After Long Distance Relationship

After Long Distance Relationship
16. Aku, Kau dan KUA


__ADS_3

Meysa yang awalnya tak pernah memikirkan dan menyusun pernikahan impian seperti gadis-gadis kebanyakan, masih tak menyangka jika Ia bisa mempersiapkan itu semua secara sempurna dengan Kai.


Dulu, membayangkan bisa menikah sederhana dengan Kai saja sudah sangat sempurna baginya. Sebab Meysa tak ingin menggantung harapan terlalu jauh, mengingat jarak yang membentang diantara ia dan kai begitu nyata dan jauh.


Selama empat tahun menjalin hubungan, kedua sejoli itu memang sudah merencanakan untuk hidup bersama. Tetapi jarak dan keadaan membuat keduanya sempat menyimpan keresahan dan keraguan apakah mereka benar-benar bisa bersama atau hanya sebatas saling menjalin dan memperkuat komitmen di tengah pasang surut dan ujian LDR yang berat. Apalagi selama perpisahan delapan bulan itu, Meysa memang masih mengharapkan Kai, tetapi Ia tak menyangka jika hari ini akan benar-benar tiba.


Allah memberikan kejutan yang luar biasa. Sebuah hadiah tak terduga. Kembali dipersatukan pada waktu terbaik menurut takdir.


“Kita ke kantor KUA dulu atau mau ke studio fofo dulu?" tanya Rena memastikan.


Masih seperti dulu, tak ada yang berubah diantara dua sahabat itu. Meysa dan Rena masih selalu bersama. Seperti saat ini, Rena si ibu hamil mau repot-repot ikut menemani Kai dan Meysa. Tentunya dengan si bumil yang berboncengan dengan Meysa. Kai naik motor sendiri.


“Foto copy persiapannya dulu!" jawab Meysa yang memang baru ingin memfoto copy berkas persyaratan nikah.


“Wedding organizer-nya mau pakai yang mana?" tanya Rena. Wanita hamil itu terlihat tengah sibuk mengunyah makanan di belakang Meysa. Sejak hamil, nafsu makan Rena memang meningkat. Walau bulan pertama hingga kedua ia sempat drop karena ngidam. Namun, semenjak masuk bulan ketiga, mualnya mulai berkurang dan ia tak lagi drop. Bahkan nafsu makannya meningkat.


“Emmmnt...." Meysa yang tengah mengemudikan motor nampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan sang bestie.


“Ndak sepaket deh kayaknya, dekornya paling dari ElF's Florist karena itu semua Mamanya Cia yang urus," jelasnya yang mana menyebutkan jika karyawan dari florist Kakak iparnya lah yang akan mengambil alih pihak dekorasi. Mumpung gratis, kan punya Kakak sendiri. Otak gratisan Meysa berteriak bahagia.


Meysa sendiri dulunya hanya berkeinginan menikah sederhana dengan Kai, tanpa resepsi. Membayangkan impiannya bisa terwujud saja Meysa sudah sangat bersyukur. Apalagi seperti sekarang ini.


“Make-upnya?" tanya Rena lagi. Yang mana membuat lamunan Meysa buyar. Gadis yang tengah memerhatikan sosok Kai dari pantulan kaca spion itu kembali fokus untuk menjawab pertanyaan Rena.


“MUA yang kau pakai hari itu saja kayaknya bagus." Meysa menyebutkan salah satu MUA terkenal di daerah mereka, yang juga Rena gunakan saat menikah dulu.


“Berarti cuma pakaian sama make-up?"


Meysa menjawab pertanyaan Rena dengan anggukan. Motor itu terus melaju dan berhenti tepat di depan tempat foto copy.


.....


Dua hari kemudian, setelah seluruh berkas perlengkapan siap dan Albi pun sudah mengirimkan berkas yang dibutuhkan sejak kemarin. Kini, Meysa dan Kai yang juga ditemani oleh Erza dan Rena terlihat tengah memasuki kantor urusan agama setempat.


Ada beberapa calon pengantin yang terlihat duduk disana.

__ADS_1


“Habis ini ada bimbingan nikah." Erza yang duduk di samping Rena mulai buka suara. Memberitahu kegiatan apa saja yang akan dilakukan selain menyetor berkas persyaratan nikah.


“Masuknya satu-satu atau langsung berdua?" tanya Kai yang memang belum berpengalaman seperti Erza dan Rena.


“Calon pengantin atas nama Nur Aulia dan Kurniawan."


Erza tak langsung menjawab pertanyaan Kai, sebab salah seorang petugas muncul sambil menyebutkan nama pasangan yang duduk tak jauh dari mereka.


Kedua pasangan yang disebutkan namanya barusan pun masuk ke salah satu ruangan, setelah itu barulah Erza menoleh kembali pada Kai dan Meysa yang duduk di di kursi panjang depannya.


“Berdua, seperti mereka!" tunjuk Erza sembari menunjuk kedua pasangan tadi. Membuat Kai mengangguk, Ia dan Meysa lalu saling tatap sambil menahan senyum penuh makna.


Melihat interaksi dari orang yang pernah ia taksir dengan calon suaminya itu lantas membuat Erza mengalihkan pandangan. Ia memilih menatap istrinya yang tengah sibuk menggigit jambu biji yang tiba-tiba ia inginkan ketika lewat di depan rumah salah satu warga. Efek ngidam membuat Rena memaksa Erza untuk memetikkan jambu itu.


