After Long Distance Relationship

After Long Distance Relationship
14. Bertemu Setelah Sekian Lama 2


__ADS_3

“Jangan khawatir, ya! Aku kan pernah janji akan perjuangkan kamu bee, kita akan sama-sama sampai akhir sayang!”


Sungguh Meysa tak sanggup lagi berkata-kata, Ia kembali memeluk laki-laki di hadapannya dan menelusupkan wajah dalam-dalam pada dada bidang Kai, menghirup aroma maskulin yang mampu membuat hatinya berdebar. Meysa tak perduli kalau baju kaos yang Kai gunakan harus basah terkena air matanya. Ia bahkan tak lagi berpikir jika siapa saja bisa melihat apa yang tengah mereka lakukan di tempat umum pada siang hari seperti ini.


Yang Meysa tahu, Ia begitu merindukan Kai, berada di dekat Kai membuatnya tenang dan Ia begitu mencintai laki-laki ini.


“Atau kamu udah gak percaya sama aku lagi ya, bee?" tanya Kai seraya melirik sekilas pada Meysa yang memeluknya begitu erat.


“Kita sudah berjuang sejauh ini, Kamu juga udah menunggu selama ini. Aku gak akan menyerah hanya karena ini bee, apapun itu akan aku usahakan supaya kita bisa bersatu!" Ucap Kai meyakinkan. Tangannya tak pernah berhenti mengelus punggung Meysa.


Meysa yang mendengar itu kembali mendongak, ia menatap Kai lekat-lekat. Wajah sembab yang terasa kebas karena menangis itu lekas mengulas senyum. “Makasih sudah mau berjuang sekeras ini!" lirihnya dengan air mata yang masih menganak sungai. Ia memang tak salah mengambil keputusan untuk mengajak Kai bertemu, dengan begini mampu membuat perasaan carut-marutnya menjadi lebih tenang.


Kai balas tersenyum, dengan tatapan dalam Ia menelisik manik mata Meysa yang masih mendongak menatapnya tanpa melonggarkan pelukan sedikitpun. “Makasih juga karena sudah bertahan selama ini, makasih sudah mau menunggu dan menjaga hati sampai saat ini dan sampai hari dimana kita benar-benar dipersatukan!" ungkap Kai dengan penuh ketulusan.


Keduanya kembali berpelukan, Meysa tak lagi memikirkan tanggapan orang yang berlalu lalang jika saja ada yang melihat. Biasanya dia sangat anti dan malu melakukan hal demikian, apalagi ini di tempat umum. Tetapi untuk kali ini, rasa rindu yang bercampur sedih mengalahkan semua. Toh tempatnya juga lumayan sepi dan tidak ada orang. Ada untungnya mereka ke tempat itu di siang bolong.


Meysa melepas pelukannya, membuat Kai memerhatikan pergerakan gadis itu ketika ia terlihat merogoh dompet dari sakunya. Meysa mengeluarkan sebuah kartu tabungan yang membuat Kai menyerngitkan dahi. Apalagi ketika Meysa meraih tangannya dan meletakkan kartu itu disana.


“Mey ...!"


Belum sempat Kai meneruskan ucapan, Meysa sudah memotong lebih dulu.

__ADS_1


“Kalau uangmu kurang, kamu bisa pakai ini, bee! Ini tabunganku, mungkin itu cukup untuk menambah nominal ya Mamak minta!"


Kai menggeleng, keningnya makin mengkerut mendengar apa yang Meysa katakan. “Gak, Gak, Mey!! Aku gak mau!" tolak Kai menggeleng, hendak mengembalikan kartu debit yang Meysa letakkan di tangannya. Tapi gadis itu masih menahan tangan Kai dengan tak kalah kuat.


“Pakai bee! Aku gak mau mamak membebanimu!" sentak Meysa. Tak mau jika Kai menolak.


Permintaan mamak membuat Ia berinisiatif membantu Kai dengan memakai sedikit tabungan yang Ia punya. Tabungan dari hasil menulisnya selama ini. Sebab hasil menjual florist dan uang jajan yang biasa Bapak berikan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Meysa yang kelihatan pengangguran ternyata memiliki tabungan.


“Gak ya!" Kai masih menolak dengan gelengan.


“Ini uangmu, aku gak mau!” tolak Kai dengan nada sedikit meninggi. Namun, sama sekali tak membuat Meysa gentar untuk terus memaksa agar Ia mau menggunakannya.


“Gak ya bee!"


“Sekarang ataupun setelah nikah nanti, uangmu adalah uangmu, dan uangku baru uangmu," pungkas Kai yang tak ingin ditolak. Bahkan nada bicaranya terdengar agak meninggi karena Meysa yang masih saja kekeh memaksa.


“Simpan bee!" Kai yang menyadari kembali menurunkan suara. Dengan lemah lembut Ia berusaha membuat Meysa mengerti. Tapi gadis itu masih menggenggam tangan Kai yang di dalamnya terdapat kartu, mata Meysa yang berkaca-kaca bersitatap dengan sorot mata tajam Kai.


“Aku ingin memuliakanmu dengan usahaku sendiri, aku akan melamar menggunakan hasil jerih payahku, bukan dengan cara begini. Aku bisa kok, percaya sama aku!"


“Tapi, bee..."

__ADS_1


“Jangan membantah!" sela Kai tak ingin berdebat. “Biarkan aku memuliakan calon istriku dengan caraku sendiri!"


Ucap Kai panjang lebar, menatap bola mata Meysa, berusaha untuk membuat gadis itu luluh.


Meysa masih menggelengkan kepala, “Tapi bee, Mamak bikin kamu susah!"


Kai menggeleng, “Aku bisa!" Kai meyakinkan, Ia meraih tangan Meysa lalu mengembalikan kartu berwarna biru yang Meysa berikan barusan.


Dan...


Cup!


Kai mendaratkan sebuah kecupan hangat di bibir Meysa. Membuat gadis itu terpaku, jantungnya berdetak lebih cepat.


“Simpan!" perintah Kai dengan tatapan sensual, menahan gejolak yang memburu karena ciuman singkat barusan.


Meysa yang salah tingkah segera memalingkan wajah dari hadapan Kai, gadis itu cepat-cepat berdiri dan berjalan lebih dulu ke depan taman, meninggalkan Kai yang masih duduk seraya tersenyum karena berhasil membuat Meysa menyerah dengan cara seperti tadi.


“First kiss!" lirih Kai sembari meraba bibirnya yang baru saja merasakan kehangatan bibir kenyal Meysa, ini memang pertama kalinya Ia dan Meysa berciuman bibir, sebelumnya hanya sebatas pelukan dan cium kening. Rasa kenyal-kenyal dan aroma Meysa masih melekat sempurna di indra penciumannya. Ada rasa sedikit menyesal karena melanggar janji untuk tidak lagi menyentuh Meysa sebelum mengucap janji di hadapan Tuhan.


Ternyata memang benar, diantara orang yang berduaan pasti ada setan. Makhluk ketiga diantara mereka itu berhasil menggoda Kai untuk mendaratkan kecupan haram. Tapi ada untungnya juga, hal itu berhasil membuat Meysa menurut dan tak lagi banyak bicara.

__ADS_1


__ADS_2