
Sebulan kemudian. Hari itu, setelah kedua belah pihak menentukan tanggal dan saling menginformasikan melalui telepon. Akhirnya acara pernikahan Meysa dan Kai akan berlangsung tepat tanggal tiga bulan ini. Yang mana kurang lebih tiga hari lagi hari-H yang ditunggu-tunggu akan tiba.
Di kediaman Kai, hari ini nampak begitu ramai. Para kelurga, kerabat, tetangga dan sanak saudara datang memeriahkan acara persiapan sebelum keberangkatan Kai dan para rombongan pengantar besok subuh.
Keluarga Kai yang hendak ikut mengantar terlihat mulai mempersiapkan diri. Meski berada di pulau yang jauh, tetapi hal itu sama sekali tak membuat semangat beberapa keluarga goyah. Beberapa diantara mereka bahkan ada yang rela menabung dari jauh-jauh hari hanya demi untuk mengantar Kai dan menyaksikan pria itu mengikrarkan Ijab qabul nantinya.
Rumah Kai sudah dihias dengan sedemikian rupa, nampak cantik ala rumah pengantin pada umumnya. Berbagai macam prosesi adat pun sudah diselenggarakan. Sebab nanti setelah akad dan resepsi dikediaman Meysa, keluarga Kai berniat membuat acara kecil-kecilan untuk menyambut kedatangan menantu mereka nantinya.
Sore ini, pria itu terlihat baru saja melangsungkan prosesi berendam. Yang mana isi inti dari kegiatan ini adalah dilakukannya beberapa rangkaian, mulai dari gunting rambut, mencukur dan merapikan rambut dahi, pelipis, alis, tengkuk, bagian tangan, dan kaki. Kai sudah melakukan segala rangkaian itu dengan dibantu oleh seorang yang bertanggung jawab dalam kegiatan ini.
Sedangkan malam nanti akan dilanjutkan dengan prosesi berinai dan disusul dengan khatam Qur'an.
”Cie, Si Bang Kai udah mau nikah aja nih!" celetuk Satria pada Kai yang tengah duduk sambil menunggu waktu khatam Qur'an tiba.
“Asli, Aku aja masih gak percaya kalau kalian bakalan nikah beneran. Kirain bakal LDR-an terus!" ejek Ojik sembari menahan senyum. Tangannya tergerak membuka tepak sirih yang ada di depan Kai.
Sahabat Kai yang baru datang sore tadi itu sengaja mendekati Kai hanya untuk mengajaknya mengobrol. Ojik Satria dan beberapa teman yang lain memang berencana ikut untuk mengantar Kai.
Pria yang sudah gagah menawan mengenakan pakaian adat teluk belanga berwarna putih dengan dipadukan kain songket coklat itu hanya menoleh sekilas mendengar ucapan lucknut duo sahabatnya yang memang agak kampret.
“Andai aja aku ngomong kalau kami sempat putus gara-gara video yang kau upload malam itu, pastilah kena mental. Auto merasa bersalah sampai ke ubun-ubun!" ujar Kai membatin sambil mengingat kejadian beberapa bulan lalu yang menjadi salah satu penyebab hubungannya dengan Meysa kandas.
Sorot mata tajam dan rahang tegas di bawah balutan tanjak yang membalut kepala Kai membuat aura kharismatik pada laki-laki itu begitu terpancar. Kai sudah seperti keturunan bangsawan. Meski hanya keturunan orang biasa, tapi anak Buk Yuliati dan Pak Ahmad memiliki pesona dan rupa yang menawan. Salah satunya Kai, calon suami Meysa itu cukup memiliki ketampanan yang memikat.
“Jangan tegang-tegang gitu lah muka kau, senyum dikit biar lebih menawan!" celetuk Satria lagi sambil memegang wajah Kai dan menarik sudut bibir sahabatnya agar mau tersenyum.
Meski seperti benalu dan parasit, namun kehadiran sahabat-sahabatnya itu membuat hari Kai lebih berwarna. Di balik sikap menyebalkan mereka, Kai selalu terhibur oleh tindakan-tindakan randomnya. Seperti saat ini, Kai malah membalas perlakuan Satria dengan menampakkan wajah seperti joker. Mengembangkan hidung dengan mata juling di sela tangan Satria yang masih menarik sudut bibirnya.
“Hahaha, tampang kau udah kek badut, anjir!" Ojik tertawa terbahak-bahak melihat wajah Kai.
“Kan kata kalian jangan tegang-tegang, nah ini lah ekspresi rileksasi!" seloroh Kai yang masih saja menampakkan ekspresi aneh.
Kai, Ojik dan teman-teman yang lain seketika mengkerutkan kening heran saat melihat Satria sama sekali tak berhenti terkekeh dan bahkan semakin terbahak-bahak.
“Anjir, malah kesurupan!" hardik Ojik dengan tatapan heran.
“Maklumin aja, odgj baru!" celetuk Kai ikut menimpali.
“Aku tuh ngebayangin muka Kai kalau lagi malam pertama sama Meysa kayak begitu, saking nikmatnya sampai aneh gitu!"
__ADS_1
“Bangsat, malah kesitu pikirannya." Ojik bahkan mulai ikut terkekeh. Pikirannya pun malah terkontaminasi membayangkan apa yang Satria katakan.
“Biarlah ekspresiku gitu, daripada kalian masih harus olahraga jari pakai sabun. Hahaha!" Kai balas mengejek dengan begitu nyelekit.
