
“Kenalin ini Abangnya Meysa, Bang Faza." ujar Kai memperkenalkan Faza pada keluarganya.
Mereka baru saja tiba beberapa menit yang lalu dan Faza langsung menjemput menuju terminal kedatangan di Bandara Mutiara Sis Al-Jufri. Keluarga Kai masih tak menyangka jika saat ini mereka sudah berada di tanah Celebes (Sulawesi). Untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di salah satu pulau besar Indonesia selain Jawa, Sumatera, Papua dan Kalimantan.
“Ahmad, saya Ayah Kai."
“Yuliati, Ibunyaa Kai."
“Mawardi, Pak tuo si Kai..."
“Eh, maksudnya Paman si Kai!" Paman Kai salah tingkah seraya membenarkan ucapannya ketika menyadari ia tengah berbicara dengan orang yang berbeda bahasa, tak seharusnya memperkenalkan diri memakai bahasa daerah.
Faza tersenyum memaklumi seraya balas mengulurkan tangan pada semua. Dan yang terakhir Ia saling berjabat tangan dengan Kakak laki-laki Kai, Albi.
“Albi, Kakaknya Kai." Albi turut tersenyum, menampakkan jejeran giginya yang rapi. Senang disambut begitu ramah oleh calon Kakak Ipar adiknya.
“Faza." Faza balas tersenyum dengan tak kalah ramahnya.
Tak ada kecanggungan yang menyelimuti diantara kedua belah pihak. Sebab Keluarga Kai bisa melihat bagaimana ramah dan baiknya kakak bakal calon menantu mereka itu.
“Oh iya, yang ini namanya Erza!"
Kai yang hampir saja lupa mengenalkan Erza pada keluarganya segera tersenyum saat menyadari keberadaan pria tersebut yang ternyata juga ikut datang menjemput.
“Erza!" Erza memperkenalkan diri dengan tak kalah ramahnya.
“Dia ini masih ada hubungan keluarga dengan istri saya!" Bahkan Faza yang juga sempat melupakan keberadaan Erza yang ada di belakangnya turut memberi tahu seraya menepuk bahu Erza, membuat pria itu sedikit tertarik maju tepat di sampingnya.
Keluarga Kai tersenyum senang melihat Erza yang tak kalah ramahnya.
“Ternyata Kai punya banyak kenalan disini, ya," ujar Emak berbasa-basi. Yang mana membuat Faza langsung menimpali.
“Iya, kan waktu itu Kai sempat kesini. Kebetulan ketemu Erza juga makanya banyak yang dikenal." Faza tersenyum sembari menepuk bahu calon adik Iparnya yang berdiri di samping Albi seraya tersenyum menunduk.
Keluarga Kai senang melihat kedekatan Faza dengan Kai yang sepertinya sudah sangat akrab. Hal itu juga membuat Keluarga Kai bisa menilai jika keluarga Meysa baik karena mau menerima Kai, apalagi sepertinya pertemuan dan kedatangan Kai waktu itu cukup berkesan diantara mereka.
“Seandainya waktu itu Kai ngomong kalau mau datang, mungkin bisa nitipin oleh-oleh buat keluarga Meysa dan Nak Faza. Tapi si Kai malah gak bilang-bilang."
__ADS_1
Kai melotot mendengar basa-basi Ibunya yang terlalu jujur dan malah mengatakan hal itu di hadapan Faza. Takutnya itu akan membuat penilaian Faza terhadapnya akan berubah sebab mengira Ia bukan anak baik karena tak memberi tahu orang tua soal kedatangannya waktu itu, padahal Ia punya alasan tersendiri kenapa sampai tidak memberi tahu.
Kai menelan ludah kasar, ucapan Emak membuat posisinya tidak aman. Terbukti dengan Faza yang menoleh padanya dengan tatapan yang sulit diartikan setelah mendengar itu.
“Kai mgasih tahu kok, mungkin Emak lupa kali." Sebagai Abang yang peka Albi begitu pandai membaca situasi dan membela adiknya seperti dewa penyelamat.
Membuat kening Emak mengkerut heran. “Kapan, kok Emak nggak ingat?"
“Ck, sudah! Jangan diteruskan, kasian Kai. Nanti citra anak baik dia jatuh di hadapan calon kakak ipar!"
Sekali lagi Kai mendapat bala bantuan seperti, angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah, memberi kesejukan pada hati yang sempat diterpa ketakutan itu. Ayah turut membela menggunkan bahasa mereka. Yang mana membuat Emak segera tutup mulut dan tak lagi berniat mengatakan apapun.
Sementara Faza sendiri sama sekali tak mempermasalahkan hal itu seperti yang Kai takutkan. Menolehnya Faza pada Kai tadi hanya sebagai bentuk refleks, bukan mau berniat marah apalagi sampai merubah sudut pandangnya terhadap Kai.
“Ibu dan Bapak juga Kakaknya Kai pasti capek, bagaimana kalau kita langsung cari makan dulu."
“Ah ya, boleh-boleh." Albi langsung menyetujui usulan Faza dengan begitu antusias. Sebab Ia sudah merasa sangat lapar. Albi yakin yang lain pun sama sepertinya, sebab mereka semua makan hanya saat transit beberapa jam yang lalu di Bandara Juanda, Surabaya.
