After Long Distance Relationship

After Long Distance Relationship
29


__ADS_3

Sore hari, Meysa dan Kai beserta keluarga Meysa yang lain terlihat tengah berada di terminal, menyaksikan bus yang sebentar lagi akan berangkat. Keluarga Kai sudah harus kembali ke Riau sore ini. Sesuai kesepakatan mereka pulang menggunakan transportasi laut dan akan naik kapal di pelabuhan Makassar besok malam.


Kedua belah pihak yang baru menjadi keluarga baru itu nampak sedih melepas kepergian satu sama lain. Mereka saling berpelukan dan mengucap kata perpisahan agar kiranya bisa dipertemukan dalam lain waktu.


“Hati-hati ya, selamat sampai tujuan. Semoga kita bisa ketemu kembali buk." Mamak menepuk bahu Bibik Kai setelah saling berpelukan. Saudara dari besannya itu bahkan nampak bersedih. Ia balas menepuk lembut punggung Buk Samsuri.


“Aamiin Mamak Meysa, semoga kita diberi umur panjang supaya bisa bertemu kembali."


“Kalau ada kesempatan datanglah ke Riau."


“Insyaallah nanti kalau tidak ada halangan kami pasti ikut mengantar Kai dan Meysa." Balas Mamak dengan tak kalah ramahnya. Lalu beralih bersalaman dengan sang besan.


“Ingat nanti harus hadir ya, kami tunggu di rumah!" ujar Bu Yuliati memperingatkan agar sang besan jangan sampai tidak hadir dalam acara menerima Meysa sebagai menantu mereka nantinya.


“Insyaallah bu, do'akan sehat selalu dan kalau tidak ada halangan kami sekeluarga akan ikut kesana pastinya."


Buk Yuliati tersenyum haru mendengar niat tulus sang besan. Keduanya pun kembali berpelukan.


Sementara Kai dan Meysa yang melihat interaksi orang tua mereka saling tatap dengan penuh haru. Kai yang berdiri di samping Meysa meraih tangan wanita itu lalu menggenggamnya dengan penuh sayang.


Keakraban antar dua keluarga itu tak hanya terjadi pada kaum wanita, tetapi juga para lelaki. Bapak dan Ayah Kai terlihat masih berjabat tangan dengan senyuman lebar, keduanya begitu akrab dengan mengobrol membahas hal serius.


“Silahkan naik Pak, buk!" ujar sang karnet mempersilahkan para penumpang naik setelah Ia selesai menyusun barang dalam bagasi besar.


Bus berwarna hitam dengan gambar burung cendrawasih di bagian bodynya itu kemudian diserbu oleh para penumpang yang sejak tadi menunggu. Meski begitu, separuh dari penumpang bus tersebut merupakan keluarga Kai.


“Kami pamit ya, baik-baik kau disini!"


“Iya, jadi suami yang baik!"


Shut Ojik dan Satria saling menimpali. Duo Kamvret itu menjadi penumpang yang paling akhir naik ke bus.


“Kau jangan lupa ngabarin, sampai ketemu di PKU lagi!"


Kai nampak menghela napas mendengar ucapan duo kamvret yang terdengar begitu mengharu biru. Entah mengapa Kai merasa tergelitik mendengar ucapan dua sahabatnya yang begitu menyedihkan. Sudah seperti pasangan yang akan ditinggal jauh dan tidak akan bertemu dalam waktu yang cukup lama. Hal itu lantas membuat Kai menoleh pada Meysa, Ia dan Meysa nampak menunjukkan senyum tertahan melihat reaksi mengenaskan dua orang tersebut.


“Ck, Apa pulak lah Kai malah senyum ngejek kayak begitu!" celetuk Satria saat menyadari raut wajah Kai yang seperti tengah mengejeknya.

__ADS_1


Bahkan Meysa pun demikian. Tentu saja, Meysa memiliki pikiran yang sama seperti Kai. Sama-sama tak menyangka jika dua orang yang biasa jahil itu ternyata bisa bersikap seperti ini. Dalam hati Meysa bergumam jika ternyata persahabatan Kai dengan duo kamvret ini begitu dekat hingga dua orang itu nampak sedih seperti sekarang.


“Eh, lagian kata-kata Kau udah macam orang yang mau berpisah selamanya aja."


“Sejak kapan kalian berdua jadi gini?" tanya Kai. Akhirnya tawa pria itu pecah juga.


Tentu hal tersebut membuat Ojik dan Satria mengernyitkan kening melihat sikap Kai.


“Ck, lagian kau juga sih." Ojik yang sedikit kesal pun baru menyadari jika perkataan Satria tadi memang terkesan seperti mereka akan berpisah dalam waktu yang lama.


“Ah udah, ngapa pulak kita malah ngedrama kayak begini. Lagian minggu depan si Kai sama Meysa udah nyusul, anjir!" gerutu Ojik yang baru menyadari itu semua.


“Eh iya juga ya!" sahut Satria sambil terkekeh menyadari drama perpisahan antara mereka bertiga.


“Huuu!" seru Kai sembari melayangkan tangan menepuk bahu kedua sahabatnya itu secara bergantian. “Sekarang kelihatan kalau kalian emang gak bisa hidup tanpa Aku!" ledek Kai yang merasa menang.


