
“Kamar mandinya di belakang." Kai yang tahu Meysa kebelet pipis hanya memberi tahu sebab istrinya yang sedang marah itu sama sekali tak mau bertanya apapun padanya.
Mendengar ucapan Kai membuat Meysa terbantu mencari kamar mandi di tempat asing itu.
Begitu selesai, Meysa yang baru keluar kamar mandi hanya memutar mata malas saat melihat Kai yang ternyata menunggu dirinya di dapur.
“Maaf..." Kai membuka obrolan saat Meysa sudah berjalan hampir melewatinya.
Langkah Meysa terhenti, apalagi saat Kai memegang kedua bahunya lalu mendekapnya dari belakang.
“Aku bercanda loh bee, diambil hati pulak bercandaan suaminya, hmm."
Meysa masih bergeming, tak menjawab sepatah katapun ucapan Kai.
"Kita udah kenal lama, masa juga masih gak tau kalau aku suka bercandain kamu."
Akhirnya Meysa pun luluh, Ia membalik tubuhnya dan balas memeluk Kai dengan tak kalah eratnya.
“Iya-iya, ini udah gak marah."
Tangan Kai menyusup di leher Meysa lalu menggenggam pipi wanita tersebut dan mendaratkan kecupan di kening dan pipi Meysa.
"Habis ini langsung berangkat atau gimana?" tanya Meysa yang masih bergelanyut manja dalam pelukan Kai.
“Kamu gak mandi dulu?" Kai balik bertanya.
Meysa menggeleng. "Nggak ah, mandinya nanti aja kalau udah sampai."
Jawaban Meysa membuat Kai berdecak. Tak habis pikir dengan jawaban istrinya yang ternyata dari dulu sampai sekarang masih menerapkan semboyan 'Mandi cukup satu kali sehari'
“Dari dulu sampai sekarang masih aja malas mandi." Kai mencebik sambil mengusap gemas kepala Meysa.
“Bukan malas tapi mager." Meysa mencoba berkilah.
“Lah, apa pulak bedanya. Mager kan singkatan dari malas gerak. Ya sama aja bee, sama-sama M-A-L-A-S!"
Meysa yang tak perduli lantas melepaskan pelukan Kai, Ia meraih tasnya dari meja meja melangkah begitu saja.
"Pokoknya aku nggak mau mandi, kalau kamu mau ya mandi aja."
__ADS_1
“Mandi bareng mau nggak, bee?"
Meysa menoleh dengan tatapan mematikan pada Kai yang terlihat menahan tawa.
“Capek-capek begini masih aja berpikiran kesana.”
“Eh, emang aku berpikiran apa bee?" kilah Kai membela diri.
“Ah udah ah, aku mau istirahat."
“Kamar Abang dimana?" tanya Meysa saat sudah berada di ruang tamu dan melihat satu motor matic putih berbadan besar parkir disana.
Kai yang masih berdiri langsung membuka pintu kamar yang berada tepat di samping lorong menuju dapur, rumah itu memang tak terlalu luas sebab masih ada lantai atas yang belum jadi.
Melihat pintu yang Kai buka, Meysa pun masuk ke kamar yang di dalamnya terdapat sebuah lemari kayu dua pintu dan springbad lantai.
Meysa melangkah menuju sebuah meja kerja yang berada di sisi jendela, di atasnya terdapat beberapa buku dan entah boks apa. Meysa lalu duduk disana dan melihat-lihat barang milik Kai.
“Kamu istirahat dulu ya dek, abang mau mandi bentar." Kai membuka lemari setelah menanggalkan baju dari tubuhnya dan melemparnya ke atas tempat tidur. Laki-laki itu mengeluarkan celana jeans dan baju kaos navy dari dalamnya.
Meysa yang penasaran ikut berdiri di belakang Kai dan kembali membuka pintu lemari yang hendak Kai tutup itu.
“Astagfirullah lemarinya udah kayak kapal pecah." Meysa memekik kaget, sepertinya saat tinggal bersama nanti Ia akan punya banyak tugas besar dalam mengurus pakaian suaminya itu.
“Biasanya bersih kok bee, cuma karena mau berangkat waktu itu aja aku buru-buru makanya gak sempat dibereskan."
Meysa menoleh dengan tatapan memicing. “Awas aja nanti kalau udah dibereskan terus ambilnya masih acak-acakan." Ancam Meysa kemudian melangkah ke tempat tidur dan memindahkan pakaian Kai ke dalam sebuah kresek yang memang sudah ada di tempat tidur.
Lelahnya lenyap seketika, entah kenapa jiwa emak-emaknya meronta ingin membereskan isi lemari suaminya yang ternyata seperti kapal pecah.
