After Long Distance Relationship

After Long Distance Relationship
34


__ADS_3

Setelah melewati penerbangan beberapa jam dan satu kali transit di Surabaya, akhirnya Kai dan Istri beserta keluarga tiba di Pekanbaru. Mereka semua di jemput Albi menggunakan mobil pribadinya.


“Kayaknya gak bakalan cukup deh kalau ikut naik semua." Faza membuka obrolan setelah menyusun beberapa barang yang tak seberapa di bagasi.


Dengan serentak mereka semua saling melirik dan memperkirakan berapa orang yang bisa dimuat.


“Bisa kayaknya." Pak Rusdi turut menyahuti. “Mamakmu sama Eka dengan Kia di depan, Meysa juga."


“Di depan Kai, biar Bapak sama Cia di belakang, ya kan Ci?" tanya Bapak sambil menoleh pada cucu sulungnya yang terlihat enggan memberi respon, sepertinya tak suka duduk di kursi paling belakang.


“Atau kalau nggak, Pak Rusdi saja di depan, biar Meysa sama Kai di belakang." Albi menimpali sambil menahan senyum melirik dua pengantin baru yang berdiri berjauhan itu.


“Iya, kan biasanya pengantin baru ndak mau pisah!" timpal Faza dengan wajah menggoda, membuat Meysa langsung melayangkan pukulan kecil pada kakaknya itu. Sedangkan yang lain turut tertawa kecil.


“Kalau mamak sembarang." Bu Samsuri menyahut singkat.


"Atau kalau nggak aku sama Meysa naik motor aja, Bang. Biar gak terlalu sempit."


Pendapat yang Kai ajukan membuat semua menoleh sambil menahan senyum penuh makna.


“Kan, baru juga dibilang, eh ternyata pengantin barunya memang mau berduaan." Sekali lagi Faza meledek yang mana membuat semua terkekeh. sedangkan Meysa lagi-lagi hanya bisa mencebik, kesal selalu jadi bahan olokan kakaknya itu.


Kai yang juga salah tingkah hanya bisa garuk kepala, tidak tahu harus membela diri seperti apa.


Akhirnya kesepakatan pun dibuat sebagaimana yang Kai ajukan, untuk tidak terlalu berdesakan di mobil akhirnya Kai dan Meysa memutuskan untuk berangkat ke kampung halaman menggunakan motor.


“Jangan terlalu sore berangkatnya Kai, entar sampai tengah malam pulak!" peringat Albi.


“Iya, ndak. Habis ambil motor langsung berangkat kok."


Albi manggut-manggut, bukan apanya. Ia hanya khawatir jika saja kemalaman di jalan sedangkan Kai membawa Meysa.


“Kalau bisa berangkatnya samaan aja, biar kita di belakang kalian." Faza yang peka akan kekhawatiran Albi pun turut memberi saran.


"Iya, aman Bang. Nanti Kai ikutin."


Setelah itu orang tua dan kakak Meysa pun naik ke mobil.


“Mey, jangan lupa makan dulu sama Kai. Kalian juga pasti lapar!"


“Iya Mak." Kai mengangguk penuh hormat, begitu pula dengan istrinya yang mengiyakan ucapan sang Mamak.


“Iya, pasti Mak." Meysa tersenyum, senang melihat perhatian kecil yang ibunya berikan.


“Yaudah kita duluan ya, kalau mau makan bareng nyusul aja di tempat biasa Kai."


“Iya Bang!" sahut Kai lagi yang mengerti dengan tempat makan yang dimaksud. Sepertinya Albi akan membawa keluarga istrinya makan disana terlebih dahulu sebelum berangkat ke kabupaten tempat kampung halaman Kai berada.


Mobil berwarna abu metalik itu pun mulai melaju dari halaman parkir bandara. Meninggalkan Kai dan Meysa yang masih melambaikan tangan.


Setelah itu Kai dan Meysa pun mencari taksi untuk pergi ke kediaman Kai.


"Bandara ke tempat tinggal kamu, jauh gak?" tanya Meysa disela Kai menarik tangannya dan menuntun Ia masuk ke dalam taksi yang sudah menunggu.


“Nggak terlalu jauh sih, kalau gak macet cuma 20 menit.”


“Kalau macet, bisa lebih dari itu."

__ADS_1


Meysa yang mendengar jawaban Kai hanya diam sambil melihat pemandangan sekitar Bandara yang luas.


