AHANNA'S LOVE STORY

AHANNA'S LOVE STORY
BERTEMU SAAT PAMERAN LUKISAN


__ADS_3

Saat semua orang sudah beraktivitas, Hanna pergi membawa makanan untuk suaminya Hasan yang sedang bekerja di sebuah proyek pembangunan milik keluarga Anderson. Tiba di sana, Hanna melihat suaminya sedang duduk berbincang dengan Hamzah. Dia pergi menghampirinya.


"Tuan... kau ada disini?" tanya Hanna.


"Aku merasa bosan di rumah. Aku datang untuk melihat perkembangan proyek ini."


Melihat Hanna membawa makanan, Hamzah meminta Hasan untuk sarapan terlebih dahulu sebelum melanjutkan pekerjaan. Tidak lama Hanna harus kembali ke rumah besar itu untuk menyelesaikan pekerjaannya. Saat sedang makan, tiba-tiba saja Hamzah bertanya mengenai Anna. Sejak awal Hasan bekerja untuk keluarga Anderson, ia baru melihat Anna hanya beberapa kali saja.


"Bagaimana kabar putrimu Hasan?" tanya Hamzah.


"Dia baik tuan, sekarang ini dia sudah memasuki semester akhir dari kuliahnya."


"Minta dia untuk datang ke rumah, aku sangat ingin menemuinya." pinta Hamzah.


"Baik tuan, akan aku sampaikan pada putriku nanti."


Setahu Hamzah, putri Hasan adalah seorang gadis yang baik, lembut, sopan, dan ceria. Entah apa yang ada dipikirannya saat itu sampai ia berkeinginan jika Anna menikah dengan Ahan dan menjadi menantu keluarga besar Anderson. Di satu sisi, Anna baru saja tiba di kampus. Ia bertemu dengan temannya di luar dan mengajaknya untuk masuk ke dalam kelas. Sebelum ujian matematika di mulai Anna sempat membaca materinya terlebih dahulu. Saat sedang serius, temannya Zoe datang menghampiri Anna.


"Apa kau sore nanti ada acara?" tanya Zoe.


"Mmm... sepertinya tidak ada."


"Bagaimana jika nanti sore kita pergi ke kampus sebelah untuk melihat pameran lukisan? Kau senang bukan dengan sesuatu yang berbau seni?"


"Baiklah, kedengarannya itu sangat menyenangkan. Kita pergi bersama sore nanti." ajak Anna.


***


Di kantor, Ahan mencoba menyelesaikan pekerjaannya lebih awal. Ia ingin sore nanti bisa datang untuk melihat pameran lukisan. Meeting pagi itu baru saja selesai. Ahan sedang melepas lelah di ruang kerjanya. Tidak lama datang seorang perempuan menemuinya.


"Halo sayang..." ucap perempuan itu.


"Keisya?" ucap Ahan langsung membenarkan posisi duduknya.


Keisya Anaiya, seorang perempuan yang berasal dari keluarga konglomerat yang merupakan kekasih Ahan. Melihat kedatangannya seperti mimpi. Keisya baru saja kembali dari Paris setelah satu bulan ini menjalani bisnis keluarganya di sana. Sikap Ahan yang cuek membuat banyak pertanyaan dalam kepala Keisya.


"Hey... apa seperti itu reaksimu saat aku datang?" ucap Keisya yang masih berdiri di dekat pintu.


"Aku hanya terkejut saja. Kau seharusnya memberitahuku terlebih dahulu jika akan pulang." ucap Ahan.


"Baiklah, aku mengaku salah karena tidak memberitahumu dulu. Tetapi sekarang aku sudah datang dan berada di depanmu. Apa kau tidak merindukanku?" Keisya berjalan mendekat dan terlihat akan memeluk Ahan, akan tetapi Ahan langsung menjaga jarak darinya.


"Ini di kantor Kei, aku tidak ingin jika sampai ada karyawan yang melihat kita berpelukan." ucap Ahan.


"Kenapa kau memikirkan mereka? Lagi pula kita ini sudah bertunangan dan sebentar lagi kita akan menikah." ucap Keisya penuh keyakinan.


Tidak lama alarm di ponsel Ahan berbunyi. Jam sudah menunjukkan pukul 16.00 sore. Ahan langsung pergi meninggalkan Kei sendiri di ruangannya. Melihat sikap Ahan, Kei merasa sangat takut jika ada perempuan lain dalam hidup Ahan selama ia berada di Paris. Dalam perjalanan, Ahan terus saja memikirkan akan perasaannya. Dari awal Ahan menjalani hubungan dengan Kei, ia memang kurang menyetujuinya hanya saja sang ibu dan neneknya bersikeras untuk menjodohkan mereka berdua. Menurut mereka Kei adalah satu-satunya perempuan yang serasi untuk Ahan. Dia bukan hanya cantik, pintar, dan bertalenta di tambah lagi ia putri dari keluarga yang tidak kalah terpandang nya dengan keluarga Anderson. Ahan terlihat sangat bingung. Ia ingin sekali memberitahu semua orang jika ia tidak memiliki perasaan apapun pada Kei, hanya saja hubungan mereka sudah berjalan sangat jauh. Mereka sudah bertunangan mungkin sebentar lagi dua keluarga besar itu akan membicarakan tentang pernikahan mereka. Ahan tidak ingin menyakiti perasaan siapapun dalam hal ini. Hanya saja ia juga berhak memilih pasangan hidupnya sendiri.


