
Seorang pria yang duduk di ranjang sama sekali tak mengalihkan perhatian dari sosok wanita yang duduk di depan meja rias bersama dua orang wanita yang tengah membantu melepaskan pernak pernik yang melekat di tubuh dan kepala wanita tersebut. Gaun pengantin yang lumayan besar dan berat memerlukan bantuan dari orang lain agar bisa terlepas.
Mata Kai benar-benar tak bisa teralih dari sosok wanita yang pagi tadi sudah sah menjadi istrinya, dan mulai saat ini hingga seterusnya keduanya akan hidup bersama dan bahkan tinggal di kamar yang sama sebagai pasangan suami istri.
Sebenarnya Kai ingin sekali menawarkan diri untuk membantu Meysa, tapi Ia sungkan sebab disana tak hanya ada dirinya melainkan dua wanita tersebut. Alhasil, Kai yang sudah beres sejak tadi hanya duduk diam seperti pengangguran.
“Sudah beres, kami keluar dulu ya Meysa."
“Iya Kak, makasih banyak ya. Saya puas sama hasil make-upnya." Meysa menampakkan senyum terimakasih, meski lelah tapi Ia benar-benar puas dengan hasil polesan tangan wanita tersebut yang membuat Ia merasa cantik dihari spesialnya ini.
“Alhamdulillah kalau suka Mey, pelanggan puas, kami senang."
Meysa mengangguk seraya menyentuh lengan wanita yang sudah hendak keluar sambil merapikan perlengkapan make up-nya.
“Mari, Meysa. Assalamualaikum!"
“Waalaikumsalam."
“Makan ki dulu Kak sebelum pulang!" ujar Meysa memperingatkan.
Namun wanita yang tengah melewati Kai hanya menoleh sambil senyum, tak lupa juga berpamitan pada Kai yang duduk canggung disana.
“Pamit dulu!" ujar sang MUA.
Kai mengangguk dengan menampakkan senyum. “Iya, makasih banyak!" Tak lupa Kai juga menyampaikan ucapan makasih karena sudah membantu jalannya proses pernikahan mereka.
Sesudah semua beres dan dua wanita tadi keluar, menyisakan kecanggungan diantara dua pengantin baru itu. Meysa yang duduk di meja rias terlihat menunduk, canggung saat menyadari tubuhnya hanya mengenakan baju yang memperlihatkan auratnya.
Sedangkan Kai yang melihat Meysa salah tingkah laku menggaruk kepala, Ia juga bingung kenapa suasananya jadi secanggung ini. Hawanya jadi terasa panas, padahal disana ada kipas angin turbo yang menyala.
”Ehmmmnt." Kai berdehem lebih dulu, menarik napas dalam untuk membunuh rasa canggung dan menguburkannya dalam-dalam agar tidak bangkit lagi. Toh, kalian sudah halal satu sama lain, jadi untuk apa canggung! Suara hati Kai mulai berbisik.
“Mau kemana?" tanya Kai saat melihat Meysa melangkah ke arah pintu sembari menutupi bagian dadanya
“Mau ke kamar mandi!" ujar Meysa setelah berhasil mengambil jubah mandi untuk menutupi lekuk tubuhnya yang terpampang nyata karena hanya menggunakan baju dalam dan celana lejing hitam yang ketat.
Meysa hendak keluar untuk membasuh wajahnya, berhubung di kamarnya tidak ada kamar mandi, sehingga membuat Ia harus ke kamar mandi yang ada di kamar Bapak. Sebab di dapur masih banyak orang.
Selepas kepergian Meysa, Kai masih duduk seperti tadi sambil merenungi kenapa Ia dan Meysa saling canggung seperti tadi.
“Apa ini namanya bumbu-bumbu pengantin baru?" Kai mulai bertanya-tanya, jantungnya tak berhenti berdegup memikirkan apa yang akan mereka lakukan untuk melalui malam panjang ini.
Enak-enak lebih dulu ataukah langsung tidur?
Arghhht...
Kai mengusap rambutnya secara kasar. Ia benar-benar gerogi. Pada dari jauh-jauh hari Ia sudah menyusun agenda yang matang untuk kegiatan apa saja yang akan Ia lakukan di malam pertama setelah sah. Tapi semu jadi kacau seperti ini. Sial!!
