AHANNA'S LOVE STORY

AHANNA'S LOVE STORY
KELUARGA ANDERSON


__ADS_3

Jam baru menunjukkan pukul 05.30 pagi. Terlihat suasana pasar pagi itu sangat ramai. Di luar, sudah banyak pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya. Seorang perempuan baru saja turun dari taksi. Dia berjalan ke dalam pasar.


"Halo nyonya Hanna," sapa salah seorang pedagang.


"Halo Karim, bagaimana dengan harga cabai hari ini? Apa sudah ada penurunan?"


"Sama seperti biasa nyonya."


"Baiklah, aku akan kembali nanti."


Hanna adalah seorang asisten rumah tangga yang bekerja untuk keluarga besar Anderson. Hampir setiap hari ia berbelanja ke pasar untuk keperluan dapur. Tidak heran jika pedagang di sana sudah sangat mengenalnya. Akhir-akhir ini Hanna sangat bingung dengan harga cabai yang melambung tinggi. Uang belanja yang diberikan oleh nyonya besarnya untuk satu Minggu tidak pernah cukup. Sering sekali Hanna memakai uang sendiri untuk menutup kekurangannya. Walau begitu ia masih bertahan di sana karena pekerjaan itu memang sangat ia perlukan untuk bisa membayar uang kuliah putrinya. Hanna pergi ke pasar bersama putrinya yang bernama Anna Nicolette. Sudah menjadi kebiasaan Anna menemani sang ibu berbelanja. Hanna mengeluarkan sebuah kertas yang berisi catatan bahan yang akan dibeli. "Ya ampun, banyak sekali belanjaan hari ini," ucapnya.


Anna terus memperhatikan sekeliling pasar. Dari tempatnya berdiri ia mendengar seorang perempuan yang mengeluh dengan harga cabai yang sedang naik. Walau harganya tinggi, tetap saja perempuan itu membelinya. Mau bagaimana lagi cabai memang sangat diperlukan untuk keperluan memasak. Dari berita yang Anna lihat semalam, banyak para petani cabai yang mengalami gagal panen mungkin karena sebab itu harga cabai sekarang ini naik.


"Nak, apa kau bisa membantuku?"


"Tentu saja ibu, apa yang kau perlukan?"


"Tolong beli semua bahan ini, setelah dapat cepatlah kembali. Ibu akan menunggumu di sini."


"Baiklah," Anna mulai mencari semua bahan yang ada dalam catatan itu. Saat berjalan Anna mendapati semua bahan itu, hanya saja ia harus membelinya di tempat yang sudah menjadi langganan ibunya. Tidak lama Anna sampai di tempat itu.


"Kau membutuhkan apa nona?" tanya pedagang itu.


Anna menyerahkan catatan belanjaannya dan meminta si pedagang untuk memasukkan semua bahan ke dalam keranjang belanjaan. Sambil menunggu, dengan ramah pedagang itu memberikan kursi kecil untuk Anna duduk.


Kring!! Kring!!!


Suara ponsel Anna berdering. Saat dibuka ia mendapat pesan dari teman kampusnya bahwa jam 09.00 pagi ini dosen mata pelajaran Matematika akan mengadakan ujian mendadak. Anna tidak terkejut lagi membaca pesan itu. Sudah menjadi kebiasaan dosen killer itu membuat jantung mahasiswanya berdebar-debar. Dia memang seperti itu selalu saja membuat tugas di luar perkiraannya.


Tidak lama pedagang menyerahkan keranjang belanjaan yang sudah terisi penuh dengan semua bahan. Anna mencoba memeriksa kembali semua bahan takutnya ada yang tertinggal.


Jamur, bawang putih, bawang merah, Kentang, Brokoli, Asparagus, Cabai, Paprika, Tomat ceri, Jagung, Mentimun, Selada, Bit, Seledri, Tomat, Kacang Polong, Kacang Merah, Kubis, Daun Bawang, Kembang Kol, Lobak, Chickpea, Parsnip, Squash, dan Zucchini. Semua bahan sudah masuk dalam keranjang.


"Berapa total semuanya?" tanya Anna.


"500 ribu nona," jawab si pedagang.


Anna melihat uang yang diberikan ibunya hanya 400.000, ia harus memakai uang miliknya untuk menambah kekurangannya. Saat kembali, Anna melihat ibunya yang sudah ada di tempat tadi.


"Kau membeli semuanya?"


Anna hanya mengangguk. Ia memperlihatkan total harga barang belanjaannya.


"Mahal sekali, nak. Total harganya sangat jauh dengan yang ibu perkiraan. Bagaimana dengan kekurangannya?"