***


Sore itu, banyak mahasiswa yang sudah memenuhi lapangan kampus untuk melihat pameran. Di sana sudah ada beberapa lukisan yang terpampang. Terlihat Anna dan Zoe yang baru saja datang. Mereka mulai berkeliling untuk melihat lukisannya. Di satu sisi, Kanya sedang menunggu Ahan di luar. Sebelum pameran di mulai, Kanya mendapat pesan dari kakaknya jika ia akan datang. Tidak lama mobil Ahan berhenti di depan kampus. Saat keluar, semua mata tertuju pada Ahan.

__ADS_1


"Waw.... siapa pria itu?" ucap salah satu mahasiswi. "Aah... dia sangat tampan dan juga keren."


Kanya langsung menghampiri kakaknya dan mengajaknya berkeliling melihat lukisan. Saat sedang berkeliling, salah satu dosen datang menghampiri Ahan.


"Selamat datang tuan Ahan," ucapnya. "Aku senang kau datang berkunjung."


"Tuan Ahan?" ucap Kanya bingung.


Setiap dosen dan pekerja lainnya di kampus itu sangat menghormati Ahan. Mereka sekali-kali memberinya penghormatan saat bertemu. Saat pameran akan dibuka, seorang rektor dari kampus itu menyampaikan satu dua kata di depan semua orang.


"Selamat datang, tuan Ahan Anderson. Sebuah kehormatan kau bisa datang ke kampus ini."


Semua mata tertuju pada Ahan. Rektor itu memberitahu semua orang jika Ahan Anderson adalah pemilik dari kampus itu. Semua orang bertepuk tangan memberikan sebuah penghormatan pada pemilik kampus.


"Kau pemilik kampus ini kakak?" ucapnya. "Hah, aku jadi bingung kenapa baru tahu semua ini sekarang. Kau juga tidak pernah memberitahuku apapun tentang ini." ucap Kanya yang terdengar lucu.


"Itu salahmu karena kau tidak pernah bertanya akan hal itu," ucap Ahan tersenyum lebar.


Pantas saja semua dosen dan pegawai kampus sangat menyambut kedatangannya, karena ternyata yang datang adalah pemilik kampus itu sendiri. Semua orang mulai berkeliling melihat lukisannya. Saat sedang melihat salah satu lukisan, tidak sengaja seseorang menabrak Anna dan menumpahkan minumannya di buku tugas miliknya.


"Ya ampun... apa kau jalan tidak lihat-lihat?" ucap Zoe dengan nada tinggi.


"Sudahlah, tidak perlu kau meninggikan suaramu seperti itu." ucap Anna. "Tolong maafkan temanku,"


Anna tetap meminta maaf walau orang itu yang bersalah.


"Maafkan aku kak, aku tadi tersandung." ucap orang itu.


"Kanya?" ucap Ahan menepuk pundak gadis itu.


"Kakak..."


"Kau darimana saja? Aku menunggumu sejak tadi."


Anna baru tahu jika perempuan yang menabraknya baru saja adalah adik dari Ahan sekaligus cucu perempuan keluarga Anderson. Ahan maupun Anna saling menatap satu sama lain. Anna langsung membereskan bukunya yang terjatuh.


"Minumannya mengenai buku tugasmu. Bagaimana ini? Besok hari terakhir pengumpulannya." ucap Zoe.


"Tidak masalah, aku bisa menyalinnya kembali."


"Tapi tugasnya tidak sedikit, Anna..."


"Ayo kita pergi!" ucap Anna sambil menarik tangan Zoe.


Kanya merasa sangat bersalah. Ia berlari mengejar Anna. Melihat adiknya berlari, Ahan pun mengejarnya.


"Kak tunggu!" ucap Kanya dengan napas yang terengah-engah.


"Kenapa kau mengikuti ku?" tanya Anna heran.


"Sebagai permintaan maaf, bagaimana jika aku yang menyalin kembali semua catatan mu?"

__ADS_1


"Tidak perlu!" ucap Ahan yang baru saja datang.


"Tapi kak..."


"Kakakmu benar. Lagi pula bagaimana aku bisa membuat seorang perempuan dari keluarga Anderson mengerjakan sesuatu untuk orang lain. Yang aku tahu kebanyakan dari mereka hanya bisa memerintah orang lain." ucap Anna melangkah pergi.


