After Long Distance Relationship

After Long Distance Relationship
33


__ADS_3

Sudah seminggu berlalu sejak kedua pasangan yang memulai hubungan secara virtual itu dipersatukan dalam ikatan yang sah.


Hari-hari yang Kai dan Meysa jalani sebagai pengantin baru terasa sangat bahagia, keduanya saling melengkapi satu sama lain. Seperti sebuah perangko yang tak bisa berjauhan, keduanya begitu lengket. Lama menjalani hubungan jarak jauh memberikan cinta keduanya setelah menikah bagaikan madu, begitu manis.


Terlebih lagi, hari ini Meysa, Kai, orang tua Meysa dan Faza beserta keluarga kecil akan segera berangkat menuju Pekanbaru untuk mengadakan acara kecil-kecilan bagi pengantin baru tersebut.


Sebenarnya beberapa keluarga Meysa ada yang ingin ikut, tapi Bapak dan Mamak Meysa mengatakan agar tak usah terlalu ramai, mereka tak ingin memaksa juga, mengingat perjalanan kesana membutuhkan biaya yang lumayan, alhasil yang pergi hanya keluarga inti saja.


“Liatin apa sih, bee?" tanya Kai setelah selesai menyimpan koper Meysa di bagasi kabin. Kai mengikuti arah pandang Meysa yang tengah tersenyum menatap kursi yang berjarak dua kursi lebih depan di sebelah kiri kursi mereka.


Ya, saat ini Meysa dan Kai beserta keluarga sudah berada di dalam pesawat yang sebentar lagi akan melakukan penerbangan rute ke Pekanbaru, Riau.


Kai kembali mengalihkan pandangan pada Meysa yang ternyata tersenyum karena melihat interaksi kedua orang tuanya, mereka terlihat lebih akrab semenjak acara pernikahan Meysa dan Kai kemarin, bahkan saat ini malah mendapat kursi berdua.


“Lihat mereka akur begitu rasanya senang kali aku tuh, bee!" lirih Meysa pada Kai yang sudah duduk di sampingnya. Suaminya itu kini sedang membuka botol air mineral, lalu disodorkan padanya.


”Kira-kira kalau Mamak dan Bapak balikan lagi, kamu mau gak bee?" Kai kembali menerima botol setelah Meysa meminumnya. Pria itu menampakkan senyum saat Meysa menjawab pertanyaannya dengan anggukan dan senyuman penuh harap.


”Kita do'a sama-sama ya, bee, semoga Mamak sama Bapak balikan. Jadi keluarga bisa utuh seperti dulu."


Meysa mengangguk penuh haru mendengar ucapan tulis Kai yang begitu paham akan keinginannya.


“Aamiin Ya Allah!" Meysa lalu menyandarkan kepalanya di lengan Kai sambil membayangkan jika hal itu terjadi. Tentu Ia bisa hidup dengan tenang di Pekanbaru nanti, sebab sudah pasti Kai akan membawanya tinggal disana, dan jika orang tuanya bisa rujuk, tentu Meysa tak perlu menghawatirkan bagaimana Bapak menjalani hari seorang diri, sebab sudah ada Mamak di sisinya.

__ADS_1


Meysa tersenyum membayangkan semua itu. Tak ada salahnya mendo'akan, toh tidak ada yang salah. Apalagi semenjak pisah, Bu Samsuri sudah pernah menikah dan pisah setahun yang lalu, hal itu semakin mendukung. Sebab dalam agama Meysa, seseorang yang pernah pisah dan talak tiga baru bisa rujuk setelah salah satunya pernah menikah dengan orang lain.


Cup.


Satu kecupan di kepala membuat Meysa tersentak dari lamunannya, Ia lalu mendongak menatap Kai yang malah menciumnya di dalam pesawat seperti ini.


”Nggak malu, kalau ada yang lihat gimana?" tanya Meysa sembari menahan malu yang membuat wajahnya merona.


“Gak ada yang liat kok bee bee, aman!" jawab Kai setelah memerhatikan sekitar, tak ada penumpang yang menoleh ke arahnya, semua sibuk masing-masing. Bahkan pramugari pun tak terlihat berada di sekitar mereka.