Ceklek.
Kepala Kai menoleh pada sosok Meysa yang muncul dari balik pintu setelah beberapa menit lalu pergi cuci muka.
Wajah istrinya itu basah, Ia terlihat segar berseri. Tak ada lagi polesan make up tebal yang melapisi. Bibir itu langsung mengembangkan senyum saat Kai lagi-lagi menyambutnya dengan senyuman.
Apalagi ketika Meysa mengulas senyum samar pada Kai yang duduk terpaku disana. Dunia Kai seakan runtuh melihat senyuman semanis itu. Senyuman indah yang diberikan oleh wanita yang sejak pagi tadi sudah sah menjadi istrinya.
“Udah cuci muka?" Meysa mencoba memecah keheningan, padahal Ia sendiri tahu jika Kai sudah selesai lebih dulu dari dirinya.
“Udah!' Kai menjawab dengan suara serak, kemudian dengan cepat Ia segera berdehem.
Meysa yang masih berdiri di ambang pintu lekas masuk, selepas menutup pintu Ia kembali menoleh pada Kai yang duduk manis di tempat tidur sambil tersenyum. Ada desiran aneh yang berdebar di hati Meysa dan Kai, mereka seakan masih tak percaya jika saat ini keduanya sudah sah menjadi suami istri setelah melewati perjuangan dan penantian yang sangat panjang akhirnya saat ini tiba juga.
Dengan inisiatif besar, Kai langsung berdiri dari duduknya, sebagai agenda yang sudah dibuatnya dari jauh-jauh hari. Kai ingin melaksanakanya, membuat Meysa yang baru selesai menutup pintu terpaku di tempat, dengan tubuh bersandar di daun pintu. Kai makin mendekat dengan pandangan yang sama sekali tak pernah teralihkan dari wajah cantik sang istri.
Jantung Meysa kian berdegup kencang, tapi ia tak ingin mengalihkan pandangan dari sosok berkaos putih di depannya, wajah Kai semakin dekat dan menunduk, seakan berusaha mensejajarkan dengan wajah Meysa.
Situasi ini membuat Meysa berdebar. Sebelumnya ia tak pernah merasakan debaran dahysat seperti ini. Mungkin karena saat ini statusnya sudah berbeda. Sehingga mereka sama-sama bisa merasakan sesuatu yang luar biasa. Canggung, bahagia, dan haru berbaur jadi satu, begitu sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Kai mengulas senyum saat sudah berdiri tepat di hadapan Meysa, tangannya tergerak mengunci pintu.
Sementara Meysa hanya bisa diam sambil terus memerhatikan dengan kagum wajah tenang lelaki yang kini sudah menjadi suaminya itu.
Kedua tangan Kai meraih bahu Meysa, dengan senyuman yang tak pernah pudar Ia mendaratkan kecupan di kening Meysa.
Satu kecupan halal mendarat di kening basah Meysa.
__ADS_1
“Iyyaki hubby ya zaujaty!" lirih Kai, setelah mengecup kening Meysa dengan begitu dalam.
Meysa memejamkan mata, air matanya menetes tanpa aba.Terharu diperlakukan demikian lembutnya oleh Kai. Belum lagi kalimat bahasa Arab yang Kai ucapkan membuat hati Meysa seperti diterpa ribuan bunga. Bagi Meysa adegan ini begitu romantis melebihi adegan apapun.
“Wa iyyaka hubbi ya zauji!" balas Meysa dengan jantung yang terus berdebar.
Meski ilmu bahasa arabnya hanya ia pelajari saat masih mondok dulu, tapi Meysa masih paham dan mengerti apa yang Kai ucapkan barusan. Dimana suaminya itu baru saja menyatakan perasaan cintanya. Tentu itu membuat Meysa bahagia.
Perlahan Kai menarik Meysa dengan lembut ke arah tempat tidur, lalu keduanya duduk berhadapan dengan tatapan yang dalam dan saling mengunci satu sama lain.
Belum juga ada obrolan yang terlibat, keduanya masih saling tatap. Seakan tengah berkomunikasi melalui sorot mata, mengutarakan cinta dalam diam.
