja itu memiliki benda-benda sakti yang diciptakannya sendiri. Dia memiliki pengabdi (pengikut) yang sangat setia kepadanya. Dan dia memperlakukan pengabdiannya dengan tidak pantas. Sang raja selalu memperlakukan rakyatnya dengan kejam. Dia pernah menyuruh rakyatnya yang sakit untuk terus bekerja di ladang pertanian. Dia juga pernah memenggal kepala seorang petani hanya karena petani itu beristirahat.
Beberapa bulan kemudian. Ji Wulung pun pergi bertapa untuk menambah kekuatannya. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan musuh bebuyutannya. Bi Aladah (seorang pendekar yang memiliki ilmu sakti seperti yang dimiliki Ji Wulung). Bi Aladah sangat tidak suka dengan Ji Wulung karena perlakuannya kepada rakyatnya yang sangat tidak terpuji.
“Untuk apa kau datang kesini.” Ucap Ji wulung
“Tentu saja memusnahkanmu.” Ucap Bi Aladah
Mereka berdua bertarung secara sengit di dalam hutan. Ji Wulung mengeluarkan ilmu petirnya dari sebuah permata sakti. Petir itu berhasil mengenai Bi Aladah, dan langsung terjatuh. Kemudian Bi Aladah mencoba bangun dan mengeluarkan golok saktinya. Tetapi Ji Wulung tidak membiarkannya. Ji Wulung pun langsung menyerang Bi Aladah. Tetapi apa yang di lakukan Ji Wulung sudah telat. Bi Aladah sudah membuat Ji Wulung tidak bisa bergerak dengan permata milik Bi Aladah yang bisa menghentikan gerakan musuh. Kemudian Bi Aladah langsung memenggal kepala ji Wulung dan di kubur terpisah. Kepalanya di kubur di kaki gunung Merapi. Sedangkan badannya di taruh di dalam peti dan di taruh di dalam gua.
Bi Aladah pun menjadi raja di kerajaan Wulunggis. Beberapa tahun kemudian Bi Aladah jatuh sakit, dan akhirnya meninggal. Sebelum meninggal dia berpesan untuk membagikan permata kekuatannya itu kepada rakyatnya. Dan dia mewariskan golok sakti kepada putranya yang pertama. Kemudian dia mewariskan permata penghenti waktu kepada anak keduanya. Dan Bi Aladah pun Meninggalkan dunia.
Pemegang Golok Sakti Selanjutnya
Berabad-abad kemudian. Di tahun 2003, Di kota Tangerang. lahirlah seorang anak dari keluarga miskin, yang bernama Firza Akhi. orang tuanya bekerja keras untuk membesarkan Firza. 7 Tahun kemudian. Firza sudah tumbuh sebagai anak yang berbakti. Firza juga di ajarkan ilmu bela diri oleh ayahnya. Sampai dimanah masanya. Firza diberikan golok sakti oleh ayahnya yang sedang sakit.
“Ambil ini. itu adalah golok sakti yang diwariskan turun temurun oleh keluarga kita di zaman dulu.” Ucap ayah Firza
“ Baik ayah aku akan menjaga golok ini dengan sebaik baiknya.” Ucap Firza
“Tetapi kau harus berhati-hati saat menggunakan golok ini. golok ini dapat melukai seseorang jika kau tidak dapat mengendalikannya.” Ucap ayah Firza. Kemudian ayah Firza pun meninggal dunia. Firza hidup berdua dengan ibunya.
Kematian Sang Ibu
3 tahun setelah kematian ayahnya. Firza mencoba untuk belajar mengendalikan golok itu.
“Hah... sepertinya aku sudah bisa mengendalikan golok ini. aku harus memberitahu ibuku.” Ucap Firza
Firza pun menunggu ibunya pulang dari pasar. setelah ibunya pulang, Ia langsung menunjukkan kemampuannya dalam mengendalikan golok itu. Ibunya pun memperhatikannya sambil tersenyum senang. Tak lama Firza pun kehilangan kendalinya, dan tanpa sengaja Firza pun langsung membunuh ibunya menggunakan golok itu. Setelah itu dia langsung melepas golok itu dari tangannya.
“ Ibu....! maafkan aku bu (menangis Firza).” Ucap Firza.
Beberapa hari setelah kematian ibunya, Firza pun mencoba untuk pergi ke kota. Sesampainya di sana, dia melihat Anak-anak yang disiksa dan dipaksa untuk mengamen oleh seorang pria. Firza pun ketakutan dan langsung lari. Dan dia pun kembali ke kampung halamannya.
Teman Wanita
Di kampungnya, Firza bekerja keras untuk hidup. Dia mencoba berdagang di pasar, menjadi kuli di pasar, hingga menjadi pengamen hanya untuk sesuap nasi. Di depan rumahnya Firza kebingungan harus bagaimana. Dia tidak punya uang, ataupun saudara dekat.
"Apa.. aku harus mengemis lagi?" Ucap Firza. Tiba-tiba dia melihat ada keluarga yang ingin pindah ke rumah yang ada di belakang rumahnya. Dia mengikuti keluarga itu. Dan dia bertemu dengan anak seusianya. Anak itu menyapa Firza.
"Hai, aku Sania. Kayaknya... kita bakal tegangan nih" Ucap gadis itu. Firza tersenyum kecil.
"Aku Firza." Ucap Firza. Sejak hari itu mereka berdua berteman akrab.
Seminggu setelahnya, Firza menceritakan kesusahan hidupnya kepada Sania. Lalu Sania menceritakan lagi ke orang tuanya. Orang tua Sania pun menanggapinya dengan serius. mulai dari hari itu, orang tua Sania selalu memberikan makanan kepada Firza. Firza pun membalas kebaikan orang tua Sania dengan selalu membantu keluarga Sania setiap mereka butuh bantuan.
WEKTU, SI PENINDAS
Anak Buah Wektu
Firza dan Sania sedang bermain di sebuah saung. Lalu mereka melihat anak yang di kejar-kejar oleh anak-anak lain. Sania mempertanyakan hal itu.
"Kenapa itu?" Ucap Sania kebingungan. Firza pun berkata kepada Sania
"Apa kamu punya permata kekuatan atau semacamnya? kalau ada, sembunyikan dan jangan beritahu siapa pun. Karena, itu dapat membahayakanmu" Ucap Firza kepada Sania. Sania pun mengangguk. Setelah itu, Reza pun datang (teman baik Firza sebelum datangnya Sania) memberitahukan bahwa rumah Firza sedang di geledah.
"Firza... cepat pulang. Rumah lu lagi di geledah sama anak buah wektu" ucap Reza berteriak panik. Firza pun kaget mendengar perkataan Reza. dan dia langsung menyuruh Sania untuk pulang kerumanya. Lalu Firza langsung pergi ke rumahnya bersama Reza.
Sesampainya di sana, Firza kaget melihat rumahnya berantakan. Lalu Firza pun masuk ke dalam rumahnya. Tetapi anak buah wektu sudah tidak ada di situ. Firza bergegas masuk ke kamarnya. Dia mencari golok saktinya.
"Syukurlah golok ini tidak hilang.” Ucap Firza.
Di tempat berbeda, Sania mencari tahu tentang wektu. Sania mengumpulkan beberapa informasi dari temannya, orang sekitar, pedagang. Kemudian dia mengumpulkan semua sumber menjadi satu. Setelah semua informasi terkumpul, Sania pun tahu siapa itu wektu.
Di tempat lain, Firza membereskan rumahnya bersama Reza. Setelah semua dirasa sudah beres, mereka berdua akan segera bersih-bersih di toilet.
"Bujuk buset!” terkejut Firza dan Reza. Terkejut Firza dan Reza melihat seorang anak sedang terkapar di dalam toilet. Ternyata anak itu adalah anak yang tadi di lihat Firza sedang di kejar-kejar oleh anak-anak lain. Firza dan Reza langsung membantu anak itu.
Setelah anak itu sadar, Firza langsung menginterogasi anak itu.
"Aku tadi di kejar-kejar oleh anak buah wektu. Karena mereka tahu kalau aku mempunyai permata kekuatan." Ucap anak itu.
"Bagaimana kau bisa ada di sini." Ucap Firza.
"Aku bersembunyi di sini. Aku minta maaf telah menyusahkanmu" ucap anak itu. Firza pun memaafkan anak itu. Dia langsung menyuruh anak itu untuk segera pulang. Lalu anak itu pun keluar dari rumahnya Firza. Firza pun menyadari bahwa ada barang anak itu yang tertinggal. Firza pun langsung lari keluar rumahnya. Setelah Dia sampai di luar, anak itu sudah hilang entah ke mana. Firza pun kebingungan. Lalu Firza pun masuk ke dalam rumahnya untuk menanyakan semuanya kepada Reza. Betapa kagetnya Firza saat Reza juga tidak ada di dalam rumah. Firza pun kebingungan sambil jalan ke kamar mandi. "Astaga.” Betapa terkejutnya Firza setelah membuka pintu toilet di dalam rumahnya. Karena di dalam ada Reza yang sedang mandi.
"Kenapa pintunya gak di kunci." Ucap Firza.
"Kan gak ada kuncinya." Ucap Reza.
setelah Reza dan Firza selesai bersih-bersih, Firza menceritakan tentang menghilangnya anak itu.
"Gua juga gak tahu bagaimana anak itu bisa hilang." Ucap Firza kebingungan. Saat Firza sedang kebingungan, Reza pun teringat sesuatu.
"Apa semua itu ulah wektu? Biasanya Diah kan yang selalu menjadikan anak-anak lemah sebagai budaknya!" Ucap Reza. Firza pun terkejut sambil mengangguk. Dan Firza berencana menyerang wektu.
"Tapi gimana caranya? Emangnya gua punya kekuatan? Ia si lu punya golok sakti! tapi, apa lu berani pakai golok itu lagi?" Ucap Reza kepada Firza. Firza pun hanya bisa terdiam.
Amarah Wektu
Di tempat berbeda
"ha ha ha ha ...."
Tertawa jahat bercampur senang wektu, memenuhi ruangan tempat persembunyiannya. Dia sangat senang setelah permata kesaktian itu dia dapatkan.
"Anak itu adalah keturunan dari rakyat kerajaan Wulunggis." Ucap Wektu. Wektu tidak begitu senang karena dia belum bisa mendapatkan golok sakti dan permata penghenti gerakan musuh.
"Cepat kalian cari di mana keberadaan golok sakti dan permata penghenti gerakan musuh itu berada sekarang.” Ucap wektu dengan tegas kepada anak buahnya. Wektu pun langsung pergi meninggalkan anak buahnya itu.
Jejak Darah
Di tempat berbeda
"Firza...gua menemukan jejak darah.” Ucap Reza berteriak. Firza langsung bergegas lari ke tempat Reza.
"Apakah ini darah anak itu.” Ucap Firza kebingungan. Reza pun mengiyakan perkataan Firza. Dan mereka berdua pun langsung mengikuti jejak darah itu. Tetapi jejak darah itu terputus di rerumputan.
“Gua tahu siapa pemilik darah itu." Ucap Firza. Reza pun mengikuti Firza yang berjalan menuju rumahnya Sania. Firza mengetuk rumah Sania. Dan yang membukakan pintunya adalah Sania.
"Kenapa lu bikin gua khawatir.” Ucap Firza kepada Sania. Sania pun meminta maaf kepada Firza dan Reza tentang semua yang terjadi.
"Sebenarnya gua cuma mau cari tahu tentang wektu" ucap Sania sambil menunduk. Reza pun masih kebingungan.
"Lalu siapa pemilik darah itu.” Ucap Reza kebingungan. Ternyata itu adalah dara Sania yang tangannya tergores paku. Firza pun menasihati Sania.
"Lain kali, Lo tanya aja ke gua kalau mau berbicara tentang kampung ini." Ucap Firza kepada Sania.
Amarah Firza
Beberapa tahun kemudian. Firza sudah berumur 14 tahun. Beberapa tahun ke belakang, wektu semakin menjadi. Setiap anak yang di ketahui memiliki benda-benda sakti, wektu selalu mengejar anak itu sampai dia berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan.
Kebencian Firza kepada wektu semakin meningkat. Firza sudah tidak tahan atas perlakuan wektu. Dia pun bertekad melawan teromanya untuk mempelajari golok sakti warisan dari ayahnya itu.
"Jika aku terus seperti ini, negeri ini akan hancur." Marah Firza. Diapun memberanikan diri untuk menyentuh golok itu. Tetapi, setelah dia menyentuh golok itu, dia langsung terbayang saat dia membunuh ibunya di waktu kecil. Firza pun langsung tak sadarkan diri. Reza yang melihatnya, langsung membawa Firza ke tempat tidurnya.
Setelah Firza sadar..."Kenapa Lo nekat?" Ucap Reza yang marah kepada Firza. Firza pun menangis.
"Gua gak bisa melihat setiap anak selalu di perlakukan tak sewajarnya.” Ucap Firza sambil menangis.
“ Tapi kan Lo juga Masi kecil Firza.” Ucap Reza dengan kesal.
“ apakah untuk jadi pahlawan, kita harus berumur 23 tahun dulu?” ucap Firza dengan tegas kepada Reza. Reza kemudian berdiri.
“Terkadang gua bingung sama wektu. Hanya karena masa kecilnya gak bahagia, dia sampai bisa-bisanya melakukan hal seperti itu.” Kebingungan Reza. Reza pun menyuruh Firza untuk beristirahat. Lalu Reza meninggalkan Firza pulang ke rumahnya. Firza pun tidak berkata apa-apa.