Kai masih terkekeh salah tingkah, belum juga apa-apa ia sudah diulti oleh istrinya soal kerapiaan. Sepertinya mulai sekarang Kai harus menerapkan kembali kerapiannya yang lenyap semenjak Ia sibuk dan sering lembur.
“Aku mandi dulu ya bee!"
Namun, bukannya menjawab Meysa malah melayangkan pertanyaan lain. “Ada deterjen gak?"
Kai yang sudah hampir keluar dari kamar lantas kembali menoleh pada Meysa dengan kening menyerngit, heran karena partnert baru yang mulai saat ini akan tinggal dan menjadi tanggung jawabnya itu malah menanyakan soal deterjen.
Kai sejenak nampak berpikir, mengingat-ingat apakah stok deterjennya sudah habis atau masih ada.
__ADS_1
“Masih ada kayaknya bee, kalau gak ada di tempat sabun, cari aja di kresek yang dekat rak piring."
Mendengar itu, Meysa yang sudah melepas hijab dan hanya mengenakan blous mocca dan jeans kulot itu pun ikut melangkah dengan Kai ke belakang. Ia yang tadinya hendak istirahat dan sudah mengantongi pakaian Kai dan akan mencucinya saat di rumah mertua seketika berubah pikiran, mengingat baju putih gampang terkena noda dan tidak baik jika dibiarkan terlalu lama.
Sesampainya di belakang, Kai yang mengenakan handuk masih melihat apa yang ingin istrinya lakukan.
Meysa mengambil ember dan menaruh pakaian kotor yang tadi Kai kenakan dan memutar kran air.
Ternyata mau langsung mencuci pakaian yang Kai gunakan tadi. Laki-laki itu manggut-manggut sambil menahan senyum senang.
“Masih ada gak bee?" tanyanya saat Meysa meraih sabun beraroma lavender yang tergantung di sudut dinding.
Meysa mengangguk lalu menuangkan deterjen secukupnya dan mulai mengucek kaos putih dan jeans beserta pakaian dalam Kai itu.
Apa yang Meysa lakukan tak lepas dari pengawasan Kai yang belum juga masuk kamar mandi, masih setia berdiri di pintu untuk mengamati Meysa.
“Abang kenapa gak mandi-mandi juga?" tanya Meysa saat menoleh dan masih melihat Kai memerhatikannya.
“Emang bee bee gak capek? Baru sampai langsung nyuci, mana disini gak ada mesin cuci sayang."
"Harusnya istirahat aja, kan katanya tadi mau rebahan." Bukannya menjawab, Kai malah berceloteh panjang lebar pada istrinya itu.
“Nggak apa-apa, ini baju putih haru emang langsung dicuci biar gak gampang kena noda.
Senyum mengembang terpancar dari bibir Kai, senang melihat Meysa yang begitu perhatian.
“Kalau gitu aku mandi dulu ya."
“Ya mandilah, siapa yang suruh berdiri disitu dari tadi!" tanya Meysa yang kini sedang membilas pakaian Kai.
Begitu Kai masuk ke kamar mandi, Meysa yang selesai mencuci langsung menjemur pakaian Kai.
Meysa yang tidak banyak tanya sebenarnya punya naluri jika tempat menjemur Kai ada di atas rumah, tapi karena melihat tangga yang di ujungnya terdapat pintu yang sepertinya hanya bisa dibuka oleh tenaga laki-laki akhirnya Meysa memutuskan menjemur pakaian Kai di teras menggunakan hanger yang Ia ambil di dalam lemari suaminya itu.
Setelah semua selesai dan beres makan di salah satu warung pinggir jalan. Akhirnya Meysa dan Kai sudah berangkat dan keluar dari kota Pekanbaru tepat pukul empat sore.
Sebenarnya saat baru keluar dari rumah, Albi maupun Faza juga Mamak sempat menghubungi keduanya agar berangkat bersamaan sebagaimana rencana awal saat di Bandara tadi. Namun, karena Kai tak ingin membuat semua orang menunggu, akhirnya Ia meminta agar Abang dan mertuanya meneruskan perjalanan dan tak perlu menghawatirkan mereka, sebab mereka akan berangkat bersama Satria dan Ojik.
“Abang duluan aja, Aku sama Meysa baru mau mampir cari makan dulu. Lama pulak nanti kalau mau barengan.”
__ADS_1
“Abang kasih tau mamak dan bapak, bilang gak usah khawatir kami jalannya rame kok, ada Ojik sama Satria juga yang mau ikut." Begitu Kai berteleponan dengan Albi saat semua masih ngotot menunggu ketika Ia dan Meysa masih harus makan terlebih dahulu.
Mendengar itu, Albi dan yang lain tak lagi khawatir berlebihan dan meneruskan perjalanan dengan tenang.