After Long Distance Relationship

After Long Distance Relationship
30


__ADS_3

Senja yang perlahan meredup dan berganti gelap membuat sebagian orang bergegas bersiap untuk pergi melaksanakan perintah, melakukan kewajiban sebagai umat beragama.


Begitu pula dengan Meysa dan Kai. Kedua pengantin baru itu sama-sama ke kamar mandi yang ada di kamar Faza untuk mengambil wudu, hendak melaksanakan ibadah maghrib.


Begitu selesai, Meysa dan Kai keluar bersama. Melalui beberapa keluarga yang berada di ruang tengah. Beberapa keluarga Meysa dari Mamak dan Bapak memang sebagian ada yang belum pulang, sehingga membuat kondisi rumah masih cukup ramai.


Sebagai pengantin yang baru melaksanakan pernikahan kemarin, keduanya terlihat menempel dan tak terpisahkan satu sama lain, persis seperti sekarang ini.


Meysa dan Kai sudah masuk ke dalam kamar yang tak lagi berhias khas kamar pengantin seperti kemarin malam. Tadi siang, pihak wedding organizer sudah melepas barang-barangnya.


Setelah mengambil sarung dan peci shalat untuk Kai, Meysa lalu membentang dua sajadah untuk Ia dan Kai kemudian lekas memakai mukena baru berwarna putih tulang dengan rumbai berwarna kuning emas, tampak elegan.


“Ohiya bee Aku lupa, maksud ucapan anak Tante kamu tadi pagi itu apa?"


Meysa yang baru siap memakai rok mukena lantas menoleh dengan mata terbelalak pada Kai yang tengah merapikan sarung sembari memakai peci hitam miliknya. Wanita itu menelan ludah berkali-kali mendengar pertanyaan yang sang suami lontarkan. Membuatnya seketika menggerutu dan mengumpat kesal pada Anca. Sialan! Ini semua karena mulut ember laki-laki itu.


“Bee!" Panggil Kai saat melihat Meysa malah terpaku, bengong tak menjawab pertanyaannya.


“Eh, i-iya bee?" tanya Meysa gugup. Hal yang ingin Ia sembunyikan malah Anca bongkar kini Kai malah menanyakan hal tersebut. Sungguh Meysa dibuat kesal sekali.


Kai terlihat membalik tubuh ke arah kiblat, bersiap untuk mengimami shalat untuk sang isteri.


“Nanti aja bee, kita shalat dulu ya." Kai menoleh sekilas, tangannya tergerak mengusap sarung, bersiap mengimami sang istri.


Tentu hal itu membuat Meysa merasa terselamatkan. Meski hanya sejenak setidaknya Ia bisa menyiapkan diri untuk menjawab pertanyaan Kai yang terlihat begitu penasaran.


Begitu selesai shalat dan berdo'a, Kai membalik tubuh. Mengarahkan tangan pada Meysa. Sebagai Istri Meysa tentu mencium punggung tangan suaminya dengan begitu khidmat. Lalu di balas Kai dengan mendaratkan ciuman di kening sang istri.


Keduanya sama-sama tersenyum setelah melaksanakan ibadah bersama.


“Aku boleh tahu maksud dari perkataan laki-laki tadi itu kan, bee?"


Dan ketika Kai kembali menanyakan hal yang sama, Meysa refleks menganggukkan kepala. Meski enggan tetapi Ia harus tetap menceritakan hal tersebut, apalagi tatapan Kai terlihat nyata jika Ia begitu ingin mengetahui maksud Anca dan sama sekali tak ingin ditolak. Kai meminta dengan lembut tetapi penuh penekanan.


Kai mengulas senyum hangat, Ia menggerakkan alis tebalnya sembari bersiap mendengar cerita sang istri.


Jujur, sejak mendengar perkataan laki-laki bernama Anca itu, Kai sama sekali tak tenang. Ia terus memikirkan apa maksud dari perkataan laki-laki yang mengatakan jika Ia dan Meysa hampir saja berjodoh. Jelas kata tanya Kapan terus berseliweran menghiasi kepalanya. Apalagi selama empat tahun ini Ia dan Meysa sudah menjalin hubungan dan yang Ia tahu Meysa selalu menjaga hati dari orang-orang yang menginginkan istrinya itu, salah satunya Erza.