Penyelamatan 1
Di tempat lain, Anak buah wektu sedang mengejar seorang anak yang memiliki 2 permata berkekuatan petir dan perisai. Anak itu terus berlari, berharap anak-anak yang mengejarnya tidak mengejarnya lagi. Tetapi, karena banyaknya anak-anak yang mengejarnya itu, anak itu kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa. Anak itu mencoba bersembunyi dan tiba-tiba, ada seseorang yang memegang pundaknya.
"Ayo ikut gua.” Ucap seseorang itu. Anak itu pun mengikuti anak yang memegang pundaknya. Dan dia di bawa ke sebuah rumah untuk bersembunyi di sana.
"plak. plak. Plak.” Suara langkah kaki para anak buah wektu yang mengejar anak itu di depan rumah tempat anak itu bersembunyi.
"Lo sudah aman." Ucap seseorang itu. Lalu anak itu pun mengangguk dan terdiam.
"Nih minum. (Duduk di sebelah anak yang sebelumnya dikejar-kejar) Siapa Lo? dan bagaimana Lo bisa Sampai di sini?" Ucap seseorang itu. Anak itu pun menjawab dengan gugup.
"Gua Mirja suke. Gua dari kampung Baharu . Gua bisa sampai di kejar sama anak-anak itu karena mereka tahu kalau gua punya...." Ucap anak yang sebelumnya dikejar-kejar. Mirja memutus perkataannya dan langsung terdiam.
" Gua Firza. Gua tahu kok apa yang Lo maksud. Lebih baik sekarang Lo istirahat.” Ucap seseorang yang memegang pundak Mirja, dan ternyata orang itu adalah Firza.
“Kenapa Lo tolong gua?” ucap Mirja.
“Karena gua peduli. Yang tadi mengejar-ngejar Lo itu anak buah Wektu. Penguasa daerah sini.” ucap Firza.
“Kenapa dia bisa menguasai daerah sini?” Ucap Mirja
“Gak ada berani sama dia. Karena dia memiliki permata kekuatan hasil rampasannya dan memiliki banyak anak buah.” Ucap Firza. Kemudian Firza menyuruh Mirja beristirahat. Mirja lalu beristirahat. Dan tanpa sadar Mirja pun tertidur di dalam rumah itu. Yang ternyata rumah itu adalah rumah Firza. Firza pun tersenyum kecil melihat Mirja tertidur. Firza pun pergi ke luar dan duduk di depan rumahnya. Tak lama Reza pun datang.
"Lu sudah baikkan? Seharusnya Lu itu istirahat dulu buat menenangkan pikiran lu." Ucap Reza dengan rasa peduli. Firza pun hanya terdiam.
"Itu siapa di dalam rumah Lo?. Ya ampun Firza... Lo itu bodoh banget sih. kalau dia orang jahat gimana?" Ucap Reza dengan kesal. Firza pun menjawab tanpa ekspresi.
"Dia adalah buronan.(Firza bangun dan menghadap Reza) Buronan dari wektu. Gua kasihan sama dia." Ucap Firza. Reza pun kebingungan. Karena, pasti tidak lama lagi wektu pasti akan segera mengetahui siapa yang menolong dan di mana anak itu(Mirja) sekarang berada. Lalu Firza mencoba menenangkan Reza. setelah Reza dirasa sudah tenang, Firza pun.
"Gua mau ngajarin anak itu ilmu bela diri" ucap Firza. Reza pun menjawab "Terserah lu." Lalu Reza kembali pulang ke rumahnya.
Di lain tempat
"Mengapa bisa gagal(marah). Anak itu mempunyai permata, dua permata. kalian tidak bisa menangkapnya." Ucap wektu dengan marahnya. Anak buah wektu pun hanya bisa terdiam ketakutan. Dan wektu pun membunuh salah satu anak buahnya dengan permata kesaktian. Sebagai tanda kemarahannya.
"Sekarang kalian cari di mana anak itu berada. Cari sampai dapat." Marah wektu. Wektu pun pergi dari tempat itu.
Belajar Ilmu Bela Diri
Setelah Mirja terbangun dari tidurnya, Firza pun memberikan jagung.
"Makan ini. Lalu Lo ikut gua" ucap Firza tanpa Ekspresi. Mirja pun mengambil jagung itu.
"ke mana." Ucap Mirja. Lalu Firza menjawab kalau dia akan mengajari Mirja ilmu bela diri. Mirja pun memakan jagungnya. Setelah selesai makan, Mirja pun pergi ke tempat Firza.
"Lo liat baik-baik. Lalu Lo ulang gerakan ini" ucap Firza kepada Mirja. Mirja pun mengikuti arahan dari Firza. Setiap hari Mirja di ajarkan ilmu bela diri oleh Firza.
Setelah enam hari. Mirja pun sudah mulai menguasai ilmu bela diri yang di ajarkan Firza.
Perlawanan Wektu
Tak lama Reza pun datang ke tempat Mirja latihan memberitahukan Firza bahwa...
"Firza cepat pulang. Rumah lu lagi di obrak-abrik (berantakan/dirusak) sama wektu" ucap Reza dengan panik. Lalu Firza pun segera menyuruh Mirja untuk bersembunyi. Dan Firza pun langsung pulang ke rumahnya. Di tengah perjalanan, Firza bertemu Sania.
"Mau ke mana lu buru-buru banget.” Bertanya Sania kepada Firza. Firza tidak menceritakannya. Dia hanya menyuruh Sania untuk segera pulang. Lalu Firza langsung bergegas pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumahnya. Firza tidak melihat satu pun anak buah wektu. Saat Firza masuk ke dalam rumahnya. Dia langsung di todong menggunakan senjata oleh anak buah wektu. Lalu anak buah wektu membuka jalan. Dan wektu pun keluar, lalu menghampiri Firza sambil memegang pisau.
"Di mana anak itu" ucap Wektu dengan santai.
"Memangnya apa urusan lo dengan dia." Ucap Firza berteriak. Firza berbicara dengan rasa benci. Lalu wektu pun menanyakan pertanyaan yang sama ke Firza. Sambil mengarahkan pisaunya ke Firza. Firza hanya bisa terdiam. Wektu pun kembali berbicara dengan santai.
"Aku memerlukan permata kesaktian yang dimiliki anak itu. Untuk menambah kekuatanku." Ucap wektu dengan santai. Firza yang tidak bisa menahan emosinya, langsung memukul wektu sampai wektu terjatuh.
"Kurang hajar. Ikat dia" Marah wektu kepada Firza. Lalu Firza langsung di ikat oleh anak buah wektu. Wektu mendekati Firza yang sudah di ikat, sambil menempelkan pisaunya ke dagu bagian bawah Firza.
"Gua udah baik sama lu. Dan lu tiba-tiba memukul gua. Coba lu pikir, Siapa yang jahat." Ucap wektu dengan wajah kesal. Lalu wektu memukul Firza sampai Firza tak sadarkan diri.
Penyelamatan 2
Dilaur, Ternyata ada Reza yang sedang mengintip di sela-sela rumah Firza. Dia bingung harus apa. Tak lama, Sania pun datang.
"Reza. Ada apa?" Bertanya Sania kepada Reza. Lalu Reza menceritakan semua yang terjadi. Sania pun kaget.
"Kenapa lu gak tolong dia?" Ucap Sania. Lalu Sania masuk ke dalam rumah.
"Woi. Lepaskan dia." Berteriak Sania kepada wektu dan anak buahnya. Lalu wektu pun langsung menyuruh anak buahnya untuk menangkap Sania. Sania pun langsung lari keluar. Sekarang di dalam rumah itu hanya ada Firza, Wektu, dan 2 orang anak buahnya.
Reza pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia mengambil balok di dekatnya, lalu masuk ke dalam rumah dan memukul salah satu anak buah wektu sampai pingsan. Lalu anak buah wektu yang lainnya mencoba menangkap Reza. Tetapi Reza berhasil memukul anak buah wektu itu. Reza pun berniat untuk memukul wektu. Tetapi, wektu langsung menyerang Reza dengan permata kekuatan petir. Reza pun langsung terpental sampai pingsan. Lalu wektu menghampiri Reza. Tiba-tiba Mirja pun datang membawa kayu balok, dan langsung memukul badan wektu dari belakang. Dan wektu pun terjatuh. Mirja pun memanfaatkan permata kekuatan miliknya untuk menyerang waktu. Wektu pun tak sadarkan diri. Lalu Mirja langsung menyelamatkan Reza dan Firza. Mirja membawa Reza dan Firza ke tempat yang aman.
"Firza lo baik-baik aja?" Ucap Mirja. Firza pun menanyakan kondisi Reza ke Mirja.
__ADS_1
"Raza baik-baik saja?" Ucap Firza. Dan Firza menanyakan Mirja tentang Sania yang di kejar-kejar oleh anak buah wektu. Tetapi Mirja tidak tahu tentang Sania yang dikejar-kejar oleh anak buah wektu. Lalu Firza pun ingin menyelamatkan Sania.
"Tapi kondisi lu masih lemah." Ucap Mirza. Firza tetap memaksakan diri untuk menyelamatkan Sania. Mirja pun memberikan permatanya kepada Firza. Firza pun mengambil permata itu, dan langsung menyelamatkan Sania. Dia mencari keberadaan Sania. Setelah ketemu, dia langsung menyerang anak buah wektu menggunakan permata kesaktian yang ternyata berkekuatan petir. Anak buah wektu yang ketakutan langsung lari. Firza pun langsung menyelamatkan Sania, dan membawanya ke Tempat aman bersama Reza dan Mirja. Reza yang sudah sadar, menyarankan untuk pergi ke rumahnya. Dan semua setuju.
Di tempat lain, Wektu yang sudah sadar langsung pergi dari rumah Firza. "Untung saja anak itu belum sempurna menggunakan permata kesaktian itu sehingga aku hanya pingsan." Ucap wektu kesal dan marah. Kemudian wektu mengambil tongkat, dan ia menempelkan semua permata miliknya di tongkat itu. Satu per satu permata itu di lekatkan di tongkat itu. Setelah itu wektu mengarahkan tongkatnya ke salah satu anak buahnya. Dan mengeluarkan kekuatan setiap permata secara bersamaan. Anak buahnya tewas seketika. Kemudian wektu tertawa.
Kemudian Wektu memerintahkan anak buahnya yang bernama Torik untuk berdiri di depannya. Dan wektu mengarahkan kembali tongkatnya ke Torik.
Membuat Kostum Adiwira dan Fakta Tentang Mirja Suke
Firza dan teman-temannya pergi ke rumah Reza. "Kalian dapat beristirahat di sini." Ucap Reza kepada yang lain. Dan semuanya beristirahat di rumah Reza itu. Ketika semua orang sedang beristirahat, Firza mendekati Mirja.
"Mirja. Ini permata lo. Maaf, gua baru mengembalikannya." Ucap Firza kepada Mirja. Tetapi Mirja menolak permata itu. Mirja menyuruh Firza menyimpan permata kesaktian itu. Firza pun mengambil permatanya. Reza yang melihatnya...
"Firza. Apakah lo tidak takut kalau wektu tahu lo itu memiliki permata kesaktian itu?" Ucap Reza.
Reza menyarankan Firza membuat pakaian sehingga waktu tidak akan dapat mengenali dirinya. Dan semua setuju untuk membuat pakaian untuk Firza. Ketika semua selesai membuat pakaian, Firza pun mengenakan pakaian itu. Dan semuanya menyukai pakaian itu. Setelah itu, Sania membawa Mirja keluar dari rumah. Sania mengatakan sesuatu kepada Mirja.
"Aku bertemu dengan ibu-ibu yang membawa gadis kecil. ibu itu mencari anak yang bernama Mirza suke. Gua pikir anak yang ibu itu cari adalah Lo." Ucap Sania. Lalu Mirza ingat kalau dia memiliki ibu dan adik yang masih kecil. lalu Mirja pun pergi tanpa memberitahukan yang lain. Sania pun masuk ke dalam rumah. Dan Reza berkata kalau mereka sudah menemukan nama yang bagus untuk Firza. Yaitu, Apirah. Persatuan dari api dan amarah. Sania pun tersenyum.
Kekalahan Wektu
Di pagi hari. Firza terbangun karena ada suara yang sangat keras. Firza pun langsung mengintip ke jendela. Ternyata itu adalah wektu. Lalu Firza memakai pakaian yang kemarin di buat. Lalu dia keluar dan menghampiri wektu.
"Siapa kau?" Tanya wektu. Firza menjawab kalau namanya Apirah.
"Afira. Nama yang bagus.” Ucap wektu. Firza pun mengatakan sesuatu di dalam hatinya. "Budek. Gua ngomong Apirah, Dia dengarnya Afira. tapi gak papa lah, kayanya nama Afira lebih bagus.”
Lalu wektu langsung menyerang Afira. Afira pun berhasil menghindar. Dan Afira pun menyerang balik, dan wektu terjatuh. Afira seperti merasakan sesuatu yang aneh. tetapi dia hiraukan. Lalu wektu terbangun dan kembali menyerang Afira dengan tongkatnya. Dan itu berhasil mengenai Afira. Afira terjatuh tetapi langsung bangun kembali. Karena dia merasakan kalau kekuatan wektu tidak terlalu sakit. Dia kembali menyerang wektu. Dan berhasil mengenai kaki kiri wektu. Kemudian wektu tersenyum, dan mengarahkan telunjuknya ke rumah Reza. Afira pun melihat ke rumah Reza. Dan Afira terkejut, karena Reza dan Sania telah di tangkap dan di ikat oleh anak buah wektu. Lalu Afira menyerang Reza hingga tak sadarkan diri. Wektu pun tertawa melihat Afira menyerang orang tak berdosa. Saat wektu lengah Afira langsung menyerang kaki kanan wektu lingga wektu tidak bisa berlari. Dan Afira menyerang bagian dada wektu hingga dia terjatuh. Lalu Afira melihat ke anak buah wektu.