Membuat wajah Satria, Ojik dan Aan yang masih jomblo seketika mengkerut, merasa terzolimi oleh kata-kata Kai.
“Astaga malah ngehina!" ujar Aan sambil geleng-geleng.
“Ngehina aja nggak apa, An. Ini malah buka aib, emang ******!" balas Satria dengan wajah kesal.
Kai yang merasa menang terus menampakkan wajah mengejek sambil tertawa. Namun, tak berlangsung lama, sebab setelah itu orang-orang mulai berdatangan memenuhi ruang tamu. Acara berinai dan Khatam Qur'an pun akan segera berlangsung.
.
.
.
Keramaian dan persiapan bukan hanya dilakukan di rumah Kai yang terletak di tanah yang jauh disana. Begitupula di kediaman Meysa, dua hari menjelang hari-H. Rumah Meysa sudah sangat dipadati kerabat dan keluarga, bahkan orang-orang kampung berjibaku datang untuk membantu persiapan pernikahan.
Di halaman rumah berwarna hijau itu sudah berdiri kokoh tenda terowongan enam petak yang juga sudah didekorasi. Tim Elf florist telah menyulap tenda sederhana dan rumah Meysa menjadi cantik bak istana, bertabur bunga bak di taman indah. Sungguh luar biasa.
Sementara di dalam rumah, Meysa dan keluarga yang baru saja mengadakan pengajian langsung menuju ke ruang tengah saat beberapa orang mulai membereskan sisa pengajian barusan, ia hendak membantu namun dilarang.
Gadis yang mengenakan gamis syar'i set hijab berwarna hitam berpadu merah itu pun memilih duduk di ruang keluarga. Ia terlihat tengah sibuk dengan ponselnya, hendak mengirimkan pesan pada Kai
Terakhir Ia saling bertukar pesan dengan calon suaminya itu siang tadi, saat Kai baru saja mendarat di bandara Palu dan bersiap untuk meneruskan perjalanan ke kampungnya
Meysa yang penasaran pun segera mengirimkan pesan. Ia ingin tahu dimana keberadaan calon suaminya itu sekarang.
^^^Meysa : Udah sampai mana?^^^
Tulis Meysa pada pesannya kemudian menekan tanda kirim yang ada di sudut kanan bawah.
Sambil menunggu balasan Kai, Meysa kembali menatap beberapa keluarga yang terlihat mempersiapkan sesuatu.
Dari obrolan para ibu-ibu itu Meysa bisa tahu jika apa yang mereka siapkan merupakan bingkisan yang akan diberikan pada keluarga mempelai pria nantinya.
Ting...
__ADS_1
Suara notifikasi membuat Meysa meraih ponsel yang Ia letakkan di pangkuannya. Ia tersenyum dalam hati saat melihat nama Kai tertera pada bagian atas layar.
Kai : Ini baru aja sampai bee.
Capek!😌
Setelah membaca pesan Kai, Meysa lalu bersiap mengirimkan balasan.
^^^Meysa : Alhamdulillah kalau udah sampai.^^^
^^^Ya udah kalau begitu istirahat lah!^^^
^^^Semoga capeknya cepat hilang.🥰^^^
Kai : Pastinya sih!
Capeknya bakal cepat hilang karena semangat pengen cepat-cepat ketemu setelah sah.
Meysa tersipu membaca balasan pesan dari Kai. Ia tak lagi berniat mengirim balasan. Sebab akan membuat Kai semakin lama untuk istirahat.
Ia lantas melangkah ke kamar karena berniat mengistirahatkan tubuh. Bertepatan dengan itu, Ia mendengar suara riuh dari dapur yang menyampaikan soal kedatangan Kai dan rombongannya. Pihak keluarga dengan cepat mempersiapkan makanan untuk keluarga Kai.
.....
Waktu berlalu begitu cepat. Malam sebelum hari-H, keluarga Meysa tengah melangsungkan sebuah prosesi adat. Sama halnya dengan yang Kai lakukan pada malam sebelum berangkat beberapa malam lalu.
Meysa yang mengenakan pakaian pengantin dan make-up ala india itu tengah duduk sembari meletakkan kedua tangan yang sudah diberi henna dengan motif indah di atas susunan kain tujuh lapis yang mana bagian atasnya terdapat sebuah rangkaian daun melingkar.
Saat ini, Meysa tengah melakukan prosesi adat, mapacci. Dilakukan oleh beberapa tokoh masyarakat, agama dan keluarga inti.
Mappacci ini sendiri memiliki makna simbolik sebagai kebersihan dan kesucian diri, yang bertujuan untuk membersihkan jiwa dan raga calon pengantin sebelum memasuki bahtera rumah tangga.
Seluruh keluarga Meysa, mulai dari kedua orang tua, saudara secara bergantian memberi do'a pada Meysa yang besok sudah akan melangsungkan pernikahan.
“Semoga lancar ya Meysa, jadilah istri yang berbakti pada suami setelah berumah tangga nantinya!" ujar Beberapa keluarga dari Mamak dan Bapak yang turut memberikan do'a.
Puncak haru dan sedih seketika menerpa saat Meysa berhadapan dengan kedua orang tua dan saudara laki-lakinya, Faza.
Tangisan gadis itu pecah saat menyadari jika tanggung jawab keluarga terhadap dirinya sebentar lagi akan beralih pada Kai.
__ADS_1