"Kulitnya jangan dimakan juga, Ndut!" Erza mengernyitkan kening menatap sosok Rena yang tengah melingkarkan tangan di lengannya. Bumilnya benar-benar memiliki nafsu makan yang meningkat. Apa yang dilihat bisa langsung diinginkan untuk disantap.


Mendengar perkataan Erza lantas membuat Rena mendongak menatap sang suami yang memanggilnya dengan sebutan gendut. Ya, memang berat badannya pun naik drastis sejak sebulan yang lalu.


“Gendut-gendut gini juga karena hamil anakmu!" cebik Rena kemudian kembali sibuk memerhatikan ponsel.


“Bercanda!" seru Erza sembari mencolek pipi Rena. Membuat ibu hamil itu bergelanyut manja, berpelukan di lengan Erza. Berhubung di ruang tunggu cukup sepi dan hanya ada Ia Erza, dan juga Meysa Kai. Jadj, boleh lah ambil kesempatan untuk bermanja dengan suami. Begitu pikir Rena.


Tanpa tahu jika interaksi pasutri itu sejak tadi tak lepas dari sorot mata kedua calon pengantin.


Meysa dan Kai lalu saling tatap sambil menahan senyum setelah melihat interaksi mereka.


“Asli, si Rena sama Erza semenjak nikah emang agak lain." Meysa berbisik pada Kai sembari terkekeh. Ia yang dulu tahu sikap Rena seperti apa tak menyangka jika sahabat galaknya itu bisa manja juga. Sedangkan Erza, pria yang sempat menyukainya itu ternyata kelihatan lucu di mata Meysa jika sedang menunjukkan keromantisan mereka.


Walau bukan kali pertama, dan bisa dibilang melihat interaksi dua pasutri itu adalah cuci mata wajib bagi Meysa, sebab hampir tiap hari ia menyaksikannya. Namun, Ia tetap saja dibuat ngakak. Tak jarang disemprot Rena jika ketahuan meledek.


“Shut!" Kai meletakkan telunjuk di bibir, memberi isyarat agar Meysa tidak mengejek. “Gak boleh gitu, toh nanti kita juga bakal kayak mereka. Bahkan mungkin lebih parah dari itu!" Sambung Kai dengan senyum tertahan saat melihat ekspresi galak yang Meysa tampakkan.


“Gak ya, aku gak mau!" ujar Meysa yang sok galak dan sok menolak. Tanpa tahu jika nanti dia akan jadi yang paling agresif setelah mengenal kenikmatannya anu-anu, maybe!


“Mau gak mau harus mau." Bisik Kai sembari menahan tawa.

__ADS_1


“Gak!" sentak Meysa dengan sedikit keras, Ia menutup telinga ketika pikirannya malah bertraveling ke dunia lain. Ucapan Kai membuat Meysa membayangkan hal mengasyikkan.


“Jangan dibayangkan, bee. Ntar kamu ileran!"


“Tidak!!!" teriak Meysa ketika Kai makin gencar mengejeknya.


“Heh, shutt, jangan teriak!" Dengan cepat Kai menutup mulut Meysa agar suara calon istrinya itu tak menimbulkan keributan disana.


Meysa segera tersadar jika ternyata mereka masih berada di kantor KUA pun melirik area sekitar dengan mulut masih di bekap Kai. Ketika matanya bersitatap dengan Erza Rena yang memberikan tatapan heran sekaligus mengejek , Ia cepat-cepat menghempas tangan Kai dari mulutnya.


Meysa yang malu, langsung bersikap seolah tidak terjadi apapun. Bersamaan dengan itu, salah seorang petugas muncul dari balik pintu ruangan yang paling ujung.


“Haneendya dan Zayankara!"


Kai dan Meysa kembali saling menatap heran mendengar panggilan yang diberikan oleh petugas tersebut.


Kai dan Meysa lantas menoleh pada seorang bapak-bapak yang berdiri di depan pintu sambil memegang sebuah map di tangannya. ia terlihat menatap kedua pasangan muda itu secara bergantian. Menebak siapa yang akan menjadi calon pengantin. Namun, karena sudah pernah melihat wajah Erza dan Rena beberapa bulan lalu, petugas KUA itu lalu mengalihkan pandangan pada Meysa dan Kai.


Bersamaan dengan itu, Kai juga angkat tangan. “Saya Pak!"


Petugas itu tersenyum sembari mengarahkan tangan sebagai isyarat agar keduanya segera masuk “Silahkan masuk!" lanjutnya memberitahu.


Setelah mempersilahkan, petugas KUA itu pun masuk lebih dulu.


“Kalian langsung masuk saja!" ujar Erza yang ikut menyahuti. Membantu memberi arahan pada dua calon pengantin itu.


“Nanti di dalam ada sedikit sesi tanya jawab,"


Kai yang juga sempat mendengar hal itu hanya mengangguk. Kemudian setelah itu Ia dan Meysa pun segera beranjak. Dengan Kai yang memimpin langkah lebih dulu.


Saat di depan pintu, Kai menoleh menatap Meysa dengan tatapannya yang khas dan teduh sembari tersenyum.


“Satu langkah makin dekat, bee!"


“Aku, Kau dan KUA!" bisik Kai di sela senyuman. Yang mana membuat Meysa menunduk malu, perkataan Kai membuatnya berdebar.

__ADS_1


__ADS_2