Cukup lama hingga akhirnya kai kembali memegang bahu Meysa. mengecup seluruh wajah istrinya dengan lembut dan penuh cinta.
Meysa masih menunduk ketika tangan Kai meraih dagunya dengan lembut setelah membacakan sebuah do'a persis seperti do'a yang ia baca saat menyentuhnya setelah akad tadi.
“Aku masih gak percaya kalau hari ini benar-benar tiba-tiba, bee!" lirih Kai seraya menatap wajah Meysa.
“Makasih yah udah mau nunggu aku selama ini!” kai menunduk, menjatuhkan wajah di pangkuan Meysa, tepat di atas tangan mereka yang saling bertautan.
“Aku beruntung punya kamu, istriku!”
Sungguh Meysa tak bisa lagi mengatakan apapun. Tindakan dan ungkapan Kai sejak ia masuk benar-benar membuatnya terharu. Hal ini membuatnya lantas menutup wajah sambil sesegukan, saking terharunya tangis Meysa sampai pecah.
Kai yang masih menelungkupkan diri di pangkuan Meysa langsung beranjak saat mendengar isakan dari sang istri. Dengan gerakan cepat Kai meraih tangan Meysa, satu tangannya tergerak mengusap air mata wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu.
“Ih, kok nangis sih bee!” Kai mendaratkan kecupan setelah menghapus air mata Meysa yang masih saja meleleh.
“Jangan nangis sayangku, aku gak mau malam pertama kita jadi malam kesedihan!" ucap Kai yang mencoba menghibur.
Apa yang Kai katakan mampu membuat Meysa tersenyum disela air mata yang masih berlinang. Kata-kata Kai selalu berhasil membuatnya tertawa.
Lama Meysa terdiam saat mencoba menenangkan diri sambil menghapus sisa lelehan air matanya sendiri, dengan Kai yang terus memperhatikannya penuh sayang.
“Rasanya aku juga gak percaya kalau sekarang kita udah beneran sah jadi suami istri!" celetuk Meysa yang mana membuat Kai tersenyum, tangan suaminya itu tergerak mengusap kepalanya dengan lembut.
“Ini buktinya," Kai menarik tangan Meysa yang tersemat tiga buah cincin emas disana. Dua cincin yang Kai sematkan sebagai mahar setelah ijab Qabul pagi tadi, dan satunya adalah cincin yang Kai sematkan saat tunangan waktu itu. Jika saja Meysa tak menjual cincin yang Ia berikan saat menemui istrinya pertama kali saat itu, mungkin Meysa akan memiliki empat cincin sekaligus.
“Cincin ini bukti nyata kalau kamu udah terikat jadi istriku!" Kai menatap Meysa dengan begitu lembut.
Tanpa banyak bicara, Kai langsung merentangkan tangan, membawa Meysa ke dalam dekapan.
“I love you istriku!" Pelukan keduanya terlihat begitu erat.
“I love you more suamiku!" Balas Meysa dengan cepat. Ia terus mencoba menarik napas agar air matanya tak lagi tumpah sambil menikmati pelukan menenangkan yang sudah lama dirindukan.
“Pokoknya gak mau aku lepasin, mau peluk sepuasnya!"
Meysa hanya mengulas senyum mendengar perkataan Kai. Ia bahkan menginginkan hal yang sama seperti Kai. Tak ingin berjauhan lagi, tak ingin merasakan yang namanya LDR. Ia ingin selalu berada dipelukan Kai.
“Aku gak mau LDRan lagi pokoknya!"
“Pastinya sayang, Itu gak akan terjadi lagi. Aku gak mau jauh-jauh dari kamu, cukup waktu itu aja kita LDR."
Meysa kian mengeratkan pelukannya, Ia menelusupkan wajah dalam-dalam di dada bidang Kai yang terbalut kaos putih.
“Kemanapun aku pergi kamu akan kubawa."
“Kamu masukan ikut kemanapun aku melangkah?" tanya Kai disela pelukan yang kian erat.
Meysa mengangguk samar. “Bawa aku kemanapun kamu mau bee, Aku mau ikut kemanapun kamu pergi. Gak mau jauh-jauhan lagi."