"Kalian mau seperti ini." Ucap Firza dengan tegas. Lalu anak buah wektu lari ketakutan. Lalu Afira menginjak tubuh wektu dan kembali menyerang wektu hingga dia mati. Afira pun mengambil tongkat berisi satu permata kesaktian itu. Dan mengambil permatanya.
Di tempat lain. Anak buah wektu yang lari ketakutan menceritakan tentang Afira ke seseorang. Seseorang itu pun berkata. "jalankan rencana 2." Ucap orang misterius itu. Dan semua yang ada di situ langsung bersiap.
Keanehan Yang Terjadi
Di tempat lain. Afira sedang melepaskan ikatan di tubuh Reza dan Sania. Setelah di lepaskan jilatan itu, Reza memberikan sebuah permata kesaktian kepada Afira. Afira pun mengucapkan terima kasih kepada Reza. Lalu Afira melepas kostumnya. Dia menjadi Firza. Lalu Reza berbicara kepada Firza.
"Kalau kita tidak membuat rencana ini, mungkin wektu masih bernyawa sekarang." Ucap Reza kepada Firza. Ternyata sewaktu Afira atau Firza menyerang Reza, semua itu sudah di rencanakan. Reza tidak terluka karena dia di berikan permata kesaktian perisai tubuh. Firza mendapatkan permata itu dari Mirja. Lalu mereka kembali masuk ke dalam rumah. Firza menceritakan hal aneh yang dia rasakan saat menyerang wektu kepada Reza, tetapi Reza malah mengatakan bahwa itu hannyalah perasaannya saja. Tetapi Firza kembali menegaskan bahwa wektu yang tadi dia lawan, seperti bukan wektu.
"Bukan wektu gimana? Jelas-jelas tadi lo sudah membunuh wektu. Kan di depan mata loh. Masa Lo gak sadar si?" Sahut Reza kebingungan. Firza mengia kan apa yang di bilang Reza. Tetapi...
"Tapi gua rasa kekuatan wektu gak mungkin cuma segitu. Semoga ini hanya firasat gua doang." Ucap Firza keheranan. Reza pun tidak menganggap serius perkataan Firza. Reza menanyakan hal yang lain.
"Tadi Lo ambil permata di tongkatnya kan. Itu apa kekuatannya?" Bertanya Reza. Firza tidak tahu. karena dia belum memakai permata itu. Lalu Reza menyuruh Firza mencoba memakai permata itu di luar. Saat Firza ingin menggunakan permata itu, tiba-tiba ada seseorang yang berlari sangat cepat, lalu mengambil permata itu. Firza pun kaget. Dia langsung mengejar orang itu tetapi tidak terkejar karena orang itu berlari sangat cepat, secepat kilat.
"Sial. Langsung hilang dia. Siapa tuh orang?" Firza bertanya-tanya. Firza langsung dan terus memikirkan orang itu. Dia terus mempertanyakan siapa orang itu. Reza juga kebingungan tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Penyelamatan 3
Di tempat lain. Di rumah kepala kampung(KK) para warga berkumpul. Para warga menceritakan kepada KK bahwa ada orang yang berhasil membunuh wektu. KK pun senang, Karena di kampung itu sudah ada jagoan yang berani membunuh Wektu.
Dimalam hari. Ada seorang warga yang datang ke rumah KK memberitahukan kalau salah satu rumah penginapan di kampung itu terjadi kebakaran. KK langsung menyuruh warganya untuk memadamkan api kebakaran itu.
Di rumah Reza, Di dalam rumah(rumah Reza) Firza masih saja memikirkan tentang orang itu yang mengambil permatanya itu. Tak lama Reza datang.
"Firza, ada kebakaran di tempat penginapan kampung. nyawa banyak orang dalam bahaya." Ucap Reza. Firza langsung bangun dari tidurnya dan mengambil kostumnya.
"permata Lo.” Reza mengingatkan. Firza mengambil permatanya dan langsung bergegas pergi ke lokasi kebakaran. Sesampainya dia di sana, dia langsung memakai permata kesaktian kekebalan tubuh. Dia langsung masuk ke dalam, dan menyelamatkan semua orang di dalam bangunan itu.
Setelah membawa seorang terakhir ke luar, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu datang ke Afira sambil menangis.
"Tolong ... anakku masih ada di dalam." Ucap ibu-ibu itu sambil menangis. Afira langsung masuk ke dalam dan mencoba menolong anak itu. Dia sangat sulit menemukan anak itu, karena yang dia lihat di sekelilingnya hannyalah api. Beberapa saat kemudian dia melihat kaki di kolong meja. Afira pun menghampirinya, dia melihat ada anak kecil yang sedang menangis. Afira langsung membawa anak itu keluar. Anak itu pun selamat. lalu KK menghampiri Afira.
"Kaulah yang kami butuh kan. Tetaplah menjadi jagoan yang membela keadilan.” Ucap KK sambil tersenyum. Afira hanya terdiam, dan langsung pergi. Reza pun menghampiri KK untuk mencari tahu tentang penyebab kebakaran tersebut. KK tidak mengetahuinya, karena saat itu dia sedang di rumahnya. KK menyuruh Reza untuk menanyakannya kepada warga yang lain. tetapi semua tidak ada yang tahu penyebab kebakaran tersebut.
Masalah Yang Berdatangan
Di tempat lain, Sampai di rumah(rumah Reza) Afira melepas kostumnya. Firza menjadi sangat seteres karena masalah yang terus berdatangan. Mulai dari wektu, orang misterius yang mengambil permatanya, dan kebakaran yang entah apa penyebabnya.
"Firza . Gua gak bisa dapat bukti penyebab kebakaran itu. menurut gua kebakaran itu disengaja deh.” Ucap Reza. Firza pun bertambah pusing. tak lama, Sania pun datang sambil menangis. Reza dan Firza mempertanyakan hal itu.
"Ibu bapak gua... ada yang udah bunuh ibu bapak gua.” Menangis Sania. Firza dan Reza pun kaget mendengar perkataan Sania. Reza bertanya apakah orang tuanya sudah di kuburkan.
"Gua di bantu sama kak Rudi buat menguburkan orang tua gua.” Ucap Sania sambil tersedu-sedu dan masih mengeluarkan air mata. Firza pun semakin pusing memikirkan semua itu. Reza memikirkan kalau semua kejadian hari ini itu seperti sudah di rencanakan.
KEESOKAN HARINYA
Reza mengajak Firza dan Sania ke kebun belakang rumah Reza untuk menenangkan pikiran. Kebun itu adalah kebun tomat milik Reza. Firza pun senang berada di situ. Tak lama Firza seperti memikirkan sesuatu.
"E..., gua balik dulu ya." Firza mengatakannya dengan ekspresi cemas. Reza dan Sania kebingungan. Selang beberapa menit Firza pun datang. Dan Sania menanyakan kepada Firza kalau tadi dia pergi ke mana. Firza menyuruh Sania untuk melupakannya saja. Tak lama mereka kembali masuk ke dalam rumah. Reza sudah mempersiapkan makanan untuk yang lain.
"Lo beli makanan di mana? memang Lo punya duit? dan ini siapa yang masak?" Bertanya Firza. Reza memberitahu kepada Firza dan Sania bahwa dia mendapatkan duit dari hasil kebun tomat di belakang rumahnya. Firza pun ingat, kalau selama ini dia hanya mengandalkan orang tua Sania untuk bisa makan.
Tiba-tiba ada asap yang berasal dari belakang rumah Reza. Mereka pun langsung pergi ke belakang rumah Reza. Reza kaget bukan main. Karena kebun tomatnya habis terbakar. Mereka berusaha memadamkan api itu. Setelah padam, semua pohon tomat sudah rata dengan tanah menjadi abu. Firza mencoba menenangkan Reza. Dan Reza pun berhasil tenang.
Yang Membuat Kebakaran
Firza sangat kesal dengan apa yang terjadi. Dia mencoba mencari tahu sendiri siapa yang menyebabkan kebakaran selama ini. Dia menanyakan ke setiap warga secara satu persatu. Saat menanyakan ke salah satu warga.
"Saya sempat melihat arifin berlari saat kebakaran tersebut. Wajahnya seperti orang panik." Ucap seorang warga. Firza pun mendapat informasi. Dia langsung pergi ke rumah Reza. Dan langsung memakai kostum super heronya. Dia langsung mencari pergi ke tempat Arifin.
Arifin yang sedang berada di rumahnya terkejut karena kedatangan Afira. Afira langsung memojokkan Arifin. Afira menanyakan tentang orang yang membakar tempat penginapan dan kebun tomat Reza. Tetapi Arifin tidak mengakuinya. Afira tetap menyuruh Arifin untuk mengaku. Saat Afira memegang baju Arifin, terlihat tanda tato berbentuk huruf W. Lalu Arifin bersifat seperti orang gila dan langsung memukul Afira. Afira pun terjatuh.
"Apakah ini yang dinamakan Adiwira? gak ada apa-apanya." Ucap Arifin sambil tersenyum dan kemudian tertawa. Afira langsung berdiri dan mencoba menyerang Arifin. Tetapi Arifin langsung pergi keluar, Afira pun mengikutinya. Arifin terus berlari lari sambil tertawa seperti orang gila. Afira sangat sulit untuk mengejarnya. Lalu saat Arifin berlari-lari di jalanan dia langsung tertabrak oleh mobil yang lewat. Mobil itu langsung kabur setelah menabrak Arifin. Afira hanya bengong. Afira pun pulang dengan keadaan lemas, karena tidak mendapatkan informasi apa pun dari Arifin. Reza yang melihat Firza.
"Lo ke mana aja. dari tadi gua nyariin Lo." Ucap Reza. Firza pun menceritakan semuanya kepada Reza tentang Arifin.
"Tapi mengapa Arifin membakar tempat penginapan dan kebun gua?" Tanya Reza.
"Gua juga gak tahu. gua belum dapat bukti alasan dia membuat kebakaran." Jawab Firza.
Api Amarah
Di tempat lain, Wektu sedang berada di sebelah Arifin yang sudah meninggal. Di ruangan itu wektu di temani oleh Habur dan Rudi. Di tempat itu wektu berbicara sendiri sambil menghadap ke mayat Arifin.
"Salah satu Anak buahku yang paling setia kepadaku sekarang sudah tidak ada. Seorang yang ingin di panggil Adiwira itu harus tiada. (Wektu menghadapkan kepalanya ke depan) Siapkan mental kalian, karena sebentar lagi akan ada pertumpahan darah." Ucap wektu dari santai lalu tegas. Habur kaget dengan perkataan Wektu, karena Habur tidak suka dengan pertumpahan darah. Tetapi dia tidak berani mengatakannya kepada wektu. Karena dia takut. Sedangkan Rudi hanya terdiam dan tersenyum kecil.
Keesokan harinya, di pagi hari. wektu menyuruh anak buahnya untuk membakar rumah KK. Rumah KK pun terbakar. Di rumah Reza, Firza yang sedang tertidur pun terbangun mendengar suara kebisingan. Lalu ia keluar dari rumah dan menanyakan kepada salah satu orang tentang apa yang terjadi. Orang itu memberitahu kalau rumah KK kebakaran. Firza bingung harus apa. Karena dia tidak memiliki permata kesaktian Air. Firza duduk di depan rumah sambil merasa bersalah karena tidak bisa menolong KK. Tetapi dia juga bingung harus menolong dengan cara apa.
Lalu di siang harinya Firza yang berada di dalam rumah mendengar suara bising lagi di luar. Saat Firza ingin pergi keluar, Reza menghentikan Firza dan dia yang pergi keluar untuk mengecek kebisingan itu. Reza pun keluar rumah dan menanyakan kepada seseorang.
"Ada kebakaran lagi di tiga rumah. Padahal jaraknya jauh. Ini mah kaya di sengaja" ucap seorang warga yang di tanyai Reza. Lalu Reza masuk ke dalam rumah dan memberitahu Firza.
"Reza, lu jaga rumah. Gua mau cari tahu penyebab kebakaran ini.” Ucap Firza. Firza menanyakan kepada setiap orang, tetapi dia tidak mendapatkan hasil. Kemudian dia mengecek rumah bekas kebakaran tersebut. Saat Firza sedang mencari penyebab terjadinya kebakaran itu, dia menemukan sebuah amplop yang sedikit terbakar di belakang rumah yang terbakar itu. Saat dia buka amplop itu, terdapat kertas yang bertuliskan huruf W. Firza pun seperti mengetahui sesuatu. dia langsung pergi ke tempat kebakaran lainnya, dan dia menemukan amplop dengan isi yang sama. Firza pulang ke rumah dan menceritakan kepada Reza.
"Gua temui amplop-amplop ini di rumah bekas kebakaran. Gua pikir kalau dia itu adalah...tapi gak mungkin. diakan udah mati." Ucap Firza. Reza juga merasa bingung tentang semua itu.
"Apa jangan-jangan wektu yang Lo bunuh itu... adalah wektu yang palsu. Bisa aja kan dia pakai kekuatannya untuk membuat tiruan." Ucap Reza. Firza pun masih merasa bingung. Di saat itu, Firza dan Reza seperti mengingat seseorang yang tidak asing menurutnya. Lalu mereka ingat kalau dia masih punya dua teman dekat. Mereka berdua mengingat Sania dan Mirja. Tiba-tiba kepala mereka berdua berasa sakit dan langsung pingsan. Reza terbangun dengan kepala masih terasa sakit. Dia pun membangunkan Firza yang sedang terbaring pingsan. Firza pun terbangun dengan kepala masih terasa sedikit sakit. Lalu Firza langsung pergi ke rumah Sania dan meninggalkan Reza. Saat berlari, Firza melihat sebuah rumah yang ternyata adalah rumahnya. Lalu dia masuk ke dalam rumahnya dan berperilaku seperti orang kangen. Lalu dia kembali bergegas ke rumah Sania. Sesampainya di sana dia melihat Sania yang sedang berbaring pingsan. Firza pun membangunkan Sania yang sedang pingsan tergeletak di lantai. setelah Sania terbangun, Sania menceritakan semua kepada Firza. Hal yang dirasakan Firza dan Reza dirasakan juga oleh Sania. Lalu Firza memikirkan sesuatu kepada Mirja. Dia takut terjadi sesuatu kepada Mirja. Lalu Reza, Firza dan Sania pergi mencari Mirja. Firza ingat kalau Mirja sempat memberitahu kampung tempat tinggal Mirja. Lalu mereka bertiga pergi ke kampung itu.