Lalu bagaimana dengan perkataan laki-laki itu, kapan Ia dan Meysa menjalin hubungan hingga hampir dijodohkan. Sebab yang Kai tahu Meysa selalu memberi tahu hal sekecil apapun itu padanya. Tentu hal ini menjadi beban pikiran baru di kepala Kai. Ia yang tak ingin menaruh prasangka pada sang istri tentu lebih memilih menanyakan secara langsung dan ini adalah waktu yang tepat, sebab sejak pagi tadi Ia dan Meysa berada di tengah keluarga.


“Tapi Aku takut kamu marah!" lirih Meysa mengungkapkan kegundahan.


“Emang apa yang akan bikin Aku marah ke istriku?" tanya Kai dengan lembut.


Meysa menghela napas, kemudian segera menceritakan semua secara detail. Dimana selama hubungan mereka kandas hari itu. Ia memang mencoba buka hati untuk membunuh bayangan Kai dari ingatan. Namun, semakin Ia berusaha maka kenangan dan wajah Kai semakin menghantuinya seperti dejavu.


“Maafin Aku ya bee, selama itu aku gak bisa jaga hati seperti yang kamu lakukan, tapi aku beneran gak ada rasa sama Anca, waktu itu dia yang baper sendiri."

__ADS_1


Meski ada sedikit rasa kesal dan terkejut mendengar fakta yang baru saja Meysa sampaikan. Namun, Kai tetap berusaha berpikir jernih untuk tidak memperbesar masalah, toh semua sudah berlalu dan hal itu terjadi saat hubungannya dengan Meysa kandas. Apalagi sekarang wanita yang dari dulu hingga kini masih mengisi hatinya itu sudah sah menjadi miliknya. Jadi, Ia tak perlu mempermasalahkan hal tersebut.


Namun, tetap saja. Hal itu jelas membuat Meysa merasa bersalah. Apalagi saat mengetahui fakta jika selama ia sibu melupakan Kai dengan membuka hati, tetapi suaminya itu malah sibuk memperbaiki diri dan bahkan menyembunyikan soal hubungan mereka yang sempat kandas.


“Aku benar-benar minta maaf bee, Aku salah!" lirih Meysa mengakui kesalahan.


"Saat itu pikiranku benar-benar kacau, Aku berusaha hapus kamu dari pikiranku tapi selalu aja gak bisa, Aku...”


Belum Meysa menyelesaikan ucapannya Kai malah mengarahkan telunjuk untuk menutup bibir Meysa. Pria yanga mengenakan kaos oblong navy plus sarung shalat lalu menggeser tubuhnya, mendekat ke depan Meysa yang masih duduk di atas sajadah.


“Gak usah dibahas lagi ya." Kai menampakkan senyum lembut, tangan kekar itu tergerak mengusap pipi Meysa sembari menatap manik mata lentik sang istri dengan begitu dalam.


“Kamu gak salah kok, disini Aku juga berperan penting bee.”


“Seandainya waktu itu Aku gak egois dan bisa luangin waktu buat kamu mungkin hubungan kita hari itu gak akan berakhir, kita pasti akan baik-baik aja sampai kita bisa seperti sekarang."


Mata Meysa mengerjap mendengar apa yang Kai sampaikan. Tangannya balas menggenggam punggung tangan Kai yang masih tertempel di pipinya. Ia sama sekali tak mengalihkan pandangan dari wajah Kai yang menjelaskan semua penuh kelembutan.


“Tapi Aku malu, Aku merasa gak bisa jaga diri disaat Kamu bisa jaga hati dan memperbaiki diri Aku malah sibuk buka hati cuma buat musnahin kamu dari hatiku!" lirih Meysa, Ia menyandarkan kepala menempel menikmati sentuhan jangan tangan Kai di pipinya. Ia merasa begitu disayang dengan diperlakukan seperti ini. Meysa dibuat terharu.


Apalagi ketika Kai menarik napas dalam lalu menarik sang istri dengan lembut ke dalam dekapannya.


Kai mengusap punggung Meysa lalu mengecup puncak kepalanya dengan penuh cinta.


“Jangan dibahas lagi bee, Aku beneran gak apa-apa.”


“Kita cari surga sama-sama, kita awali kehidupan baru kita."


