After Long Distance Relationship

After Long Distance Relationship
21. Resepsi.


__ADS_3

“Selamat Meysa dan Suami, semoga sakinah, mawaddah, warahmah."


“Makasih."


“Selamat, semoga langgeng sampai maut memisahkan."


“Terimakasih do'anya."


Meysa dan Kai masih sibuk menerima tamu yang naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat. Senyum di wajah kedua mempelai itu tak pernah pudar, keduanya terlihat bahagia satu sama lain.


Tamu-tamu naik silih berganti, kini giliran Erza dan Rena yang naik ke atas pelaminan, pasangan muda itu berniat untuk berfoto dengan kedua mempelai. Sedari tadi sahabat Meysa dan mantan gebetannya itu memang belum naik untuk berfoto.


“Rena..." Meysa merentangkan tangan, menyambut pelukan dari Rena.


“Bebeb, hikss!" lirih Meysa pilu.


Sang sahabat yang tengah hamil muda itu terlihat begitu sedih. Berbeda ketika tadi Ia menemani Meysa menunggu berlangsungnya proses ijab qabul.


“Mey, habis ini kita pasti akan berjauhan!" lirih Rena sambil menepuk punggung sahabatnya. Selepas akad dan menyaksikan Meysa dan Kai duduk di pelaminan membuat pikiran Rena terbuka. Ia seakan baru menyadari jika Kai dan Meysa sudah resmi menikah itu artinya Kai akan membawa Meysa tinggal di kotanya. Hal itu membuat Rena sedih, selama ini ia tak pernah memikirkan hal tersebut. Membayangkan ia berjauhan dengan Meysa membuat Rena sedih, Ia tak mampu jauh dari sahabatnya itu.


“Jangan ngomong gitu!" Apa yang Rena ucapkan membuat Meysa ikut sedih. Namun Ia tak boleh menumpahkan tangis di hari bahagianya ini.


Meysa yang tahu penyebab kesedihan Rena pun meregangkan pelukan, lalu menatap Rena. Kecantikannya kian bertambah karena aura kehamilan.


“Kita akan tetap sama-sama Ren!" ujar Meysa mencoba menenangkan.


Sementara Erza dan Kai yang baru selesai bersalaman ala pria dewasa pada umumnya hanya menatap datar pada interaksi kedua istri mereka.


Perempuan memang agak drama. Erza dan Kai membatin.


Erza yang paham situasi segera mengajak Rena turun.


“Ren, ayo turun. Banyak tamu yang mau salaman!" ujar Erza yang tak ingin Rena merusak suasana dengan mengajak Meysa ikut bersedih. Beruntung istrinya itu mau diajak turun setelah selesai berfoto.


“Jangan sedih!" bisik Kai yang tak ingin sang istri sedih. Apalagi saat ini mereka kembali menyambut tamu.


Dengan senyum merekah Meysa menoleh pada Kai, menunjukkan jika Ia tak lagi sedih dan akan melewati hari spesial mereka ini dengan hati bahagia.


“Sebelum dzuhur pengantinnya turun dulu ya, istirahat!" ujar Haji Nurani memberi tahu Buk Samsuri jika sebentar lagi waktu dzuhur akan tiba. Itu artinya setelah ini Meysa dan Kai sudah harus turun untuk beristirahat.

__ADS_1


Begitu banyak tamu yang menghadiri acara pernikahan mereka. Bahkan sejak beristirahat shalat dzuhur dan acara kembali di lanjutkan setelahnya, tamu undangan semakin banyak yang datang. Membuat keduanya lumayan kewalahan.


“Huh capek!" lirih Meysa saat mereka kembali duduk, masih dengan pakaian adat pengantin berwarna hijau gold. Belum juga sampai malam Ia sudah kelelahan begini. Hiasan berat di kepala membuat leher Meysa pegal menahan beban berat.


“Mau istirahat?" Kai mendekatkan sedikit wajah ke dekat wajah Meysa agar ucapan mereka tak didengar siapapun.


“Mana bisa gitu, acara belum selesai," sahut Meysa tanpa menoleh. Kepalanya masih menatap lurus ke arah para tamu yang tengah menikmati hidangan.


Kai menghela napas, Ia juga kembali menatap ke depan. “Ya udah kalau gitu tahan-tahan aja dulu bee, kan gak bisa istirahat."


Meysa sedikit mengangguk mendengar ucapan Kai. Ya, tak ada yang bisa Ia lakukan selain harus menguatkan diri sampai waktu istirahat sebelum melanjutkan resepsi malam nanti. Hmmnt, ternyata menjamu tamu seperti ini cukup melelahkan. Meysa membatin dalam hati. Tahu begini Ia tidak akan setuju acara dilangsungkan sampai malam. Belum juga selesai, dia sudah kelelahan begini.


Kai yang melihat Meysa lemas segera mengarahkan tangannya ke belakang. Ia mengusap punggung Meysa dengan lembut. Berusaha memberi semangat.


“Mau minum?" tanyanya dengan pelan.


Meysa menoleh, Ia mengangguk mengiyakan.