“Kebetulan saya juga belum shalat Ashar," ujar Pak Ahmad menyahuti.
“Bagaimana kalau kita ke rumah saya dulu, siapa tahu mau bersih-bersih sekalian shalat." Faza menawarkan keluarga Kai dengan begitu ramah.
“Memangnya nak Faza punya rumah disini, bukannya katanya butuh waktu sekitar lima jaman buat sampai di tempatnya?" Paman Kai yang sempat mendengar jika perjalanan dari kota tempat mereka mendarat menuju kediaman calon istri Kai memakan waktu hampir lima jam pun ikut menimpali.
“Oh kalau itu rumah orang tua saya." Faza mencoba menjelaskan dengan penuh senyuman, layaknya Ia tengah melayani nasabah saat di kantor. “Saya sendiri tinggal disini, Pak. Istri saya asli sini dan kami menetap disini," jelasnya panjang lebar.
“Iya, rumah dia disini. Dulu waktu datang, Kai disini, di rumah Bang Faza." Menggunakan bahasa daerahnya Kai membantu menjelaskan.
Membuat Faza sedikit tidak mengerti apa yang Kai maksud meski hanya dengan menyebut namanya saja. Faza dan Erza manggut-manggut mendengar Kai begitu fasih berbicara menggunakan bahasa daerah mereka.
“Kenapa juga dulu ndak bilang-bilang kalau kau pernah kesini Kai, datang ke rumah orang dengan tangan kosong tu gak baik!" Mendengar ucapan Kai, Emak kembali membahas soal kedatangan Kai dua tahun lalu yang sama sekali tak memberi tahu dirinya.
“Udah-udah, jangan dibahas lagi. Nggak enak sama calon kakak iparnya!" Lagi-lagi Ayah membela dengan bijak.
Sedangkan Albi langsung memegang kedua bahu ibunya, berusaha untuk menenangkan agar tidak terus mengomeli Kai di hadapan Faza. Sebagai Abang yang baik Ia juga tidak ingin citra adiknya runtuh di hadapan calon kakak ipar.
“Berangkat sekarang?" tanya Faza di waktu yang tepat, saat tak ada lagi obrolan yang terlibat diantara mereka.
__ADS_1
“Oh, Iya. Ayo!" Ayah dan Albi mengangguk dan segera meraih barang bawaan.
“Za, bantu!" Faza memberi kode pada Erza untuk membantu.
“Biar saya saja, Pak." Dengan cekatan Erza mengambil alih koper dan kardus yang bisa Ia tarik. Kebetulan satu koper berukuran sedang itu berisi baju Ayah, Emak, Albi juga Kai yang sengaja disatukan untuk menghemat barang bawaan. Sedangkan Satu tas ransel yang berisi pakaian Paman Kai berada di pundak pria paruh baya itu, dua diantaranya kardus minyak berisi seserahan meminang.
“Ndak usah, nak. Biar kami saja!" tolak Ayah, namun Faza dan Erza tetap kekeh membawa. Tak membiarkan mereka membawa apapun kecuali tas pribadi.
“Abang, biar saya." Bahkan Kai juga ikut melarang tapi ditolak.
“Udah, gak apa-apa!" sahut Faza dan Erza.
Hal itu semakin membuat Keluarga Kai semakin merasa segan, Faza memperlakukan mereka dengan baik.
“Ohiya, ini mau makan dulu atau shalat dulu?" tanya Faza disela langkah yang mulai keluar dari gedung. Mereka semua tengah melangkah menuju parkiran.
“Shalat aja dulu, nak Faza."
Begitu tiba di area parkir, Faza dan Erza memasukkan barang ke dalam mobil. Emak, Albi dan Kai naik di mobil merah milik Faza. Sedangkan Ayah dan Paman Kai menggunakan mobil kuning milik Erza.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Faza beserta Ibu dan Albi terlihat makin akrab dengan mengobrol berbaghai macam hal.
“Pas gempa waktu itu dimana?" tanya Albi yang pikirannya tiba-tiba tertuju pada bencana beberapa tahun lalu.
Emak yang mendengar pertanyaan Albi langsung menoleh keluar mobil. Ia pun sama, tak bisa membayangkan bagaimana dahsyatnya kejadian mencengangkan saat itu.
“Disini, kebetulan waktu itu lagi siap-siap mau ke acara ulang tahun kota, cuma ya tunggu habis maghrib dulu."
Kai yang duduk di depan hanya diam sembari mendengar cerita dari Faza. Waktu itu ia hanya dengar cerita dari Meysa. Dan tak pernah berpikiran jika calon kakak iparnya itu ternyata haampir menjadi korban jika saja Ia pergi lebih cepat.
“Rumah gimana?" tanya Albi penasaran.
“Alhamdulillah aman, karena bagian perumahan kami di bagian atas dan jauh juga dari pantai. Cuma ada beberapa rumah warga yang hancur, termasuk rumah mertua."
“Tapi mertua dan keluarganya selamat, kan?" kini Emak yang penasaran pun ikut menimpali.
“Alhamdulillah selamat!"
__ADS_1
Kedua calon keluarga itu terlihat akrab dengan memperbincangkan banyak hal selain bahasan soal bencana.
Sedangkan di mobil kuning, Erza beserta Ayah dan Paman Kai juga mengobrol tak kalah serunya.