Serangan Wektu
Saat di jalan tiba-tiba ada api yang muncul di depan mereka. Api itu datang berkali-kali seperti ada orang yang sengaja menyerang mereka. Firza pun sangat kesal dengan hal ini. Tiba-tiba Wektu dan anak buahnya muncul dari persembunyiannya di hadapan mereka bertiga. Firza, Reza dan Sania kaget karena setahu mereka wektu sudah tidak ada. Dan tiba-tiba dia datang tanpa luka apa pun.
"Halo Afira. Ternyata kau adalah Afira. Mengapa aku tidak dapat menyadarinya. Aku memang bodoh.” Ucap wektu santai sambil tersenyum. Firza kebingungan karena dia tidak membawa permata kekuatannya. Firza pun melawan anak buah wektu sebisanya. Reza yang bisa ilmu bela diri, membantu Firza melawan anak buah wektu. Mereka bertarung sekuat tenaga. Mereka berdua bertarung sambil melindungi Sania. Tiba saatnya mereka kelelahan, dan anak buah wektu pun terus menendang dan memukuli mereka berdua. Mereka terjatuh dalam keadaan lemas. Dan tiba-tiba ada api yang datang dari langit menyerang semua anak buah wektu. Semua termasuk wektu kebingungan. Lalu ada api lagi yang datang dari langit menyerang wektu hingga wektu terjatuh. Firza memanfaatkan kesempatan itu untuk lari. Dia menyuruh Sania dan Reza untuk lari juga. Tetapi Reza yang sedang lemas dan kesakitan itu pun memutuskan untuk tidak ikut. Firza dan Sania terus memaksa Reza untuk lari. Tiba-tiba ada asap tebal yang datang dari langit. Mereka semua menjadi tidak bisa melihat satu sama lain. Firza yang sedang memegang tangan Sania langsung membawa Sania pergi dengan meninggalkan Reza. Sania yang awalnya tidak setuju menjadi merelakan meninggalkan Reza. Firza mengajak Sania untuk pergi ke rumah Reza untuk mengambil permata kesaktian dan kostumnya.
Sesampainya di rumah Reza, Firza langsung mencari permatanya. Saat Firza sedang mencari permatanya, Sania mengendap-endap lari keluar rumah. Tetapi Firza tidak menyadari kalau Sania pergi. Di sana Firza memakai kostumnya. Setelah itu Firza kebingungan, karena Sania tidak ada di dekatnya.
"Sania! Sania! SANIA!" Teriak Firza kebingungan bercampur panik.
Tak lama wektu dan beberapa anak buahnya datang ke tempat Afira. Afira pun kaget dengan kehadiran wektu dan anak buahnya. lalu anak buah wektu pun langsung menyerang Afira. Tetapi Afira berhasil melawan anak buah wektu itu. Di dalam rumah Reza Afira bertarung melawan anak buah wektu.
(Anak buah wektu yang paling dia sayangi dan satu-satunya wanita yang menjadi anak buah wektu yang bernama Isyana) Isyana menyerang Afira menggunakan rantai yang di pegangnya. Afira pun berhasil menghindari serangan Isyana. Di saat semua anak buahnya menyerang Afira, wektu keluar dari dalam rumah.
"Seorang yang mau dibilang Adiwira itu harus punya musuh. Dan sekarang musuhmu itu adalah aku. (sambil melekatkan permatanya ke tongkat kayunya) Dunia memang berubah seiring perkembangan jaman. tetapi kejahatan, tidak pernah hilang dari muka bumi ini. Aku menjadi jahat, karena kejahatan. Kejahatan yang selalu membayang-bayangi hidupku di waktu kecil. Tetapi aku bersyukur. Karena kejahatan juga yang membuat aku bisa di hormati dan ditakuti." Ucap wektu.
Afira terus menyerang Isyana, dan Isyana pun terus menyerang Afira. Secara bergantian anak buah wektu menyerang Afira. Satu per satu anak buah wektu tumbang. Saat Isyana ingin menyerang Afira, Afira lari ke belakang rumah. Saat Afira sedang berlari, tiba-tiba di depannya ada seorang pria bertopi yang membawa sebuah celurit. Afira pun kaget dan langsung berhenti berlari.
"Jadi ini yang namanya Afira." Ucap si pria bertopi itu.
Lalu pria itu langsung menyerang Afira. Afira mendapatkan Beberapa luka goresan di tubuhnya dari celurit pria itu. Afira pun berhasil di kalahkan oleh pria itu. Tak lama Isyana dan yang lainnya datang.
"bagus.” Ucap Isyana. Ternyata orang itu adalah salah satu anak buah wektu juga.
Kekalahan Wektu
Tiba-tiba Sania datang sambil berlari dan memanggil-manggil Afira.
"Afira....Afira...!" Berteriak Sania sambil berlari. Isyana pun langsung berlari dan berniat untuk menangkap Sania. Sania yang tidak punya ilmu bela diri mencoba melawan Isyana sebisanya. Afira yang terbaring setengah sadar itu mendengar suara Sania yang memanggil-manggil namanya. Dia melihat Sania yang lehernya di lilitkan rantai oleh Isyana.
"Sania..." berteriak Afira dengan lemah. Afira pun marah dan dia bangun dengan ekspresi wajah yang marah. Karena melihat Afira berdiri, pria yang membawa celurit itu langsung ingin membacok Afira. tetapi Afira berhasil menghindari serangannya. Afira kembali menyerang pria itu hingga pria itu tumbang. Anak buah wektu yang lain juga menyerangnya, tetapi semuanya juga tumbang.
Lalu Afira berlari ke arah Isyana. Isyana pun berdiri di depan Sania. Mereka berdua langsung saling menyerang. Afira menyerang menggunakan permata kesaktian petir. Dan Isyana menyerang menggunakan rantainya. Mereka berdua beradu dan menyerang secara bersamaan. Isyana pun terpental tetapi Afira tidak kenapa-kenapa. Ternyata Afira sudah menggunakan permata kesaktian perisai tubuhnya. Lalu Afira melepaskan ikatan rantai di lehernya Sania. Lalu Sania pun memberikan golok Afira yang disembunyikan di dalam bajunya. Saat mereka berdua ingin lari dari tempat itu, tiba-tiba wektu datang.
"Jangan merasa senang dulu. Musuhmu yang sebenarnya itu belum terkalahkan.” Ucap wektu dengan rasa sombong. Afira pun terkejut dengan kedatangan wektu. Afira langsung melindungi Sania. Wektu pun langsung menyerang Afira menggunakan tongkatnya. Afira pun berhasil menghindari serangan itu. Wektu menyerang Afira terlebih dahulu menggunakan tongkat saktinya. Serangan itu mengenai Afira sampai terjatuh. Afira yang masih lemah memaksakan dirinya untuk bangun. Tetapi Sania menyarankan kalau seharusnya Firza dan Sania pergi dari wektu.
"Tidak. bagai mana pun__ aku harus__ mengalahkannya. Sebaiknya__ kau bersembunyi." Sahut Afira sambil kesakitan. Sania pun menuruti perkataan Afira walau perasaannya tidak tenang. Lalu Afira kembali berdiri dan kembali menggunakan permata perisai tubuh. Wektu yang melihatnya tidak tinggal diam. Wektu langsung menyerang Afira hingga Afira terjatuh lagi dan permata perisai tubuh yang di pegang terpental ke arah Sania. Tetapi Afira dan wektu tidak mengetahui ke mana perginya permata itu. Lalu Sania mengambil permata itu. Afira sekarang hanya memiliki satu permata saja. Afira pun kembali berdiri tetapi karena tubuhnya yang masih lemah dia terjatuh lagi.
"Afira... ambil ini. Kekuatan itu muncul karena persatuan." Teriak Sania. Sania melemparkan permata perisai tubuh ke Afira. Afira yang tergeletak lemah di tanah itu berusaha mengambil permata yang terjatuh di depannya. Wektu yang melihat Sania melemparkan permata kesaktian kepada Afira sangat kesal dan marah. Wektu langsung berjalan dengan keadaan marah ke arah Sania. Afira tahu apa yang dimaksud oleh Sania. Lalu dia menyatukan kedua permatanya dan di lekatkan di dadanya. Lalu dia mengeluarkan goloknya dan berlari ke arah wektu.
"Wektu..........." teriak Afira. wektu yang sedang berjalan ke arah Sania, kaget melihat Afira yang ingin menyerangnya. Dan Afira pun berhasil menyerang wektu menggunakan golok yang di aliri listrik dari dalam tubuhnya. wektu pun langsung tewas di tempat. Sania langsung lari ke arah Afira dan memeluknya. Tiba-tiba ada seseorang yang memakai pakaian serba hitam melemparkan batu ke arah Afira. Tetapi ditangkis oleh api yang ternyata berasal dari dewa Purna (anak dewa matahari) yang berasal dari langit. Purna pun turun ke bumi dan menyerang orang yang berpakaian hitam itu. Sania dan Afira pun melihat ke arah belakang dan terkejut.
"MIRJA SUKE!" Ucap Terkejut Sania dan Afira secara bersamaan.
DAN KISAH AFIRA SI GOLOK SAKTI PUN DIMULAI.
FIRZA AKHI As AFIRA
SANIA As XILA
MIRJA SUKE as PURNA PUTRA DEWA
(DI AWAL KEMUNCULAN MIRJA DI CERITA INI DIA MASIH MEMPELAJARI KEKUATAN DEWA YANG TIBA-TIBA ADA DI DIRINYA. DAN SEKARANG DIA SUDAH BISA MENGUASAINYA)
ARUFU
(ADALAH BENDA YANG DIGUNAKAN UNTUK SANGGAHAN PERMATA KESAKTIAN)
BI ALADAH
(PENDEKAR YANG BERHASIL MENGALAHKAN JI WULUNG)
Fakta Tentang Mirja
"Dewa memilihku karena dia memandangku sebagai anak yang baik. Dan sekarang dewa Purna sudah ada di dalam diriku." Ucap Purna. Tetapi Sania dan Afira masih merasa heran. Purna pun menyuruh mereka untuk jangan terlalu memikirkan hal tersebut. Purna pun langsung membawa mereka berdua pulang untuk beristirahat.
"Tapi Reza bagai mana" Firza khawatir. Purna hanya terdiam dan tetap terbang. sesampainya di rumah Afira, Afira langsung ingin pergi mencari Reza. Tiba-tiba Reza keluar dari dalam rumah.
"Firza.” Reza memanggil Firza. Afira yang kaget sekaligus senang langsung memeluk Reza. Setelah itu Afira bertanya kepada Reza siapa yang sudah menyelamatkannya.
"Aku yang menyelamatkannya.” Ucap Purna. Setelah itu Purna pergi karena dia harus menjaga ibu dan adiknya. di malam harinya di rumah Firza, Sania memilih untuk tinggal dengan Firza. karena ayah, ibu dan saudaranya sudah tidak ada. dan Firza pun mengizinkannya.
"Firza. Kalo gua boleh gak tinggal di sini?” tanya Reza.
"Gak boleh.” Jawab Firza. Lalu Reza pun berniat pulang ke rumahnya. Tiba-tiba Firza ingat kalau rumah Reza sangat berantakan karena kejadian tadi siang.
"Reza. Lu boleh tinggal di sini.” Panggil Firza. Reza pun senang padahal dia tidak tahu apa yang terjadi pada rumahnya. Setelah Reza dan Sania tertidur, Firza duduk di depan rumahnya sambil memegang golok saktinya. Dia membayangkan masa-masa di waktu ibu dan ayahnya Masi hidup.
"Aku berjanji akan terus membela kebenaran demi ketenangan kalian di sana.”
AIRI, MUSUH TERKUAT
Fakta Tentang Wektu
Keesokan harinya, Firza mengajak Sania ke rumah Reza. Firza meminta bantuan kepada Sania untuk merapikan rumah Reza. Mau tidak mau Sania ikut membantu Firza merapikan rumah Reza. Setelah selesai, Firza dan Sania langsung kembali ke rumah Firza. Mereka berdua duduk di depan rumah sambil menceritakan tentang wektu. Firza menceritakan tentang kehidupan wektu di saat wektu Masi kecil.
"Gua tahu kok." Ucap Sania sambil tersenyum. Sania pun menceritakan tentang sumur yang ada di markas dalam rahasia wektu. Sania mengatakan kalau sumur itu selalu mengeluarkan cahaya di setiap malam.
"kok lu bisa tahu tentang sumur itu? Gua aja gak pernah tahu kalo ada sumur di dalam markas wektu.” Ucap Firza keheranan. Sania mengatakan kalau dia pernah mencari tahu siapa itu wektu. Dan dia pernah bertanya kepada seorang pria tentang wektu. Sayangnya Sania lupa siapa nama pria itu. Sania juga memberitahu di mana markas rahasia wektu berada.
"Markasnya berada di dalam sebuah pabrik yang entah memproduksi apa. Katanya sih pabrik itu berada di dekat ladang tomat di kampung kita." Ucap Sania.
Firza pun hanya terdiam mendengar perkataan Sania. Reza yang sedang menyiapkan sarapan, memanggil Sania dan Firza untuk sarapan.
