
Saat Kai dan Meysa sudah tiba di teras tempat dimana orang tua Meysa, Faza, Eka dan kedua keponakannya berkumpul, semua yang menyadari keberadaan Kai dan Meysa lantas menoleh secara serentak.
Obrolan yang nampaknya begitu seru itu pun berakhir.
“Sini Kai, duduk." Faza yang duduk melantai di samping mamak pun bergeser, memberi tempat untuk sang adik ipar.
“Meysa ndak disuruh?" tanya Meysa sambil mencebik kesal dengan mulut manyun, membuat semua yang melihat itu hanya menyerngit dan terkekeh saat menyadari Meysa yang sedang iri pada Kai karena hanya dia yang dipersilahkan duduk, sedangkan Ia tak dipersilahkan.
“Sudah kayak tamu jauh saja kau!" celetuk Bapak sembari menahan tawa. Hanya Ayah Meysa dan kedua cucunya saja yang duduk di kursi rotan yang ada di teras tersebut.
“Iya, kalau kau ndak mau duduk, biar saja berdiri terus!" Faza ikut menyahuti, membuat semua terkekeh, begitupun dengan Kai.
Namun, bukannya marah, Meysa langsung duduk menempel di samping Faza seraya memukul pelan kakaknya itu, Meysa bersikap begitu manja malam itu.
“Ih, memang kau itu saudara durhaka kak Faza!"
“Mak, Pak, Faza dari dulu suka zolim waktu saya tinggal di rumahnya!" adu Meysa asal sembari terus menggelitik Faza yang menhan tawa sambil menghindari.
Bahkan hal itu membuat dua bocil itu turun dari kursi dan mendekati sang Papa, heran melihat kelakuan dua bersaudara yang sudah besar tapi bertingkah kekanak-kanakan.
“Ih, fitnah. Kapan saya zolimi kau, Mey!" protes Faza, ia beberapa kali menoyor kepala Meysa setelah berhasil mengunci leher sang adik di ketiaknya.
Moment ini benar-benar tak bisa Meysa lupakan, setelah sekian lama ia kembali bisa merasakan kehangatan keluarga dan berkumpul lagi seperti dulu.
Rasa haru yang menyeruak membuat netranya terasa panas, Meysa begitu bahagia. Pernikahannya tak hanya mempersatukan Ia dan Kai, tetapi juga bisa menyatukan keluarga seperti sekarang ini. Apalagi saat melihat wajah Bapak dan Mamaknya, Meysa begitu berharap bisa mendapatkan keluarga yang utuh seperti dulu.
“Aa, kak sakit!" Meysa meringis saat Faza makin menjepit lehernya. Namun, bukannya berhenti Faza malah tertawa puas, senang menganiaya Meysa di depan suaminya.
“Mak, Pak, lihat Faza!" adu Meysa pada Mamak yang terlihat tengah sibuk menghitung duit sambil membaca sebuah catatan kecil.
“Kenapa mengadu sama bapak, itu sudah ada Kai," canda Bapak sambil terkekeh, ia menunjuk Kai yang terlihat meringis Karena takut ayang kesakitan. Sungguh suami yang perhatian bukan?
“Jangan ikun campur Kai, ini perang saudara!" canda Faza mengancam Kai. Yang mana kian membuat semua terkekeh.
__ADS_1
“Abang tolong, bang!" rengek Meysa sambil menatap sang suami, senyum di balik wajah yang meringis itu tak bisa bohong jika Ia sangat bahagia sekarang.
“Ah, ribut sekali kalian berdua ini!" celetuk Mamak yang merasa terganggu karena sedang menghitung uang di teras pada malam hari. Sungguh ibu-ibu luar biasa.
“Mamakmu kalau berhadapan dengan uang memang harus khusyuk, kalau ndak nanti salah hitung!" celetukan bapak yang menimpali ucapan Mamak membuat merek semua terkekeh. Namun, kembali teralihkan saat Meysa kembali memanggil Kai agar mau membantunya lepas dari Faza.
“Bang, tolong!" lirih Meysa yang berusaha lepas.
“Coba saja kalau bisa!" Faza terkekeh senang.
Kai yang tak bisa melakukannya apapun hanya diam sambil terus tertawa, senang merasakan kehangatan di tengah keluarga barunya.
“Papa, lepas!" Melihat ontynya kesusahan, Cia dan Kia lalu menyerang Papanya dan berusaha membantu Meysa, ternyata bocil itu berpihak pada Meysa.
"Lepas, Pa, kasian onty!" rengek si bungsu Kia. Bocil itu nampak kasihan melihat sang onty.