"Ibu jangan khawatir, aku sudah membayar semuanya."


"Syukurlah, ibu berjanji akan mengganti uangmu setelah gajian nanti."


"Ibu tidak perlu menggantinya."


"Tapi nak... itu uang jajanmu."


"Sudahlah ibu, kau ini terlalu khawatir. Lagi pula aku masih memiliki simpanan untuk keperluanku. Ayo cepat kita kembali sebelum semua orang di rumah besar itu bangun dan menanyakan sarapannya." ajak Anna.

__ADS_1


Setelah sampai, Hanna dan Anna masuk lewat pintu belakang. Hanna melihat keadaan rumah yang masih sepi. Sepertinya semua orang masih terlelap tidur. Hanna mulai memasak makanannya. Saat memasak Hanna dibantu putrinya. Sebelum pergi ke kampus, Anna menyempatkan untuk membantu ibunya terlebih dahulu. Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 06. 30. Hanna merasa sangat lega karena baru saja menyelesaikan masakannya. Ia meminta Anna untuk membantunya menghidangkan semua makanan di meja makan. Memasuki ruang makan, Anna melihat pemandangan yang tidak biasa. Dia melihat meja makan di rumah Anderson yang sangat mewah. Kurang lebih dua puluh kursi yang tersedia di meja makan. Anna tidak tahu berapa banyak anggota keluarga Anderson sampai kursi di meja makannya juga sebanyak itu. Anna mempercepat pekerjaannya. Ia tidak ingin salah satu dari anggota Anderson melihatnya. Setelah selesai Anna berpamitan pada ibunya untuk pulang ke rumah. Satu jam lagi ia harus pergi ke kampus. Anna keluar secara diam-diam. Saat akan membuka pintu gerbang, Anna berpapasan dengan seorang pria.


"Siapa kau?" tanya Anna.


Pria itu menatap Anna dari atas sampai bawah. Anna bersikap seolah-olah seperti pencuri yang akan meloloskan diri. Ia terus menatap ke belakang takut ada yang melihatnya. Saat akan pergi, pria itu menghalangi jalan Anna.


"Cepat minggir sebelum ada yang melihatku!" pinta Anna.


"Apa kau seorang pencuri?"


Anna tidak terima dengan tuduhan itu. Saat akan mengomel pria itu menarik paksa Anna.


"Kau akan membawaku kemana?" tanya Anna memberontak.


"Kita lihat barang apa saja yang kau ambil dari rumah besar itu."


"Aku bukan pencuri. Tolong lepaskan tanganku!" teriakan Anna sampai terdengar oleh ibunya. Hanna langsung keluar untuk melihatnya.


"Anna? Kenapa dia bisa bersama tuan muda?" ucap Hanna pelan.


Melihat ibunya datang, Hanna langsung mengadukan perlakuan buruk pria itu padanya. Hanya saja Hanna tidak merespon sedikitpun. Ia hanya berdiri dengan wajah yang sedikit menunduk. Anna merasa aneh dengan sikap ibunya. Pria itu terus memaksa Anna untuk ikut masuk.


"Ibu... tolong aku! Bilang pada pria ini jika aku adalah putrimu, bukan seorang pencuri."


"Ibu?" Tanpa banyak bicara pria itu langsung melepaskan Anna.


"Tolong maafkan putriku, tuan muda." ucap Hanna.


"Tuan muda?" ucap Anna tidak percaya. "Itu berarti dia salah satu anggota keluarga Anderson." batinnya.


"Pergelangan tanganmu merah, nak. Ayo ibu obati dulu."


Perkataan Hanna terdengar oleh tuan muda. Ia sempat berhenti dan melihat ke arah Anna. Dia merasa sedikit bersalah karena sudah menarik paksa Anna sampai pergelangan tangannya merah. Anna meyakinkan ibunya jika ia tidak apa-apa. Ia harus segera pulang dan bersiap untuk kuliah.


***


Keluarga Anderson adalah keluarga yang sangat terpandang dan merupakan keluarga terkaya nomor satu di kotanya. Keluarga ini bisa dibilang keluarga besar karena memang anggota keluarganya yang lumayan banyak. Inilah anggota keluarga Anderson :


...Hamzah + Hanum ...


... (Tuan Besar) (Nyonya Besar)...


• Selim ( Anak Pertama ) + Ayana


• **Ahan Anderson (Putra pertama**)


... - 32 tahun, seorang CEO sekaligus pewaris pertama keluarga Anderson....


• Kanya Larasati (Adik Ahan)


... - 22 tahun, seorang mahasiswi semester pertama jurusan desainer....