"Tadi kalian pergi ke mana? kok kayaknya penting banget si." Tanya Reza kebingungan. Firza dan Sania pun kebingungan mau bilang apa.
Orang Tua Sania
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Firza pun langsung pergi untuk membukakan pintu. Sania pun mengikuti Firza. Saat pintu dibuka, Sania kaget melihat orang yang mengetuk pintu itu.
"Sania... Ayah sangat menyayangimu. Tolong jangan pergi lagi.” Ucap orang yang mengetuk pintu sambil menangis. Firza yang melihatnya merasa kebingungan. Karena setahunya orang tua Sania sudah tidak ada.
"Kamu mau kan ikut pulang sama ayah." Ucap ayah Sania.
“Gak mau. Aku gak mau tinggal sama ayah lagi, aku gak mau.” Berteriak Sania. Sania langsung menutup pintu dan menguncinya.
“Itu benar ayah Lo? Ayah Lo kan...” ucap Firza lalu memutus perkataannya. Lalu Sania menceritakan semua yang terjadi.
" Itu ayah gua. Pengusaha tambang yang cukup sukses. Tapi hidup gua gak bahagia. Gua sangat gak suka sama sifat ayah dan ibu gua yang sangat sombong. Mereka rela melakukan apa saja demi uang. Karena hal itulah gua kabur dari rumah. Beberapa hari tinggal di jalanan, gua ketemu sama sepasang suami istri. Lalu mereka mengangkat gua jadi anaknya.” Ucap Sania. Firza pun terkejut mendengar perkataan Sania.
"Sebaiknya Lo ikut sama ayah Lo aja Sania. kasihan kan dia udah nyari-nyari Lo. dan mungkin aja dia sudah berubah.” Ucap Reza yang menghampiri Firza dan Sania.
Firza yang sebenarnya tidak mau ditinggalkan oleh Sania itu, terpaksa mengiyakan perkataan Reza. Setelah beberapa lama Sania di bujuk Reza dan Firza, Sania pun mau tinggal bersama orang tua kandungnya lagi. Sania pun membereskan barang-barangnya dan ikut bersama ayahnya.
Di sore hari, Firza pergi ke kamar mandi untuk mandi. Di dalam kamar mandi dia melihat sebuah cincin yang ternyata cincin itu adalah cincin Sania. Firza pun mengambil cincin itu dan langsung pergi ke kamarnya untuk menyimpan cincin itu.
"Gua gak akan ngelupain lu, Sania.” Berkata Firza dalam hati.
Pabrik misterius
Dimalam hari, Firza dan Reza sedang duduk santuy di depan rumah.
"Reza. Lu gak mau pulang ke rumah lu apa?" Ucap Firza kepada Reza.
"Tenang aja, nanti juga gua pulang.” Ucap santai Reza. Tiba-tiba ada sebuah sinar yang sangat terang dari arah ladang tomat. Firza bertanya-tanya tentang sinar yang muncul itu. Tetapi Reza menganggap sinar itu hanya sebuah senter saja. Tetapi Firza terus menegaskan kepada Reza kalau sinar itu sangat terang dan berwarna putih kebiru-biruan. Reza pun tidak menganggapnya serius. Reza pun mengajak Firza untuk tidur.
"Katanya mau pulang ke rumah, kok malah mau tidur di sini.” Ucap Firza. Reza pun tersenyum malu. Firza pun mengizinkan Reza untuk menginap di rumahnya. Di tengah malam saat semua sedang tidur, terasa gempa yang tidak terlalu keras. Reza yang menyadari langsung terbangun dari tidurnya. Tetapi, dia tidak membangunkan Firza. Reza mengintip di jendela dan melihat keluar rumah. Dia kembali melihat cahaya putih ke biru-biruan yang sangat terang. Karena ketakutan, diapun langsung kembali dan tidur.
Keesokan harinya, Firza membangunkan Reza yang sedang tertidur. Reza pun terbangun dari tidurnya.
"Ayo bantuin gua. Kita harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan uang" ucap Firza. Firza menyuruh Reza untuk mandi. Reza pun langsung mandi dan mengganti pakaiannya. Setelah itu Firza mengajaknya ke suatu tempat.
"Kita mau ke mana si?" Bertanya Reza.
"ke kebun tomat." Sahut Firza. Reza pun kaget karena Firza mengajaknya ke kebun tomat, karena sinar yang semalam muncul itu berasal dari arah kebun tomat. Tetapi Reza tetap mengikuti Firza. Sesampainya di sana, mereka di suruh oleh seorang yang adalah pemilik kebun tomat tersebut. Orang itu menyuruh mereka untuk merapikan kebun tomat yang rusak itu.
" memangnya kenapa bisa rusak pak?" Tanya Reza.
"Semalam tanahnya pada retak. Gak tua kenapa." Ucap si pemilik kebun. Reza dan Firza pun merapikan kebun tomat yang rusak itu. Saat sedang merapikan, Reza melihat retakan tanah yang si pemilik kebun bilang. Dia pun memperhatikan retakan itu dan ingin mencoba mencari tahu asal dari retakan itu. Dia mengikuti retakan itu. Dan retakan itu ternyata berasal dari pabrik dekat situ. Reza pun berlari menghampiri Firza.
"Firza... gua lihat retakan itu berasal dari pabrik itu." Ucap Reza memberitahu Firza. Firza pun langsung teringat dengan perkataan Sania. Firza pun mengajak Reza untuk masuk ke dalam pabrik itu. Dengan rasa takut Reza pun mengikuti Firza. Firza pun membuka pintu pabrik itu. Rasa seram dan menakutkan pun terasa. Mereka berdua pun terus mengikuti asal retakan itu. Retakan itu pun berakhir di sebuah sumur yang sepertinya sudah hancur karena retakan itu. Tak lama, mereka dengar suara dengkuran. Mereka berdua pun terkejut. Reza pun merasa sangat panik dan memilih untuk mengajak Firza keluar dari pabrik itu. Tetapi Firza masih penasaran dengan asal bunyi itu. Firza pun menghampiri tumpukan kardus yang di curigainya. Tiba-tiba tanah bergetar dengan sangat kencang di dalam pabrik itu. Mereka berdua pun panik dan langsung pergi keluar dari pabrik itu.
"Kalian ke mana aja dari tadi? Bukannya kerja malah keluyuran. Sudah pergi sana" marah si pemilik kebun tomat. Reza pun menanyakan tentang bayaran. Tetapi pemilik kebun itu menolak untuk membayar mereka berdua. Mereka berdua pun pulang dengan lenggang. Di tengah jalan, Firza mengajak Reza untuk kembali ke pabrik itu. Tetapi Reza menolak untuk kembali ke pabrik itu.
"Ngapain lu mau ke situ lagi? Tempat itu sangat bahaya banget. Udah mending kita pulang aja" marah Reza kepada Firza. Firza pun mengikuti perkataan Reza untuk pulang ke rumah.
Penyelamatan 1
Di tengah perjalanan Firza melihat seorang ibu-ibu yang di copet. Firza pun langsung lari mengejar copet itu. Reza yang melihat Firza berlari mengejar copet hanya bisa terdiam. Firza pun memanggil-manggil copet itu. Saat di tempat sepi copet itu berhenti berlari.
"Jangan ikut campur lu anak kecil." Ucap si copet. Copet itu pun langsung menyerang Firza, tetapi Firza masih bisa menghindari serangannya. Mereka berdua pun terus bertarung. di tengah pertarungan, tiba-tiba datang beberapa orang dengan ibu-ibu yang di copet. Melihat banyaknya orang di tempat itu, si copet pun langsung lari dari tempat itu. Tetapi si copet menjatuhkan barang yang dia curi dari ibu-ibu. Firza pun mengambil barang itu dan memberikannya ke ibu-ibu yang di copet. Orang-orang yang melihat pun kagum dengan Firza. Firza pun langsung pergi dari tempat itu. Sesampainya di rumah, dia langsung mengenakan kostum super heronya dan mengambil permata kesaktiannya. Reza yang melihat tindakan Firza menanyakan tentang semua ini.
"Gua harus bisa menjadi Adiwira yang baik. Gua gak akan hanya melindungi diri gua dan orang-orang terdekat dengan kelebihan gua. Tapi gua juga harus melindungi orang-orang yang membutuhkan bantuan." Ucap Firza. Reza pun hanya terdiam. Firza kemudian pergi ke luar rumahnya dan memanggil Purna. Tak lama Purna pun datang.
"Ada apa?" Tanya Purna. Lalu Firza memberitahukan tujuannya kepada Purna.
"Gua mau setiap orang di kota ini mendapatkan haknya. Gua mau setiap orang yang memerlukan bantuan bisa kita bantu. sebagai orang yang terpilih, gua harus memanfaatkan kelebihan gua untuk membantu orang lain." Sahut Firza dengan tegas. Purna mengangguk dan membawa Firza terbang. Lalu Firza memakai kostumnya dan ikut dengan purna.
Penyelamatan 2
Di tengah perjalanan mereka melihat seseorang yang sedang di pukuli. Purna dan Afira menghampiri orang yang sedang di pukuli itu dan menanyakan apa sebenarnya yang terjadi.
" Dia gak mau bayar hutang sama gua." Ucap si penagih hutang. Kemudian Purna menanyakan kepada orang yang di pukuli.
" Saya bukannya tidak mau membayar, Kalau saya sudah ada uangnya, pasti saya bayar kok.” Ucap orang yang ditagih hutang. Afira pun membujuk si penagih hutang untuk memberikan waktu beberapa bulan.
" Berisik Luh anak kecil. Emangnya Luh ini siapa sih? jangan ngatur-ngatur gua." Marah si penagih hutang. Orang itu pun langsung menyerang Afira. Tetapi Purna berhasil menangkis serangannya.
"Kita berdua gak berniat jahat loh sama bapak!" Tegas Purna. Tetapi orang itu masih berniat melawan Afira dan Purna. orang itu berusaha memukul Purna, tetapi Purna berhasil menghindar. Orang itu terus menerus menyerang Purna. Tetapi Purna hanya menghindari serangan dari orang itu dan tidak menyerangnya. Purna juga berusaha menjelaskan kepada orang itu kalau niatnya baik. Tetapi orang itu tidak menghiraukan perkataan Purna dan terus menyerangnya.
Afira yang berada di dekat orang yang ditagih hutang, menyuruh orang itu untuk pergi saja. Saat Afira sedang lengah, si penagih hutang itu tiba-tiba menyerang Afira. Afira pun berhasil di pukul oleh orang itu. Purna yang tidak senang dengan hal itu, seketika marah dan langsung mengeluarkan kekuatannya. Purna berniat menyerang orang itu.
Wanita Misterius
Tetapi tiba-tiba ada suara seorang wanita.
" Dia tidak bersalah!!! Situasilah yang membuatnya bersikap seperti itu." Ucap si wanita. Afira dan Purna kaget mendengar suara itu. Kemudian wanita itu datang dari balik tembok dan berjalan menghampiri mereka berdua. Langkah kakinya yang terdengar santai. wanita itu sangat percaya diri berjalan menghampiri Purna dan Afira. Tiba-tiba wanita itu tergelincir dan terjatuh. Dia tergelincir dikarenakan selendang yang ia bawa mengeluarkan air.
"Aduh...!!!"
Secara spontan Afira dan Purna berlari menghampiri wanita itu dan menyelamatkannya.
"Kakak tidak apa-apa?" Tanya Firza. Wania itu langsung kembali berdiri dan mengatakan kalau dirinya tidak apa-apa.
"Woi!!! Ini hutangnya mau di bayar atau cuma mau ngajakin ribut doang?" Ucap si penagih hutang. wanita yang tadi tergelincir berlari menghampiri si penagih hutang. wanita itu bertanya berapa sebenarnya hutang yang ingin orang itu tagih.
"Seratus lima puluh ribu." Sahut si penagih hutang. Afira dan Purna kaget karena hutang yang di tagih hanya Rp 150.000.
"Jumlah hutangnya hanya seratus lima puluh ribu?" Terkejut Adira. Si wanita pun mengeluarkan uangnya dan memberikannya kepada si penagih hutang. kemudian orang itu pergi. Purna dan Afira kemudian menghampiri wanita itu.
"Halo!!! Aku Isni." Ucap si wanita. Purna tersenyum kecil.
"Kenapa kakak kasih uang ke orang itu?" Tanya Afira. Isni berkata kalau dia hanya ingin membantu orang lain saja.
"Kenapa kalian memakai pakaian seperti ini?" Tanya Isni
"Kita berdua hanya bermain-main menjadi Adiwira saja kok kak. Orang yang tadi itu sebenarnya tetangga kita." Ucap Afira menyela Purna yang ingin berbicara. Lalu isni tersenyum dan berlari menjauh dari mereka.
"Kenapa lu berbohong?" Ucap Purna kebingungan.
Firza mengatakan kalau dia berbohong agar orang lain tidak akan ikut campur lagi saat mereka berdua menjadi Adiwira. Mirja pun mengangguk. Lalu mereka pergi dari tempat itu dengan berjalan kaki. Saat merasa aman, Purna membawa Afira terbang.
Kehadiran Airi
Di tempat lain, Seorang pria masuk ke dalam pabrik yang berada di dekat ladang tomat yang sudah hancur. Pria itu berjalan mendekati sumur yang berada di dalam pabrik itu dengan membawa kendi kecil berisi garam. Pria itu menaburkan garam ke dalam sumur itu sambil mengucapkan mantra.
"Iblis sapalih badan. Kula toya kekuatanipun kula." Ucap pria iitu.
Lalu badan pria itu terlihat seperti dimasukkan sesuatu. Pria itu berteriak kesakitan. Matanya berubah menjadi hitam. Suaranya pun berubah. Air yang berwarna hitam mulai menutupi badannya.