Meysa tertawa melihat sikap perduli kedua ponakannya.
Berkat bantu dua keponakan, akhirnya Faza melepaskan Meysa, Ia menyerah tanpa syarat melawan dua bocil yang berpihak pada tante mereka.
“Besok ndak Papa ajak ke rumahnya Abang Kai!" ancam Faza yang mencoba mengintimidasi dengan candaan. Namun bukannya takut, dua anaknya malah lari ke arah Kai dan duduk di pangkuannya. Keduanya terlihat akrab dengan Kai.
”Bukan Abang, om atau uncle, papa. Onty Mey kan tantenya kita berdua dan om Kai sudah menikah sama Onty Meysa, jadi om Kai juga omnya Cia sama Kia."
Jawaban detail Ciara membuat semua manggut-manggut, gadis kecil itu memang begitu mendetail.
Sementara si bungsu Kiara sibuk melayangkan pertanyaan setelah mendengar pernyataan sang kakak.
“Om, Kia ikut ke lumah na om, kan?" tanya bocil tiga tahun itu dengan nada bicara yang cadel khas anak batita.
Kai tersenyum sambil mengangguk. “Iya, nanti Kia ikut sama Onty Meysa dama Om Kai tinggal di Pekanbaru, ya!" jawab Kai. Sedang Faza terdengar menggoda sang anak dnegan mengatakan jika Cia tidak akan ikut dengan Kai, Ia akan tinggal dengan Ciara di rumah neneknya nanti.
“Cia sama Kia nanti tinggal sama nenek, Mama sama kakek dan nenek yang ikut sama om Kai!"
__ADS_1
“Tidak, Kia sama Kakak ikut juga!" teriak bocah itu hampir menangis.
Drama itupun baru berakhir saat Mamak menyodorkan segepok uang yang barusan dihitungnya dan diikat menggunakan karet pada Kai.
“Kai, Mey, ini untuk kalian!"
Kai mengernyit mendengar perkataan Mamak, Ia yang heran lantas menoleh pada Meysa terlebih dulu, mengisyaratkan tanya soal uang yang ibu mertuanya sodorkan itu.
“Ambil nak, itu hak kalian. Terserah kalian mau pakai apa."
Pertanyaan dalam hati Kai pun dijawab oleh Bapak yang masih duduk di kursi sambil menseruput teh manis.
Melihat Kai yang tak mengerti, Faza akhirnya ikut bantu memberi jawaban. “Ini uang amplop, Kai, hakmu sama Meysa juga."
Kai yang kini mengerti baru saja hendak menjawab dan menolak uang tersebut, sebab merasa tak pantas mendapatkannya, tetapi Mamak mertuanya menyelanya lebih dulu. Membuat Kai urung menyampaikan niatnya.
“Ini buat kalian."
“Yang ini masih ada uang sisa pernikahan kalian kemarin, pakai buat usaha sama-sama, buat kebutuhan kalian, mamak sama Bapak ndak bisa kasih apa-apa, kondisi keluarga masih seperti ini nak, seandainya masih seperti dulu, mungkin Mey sama Kaia mama kasih yang lebih dati ini." Mamak yang tadinya nampak serius dan acuh kini terlihat sedih saat menyampaikan hal itu.
Membuat Meysa juga merasakan hal yang sama, Ia yang awalnya kesal karena Mamak sempat mempersulit Kai dengan meminta mahar yang banyak ternyata tak berlaku tamak dan mementingkan kepentingan diri sendiri, Mamaknya bahkan memberikan Ia dan Kai uang seperti ini. Mata Meysa berkaca-kaca, merasa bersalah karena sempat berprasangka buruk pada sang ibu.
“Mak!" lirih Meysa sambil mendekap tubuh wanita paruh baya yang sudah melahirkannya itu.
Meysa tahu kondisi orang tuanya yang sempat terlilit hutang sebelum perpisahan hari itu. “Uangnya buat Mamak sama Bapak saja, pakai usaha!" Meysa yang tahu orang tuanya sudah tak lagi memiliki banyak harta seperti dulu lebih merasa senang jika mamak dan bapaknya yang menggunakan. Dibesarkan hinga seperti ini saja Meysa sudah merasa sangat bersyukur.
“Ndak nak, ini uang kalian, hak kalian. Dulu kakakmu juga kami kasih!" ucap Mamak. Kini ia menatap Kai.
“Ambil Kai, simpan. Kalian bisa pakai buat usaha."
“Tapi, mak..."
Belum juga Kai menyelesaikan ucapannya, Mamak sudah menyelanya lebih dulu dan bersikeras agar Ia dan Meysa menerimanya.
__ADS_1