Meysa manggut-manggut mendengar ucapan Kai. Tak menyangka laki-laki kesayangannya itu kini telah berubah menjadi pria dewasa yang begitu bijak dan makin pengertian.


”Justru Aku mau ucapkan makasih karena kamu sudah mau menolak mereka semua dan mau menerima aku kembali tanpa alasan apapun." Kai berkata panjang lebar, memeluk erat tubuh Meysa yang masih dibalut mukena.


“Makasih karena udah mau jaga hati buat Aku sampai kita bisa jadi seperti sekarang!" lanjut Kai, dengan perasaan haru Ia berkali-kali mendaratkan kecupan di kening istrinya.


“Mungkin jalan kita emang udah gini bee, Allah menghadirkan mereka buat menguji perasaan kita satu sama lain."


“Pokoknya terimakasih banyak karena kamu udah mau milih Aku disaat kamu punya banyak pilihan dan mereka semua lebih mapan dari Aku tapi kamu malah milih aku buat jadi suamimu!"


Air mata Meysa meleleh begitu saja mendengar apa yang Kai ucapkan. Tangan Meysa kian memeluk erat tubuh Kai, menandakan betapa Ia begitu mencintai laki-laki yang kini menjadi suaminya itu.


“Aku gak mau sama orang lain, bahkan walaupun mereka lebih segalanya dari kamu. Seberapapun Aku berusaha lupa, disaat itu juga wajah kamu makin menguasai hati dan pikiranku." Papar Meysa mengutarakan isi hatinya selama mereka pisah delapan bulan itu.


“Aku gak tahu kenapa perasaanku bisa sebesar itu sama Kamu, padahal pas itu Aku sakit hati sekali sama sikapmu." Lanjut Meysa panjang lebar. Sedangkan Kai hanya diam mendengarkan.


“Sebenarnya kamu apain Aku sih, kenapa rasaku bisa sebesar itu, sampai Aku gak bisa berpaling sedikitpun dari kamu?"


Kai menunduk mendengar pertanyaan Meysa, seulas senyum terukir di bibirnya. Ia lantas memegang dua bahu Meysa, menatapnya dengan tatapan dalam dan ekspresi serius. Tak sedikitpun mengalihkan pandangan dari wajah cantik natural wanita di depannya.

__ADS_1


“Do'a!" jawabannya singkat, masih dengan netra yang fokus menelisik wajah cantik sang istri dalam balutan mukena yang kemarin ia berikan sebagai maskawin. Menatap wajah teduh Meysa bisa menenangkan dan mendebarkan hatinya.


Sedangkan Meysa, Ia juga terlihat tak mengalihkan pandangan. Netranya saling mengunci satu sama lain


“Aku emang gak menjagamu secara langsung bee, tapi Aku bersyukur karena Allah dengerin do'aku buat jagain kamu buatku!"


Meysa menganggukkan kepala, ucapan Kai membuat rasa haru kian menyeruak di dada. Ia menjatuhkan diri di tubuh Kai, memeluk tubuh sang kekasih halal dengan erat sembari menghirup dalam aroma maskulin yang begitu menenangkan itu.


“Aku sayang kamu, sayang banget!" lirih Meysa tak kalah memilukan. Membuat Kai berkali-kali mengangguk dengan wajah haru sembari mendaratkan kecupan kecil secara berulang di puncak kepala Meysa.


Keduanya masih sama-sama terdiam menikmati pelukan saat suara adzan isya mulai berkumandang. Namun, pasutri itu masih menikmati pelukan satu sama lain.


“Bee." Panggil Kai dengan lembut.


"Ya?"


Meysa yang tengah terdiam sambil menikmati hangatnya dekapan orang terkasih tengah larut dalam pikirannya sendiri, tetapi saat Kai memanggilnya dengan begitu lembut, Ia lantas menoleh. Bola mata di bawah bulu mata lentik itu nampak mengerjap memerhatikan jakun sang suami. Berada begitu dekat membuat jantung Meysa berdebar kian cepat, rasanya ia tak mau mengalihkan pandangan dari sosok favoritnya itu.


“Kenapa bee?" tanya Meysa saat Kai malah terdiam dengan meletakkan dagu di kepala Meysa.