"Tunggu aku... Afira." Teriak di Sertai tawa. Dialah, Airi.
Di tempat lain, Reza dan Firza sedang memakan buah tomat di rumah Firza.
"Tadi lo sama Mirja udah selamatkan berapa orang?" Tanya Reza. Firza menjawab kalau dirinya dan Mirja hanya menyelamatkan satu orang saja.
__ADS_1
"Bagus lah, berarti banyak orang yang baik-baik saja." Ucap Reza lalu memakan buah tomat.
Misterius
Keesokan harinya, Firza yang terbangun dari tidurnya di jam lima pagi, langsung pergi melatih ilmu bela dirinya di luar rumah. Belum lama Firza berlatih ilmu bela dirinya, hujan tiba-tiba turun. Tetapi Firza tidak menghiraukan hujan itu dan terus berlatih. Dia menyadari bahwa air hujan itu berwarna hitam. Firza yang keheranan Lang sing masuk ke dalam rumahnya. Dia pun berniat untuk mandi. Betapa terkejutnya di saat melihat air yang keluar dari keran juga berwarna hitam. Diapun langsung menutup kerannya dan mandi menggunakan air yang sudah ada di dalam ember.
Setelahnya, Firza pergi keluar rumahnya. Firza kembali dikagetkan karena hujan yang tadi hanya turun di sekitar rumahnya saja. Tak lama Reza datang dengan ekspresi kebingungan.
"kenapa ini? emangnya ada hujan?" Tanya Reza kebingungan. Firza menceritakan semua keanehan yang terjadi kepada Reza. Mulai dari air hujan yang berwarna hitam dan hanya turun di sekitar rumahnya saja, hingga air keran yang juga berwarna hitam. Reza juga bingung dengan hal itu. Tetapi Reza menyuruh Firza untuk melupakannya saja.
"Kita kan belum punya pekerjaan, gimana kalau kita berjualan aja?" Ucap Reza memberikan saran. Firza setuju dengan ide Reza.
"Tapi kita mau jualan apa?" Firza bertanya kepada Reza. Reza juga bingung apa yang harus mereka jual. Tiba-tiba ada seorang pria dan mengatakan...
"Bagai mana kalau kalian jualan sayuran." Ucap pria yang tidak di kenal. Firza dan Reza terkejut dan langsung melihat ke arah pria itu. Lalu pria itu menghampiri Reza dan Firza.
"Aku dengar ladang sayuran di kampung ini sudah rusak. Kalian manfaatkan saja kesempatan itu." Ucap pria itu. Firza dan Reza setuju dengan ucapan pria itu, tetapi mereka berdua Masi bingung siapa pria itu.
"Nama kakak Ridwan. kakak dari Bandung. Kakak pergi ke kampung ini karena katanya kampung ini itu selalu di datangi Adiwira." Ucap si pria yang ternyata bernama Ridwan. Firza mengangguk kecil. Lalu kak Ridwan meminta izin untuk tinggal di rumah Firza. Firza pun mengizinkannya.
“ Tetapi kakak harus bantu kita berkebun dan berjualan.” Ucap Reza. Kak Ridwan pun mengangguk.
"Aku punya sedikit uang, uang ini bisa kita jadikan modal.” Ucap kak Ridwan sambil mengeluarkan uang di dalam tasnya.
Firza dan Reza setuju. Mereka pun mulai membeli bahan-bahan yang diperlukan untuk berkebun. Mereka pergi ke pasar untuk membeli barang-barang yang di perlukan. Mereka membeli banyak sekali biji benih sayuran dan alat untuk berkebun. Karena mereka kesulitan membawa barang-barang itu, mereka pun menyewa kuli panggul. Mereka mendapati satu kuli panggul bernama Ali yang usianya sama seperti Firza dan Mirja yaitu 14 tahun. Ali mengajak dua temannya lagi untuk membantunya. Kak Ridwan mengarahkan Ali dan dua orang temannya untuk membawa barang-barang itu keluar pasar. Kemudian Reza berlari terlebih dahulu keluar pasar berniat untuk mencari mobil angkot. Sesampainya di luar pasar, Ali dan dua orang temannya mulai memasukkan barang-barang yang ia bawa ke dalam angkot. Setelah selesai kak canda kemudian memberikan upah kepada mereka. Ali dan dua orang temannya pergi kembali ke dalam pasar. Mereka pun pergi ke rumah Reza dan memulai berkebun di belakang rumah Reza. Mereka mulai menggali tanah untuk ditanami bibit sayuran.
"Kakak pergi ke rumah Firza dulu ya. Ada barang kakak yang tertinggal." Ucap Ridwan.
Di tempat lain
"Sekarang kalian adalah bawahanku. Pergilah ke rumah afira, dan buatlah kekacauan." ucap pria misterius (Airi)
Airi mengambil alih anak buah Wektu yang tersisa untuk dijadikan sebagai anak buahnya. Dia menyuruh anak buahnya untuk mengacaukan rumah Firza.
Hilangnya Golok Sakti
Di tempat lain, Firza dan Reza sedang kebingungan dikarenakan kak Ridwan yang tak kunjung kembali.
“Gimana kalau kita samperi kak Ridwan? Soalnya dia gak balik-balik.” Ucap Firza. Lalu mereka pun pergi ke rumah Firza.
Sesampainya ke tempat yang di tuju, mereka kaget setelah melihat rumah Firza yang sangat berantakan. Firza tiba-tiba ingat dengan golok saktinya. Ia pun langsung masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil golok saktinya.
“ Astaga! Di mana golok itu!.” Marah bercampur kesal dan bingung Firza. Reza yang mendengar teriakkan Firza langsung masuk ke dalam rumah.
“ Kenapa? “ Tanya Reza. Firza mengatakan kepada Reza kalau golok saktinya sudah hilang. Tetapi Reza menyuruh Firza untuk mencarinya kembali. Tak lama kak Ridwan datang dan bingung kenapa rumah Firza jadi berantakan.
“ Kita gak tahu siapa yang sudah buat seperti ini. Firza juga kehilangan goloknya.” ucap Reza kebingungan.
“ Golok? Golok apa?” bertanya kak Ridwan bercampur bingung. Reza yang menyadari kalau dia sudah keceplosan berbicara tentang golok kebingungan.
“ Golok itu adalah golok kesayangan saya. Itu adalah pemberian dari ayah saya saat saya kecil. Bagai mana pun, saya harus menemukan golok itu.” Ucap Firza tanpa ekspresi. Lalu Reza bertanya kepada kak Ridwan kalau tadi dia sedang berada di mana. Karena kak Ridwan bilang kalau dia ingin pergi ke rumah Firza.
“ kakak_ tadi_ pergi ke_ warung. Untuk beli air minum.” ucap kak Ridwan gugup dan ter putus-putus. Reza pun sedikit curiga kepada kak Ridwan karena ucapan dan ekspresinya yang tidak meyakinkan. Tetapi Reza tetap diam.
“ Lalu di mana minumannya kak?” tanya Firza. Kak Ridwan berkata kalau minuman yang ingin dia beli sudah habis.
“ Ya sudah, lebih baik kita rapikan dulu rumah ini, lalu kita cari goloknya.” Ucap Reza. Yang lain pun setuju.
Air Yang Berwarna Hitam
Di tempat lain
“ya ampun...”
Seorang ibu-ibu yang ingin mencuci pakaiannya di kaget kan dengan air yang keluar dari keran menjadi berwarna hitam. Ibu-ibu itu menceritakan tentang hal itu kepada tetangganya. Dan tetangganya juga mengalami hal yang sama. Ternyata air yang berwarna hitam itu tidak hanya di rumah Firza, tetapi seisi kampung juga mengalami hal yang sama. Pra warga bingung kenapa hal itu bisa terjadi. Karena tidak biasanya hal itu terjadi.
Di tempat lain. Firza, Reza dan kak Ridwan sudah selesai merapikan rumah Firza. Mereka pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
“ Astaga!” ucap Reza terkejut.
Firza dan kak Ridwan terkejut mendengar suara Reza dan menanyakan kepadanya apa yang terjadi. Kemudian Reza mengatakan kalau air yang keluar dari keran berwarna hitam. Mereka pun tidak jadi membersihkan diri dan memutuskan langsung mencari golok milik Firza saja.
“ Tapi kita mau mencari ke mana?” tanya Reza. Firza mengatakan kalau yang mencuri golok miliknya itu pasti ulah dari anak buah Wektu.
“Mereka pasti masih tidak terima dengan kematian Wektu” ucap Firza. Kak Ridwan kebingungan dengan perkataan Firza.
“Wektu? Siapa itu Wektu? Terus apa hubungannya dia denganmu dan golok milikmu?” Bertanya kak Ridwan Kepada Firza. Firza dan Reza kebingungan harus berkata apa. Untungnya kak Ridwan ingin buang air kecil dan harus pergi ke kamar mandi. Kak Ridwan pun pergi ke kamar mandi dan Reza mulai menyalahkan Firza tentang apa yang Firza ucapkan. Firza pun meminta maaf.
Beberapa saat kemudian hujan turun dan tak lama setelahnya kak Ridwan datang. Untungnya kak Ridwan sudah lupa dengan pertanyaannya.
“ Oke. Kita mau cari goloknya di mana?” tanya kak Ridwan. Lalu Reza mengatakan kalau saat itu sedang hujan dan pencarian golok itu harus di batalkan sampai hujannya berhenti. Kak Ridwan mengangguk dan pergi ke luar.
“ Astaga...” terkejut kak Ridwan.
Firza dan Reza terkejut dan langsung menghampiri kak Ridwan. Betapa terkejutnya mereka saat melihat air hujan yang turun berwarna hitam.
“ Ini seperti hujan yang turun tadi pagi.” ucap Firza. Tetapi Reza mengatakan kalau tadi pagi tidak ada hujan.
“gua juga bingung. Karena hujan itu hanya turun di sekitar rumahku.” Ucap Firza. Reza sangat takut kalau yang terjadi saat itu adalah pertanda buruk.
Mencari Keberadaan Golok Sakti
Hujan pun melai reda dan Firza ingin langsing memulai mencari golok miliknya.
“tetapi kita mau mencari golok itu dari mana?” tanya Reza. Firza mengatakan kalau mereka akan mengawali pencariannya dari pabrik dekat ladang tomat.
“Kakak gak ikut kalian mencari golok itu ya. Karena perut kakak tiba-tiba terasa sakit.” Ucap kak Ridwan sambil memegang perutnya. Akhirnya hanya Firza dan Reza yang mencari golok itu. Mereka pun langsung pergi ke pabrik dekat ladang tomat.
Sesampainya di sana, Reza sangat merasa takut. Tetapi Firza menyuruh Reza untuk tidak takut. Mereka pun memasuki pabrik itu.
“Ambil balok itu.” Ucap Firza kepada Reza. Lalu mereka kembali melihat sumur yang ada di dalam pabrik itu. Mereka berdua mencoba mendekati sumur itu. Tetapi, tiba-tiba ada mereka mendengar suara orang-orang yang sedang berbicara. Mereka pun menghampiri sumber suara itu dengan cara mengendap-endap. Mereka pun sampai ke sebuah ruangan Yang di penuhi oleh anak buah Airi. Tetapi Firza dan Reza masih menganggap kalau itu adalah sisa anak buah Wektu. Firza dan Reza mendengarkan apa yang mereka katakan.
“Bagus sekali. Ha ha ha.” Ucap Airi.. lalu tertawa. Airi masih berwujud manusia biasa. Tetapi Firza dan Reza tidak bisa melihat wajahnya karena terhalangi oleh benda yang ada di dalam ruangan itu.
“Kalian berhasil mencuri golok sakti ini. Aku akan...” terputus perkataan Airi yang sedang memegang golok sakti milik Firza. Reza yang menyenggol sebuah balok kayu membuat balok itu terjatuh dan membuat kebisingan. Airi terkejut mendengar suara balok kayu yang terjatuh itu. Anak buahnya yang ingin memeriksa ke asal suara itu di larang oleh Airi. Firza dan Reza pun bersyukur dan langsung meninggalkan tempat itu.
Perisai Pelindung
Di perjalanan, Firza sangat ingin tahu siapa orang yang mengambil alih anak buah Wektu.
“Kalau Lo gak membuat kebisingan, pasti kita bisa tahu siapa orang yang menyuruh anak buah Wektu untuk mencuri golok gua.” Ucap Firza kesal. Reza meminta maaf dan berkata kalau dia tidak sengaja. Firza pun berniat untuk kembali ke pabrik itu tetapi Reza melarangnya. Tiba-tiba hujan turun sangat deras tetapi hanya turun di kampung itu. Hujan itu duga berwarna hitam tetapi lebih pekat dari sebelumnya. Mereka berdua pun berteduh di sebuah warung. “Mengapa akhir-akhir ini sering turun hujan yang berwarna hitam. Sepertinya ada yang tidak beres.” Ucap Firza yang curiga.
Hujan pun semakin deras dan angin semakin kencang. Kebetulan sekali Di televisi yang ada di warung itu sedang membicarakan tentang hujan berwarna hitam yang turun di kampung itu.
“ Hujan seperti ini itu tidak pernah sama sekali terjadi sebelumnya. Dan anehnya hujan ini hanya turun di satu kampung saja. Lagi pula sekarang ini adalah musim panas. Dan kampung itu sering sekali turun hujan. Dan warga juga banyak yang resah karena air yang keluar dari keran mereka menjadi berwarna hitam. Saya rasa kejadian ini adalah kejadian yang disengaja.” Ucap Narasumber TV. Firza sangat terkejut mendengar hal itu. Lalu tiba-tiba angin yang sangat kencang datang dan membuat warung tempat mereka berdua berteduh rusak. Firza pun pergi ke samping warung itu dan membuka bajunya, lalu menutupi wajahnya menggunakan bajunya. Afira pun mulai mengeluarkan kekuatan dari permata perisai yang ada di dalam tubuhnya untuk melindungi semua yang ada di sekitarnya. Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk membuat perisai. Reza kebingungan yang melihat Afira sedang kesulitan. Afira pun menyuruh Reza untuk memanggil Purna.