Kini Kai yang balas mengangguk mendengar ucapan istri tercinta. Ia mengecup kepala Meysa penuh sayang.
Lama keduanya berpelukan dalam diam, saling menikmati sentuhan setelah sah. Pertama kalinya bisa merasakan pelukan halal tanpa rasa was-was seperti sebelum menikah dulu. Memang benar, bersentuhan dengan yang sudah sah rasanya begitu berbeda. Nyaman dan mendebarkan.
Dalam hati keduanya tak henti-hentinya mengucap syukur atas semua nikmat yang telah Allah limpahkan. Mempersatukan mereka setelah melalui berbagai lika-liku perjuangan dan rintangan serta pasang surutnya hubungan setiap kali melewati ujian yang berat.
“Kehidupan kita sekarang udah beda bee!" lirih Meysa saat membuka suara.
Kai mengangguk. “Iya sayang, sekarang kita udah memasuki kehidupan dunia yang sebenarnya!"
“Aku mau kita selamanya, sama-sama melewati lika-liku hidup. Kalau aku ada kekurangan, kamu harus ingetin," pinta Kai dengan perasaan yang begitu sulit diungkapkan. “Bukan gak mungkin kalau suatu saat rumah tangga kita diuji dengan berbagai masalah."
“Apapun itu, intinya kita harus selalu sama-sama."
__ADS_1
“Kamu di sampingku, dan aku juga akan selalu di sampingmu!"
“Kita lakuin semuanya sama-sama!" ucap Kai panjang lebar. Yang mana membuat air mata Meysa kembali menetes.
“Aku janji akan selalu di sampingmu, Bee." Suara Meysa terdengar tercekat saat mulai menjawab segala ucapan Kai.
“Susah ataupun senang, bagaimanapun rintangannya. Aku janji akan selalu bertahan dan setia sama kamu."
Kai mengangguk haru mendengar penuturan sang istri. Ia kian mengeratkan pelukan dan berkali-kali mendaratkan ciuman di kepala Meysa.
“Kita gak bisa menjamin kehidupan kita akan terus berjalan mulus ke depannya. Tapi aku janji, kamu akan menjadi satu-satunya orang yang akan aku temani untuk mengarungi segala lika-liku hidup ini!" balas Kai dengan tak kalah harunya.
Keduanya lalu saling berpelukan, sama-sama terdiam menikmati sentuhan yang mendebarkan.
Setelah puas berpelukan dan saling mengungkapkan isi hati satu sama lain, Kai menatap Meysa dengan tatapan dalam, perlahan ia lalu menyatukan bi*bir dengan pasangan halalnya itu.
Meysa yang mendapat sentuhan seperti itu hanya bisa terpaku. Ini kedua kalinya mereka melakukan cium@n bibir setelah yang pertama kali Kai mencuri ciuman dari bibirnya saat hendak lamaran saat itu.
perlahan sentuhan bibir Kai berubah jadi *******-******* kecil, yang kemudian beralih menerobos, mengabsen rongga mulutnya dengan begitu sensu@l.
Jantung Meysa berpacu dengan cepat. Begitu juga dengan Kai, ia seperti ingin secepatnya menjelajahi sesuatu yang lain. Jika bibir saja sensasinya bisa sepanas ini, lalu bagaimana dengan hal lain? Pikiran Kai mulai berkelana dengan terus menikmati cium@n yang makin panas.
Bahkan tangannya mulai aktif meraba seluruh le*kuk tubuh sang istri. Tangan itu perlahan mendaki sebuah gunung kembar saat bibir Kai terus melum*at bibir Meysa dengan begitu r@kus. Saling mengabsen satu sama lain.
Ini juga pengalaman pertama untuk Meysa, dengan suami tercinta ia bisa merasakan apapun meski ada sedikit kecanggungan. Tapi h@srat mengalahkan semua. Seakan sesuatu dalam diri terus meminta untuk melakukan hal lebih.
Dengan refleks Meysa mengalungkan tangan di leher Kai. Tangan Pria itu pun tak kalah aktifnya, bahkan baju mandi yang Meysa kenakan sudah terbuka.