• Keenan ( Anak Kedua ) + Bella


• **Aidan Alexander (Putra pertama**)

__ADS_1


- 30 tahun, pengusaha berlian sekaligus dipercaya oleh kakeknya untuk mengurus salah satu resort milik Anderson.


• **Laiyla Arabella (Adik Aidan**)


- 22 tahun, seorang mahasiswi semester pertama jurusan manajemen perusahaan.


• Eve (Anak ketiga ) + Sulaiman


-Eve adalah seorang istri yang begitu patuh pada suaminya. Sebelum menikah, ia berprofesi sebagai seorang direktur perusahaan milik keluarganya. Hanya saja ketika sudah menikah ia memilih berhenti dari pekerjaannya itu dan menjadi istri serta ibu rumah tangga yang baik. Suami dari Eve sendiri hanya sebagai seorang karyawan biasa di salah satu perusahaan. Pernikahan mereka di tentang oleh Hanum. Awalnya ia tidak merestui hubungan mereka karena melihat status Sulaiman yang di bawah Eve. Walau begitu Eve tetap memperjuangkan Sulaiman dan akhirnya mereka menikah.


***


Selain anggota keluarganya yang banyak, Hanum juga mempekerjakan banyak pelayan di rumahnya. Semua anggota keluarga Anderson memiliki pelayannya masing-masing. Bukan hanya pelayan, kehidupan mereka sangat terjamin, kemanapun mereka pergi selalu ada sopir pribadi yang siap mengantar. Satu sopir untuk satu orang. Akan tetapi untuk masalah dapur Hanum mempercayakannya pada Hanna. Dia tidak bekerja sendiri melainkan ada beberapa pelayan yang membantunya. Saat semua anggota keluarga sarapan, semua pelayan berdiri di belakang mereka takut jika mereka membutuhkan sesuatu.


"Apa nanti sore kau sibuk kak?" tanya Kanya pada kakaknya, Ahan.


"Tentu saja kakakmu ini sangat sibuk." timbal Ayana.


"Aku bertanya pada kakak, kenapa ibu yang menjawabnya?" ucap Kanya terlihat cemberut.


"Aku memang sangat sibuk, tapi jika kau yang meminta aku akan luangkan waktu untukmu." ucap Ahan penuh pengertian.


"Datanglah sore nanti kak, ada pameran lukisan di kampus. Kau pasti akan sangat menyukainya. Oh iya, jika kak Aidan mau kau bisa datang juga nanti."


"Maaf Kanya, sepertinya aku tidak bisa. Jadwal hari ini benar-benar padat." jawab Aidan.


"Kenapa kau mengajak kakakku? Dia itu sangat sibuk. Lagi pula dia datang atau tidak apa bedanya?" sambung Layla.


"Kenapa kau berkata seperti itu pada kakakmu?" tanya Bella selaku sang ibu.


"Memang seperti itu kenyataannya. Jika saja kakakku seperti kak Ahan, ah sudahlah... apa peduli kalian padaku?"


Layla langsung pergi tanpa menghabiskan makanannya.


"Permisi!" ucap Ahan meninggalkan meja makan.


Layla masih menunggu di luar. Ada sedikit masalah dengan mobilnya. Tidak lama Kanya datang. Mengetahui mobil Layla ada masalah, dengan baik hati Kanya mengajaknya untuk pergi ke kampus bersama. Akan tetapi munculah Bella dari belakang. "Itu tidak perlu, Layla akan pergi dengan menggunakan mobilku. Kau bisa pergi lebih dulu." ucapnya pada Kanya.


Saat akan pergi Layla langsung berlari ke mobil Kanya dan masuk. Layla terlihat sedikit kesal dengan ibunya waktu di meja makan karena itu ia tidak mau menggunakan mobilnya untuk pergi ke kampus.


***


Di kamar terlihat Ahan yang sedang menyiapkan berkas untuk dibawa ke kantor. Sejak tadi seorang pelayan berdiri di depan pintu kamar Ahan. Dia tidak berani masuk karena Ahan sudah memperingatkannya untuk tidak masuk ke kamar tanpa izin darinya.


"Deria!" panggil Ahan pada pelayanannya.


Mendengar itu Deria langsung masuk.


"Apa kau membutuhkan sesuatu tuan muda?" tanya Deria.


"Tidak ada, hanya saja aku tidak ingin kau membersihkan kamarku hari ini. Banyak berkas penting yang belum aku rapikan. Oh iya, satu lagi jangan biarkan siapapun masuk ke dalam tanpa izin dariku."


Deria langsung mengangguk memahami perkataan Ahan.


"Apa ada lagi tuan muda?"

__ADS_1


"Tidak, kau bisa pergi sekarang."


__ADS_2