”Bee!"


“Hmmm."


Kai menoleh pada Meysa yang masih sibuk melirik kesana-kemari.


“Apa bee?" tanya Kai lagi setelah sebelumnya hanya menjawab dengan deheman.


Meysa menoleh dengan sumringah, seperti anak-anak yang melihat mainan menarik.


“Gak mau foto-foto dulu?" Meysa nyengir kuda, tangan yang tadi digenggam Kai kini beralih ia yang memeluk lengan suaminya yang berbalutkan hoodie hitam itu.


”Mau kirimin ke Rena, biar bumil itu ndak sedih-sedih lagi," lanjut Meysa sambil menatap Kai yang hanya menatapnya dengan wajah heran tak habis pikir.


“Ih, jangan ngeliatin begitu!" sentak Meysa pura-pura marah. Keduanya masih melangkah ke arah taksi yang tak terlalu jauh dari arah mereka.


Kai yang masih menatap Meysa dengan tatapan tak habis pikir lantas mengusap wajah istrinya itu menggunakan telapak tangannya. Ia lalu berbalik merangkul istrinya.


“Bukan aku gak mau ya mbak, tapi kamu lihat sendiri tuh di depan taksinya udah nunggu." Kai menunjuk ke arah taksi masih dengan merangkul leher Meysa dengan erat.


“Masa Ia orang udah nunggu terus kamu bikin menunggu lagi. Nanti abang-abang tu marah lagi, terus kita ditinggal."


“Mau?" ucap Kau panjang lebar yang mana membuat Meysa manggut-manggut setelah mungkin berhasil disadarkan oleh Kai.


“Ya juga sih." Meysa mendadak lesu, hilang semangat karena tak jadi mengambil gambar dengan spot bagus. Padahal ia sudah berniat mengunggahnya di akun media sosialnya.


“Lagian tadi Abang sama yang lain udah ingetin biar berangkatnya cepat, supaya gak kemalaman sampai di kampung."


Meysa makin manggut-manggut mendengar ucapan Kai.


Kai tersenyum, Ia yang tadi merangkul Meysa kini beralih meraih tangan istrinya itu dan menggandengnya, sebentar lagi mereka sudah harus masuk ke mobil.


“Nanti ya fotonya, kan kapan-kapan kita bisa kesini buat foto-foto." Kai mencoba menenangkan Meysa.


Begitu masuk, mobil itu pun melaju meninggalkan area Bandara.


“Mau langsung pulang atau singgah makan sama Mamak dan yang lain?"


“Pulang dulu lah."


“Soalnya Aku mau kencing!" Meysa membisikan kalimat ini dengan pelan pada Kai. Membuat laki-laki itu tersenyum simpul dan balas mendaratkan mulutnya di telinga Meysa.


“Masih bis tahan gak, kalau nggak kita minta abang-abangnya berhenti di toilet umum."


“Masih aman kok!" Meysa mendongak pada Kai sambil mengacungkan jempol. Hal itu membuat Kai gemas dan lagi-lagi mengusap wajah Meysa dengan telapak tangan besarnya.


Kedua pengantin baru yang bersikap seperti pasangan ABG itu membuat Pak supir hanya bisa berguman dalam hati saat melihat interaksi keduanya dari kaca spion dalam. Pak supir merasa seperti sedang ngontrak di bumi.


Setelah beberapa menit akhirnya mereka tiba di rumah kontrakan yang sudah lama Kai tempati sejak usaha toko abangnya tutup.


Bahkan Kai melihatkan tempat itu pada Meysa saat mobil melaju tepat di depannya. Tentu hal itu membuat Meysa tersenyum, ingatannya sejenak tertuju pada moment beberapa tahun lalu, dimana Ia dan Kai kenal saat anak kuliahan itu masih tinggal disana dan mereka bahkan sering melakukan VC saat Kai sedang beres-beres di toko. Banyak kenangan yang mereka lalui selama Kai tinggal disana, meski hanya virtual tapi itu sangat berkesan bagi pasangan LDR yang akhirnya bisa merajut mimpi untuk hidup bersama ini.


“Rumahnya besar juga!" celetuk Meysa saat sudah berada di halaman rumah bercat putih itu. Di depannya ada pohon mangga dan di kiri-kanan terdapat rumah tetangga yang diantaranya ada yang punya kedai kecil.