“ Tapi kan Purna sudah pergi dari daerah sini. Bukannya dia udah bilang sama Lo. Dia pergi dari daerah sini karena dia sudah percayakan daerah sini sama Lo.” Ucap Reza. Afira yang tidak mengetahui kepergian Purna sangat kecewa dikarenakan Purna tidak bilang kepadanya kalau Purna ingin pergi dari daerah itu. Seketika perisai yang sudah di buatnya pun menghilang. Afira pun kehilangan tenaganya dan langsung terjatuh ke tanah dengan posisi duduk. Di dalam hatinya ia bertanya-tanya, mengapa Purna meninggalkannya. Hujan yang semakin deras dan angin yang semakin kencang sudah tidak di hiraukan Afira lagi. Karena yang ada di dalam pikirannya hanya lah pertanyaan, “Mengapa dia pergi?”
Angin yang semakin kencang membuat Reza jadi khawatir. Reza pun mencoba mengatakan kepada Afira kalau Purna pasti ada maksud tertentu untuk melakukan hal itu.
“ Lo sendiri kan yang bilang, kalau Lo akan selalu menolong setiap orang yang perlu bantuan.” Ucap Reza. Tangan Afira pun mulai di aliri kekuatan petirnya. Pikirannya tentang Purna pun mulai hilang. Diapun berdiri dan mulai membuat perisai pelindung. Afira mengerahkan seluruh kekuatannya. Hujan dan angin tidak bisa menembus perisai buatannya. Semakin lama perisai itu semakin besar. Airi yang mengendalikan hujan itu, terus menambah volume air yang di keluarkannya. Afira yang tak sengaja melihat Airi, langsung mengeluarkan kekuatan petirnya dan mengarahkannya ke Airi. Tetapi Airi bisa menghindari petir itu. Tetapi karena kehilangan kendali, Airi pun terjatuh dari ketinggian. Hujan pun mulai berhenti dan angin pun mulai menghilang. Afira yang sudah kehilangan banyak tenaga langsung terjatuh. Para warga yang melihat kejadian itu segera ingin menyelamatkan Afira. Tetapi Reza menghalangi para warga mendekati Afira. Reza takut kalau identitas Afira diketahui oleh banyak orang.
“ Kenapa dek? Kok gak boleh di tolong?” ucap para warga. Tanpa sepatah kata, Reza langsung membawa Afira pulang dengan menggendongnya.
Di tempat lain. Airi yang terjatuh dari ketinggian, berhasil selamat. Karena ia terjatuh di atas tumpukan jerami.
“ Afira...! Kau harus membayar semua ini.” Marah Airi.
Di tempat lain, Reza yang membawa Firza pulang ke rumahnya, sangat menghawatirkan Firza. Tak lama Firza pun terbangun. Reza sangat bersyukur karena Firza sudah terbangun dari pingsannya. Reza pun memberikan air minum kepada Firza. Tak lama kak Ridwan datang dengan tubuhnya yang penuh dengan luka. Reza bertanya kepada kak Ridwan tentang tubuhnya yang penuh dengan luka.
“ Tadi kakak melihat perisai yang menghalangi hujan di langit. Kakak pikir itu adalah perisai Adiwira yang datang ke kampung ini. Lalu kakak ingin pergi melihat Adiwira tersebut. Tetapi di tengah perjalanan tiba-tiba perisai itu menghilang dan hujan angin kembali datang. Angin yang menerbangkan benda-benda di sekeliling kakak, membuat kakak terluka.” Ucap kak Ridwan. Reza sedikit curiga dengan perkataan kak Ridwan. Lalu ia menyuruh kak Ridwan untuk duduk. Kak Ridwan yang melihat Firza yang sedang berbaring, kaget. Dia pun bertanya kepada Reza, mengapa Firza bisa terluka.
“ Sama kaya kakak. Tapi dia gak kenapa-kenapa.” Ucap Reza menjawab pertanyaan dari kak Ridwan. Mereka pun beristirahat.
Sikapnya Yang Mencurigakan
Keesokan harinya, Firza bangun dengan kondisi tubuh yang masih lemas. Reza pun datang dengan membawa makanan untuk sarapan.
“ Lo dapat duit dari mana?” Tanya Firza. Reza mengatakan kalau dia mendapatkan uang dari kak Ridwan. Firza pun menanyakan keberadaan kak Ridwan. Tetapi Reza tidak tahu di mana kak Ridwan berada.
Hujan yang disertai angin pun turun. Sama seperti biasa, hujan itu berwarna hitam. Hujan itu langsung turun dengan sangat deras. Reza sangat khawatir tentang hal itu. Lalu tiba-tiba hujan itu langsung berhenti. Reza sangat bingung akan hal itu.
“ Itu bukan hujan biasa. Ada orang yang mengendalikannya.” Ucap Firza. Reza bertanya mengapa Firza bisa mengetahui hal itu.
“ Kemarin waktu gua buat perisai, gua melihat ada seseorang yang sedang mengendalikan hujan itu di langit. Kemudian gua langsung menyerang dia dengan kekuatan petir gua.” Ucap Firza. Reza kemudian bertanya kembali, apakah Firza melihat wajah orang itu. Tetapi Firza mengatakan kalau orang itu memiliki wajah yang tidak seperti manusia. Reza pun terkejut dan sangat khawatir. Dia takut kalau monster itu akan semakin membuat banyak kekacauan di kampung itu.
Kak Ridwan pun datang dan memberikan uang kepada Reza dan Firza. Kak Ridwan berkata kalau dia mendapatkan uang itu dari ATM. Firza dan Reza pun kaget mendengar hal itu. Tetapi kak Reza mengurus mereka untuk tidak menanyakan apa pun kepadanya tentang uang itu.
Kak Ridwan kemudian mengajak Reza untuk mencari golok milik Firza. Tetapi Reza tidak mau ikut dengan kak Ridwan dengan alasan kalau Firza tidak ada yang menjaga. Tetapi kak Ridwan terus memaksa Reza untuk mencari golok milik Firza itu. Firza yang kesehatannya sudah mulai membaik, mengizinkan Reza untuk mencari golok itu bersama kak Ridwan. Reza pun akhirnya menuruti kemauan kak Ridwan untuk mencari golok itu.
Di tengah perjalanan Reza bertanya kepada kak Ridwan.
“ Kakak mau ke mana sih? Memangnya kakak tahu di mana tempat golok itu di curi?” tanya Reza. Tetapi kak Ridwan tidak menjawab pertanyaan Reza. Hingga pada akhirnya Reza menyadari kalau kak Ridwan ingin membawanya ke pabrik Tempat persembunyian anak buah Wektu.
“ Apa kak Ridwan mau menangkap gua? Gua pasti benaran di tangkap.” Ucap Reza yang bertanya-tanya di dalam hatinya. Reza yang mengira semua itu akan terjadi, hanya bisa pasrah. Karena dia takut kalau dia kabur kericuhan akan terjadi lagi. Sesampainya di depan pabrik, kak Ridwan menyuruh Reza untuk tidak membuat kebisingan. Reza pun bingung dengan tingkah laku kak Ridwan.
“ Kamu jangan berisik. Kita akan ambil golok itu kalau para penjahat itu sedang lengah.” Ucap kak Ridwan kepada Reza. Reza pun menyadari kalau kecurigaannya kepada kak Ridwan sudah salah. Kak Ridwan pun mengintip ke dalam pabrik itu. Dan dia melihat banyak sekali Penjahat Yana ada di dalam.
“ Kayaknya kita batal in aja. Jumlah mereka banyak banget.” Ucap kak Ridwan berbisik. Mereka pun kembali pulang.
Fakta
Sampai di rumah Reza bertanya kepada kak Ridwan. Reza bertanya mengapa kak Ridwan bisa tahu kalau golok itu ada di dalam pabrik itu.
“ Tadi pas pulang mengambil duit di ATM, kakak gak sengaja melihat pabrik itu. Karena kakak penasaran dengan pabrik itu, kakak menghampiri pabrik itu dan melihat ke dalam. Tetapi yang kakak lihat hanya orang-orang yang sedang berkumpul. Dan kakak juga melihat seseorang yang sedang memegang sebuah golok. Kakak yakin kalau golok itu milik Firza. Lalu orang yang membawa golok itu bilang kalau satu Minggu lagi zat GK akan segera jadi. Kalau gak salah, zat itu akan di sebar melalui hujan.” Ucap kak Ridwan kepada Reza dan Firza dengan serius. Firza dan Reza yang mendengar hal itu pula langsung kaget. Firza pun bertanya tentang pengaruh zat itu. Tetapi kak Ridwan tidak mengetahuinya. Karena kak Ridwan langsing pergi dari tempat itu karena dia takut ada yang melihatnya.
“ Orang yang membawa golok itu juga mengatakan, kalau hujan yang di Sertai angin yang terjadi sekarang ini, adalah rencana orang itu. Ia berpikir dengan
seringnya hujan itu di turunkan, akan membuat Afira menjadi kelelahan.” Ucap kak Ridwan. Firza dan Reza kembali terkejut setelah mendengar hal itu. Kemudian mereka pun membuat rencana untuk membuat penyerangan.
Merebut Kembali Golok Sakti Yang Dicuri dan Perlawanan
Keesokan harinya, Mereka langsung bergegas pergi ke pabrik itu. Sesampainya di sana, mereka langsung menjalankan rencananya. Dari tempat aman, Firza melemparkan tali ke atap pabrik itu dengan tujuan agar dia bisa naik ke sana. Saat tali sudah tersangkut di atap pabrik itu dan dirasa sudah kuat, Firza pun langsung naik. Sesampainya di atas, Firza kemudian mencari keberadaan golok miliknya.
Di bawah, kak Ridwan dan Reza masuk ke dalam pabrik itu. Mereka berdua memeriksa setiap sudut ruangan pabrik itu. Dan di sebuah ruangan terdapat 5 orang yang sedang membuat rencana untuk membuat kegaduhan di pasar. Kak Ridwan dan Reza langsung bersembunyi di saat 5 orang itu ingin pergi keluar dari pabrik itu. Mereka berdua pergi untuk mengikuti 5 orang itu.
Saat mereka sudah jauh dari pabrik, Reza dan kak Ridwan langsung menyerang orang-orang itu. Reza sangat tidak menyangka kalau kak Ridwan sangat pandai ilmu bela diri. Mereka terus bertarung hingga pada akhirnya para penjahat itu berhasil mengalahkan Firza dan kak Ridwan. Mereka berdua kemudian diikat oleh para penjahat itu. Lalu seseorang di antaranya mengeluarkan pisau kecil dan berniat ingin melukai Reza.
Penyelamatan
Dari kejauhan, terlihat Firza yang sudah mengenakan kostum Afira, melihat ke arah Reza dan kak Ridwan. Lalu Afira berlari untuk menyelamatkan Reza. Karena Firza tidak bisa berhenti, dia malah menabrak penjahat yang sedang memegang pisau itu. Mereka berdua pun terjatuh, dan pisau yang di pegang penjahat itu menancap ke dirinya sendiri. Reza, kak Ridwan, dan para penjahat yang lainnya kaget melihat larian Afira yang sangat cepat. Lalu Afira langsung berdiri dan memandang tajam ke arah 4 penjahat yang tersisa. Lalu Afira mengeluarkan golok saktinya dan mengibaskannya ke arak penjahat itu. Dengan sekali kibasan saja, kekuatan dari golok itu membuat para menjahat terpental Sampai tak sadarkan diri. Lalu Afira langsung menyelamatkan Reza dan kak Ridwan, dan membawanya ke rumah Firza.
Hanya dengan beberapa detik mereka langsung sampai ke rumah Firza.
“ Terima kasi sudah menyelamatkan kita berdua... Firza.” Ucap kak Ridwan sambil tersenyum. Firza dan Reza terkejut. Bagai mana bisa kak Ridwan mengetahui kalau Afira adalah Firza.
“ Golok yang kau miliki adalah milik Firza.” Ucap kak Ridwan. Lalu Afira membuka penutup wajahnya sambil memandang kak Ridwan. Setelah ia membukanya, kak Ridwan pun terkejut dan langsung memeluk Firza.
Di tempat lain, Airi sangat marah karena Afira sudah berhasil mengambil goloknya kembali. Airi pun berjanji akan membuat Afira tunduk kepadanya. Airi pun menyuruh semua anak buahnya untuk membuat penyerangan ke rumah Afira.
Fakta Yang Menjanjikan
Di tempat lain
“ Saat gua udah ambil golok gua, gua lihat ada buku yang kayaknya udah berumur sangat tua. Lalu gua ambil buku.” Ucap Firza kepada Reza. Lalu Firza memberikan buku itu kepada Reza. Tetapi Reza tidak bisa membaca tulisan itu. Lalu kak Ridwan datang membawa air minum. Reza langsung menyuruh kak Ridwan untuk membaca tulisan di buku itu. Tetapi kak Ridwan juga tidak bisa membaca tulisan di buku itu. Lalu kak Ridwan mengeluarkan gawai miliknya dan mencari arti dari tulisan itu. Hingga pada akhirnya kak Ridwan menyadari kalau itu adalah tulisan Jawa kuno.