Kai mengulas senyum manis, Ia melepas Meysa dari pelukan. Menggenggam kedua bahunya lalu menatap istrinya itu dengan tatapan yang begitu dalam dan bersiap mengatakan sesuatu.


”Tahu gak bee, Aku gak pernah menghitung hari, sudah selama apa kita bersama sejak malam kelam yang membawa bintang dan bulan bertemu hari itu."


Entah mengapa Mata Meysa malah berkaca-kaca mendengar ucapan panjang Kai yang dijeda beberapa saat demi untuk menarik napas dalam. Berkali-kali jakun Kai tergerak naik turun. Netranya tak sedikitpun teralih dari wajah Meysa.


“Ternyata perjalanan kita sudah sangat jauh, ternyata sejak perkenalan kita malam itu sudah selama ini.” Lanjut Kai dengan mata berkaca-kaca. Mengingat bagaimana awal mula perkenalannya dengan wanita cantik yang kini menjadi ratu dalam hatinya itu selalu saja berhasil merobohkan benteng kesedihannya sebagai seorang laki-laki. Apalagi setiap kali mengingat bagaimana perjuangan dan pasang surutnya hubungan mereka selama ini.


Ia dan Meysa sudah melalui banyak hal bersama. Kai tak menyangka jika sosok yang menjadi cinta virtualnya itu ternyata mampu menemaninya berproses dan berjuang hingga sejauh ini.


“Terimakasih sudah hadir dalam proses pendewasaanku, terimakasih telah memberikan kebahagiaan yang tak berujung."


Bahkan kini Air mata Meysa dan Kai sudah sama-sama menetes, tapi hal itu sama sekali tak membuat mereka mengalihkan pandangan satu sama lain. Di saat yang bersamaan tangan Meysa teralih mengusap bulir bening yang mengalir di pipi sang suami. Laki-laki hebat yang berhasil menguasai seluruh hatinya.


“Makasih karena malam itu kamu udah mau gabut dan buka Tele sampai kita bisa bertemu." Kai menyebutkan nama aplikasi chat, tempat yang menjadi pertemuan pertama Ia dan Meysa. “Makasih udah mau jadi teman chatku malam itu, malam gelap yang cuma ada kita berdua. Hanya Bintang dan Bulan!" lanjut Kai dengan begitu haru. Perasaan mengharu biru membuat air mata Meysa kian berlinang. Tangisnya pecah tanpa suara. Sungguh Meysa tak lagi bisa dibuat berkata-kata.


“Aku mencintaimu!" seru Kai sembari terisak. Ia tak lagi memikirkan harga diri sebagai laki-laki yang menangis di hadapan wanita. Bagi Kai, Ia tak masalah dianggap lemah di hadapan Meysa. Sebab sejak awal, bagi Kai, Meysa sudah mengetahui segala kelemahannya dan apa yang membuatnya tak berdaya.


“Kamu tahu?" Tangan Kai teralih meraih pipi Meysa lalu mengecup bibirnya sekilas dan kembali melanjutkan ucapan yang terjeda. Tenggorokan Kai terlihat naik turun menelan saliva. “Mencintai bukan perihal siapa yang lebih dulu memikat hati, tetapi soal siapa yang tulus dan bisa bertahan sampai akhir.” Lanjut Kai dengan suara tercekat. Sedang Meysa masih menatapnya dengan tatapan dalam dan air mata berlinang.


Kai menarik napas sebelum kembali berkata. “Hubungan ini sering kali naik turun, selalu ada pasang surutnya, bahkan duka pun tak jarang kita lalui sama-sama.”


“Sesekali kita memang sering kelelahan, tapi apapun itu, jatuh hati padamu merupakan hal yang tidak akan pernah Aku sesali."


Dengan gerakan cepat Kai kembali menarik Meysa ke dalam dekapannya. Keduanya sama-sama berpelukan dengan tubuh yang bergetar menahan tangis.


Apa yang disimpan selama berpisah itu akhirnya bisa diungkapkan sekarang. Membuat perasaan kedua pengantin baru itu semakin lega satu sama lain. Apalagi selama proses lamaran hingga menjelang pernikahan, Meysa dan Kai sama sekali belum pernah mengobrol seintens ini dan membahas permasalahan saat keduanya sempat break beberapa bulan.

__ADS_1


__ADS_2