Dengan sigap Kai langsung menatap ke bawah pelaminan, mencari siapa yang bisa dimintai bantuan. Kai bingung harus minta tolong pada siapa, Albi dan keluarganya yang lain terlihat sedang duduk di teras rumah Meysa. Sedangkan Ojik, Satria dan yang lain sedang sok akrab dengan para gadis penyambut tamu. Hmmmnt, Kai memutar mata malas melihat kawan-kawannya yang malah ambil kesempatan dengan gadis lain padahal beberapa diantara mereka sudah punya pasangan di Pekanbaru sana.


Dasar buaya! umpat Kai.


“Sabar ya bee, cari orang buat nyuruh dulu." Tangan Kai mengusap lembut punggung istrinya, lali Kai kembali celingak-celinguk.


Tanpa sadar jika pergerakannya tak lepas dari sorotan kedua orang tuanya.


“Kenapa Kai?" tanya Bu Yuliati yang duduk di sebelah Kai, sementara orang tua Meysa duduk di sebelah Meysa.


“Meysa mau minum."


Bu Yuliati yang mendengar itu, segera berdiri dan beranjak mengambilkan air gelas untuk menantunya.


Bibir Meysa yang dibalut lipstik berwarna maroon, tersenyum merekah ketika Ibu mertuanya memberikan air minum.


"Makasih Mak!" Meysa meraih air minum dari Emak lalu menancapkan sedotan dan mulai minum.


“Lapar juga gak?" Ibu Kai itu langsung beranjak, Ia memerhatikan sang menantu dan melayangkan tanya dengan penuh perhatian. Membuat kedua orang tua Meysa yang melihat itu langsung mengulas senyum. Senang melihat anak bungsu mereka mendapatkan mertua yang baik dan perhatian.


Meysa menggeleng. “Nggak kok Mak, tadi kan udah makan," ujar Meysa berbohong. Padahal Ia sama sekali tak berselera makan, hanya mengisi perut saat sebelum dirias saja. Entah mengapa ia tak memiliki selera makan sepanjang hari ini. Antara terlalu gugup atau terlalu bahagia hingga ia kehilangan selera makan.

__ADS_1


Emak mengangguk lalu kembali duduk di tempatnya setelah membantu memperbaiki kalung Meysa yang miring.


Setelah minum, Meysa cukup bertenaga dan kembali bersemangat menerima tamu. Lalu dilanjutkan melangsungkan sesi foto dengan sanak keluarga.


Acara siang itu berakhir sebelum waktu ashar tiba. Meysa dan Kai diiring masuk ke kamar sebelum malam nanti melanjutkan resepsi malam.


....


Malam pun tiba, jika tamu pagi hingga siang banyak, maka acara malam ini Kai dan Meysa menyambut lebih banyak tamu lagi.


Duo kamvret yang tak pernah mau ketinggalan foto sudah beberapa kali naik hanya untuk berawal foto dengan sahabatnya.


"Udah ada obat buat tempur gak?" bisik Satria sambil menahan tawa.


Kai yang sempat terdiam langsung melayangkan tepukan di punggung Satria saat mengerti maksud sang sahabat.


"Gak usah nanya-nanya, entar kau mau juga kan susa!" Kai balas mengejek membuat Satria mengumpat.


"Anjir!" keluhnya yang balas ternistakan.


“Lagian salah sendiri nanya gitu ke orang yang udah ada pasangan!" sahut Ojik sambil terkekeh, Ia menarik Satria untuk turun. “Udah ayok turun!"


“Turun dulu ya, Meysa!" ucap Ojik sambil menyeret Satria.


Meysa yang melihat tingkah sahabat suaminya itu hanya mengangguk sembari menahan senyum.


Malam ini Meysa nampak begitu cantik menggunakan gaun pengantin berwarna peach dengan mahkota dari mutiara yang bertengger di atas lapisan hijab, Ia tengah berpose saling berhadapan dengan Kai. Pria berbalut jas tuksedo dengan dalaman senada dengan gaun Meysa. Keduanya melakukan foto pengantin penutup sebelum acara benar-benar berakhir.


“Pegang buku nikah juga bagus!" ujar sang fotograper memberi saran setelah berbagai pose sudah dilakukan.


Membuat Faza yang tengah duduk menyaksikan sesi foto itu bergegas mengambil buku nikah pengantin baru itu lalu memberikannya.


Fotograper itu pun meminta Meysa dan Kai memegang masing-masing buku nikah lalu mengarahkannya ke arah kamera, seolah tengah menutupi wajah mereka yang seperti tengah berciuman.


“Oke, jangan gerak!" ujar sang fotografer saat melihat pose keduanya sudah sangat pas.


“Tahan, satu, dua, tiga..."


Cekrek, satu foto dengan pose unik itu berhasil diabadikan.

__ADS_1


Lalu kedua mempelai itu pun dipersilahkan masuk karena malam semakin larut. Menyisakan para tamu yang belum juga pulang karena masih menonton hiburan dari biduan. Tak sedikit juga yang turut menyumbang lagu untuk memeriahkan acara.


__ADS_2