Meysa yang tak percaya pun ikut celingak-celinguk untuk memastikan. Namun saat ia menoleh ke belakang, betapa terkejutnya Meysa melihat Faza yang entah sejak kapan memerhatikan mereka sambil menopang dagu di atas sandaran kursi mereka.


Meysa langsung memalingkan wajah, malu kepergok oleh Faza.


“Sumpah malu kali, bee" celetuk Kai setelah kembali menghadap depan.


“Huaaa, sama!" lirih Meysa dengan histeris. Ia sudah membuka wajahnya. Rasanya Meysa ingin sekali terkekeh melihat tingkah Kai yang malu dipergoki Faza.


Pria itu nampak menggemaskan di mata Meysa. Kai beberapa kali mengusap wajahnya dengan terus menggeleng. Meysa dibuat gemas olehnya. Ini membuat Meysa mengingat pada zaman dimana mereka masih LDR-an dulu, dimana Kai suka bersikap salah tingkah dan malu-malu setelah memuji diri sendiri. Ternyata melihat langsung lebih menyenangkan, Meysa membatin.


”Kamu bisa malu juga ternyata?" ejek Meysa menahan tawa. Tingkah Kai membuat Ia lupa dengan hal memalukan karena ciuman Kai dilihat oleh Faza.


Kai menoleh pada Meysa, bersamaan dengan suara pengumuman yang menggema. Kemudian bebeberapa pramugari mulai berjejer di lorong sembari membawa sebuah benda berupa pelampung.

__ADS_1


“Gak bisa bee, aku mah orangnya gak tahu malu!" sahut Kai menanggapi ucapan Meysa barusan.


Namun bukannya memerhatikan Kai, Meysa malah fokus melihat dan mendengarkan arahan dari pramugari yang sedang memberikan safety demonstrasi, mencontohkan cara mempergunakan pelampung dengan benar.


Kai yang melihat Meysa fokus pun ikut menoleh, menatap pramugari yang sedang memberi arahan itu.


“Uh, matanya gak berkedip ya kalau lihat yang bening-bening!" Meysa berbisik tepat di telinga Kai. Dengan cepat suaminya itu menoleh menelisik wajah Meysa yang sepertinya ingin mengibarkan bendera perang.


“Mana pulak mereka bening, lebih bening istriku lah, bee." Kai yang tak ingin cari ribut pun memilih jalan damai. Ia tahu betul sikap wanita yang suka cari gara-gara dan mencari celah agar laki-laki terlihat salah. Apalagi ini Meysa, Kai tahu jika salah menjawab saja bisa membuat Meysa marah, seperti yang sudah-sudah saat mereka masih LDR-an dulu, hal kecil saja bisa Meysa perbesar jika sedang gabut dan malah cari masalah dnegannya.


Meysa mencebik, Ia melipat tangan sambil memutar mata malas. Bahkan matanya pun tak mau menoleh.


Dalam hati Kai berpikir, sebenarnya apa yang salah jika Ia melihat pramugari tadi, toh Ia tak berniat mata keranjang. Melainkan hanya kebetulan menoleh dan ingin melihat safety demonstrasi yang disampaikan.


"Tapi mereka cantik, kan?"


Kai menghela napas, Ia hafal betul jika pertanyaan ini adalah pertanyaan jebakan. Jika ia mengiyakan, sudah dipastikan istri tercintanya itu akan merajuk.


“Biasa aja, lebih cantikan istriku lah." Dan benar saja Meysa langsung tersenyum.


Dasar woman! Kai menghela napas. Rasanya ia baru saja menghadapi sidang skripsi, jika salah jawab sudah dipastikan urusannya akan panjang.


Tapi istriku emang cantik sih. Kai kembali membatin sambil menyandarkan kepala pada Meysa yang memeluk lengannya. Sayang istriku banyak-banyak! ungkap Kai dalam hati, Ia tak ingin lagi dipergoki Faza, alhasil ia hanya memuji Meysa dalam hati dan menahan diri untuk tidak menciumnya meski Ia begitu ingin melakukannya. Ya, demikianlah pengantin baru.

__ADS_1


__ADS_2