"Apa maksud dari perkataannya?" gumam Kanya.


"Sudahlah, kau tidak perlu memikirkannya. Dasar gadis aneh!" ucap Ahan.


***


Hari sudah malam. Ahan dan Kanya baru tiba di rumah. Semua orang tengah menunggunya di ruang tengah. Ahan pergi menemui mereka, sementara Kanya langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Selesai mandi Kanya mendapat telepon dari temannya.


"Halo Kanya! Apa kau tidak memiliki tugas hari ini?"


Kanya terdiam. Ia ingat dengan perkataan Anna sore tadi.


"Apa aku boleh bertanya padamu?"


"Tentu saja."


"Kenapa kau selalu bersedia untuk mengerjakan tugas milikku? Jika kau mau, kau bisa menolaknya."


"Kau ini seorang Anderson, aku tidak cukup berani untuk dapat menolak permintaanmu. Kau punya segalanya, aku ini hanya gadis dari keluarga biasa. Tidak mampu jika keluarga kecilku harus berurusan dengan keluarga besar dan terpandang seperti keluargamu."


Perkataan Anna membuat Kanya tersadar jika kebanyakan orang menerima dirinya karena ia adalah seorang Anderson bukan karena dirinya sendiri. Kanya langsung menutup teleponnya. Ia merasa sangat buruk karena selama ini tugas-tugasnya sering kali orang lain yang mengerjakannya. Tidak lama seorang pelayan datang dan meminta Kanya untuk turun makan malam. Saat sedang makan, Kanya memberitahu nenek dan kakeknya jika mulai besok ia akan pergi dengan menggunakan taksi. Ia akan pergi sendiri tanpa di dampingi para bodyguardnya. Keputusan Kanya membuat semua orang tidak percaya. Sang ibu berpikir jika putrinya itu sedang bercanda.


"Bercanda mu itu terlalu berlebihan, sayang."


"Apa aku terlihat sedang bercanda ibu?" Ayana langsung terdiam.


"Tapi kenapa tiba-tiba saja kau mengambil keputusan seperti itu?" sambung sang ayah.


"Karena aku seorang Anderson, ayah. Semua orang di kampus memandangku karena status itu bukan karena diriku sendiri."


"Itu bagus nak, kau bisa mendapatkan semua yang kau mau dimana pun kau berada. Apa ada seseorang yang sudah mempengaruhi pikiranmu?" tanya Ayana.


"Tidak, hanya saja karena status itu aku tidak tahu mana yang benar-benar teman, dan mana yang bukan. Aku tidak ingin dipandang karena aku ini seorang Anderson, aku ingin mereka memperlakukanku sama seperti teman pada umumnya. Aku tidak ingin lagi ada bodyguard yang mengikutiku, karena mereka teman-temanku menjaga jarak denganku." keluh Kanya di hadapan semua orang.


Setelah mendengar keluhan Kanya, kakeknya membebaskan Kanya untuk melakukan semua hal yang ia suka. Tidak akan ada lagi bodyguard yang menemaninya ke kampus. Mulai besok Hamzah meminta sopir untuk berhenti mengantar Kanya ke kampus kecuali jika ia akan pergi ke tempat lain, harus ada sopir yang mengantarnya. Mendengar hal itu, Kanya terlihat sangat senang. Ayana menatap Selim supaya melakukan sesuatu.


"Tapi ayah itu akan sangat berbahaya jika membiarkan Kanya pergi tanpa bodyguard. Kau tahu banyak orang yang tidak menyukai keluarga kita. Aku takut mereka akan memanfaatkan situasi ini." ucap Selim.


"Putrimu sudah besar Selim, kau seharusnya percaya padanya jika ia mampu menjaga dirinya sendiri. Keputusan ku sudah final, aku tidak mau ada orang yang mempertanyakan kembali hal ini. Topik pembicaraan selesai."


Selesai makan malam, Ahan menemui Kanya di kamarnya. Terlihat Kanya sedang membereskan buku mata pelajaran kuliahnya. Ahan duduk di samping tempat tidur Kanya.


"Apa karena perempuan tadi kau mengambil keputusan seperti ini?"


"Benar kakak, perempuan itu sudah menyadarkan ku. Aku bisa mendapatkan apapun karena aku ini seorang Anderson. Tapi mulai hari ini aku akan mendapatkan apa yang aku mau dengan kerja kerasku sendiri. Kau tahu kak? Kau selalu bertanya tentang tugas kuliahku, dan dengan jawaban yang sama aku mengatakan jika aku sudah menyelesaikan tugasnya, tapi sebenarnya tugasku itu dikerjakan oleh orang lain. Tapi mulai sekarang aku akan belajar untuk mengerjakan tugas ku sendiri apapun hasilnya itu adalah hasil dari kerja kerasku." ucap Kanya terlihat bersemangat dengan semua tugas yang akan ia dapatkan ke depannya.

__ADS_1


__ADS_2