“ Arti dari tulisan itu adalah: Golok sakti pemberian. Sihir dan ramuan. Obat dan penawar. Kejahatan dan kebaikan. Satu yang menang. Ialah kebaikan.” Ucap kak Ridwan. Firza langsung mengetahui apa arti dari kata-kata itu. Dia mengatakan kalau sihir adalah golok miliknya. Sedangkan ramuan adalah zat GK. Dan itu adalah obat dan penawar, perwakilan dari kebaikan dan kejahatan. Dan jika keduanya di satukan, pastilah kebaikan yang menang.
“ Pasti itu adalah alasan mengapa para penjahat itu mencuri golok Lo.” Ucap Reza.
Kemudian Reza kembali bertanya kepada Firza tentang larian Firza yang sangat kencang. Firza mengatakan kalau dia mendapatkan larian itu karena tidak sengaja. Saat dia sedang berlari mencari Reza dan kak Ridwan, dia berkata “ Cepat. Cepat. Ayo cepat.” tiba-tiba saja dia berlari dengan sangat cepat.
Lalu mereka semua langsung membuat rencana untuk menyerang pemimpin para penjahat itu. Dan menggagalkan rencana para penjahat itu untuk membuat zat GK.
Perlawanan Airi
Keesokan harinya
Di pagi hari. Jam 02:59. Hujan berwarna hitam pun turun dengan sangat deras. Firza yang sedang tertidur sampai terbangun karena hujan yang deras itu. Lalu Firza pergi keluar rumahnya dan kembali melihat Airi di langit. Lalu dia kembali masuk ke dalam rumahnya dan langsung mengenakan kostumnya dan kemudian membawa goloknya. Afira pun kembali pergi ke luar rumahnya dan mengeluarkan kekuatan petirnya. Ia mengarahkan petir itu ke Airi. Tetapi Airi berhasil menghindari serangan itu. Lalu Airi memberhentikan hujan dan kemudian dia mengucapkan mantra berbahasa Jawa yang entah apa namanya. Afira yang melihatnya, mulai membuat perisai untuk melindungi kampung itu. Airi kemudian menuang sebuah cairan ke telapak tangannya. Dan dia mulai mengeluarkan air dari tangannya. Hujan pun turun dengan sangat deras. Afira yang baru membuat perisai hanya di sekitar rumahnya saja, di kejutkan oleh hujan yang tiba-tiba turun sangat deras. Dia langsung menutup perisai itu dan kemudian menguncinya.
Di tempat lain, para warga terbangun diakibatkan berisiknya suara hujan. Mereka pun pergi ke luar rumahnya untuk melihat hujan yang turun itu. Beberapa warga lagi pergi mencari penadah untuk bagian rumah mereka yang bocor. Karena merasa keheranan dengan air hujan berwarna hitam yang sering sekali turun, beberapa warga menyentuh air itu. Setelah menyentuh air itu, mereka kemudian merasakan tubuhnya yang seketika terasa seperti terbakar. Ternyata cairan yang dituangkan Airi Ketengannya itu adalah zat GK. Dan gejalanya adalah menimbulkan rasa seperti terbakar pada tubuh bagi setiap orang yang menyentuh cairan itu.
Di tempat lain, Reza dan kak Ridwan terbangun karena suara hujan yang turun. Kemudian mereka melihat Afira yang sedang berusaha memperkuat perisai yang di buatnya.
“Kak Ridwan... Bisakah__ kau__ membatu saya.” Ucap Afira terputus-putus. Kak Ridwan pun menghampiri Afira, lalu Afira mengatakan kalau dia akan membuat kak Ridwan untuk mengendalikan perisai itu. Kak Ridwan pun siap. Lalu Firza melekatkan tangannya ke tubuh kak Ridwan. Kak Ridwan pun langsung merasakan energi yang di salurkan Afira. Afira mengatakan kalau kak Ridwan hanya perlu beristirahat. Karena perisai itu hanya menyedot kekuatan saja. Lalu Afira mengeluarkan kekuatan petirnya dan menyerang Aira. Airi yang terkena serangannya, terjatuh ke tanah. Afira yang sudah melihat Airi, tetapi tidak dapat mengenali wajahnya. Dikarenakan wajah Airi yang di tutupi oleh cairan hitam. Afira pun kembali membuat perisai untuk dirinya. Lalu dia keluar dari perisai yang sedang di kendalikan oleh kak Ridwan.
Di dalam kampung itu mereka berdua bertarung dengan menggunakan kekuatan masing-masing. Tanpa basa-basi Afira langsung menyerang Airi yang sedang kesaktian. Ia mengibaskan golok saktinya dengan di Sertai aliran petir. Airi pun membuat perisai dari air berwarna hitam miliknya. Tetapi dia malah tersetrum oleh petir Afira karena air yang ia keluarkan mengalirkan arus listrik dari petir Afira. Airi pun terjatuh karena setrumkan itu. Lalu afair menghampirinya dan berniat untuk kembali menyerangnya. Airi yang masih sadar kemudian mengeluarkan air yang sangat deras dari telapak tangannya dan mengarahkannya ke Afira. Afira pun terjadi karena dorongan air itu. Airi pun berdiri dan membuat bola air yang sangat besar dan melemparkannya ke Afira. Afira pun terjebak di dalam bola itu. Dia terus mencoba untuk keluar dari bola air itu tetapi tidak bisa. Nafasnya sudah mulai sesak.
“ Ha ha ha ha ha.” Tertawa jahat Airi. Airi pun mendekati bola air itu.
“ Apa kau seorang jagoan? Tidak ada apa-apanya.” Ucap Airi dengan begitu sombong. Lalu di depan Afira, Airi pun memperlihatkan wajahnya. Betapa terkejutnya Afira melihat wajah asli Airi. Ternyata selama ini, Airi itu adalah kak rudi.
Afira teringat dengan Satu yang menang. Yaitu kebaikan. Ia pun memegang golok sakti dengan kedua tangannya. Ia pun memfokuskan dirinya. Lalu bola air yang mengurungnya itu seketika pecah. Airi pun kaget melihatnya. Lalu Afira berdiri dengan tegak dengan kepala tertunduk. Wajahnya yang amat serius membuat Airi gemetaran. Lalu Afira kembali memegang golok saktinya dengan kedua tangannya, dan di letakkan di depan badannya. Lalu golok itu secara perlahan di aliri listrik. Lalu Afira mengangkat kepalanya ke depan dan menatap Airi dengan tatapan kebencian. Afira langsung mengarahkan golok saktinya itu kepada Airi. Golok itu mengeluarkan kekuatannya dan di Sertai dengan tegangan listrik. Airi pun berjatuh karena serangan itu. Tetapi anehnya dia tidak langsung mati. Lalu Afira menghampirinya dan bertanya kepadanya tentang alasannya membuat kekacauan seperti itu.
“ Gua benci sama Lo. Karena Lo orang tuanya mati. Dan karena Lo juga Sania pergi dari sini. Dia itu udah gua anggap adik gua sendiri. Dan gua sangat sayang sama dia. Dan Lo udah menghancurkan kebahagiaan gua.” Ucap Airi dengan penuh kesombongan dan kebencian.
Kemudian Airi tersenyum. Tanpa Afira sadari, tangan airi bergerak dan mulai mengeluarkan air. Air yang di keluarkan dari tangannya itu semakin banyak dan berkumpul di belakang Afira. Airi berniat untuk kembali mengurung Afira di dalam air. Afira kemudian menyadari kalau Airi ingin kembali menyerangnya. Dia mengetahui itu dari genangan air yang ada di depannya. Afira pun langsung lari dengan cepat, tepat pada saat Airi ingin menyerangnya. Air itu pun menimpa Airi, bukan Afira. Lalu Airi tertawa dan berdiri menghadap Afira. Kemudian secara tiba-tiba Airi menyerang Afira. sampai afair terjatuh. Dia terus menyerang Afira sampai afair tidak punya kesempatan untuk menyerang balik. Setelah dirasa Afira sudah lemah, Airi membuat tornado dari airnya. Lalu melepas tornado air itu hingga membuat beberapa rumah warga rusak. Dia juga menyerang beberapa warga hingga tak sadarkan diri.
“ Hentikan itu... Rudi...” ucap Afira, lemah. Airi tidak menghiraukan perkataan Afira.
Kematian Airi
Afira yang marah, kembali berdiri dan langsung berlari secepat kilat ke arah Airi. Afira langsung memukuli Airi tanpa kenal ampun. Dia juga menyertakan kekuatan petirnya di dalam pukulannya itu. Afira lalu memukul Airi dengan hanya satu pukulan. Airi pun terpental. Kemudian Afira berlari ke belakang tubuh Airi sebelum Airi terjatuh. Afira langsung memukulnya kembali ke arah atas. Saat Airi berada di atas, Afira langsung menyerangnya menggunakan kekuatan petirnya. Airi pun tewas seketika setelah jatuh ke tanah.
Di tempat lain, Kak Ridwan yang sudah lemah, melepaskan perisai itu. Lalu kak Ridwan pingsan. Reza pun panik. Reza bingung harus apa.
Di tempat lain. Afira kemudian mengangkat golok saktinya menggunakan kedua tangannya dan memegangnya di atas kepalanya. Lalu ia mengeluarkan seluruh kekuatannya sambil berteriak.
“ Golok Sakti pemberian. Sihir dan ramuan. Obat dan penawar. Kejahatan dan kebaikan. Satukan yang menang. Yaitu kebaikan.” Ucap Afira sambil berteriak dengan tegas. Semua warga seketika tidak lagi merasakan tubuhnya terbakar.
Mata hari pun terbit dengan cerahnya. Afira kemudian menghilang di tempat sebelumnya.
“ kak Ridwan butuh istirahat yang cukup. Kira harus menjaganya.” Ucap Firza kepada Reza di dalam rumahnya.
Akhiran
Sebuah mobil berwarna merah yang sedang melaju di atas jalan tol. Mobil itu melewati hutan yang sangat lebat. Mobil itu kemudian berhenti di kaki gunung Merapi. Turunlah seorang pria yang memakai jas hitam dan celana hitam panjang. Ia kemudian masuk ke dalam hutan. Dan berhenti di sebuah batu sebesar kepalan pria itu. Di batu itu terdapat tulisan Jawa kuno yang artinya adalah “ penguasa yang tidak berhak hidup.” Kemudian pria itu menggali tanah di sekitar batu itu. Setelah beberapa lama, pria itu menemukan sesuatu di dalam tanah itu. Dia kemudian mengambilnya dan membawanya ke dalam mobilnya. Sesuatu yang di temukan oleh pria itu adalah Kepala.
Tangerang
Desember. 2020
Pemberitahuan
Nama tokoh:
Protagonis
Tokoh utama
a. Firza Akhi / Afira ( pemeran utama )
b. Sania
c. Reza
d. Mirja Suke / Purna
e. Kak Ridwan
Figuran
a. KK ( kepala kampung )
b. Para warga
Antagonis
Tokoh utama
a. Wektu ( si penindas )
b. Kak Rudi / Airi ( si pendendam )
c. Isyana ( si pemegang rantai )
d. Arifin ( si penyebab kebakaran )
e. Rey ( si pemegang celurit )
Figuran
• Para anak buah wektu dan Airi
Misteri
• Kekalahan wektu di awal: wektu mengubah salah satu wajah dan postur tubuh anak buahnya menjadi seperti dirinya.
• Orang misterius yang menyuruh untuk menjalankan rencana 2 adalah wektu.
• Firza yang tiba-tiba ingin pergi sebentar saat berada di kebun tomat milik Reza: sebenarnya Firza hanya haus dan dia masuk ke dalam rumah untuk minum.
• Mengapa wektu bisa tahu kalau Firza adalah Afira: karena kecurigaan wektu kepada Firza. Dan salah seorang anak buah wektu ada yang memergoki Afira yang sedang berbicara kepada Reza dan Afira masuk ke rumah Reza.
• Mengapa Firza bisa melupakan rumahnya, Mirja dan Sania: nanti akan terjawab di cerita Purna putra dewa.
• Mengapa sumur di pabrik dekat ladang tomat itu sering mengeluarkan cahaya: karena wektu dan kak Rudi selalu menaburkan pasir yang sudah di bacakan mantra.
• Mengapa Afira bisa membuat kak Ridwan mengendalikan perisai pelindung: karena Afira memiliki rasa keyakinan.
Perhatian!
Cerita ini hanya lah cerita fiksi belaka. Yang di buat untuk memberikan hiburan bagi para penikmat buku bergenre super hero. Alasan lain penulis membuat buku ini adalah karena penulis ingin memiliki karya yang dapat di banggakan.
Jika dalam segi cerita, nama tokoh, penggalan cerita, dan lain-lain, ada sebuah kemiripan dengan kisah nyata ataupun kisah fiksi lainnya, penulis sangat meminta maaf. Jika anda ingin berkomentar tentang buku ini, anda bisa hubungi Instagram penulis yang ada di halaman Tentang Penulis.
Tentang penulis
Lahir pada tanggal 17 Mei 2005. Kecil di Tangerang besar di Tangerang juga. Ia merupakan siswa dari sekolah yang ada di kota Tangerang. Laksa adalah makanan yang menurutnya enak.
Tidak mudah bergaul, itu sifatnya. Orangnya cenderung pendiam. Tidak terlalu akrab dengan orang yang jarang mengajaknya berbicara. Walaupun itu teman sekelasnya sendiri.
Memiliki Channel You tube Best M.R, dengan 600 lebih subscribers. Channel You Tubenya menyajikan video animasi dan lainnya. Sering membayangkan ingin memiliki karya sendiri.
Buku ini adalah buku pertamanya. Terinspirasi dari Jabat Sinema BumilLangit ( BCU ), dirinya jadi suka membuat karakter super Hero. Sudah ada 6 super Hero buatannya. Dan salah satunya adalah cerita Afira si Golok Sakti ini.
Email: raflikan45@gmail.com
Instagram: best.m.r
YouTube: Best M.R
__ADS_1