Tentu ucapan pengantin baru itu membuat Ojik dan Satria memutar mata malas sembari mencebik. Baru mereka ingin membalas perkataan Kai, tapi suara dari dalam bus yang memanggil nama Kai membuat mereka yang baru hendak masuk segera menoleh secara bersamaan.


“Kai, oh Kai!" suara Emak terdengar memanggil nama Kai.


Membuat keempat orang itu menoleh, Ojik dan Satria lekas bergegas masuk dan disusul oleh Kai dan Meysa setelahnya.


“Iya bee!" sahut Kai. Lalu Ia dan Meysa segera menuju kursi tempat duduk orang tuanya yang berada tidak jauh dari kursi pertama sebelah kanan.


“Kenapa Mak?" tanya Kai menggunakan bahasa daerahnya saat Ia dan Meysa sudah berdiri di sisi tempat duduk Ayah dan Emak.


“ Jadi suami dan menantu yang baik untuk mertua dan suami kau, jangan malas-malasan. Tutur bahasa dan tingkah laku tuh yang sopan!" Buk Yuliati memberi wejangan pada sang anak yang akan ia tinggalkan. Sebagai seorang ibu, entah mengapa Ibu Yuliati merasa sedih hendak meninggalkan Kai padahal mereka sudah sering pisah sebelumnya, tapi rasanya Ia ingin memberi bekal yang baik pada anak laki-lakinya itu.


“Banyak mengalah sama perempuan, kalau istrimu marah, jangan pulak kau balik marah. Dengerin dulu, tunggu dia reda karena semua perempuan itu cuma mau di dengar, nggak suka kalau dibantah apalagi kalau kau emang buat salah, jadi harus terima dimarahin."


Kai mengangguk mengerti mendengar apa yang sang Ibu sampaikan, nasehat yang diberikan tentu akan ia jadikan pedoman untuk mengarungi rumah tangganya dengan Meysa.


“Mey, sini!" panggil Emak sembari merentangkan tangan agar sang menantu mendekat.


Meysa lalu mendekap erat sang mertua, rasanya Ia begitu haru diperlakukan seperti ini oleh Ibu Kai. Apalagi saat tangan dari wanita yang melahirkan suaminya itu mengusap punggungnya dengan lembut seraya berkata.


“Yang sabar hadapi Kai ya nak, kalau dia ada salah marahin aja, dia emang kadang menjengkelkan dan susah dikasih tahu!"

__ADS_1


Kai yang mendengar itu hanya menggaruk kepala, sementara Meysa hanya meliriknya sekilas sembari menahan senyum.


“Bukan nggak mungkin kalau gak ada pertengkaran dalam rumah tangga, solusinya cuma satu harus kalian selesaikan sama-sama, bicarakan baik-baik berdua." Emak berkata lirih pada Meysa yang juga memeluknya tak kalah erat.


Tangan gempal ibu Yuliati yang padat berisi itu terus tergerak mengusap kepala Meysa yang dilapisi hijab segitiga berwarna coklat.


"Saling sayang kalian nak, baik-baik disini, jaga kesehatan. Emak dan Ayah tunggu di kampung ya!"


Meysa mengangguk, satu bulir bening menetes di pipinya. Perlakuan ibu Kai membuat Ia benar-benar mempunyai ibu baru yang tak kalah luar biasanya seperti Mamak, meski mamak sering marah Meysa sangat menyayangi ibunya itu. Begitu juga dengan emak, mulai sekarang Meysa memiliki dua ibu dan dia akan menyayangi keduanya.


"Turunlah nah, busnya udah mau berangkat ini." Ujar Ayah dengan lembut saat supir sudah menyalakan mesin mobil.


"Kai sama Meysa pamit!" ujar Kai sembari meraih tangan Ayah dan Emak lalu menciumnya.


“Selamat sampai tujuan semua!" Ujar Kai dnegan penuh harap dan para keluarga dan penumpang lain turut mengaminkan doa baiknya.


“Sana, kalian turunlah!" ucap Emak lagi.


“Ayo bee!" kai menarik tangan Meysa. Namun, gadis itu masih menahan diri saat dirasa ingin menanyakan suatu hal pada sang mertua.


“Emak gak mabok 'kan?" tanya Meysa.


Ibuk Yuliati tersenyum hangat mendengar pertanyaan sang menantu. Bahkan Meysa juga menanyakan hal yang sama pada Tiwi, istri Alby dan yang lain. Para wanita lebih cenderung mengalami mabuk perjalanan. Hal itu membuat Meysa khawatir.


“Emak udah minum antimo tadi!".


Meysa bernapas lega mendengar Jawaban sang mertua. Ia lalu mengalihkan pandangan pada kaka ipar suaminya.


“Kak Tiwi gimana?" tanya Meysa.


“Aman Mey, kakak gak mabuk perjalanan kok insya Allah aman," sahut wanita yang duduk di samping Alby yang tengah memangku Azka.


Meysa mengangguk lega, ia lalu menoleh pada Kai. Suaminya memberi isyarat agar mereka lekas turun dan Meysa pun menyetujui.


"kalau gitu Meysa sam Kai pamit dulu."


“Daaa, Azka!"

__ADS_1


“Iya, hati-hati kalian!"


"Dada onty Meysa!" Azka melambaikan tangan dnegan antusias pada Meysa dan Kai balas tersenyum. Dengan tangan melambai kedua pengantin baru itu turun dari bus.


__ADS_2