Meysa mele*nguh nikmat saat tangan Kai berhasil mendaki gunung dan memilin sesuatu disana. Membuat tubuhnya menggeliat menahan sesuatu yang membuat tenggorokannya tercekat.
Mendapat respon seperti itu dari Meysa membuat Kai sontak melepaskan pangu*tan. Bahkan tangan yang tadi baru mendaki kembali turun.
Sorot mata Kai seakan menunjukkan tanya pada Meysa. Kenapa?
Meysa menggeleng sambil menunduk, merasa bersalah karena lenguh@nnya membuat Kai menghentikan aktifitas pemanasan.
Kai tersenyum penuh semangat, tadinya ia sempat berpikir Meysa kenapa-kenapa, ternyata tidak sama sekali.
“Boleh ya bee?" tanya Kai dengan suara berat.
Dengan ragu Meysa menganggukkan kepala. Seulas senyum terukir di bibir Kai.
“Bee gak capek kan?" tanya Kai memastikan, dan Meysa kembali menjawab dengan gelengan
Hal itu membuat semangat Kai membara, dengan gerakan cepat ia membuka baju lalu melemparnya asal. Tangan Kai beralih menyentuh kepala Meysa, pria itu membaca sebuah do'a yang sudah ia hafal dari jauh-jauh hari.
“Allohumma qawwi li dzakari fa inna fihi shalahan li ahli." Ia menang sudah mempersiapkan semua dari jauh hari. Kai benar-benar ingin menjadi suami yang siap siaga dan tak asal menyentuh, Ia ingin menyentuh Meysa sesuai dengan syariat yang dianjurkan.
Do'a yang Kai lafalkan membuat rasa bangga membuncah di dada Meysa, tak menyangka jika Kai benar-benar menghafal itu sebagai bentuk persiapan yang dilakukan oleh suami yang baik. Meysa dibuat terharu.
Selepas membaca doa Kai memajukan tubuh mendekati Meysa. Tangannya menerobos menyentuh pengait gunung kembar sehingga membuatnya terlepas.
Ia tersenyum, Kai memajukan diri dan kembali menyatukan wajahnya dengan Meysa. Perlahan tapi pasti, kecupan berubah menjadi *****@n.
Bersamaan dengan tangan Meysa yang terangkat saat Kai mencoba melepas baju yang dikenakannya tanpa mau meregangkan ciuman mereka.
Suara decapan dari bibir yang beradu terdengar menggema. Baju meysa sudah terlepas, Menyisakan pelindung yang menampakan gunung dengan jelas.
Tanpa menghentikan kegiatan mata Kai melirik ke arah gunung, tangannya kembali tergerak melepas pelindung tersebut lalu mulai mendaki, membuat Meysa merasakan sesuatu yang luar biasa.
“Mau m!mik boleh?" pinta Kai dengan mata yang sudah berkabut anu. Tenggorokannya terlihat naik turun menelan saliva.
Wajah Meysa merona, malu-malu ia mengangguk mengiyakan. Sebab ia pun tak munafik, ia terbawa suasana dan juga ingin segera menjelajah lebih jauh bersama Kai.
“Lampunya gak dimatiin dulu?" tanya Meysa. Membuat Kai menoleh mengamati kamar yang masih dipenuhi hiasan.
“Sakelarnya dimana?" tanya Kai, suaranya terdengar berat menahan gejolak yang membara.
“Disana!" Meysa menunjuk ke samping lemari dimana terdapat sakelar lampu.
Dengan tubuh polos, hanya ada celana yang masih melekat Kai turun dan mematikan lampu. Kamar menjadi gelap temaram, hanya ada sinaran lampu dari sela-sela pintu dan fentilasi yang menerangi.
Tanpa aba-aba Kai langsung mendekati Meysa yang juga tak lagi mengenakan sehelai apapun, keduanya tersenyum di bawah gelap. Menahan debaran aneh yang sama-sama membuncah.
“Aku menginginkanmu istriku!" Bisik Kai dengan lembut, Meysa hanya mengangguk. Entah bagaimana Kai bisa seromantis dan selembut itu, Meysa dibuat terbang dengan ucapan dan perlakuannya.
__ADS_1