“Nanti kita tinggal disini, gak apa-apa kan ya?" tanya Kai sambil membuka pintu.

__ADS_1


“Ya nggak apa-apa lah, masa apa-apa," sahut Meysa.


“Ya kan kali aja mbak mau tinggal di Apartemen atau Penthouse, sedangkan suami mbak cuma bisa ngajak tinggal di rumah kontrakan dulu." Kai menoleh sambil tersenyum. Yang mana membuat Meysa langsung melayangkan tepukan di punggung pria yang suka sekali menjahilinya itu.


“Ishh, gak lucu ya Bang!" seloroh Meysa yang kesal.


“Mbak, mbak, mbak. Memangnya sejak kapan aku jadi mbak-mbak." Meysa memutar mata malas.


“Cie, marah." Kai menggoda sambil menoel dagu Meysa.


Pintu yang sudah terbuka tak membuat mereka lantas masuk, sebab terlebih dulu harus terhambat karena ulah Kai yang senang sekali menjahili Meysa dan membuat istrinya itu bersiap mengomel.


“Ya siapa suruh, lagian sejak kapan aku bilang kalau kita nikah harus tinggal di tempat mewah..."


“Ih, malah ngambek beneran loh mbaknya!" Kai makin tersenyum, Ia membalik tubuh dan benar-benar menatap Meysa yang sedang marah.


“Aku bercanda loh mbak!" ujar Kai saat tangannya malah ditepis oleh Meysa.


“Ndak lucu, bercandaanmu garing!"


Kai menghela napas, jujur dia sama sekali tak marah dan malah semakin dibuat gemas melihat sikap Meysa seperti ini.


Namun, baru saja Ia hendak melayangkan kalimat pembelaan dan membujuk Meysa, suara dari jalan depan komplek membuat Ia harus menoleh lebih dulu.


“Oi kai, itu bini kau?" tanya seorang pria dewasa yang lewat sambil menenteng termos.


Kai tersenyum sambil mengangguk. “Iyo Bang, ini biniku!" jawab Kai menggunakan bahasa daerah mereka, sebab orang itu juga bertanya menggunakan bahasa daerah.


Meysa yang tadinya berhadapan dengan Kai yang berada di ambang pintu pun turut menoleh, tak lupa dengan memberi senyum ramah pada pria tersebut.


“MasyaAllah, eloknya bini kau, Kai."


Kai masih tersenyum hangat, tangannya tergerak mengusap pundak sang istrinya yang berada di depannya. Perlakuannya seakan mengatakan jika ia begitu bersyukur memiliki Meysa.


“Iyo Bang, Alhamdulillah."


“Selamat atas pernikahan kalian, semoga diberkati dunia akhirat."


Kai manggut-manggut.


“Iyo lah Kai, Aku antar ini dulu. Nanti kapan-kapan kita cerita lagi." Pria yang menenteng termos itu pun hendak berpamit untuk meneruskan langkahnya.


"Iya Bang, Aku juga mau lanjut ke Kampung habis ini." Kai memberitahu.


“Oh iyo, dengar dari Albu Emak Ayah kau mau adain syukuran ya." Laki-laki itu menimpali dengan sedikit informasi yang Ia tahu. Beberapa hari lalu Albi memang sempat berkunjung ke tempatnya.


“Iya Bang, datang lah bang kalau ada sempat."


Akhirnya pria itu pun meneruskan langkahnya setelah bertegur sapa dengan Kai.


Meysa senang dengan keramahan orang sana yang membuatnya tenang berada di lingkungan seperti itu. Apalagi jika melihat bagaimana cara Kai bertegur sapa, hal itu membuat Ia kagum pada suaminya yang memang luar biasa ramahnya meski Ia sendiri tak terlalu paham dengan obrolan keduanya barusan


"Ayo masuk dulu, mbak. Kan katanya mau pipis!' bisikan Kai di telinga Meysa yang sempat terpaku membuat wanita itu memutar mata malas, seketika ia dibuat kesal lagi. Apalagi ketika mengingat bagaimana Kai membuatnya kesal barusan.


Meysa ayang kesal pun menghentakkan kaki dan masuk begitu saja seperti orang yang sudah tahu seluk beluk rumah itu.


Rumah suami ya rumah istri juga, kan? Meysa menggerutu dalam hati.

__ADS_1


Sedangkan Kai yang melihat itu langsung menyusul sambil menahan senyum melihat tingkah Meysa.


__ADS_2