
Malam itu, Keenan menemui Ara di kamarnya. Terlihat Ara sedang bersiap untuk pergi.
"Kau akan kemana nak?" tanya Keenan.
"Aku akan pergi bersama teman-temanku."
"Malam-malam seperti ini?"
"Kenapa ayah? Bukankah selama ini kau tidak pernah peduli kemana aku pergi? Lalu, kenapa tiba-tiba saja kau ingin tahu?"
Ara pergi begitu saja. Saat dibawah Eve melihat Ara yang pergi dengan di jemput temannya.
"Kemana dia akan pergi kak?" tanya Eve.
"Entahlah, Eve. Aku takut jika dia akan pergi ke klub malam lagi."
"Siapa yang pergi ke klub malam?" tanya Bella yang baru saja datang.
Keenan dan Eve saling menatap. Mereka tidak mungkin memberitahu Bella tentang Ara. Saat Bella sedang menunggu jawaban, tiba-tiba saja mereka melihat Hamzah datang. Keenan dan Eve pergi untuk menyambutnya. Syukurlah mereka terselamatkan oleh kedatangan Hamzah. Mereka tidak perlu menjawab pertanyaan Bella tadi. Saat di ruang tengah, Hanum bertanya akan keberadaan Ahan. Untung saja Kei langsung memberitahu semua orang jika Ahan sedang pergi bersama Dave, orang baru yang akan Hamzah pekerjakan sebagai kaki tangan Ahan di perusahaannya. Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 malam. Kei masih menunggu kepulangan Ahan. Dia mencoba menghubungi ponselnya tapi tidak aktif. Sementara itu, sejak tadi Hamzah terus memperhatikan Kei dari atas. Dia tidak tega melihat Kei yang harus terus menunggu sedangkan Hamzah tahu jika Ahan sekarang ini sedang bersama Anna. Di satu sisi, saat sedang menunggu kedatangan Ahan, Dave tertidur di rumah Hanna. Ia terlihat sangat lelah. Ketika Ahan datang nanti, ia meminta Hanna untuk membangunkannya. Jam sudah menunjukkan pukul 00.45 malam. Saat dalam perjalanan pulang, taksi yang dikendarai Ahan tiba-tiba saja mengerem mendadak.
"Ada apa pak?" tanya Anna.
Sopir taksi itu hampir saja menabrak seorang perempuan. Dia turun untuk melihatnya. Gadis itu meminta sopir taksi untuk menolongnya. Dia terlihat sangat ketakutan. Ahan dan Anna ikut turun untuk melihatnya.
"Ara?" ucap Ahan terkejut.
Ara langsung berlari ke arah Ahan. Dia memeluknya erat.
"Kak Ahan tolong aku..." ucap Ara sambil menangis tersedu-sedu.
"Kau kenapa Ara?" tanya Ahan.
"Ada pria yang mencoba untuk melakukan hal buruk padaku, kak."
Ahan melihat lengan baju Ara yang sobek. Tidak lama dari jauh seorang pria terdengar berteriak memanggil Ara. Pria itu berjalan sempoyongan seperti sedang mabuk berat.
"Apa pria itu yang melakukan semua ini padamu?" tanya Ahan.
Ara mengangguk mengiyakan. Ahan meminta Anna untuk membawa Ara masuk ke dalam mobil. Ahan pergi menemui pria itu. Dia langsung menghajarnya habis-habisan.
"Apa yang kau lakukan pada adikku?" tanya Ahan.
"Tanya saja pada gadis itu. Dia sendiri yang datang padaku saat di klub. Bahkan dia menawarkan dirinya padaku."
Mendengar hal itu Ahan kembali menghajarnya. Sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin Ara sendiri yang melakukan hal itu. Anna datang menghampiri Ahan. "Sudahlah, ayo kita pulang. Di dalam mobil Ara terus saja menangis." ucap Anna.
__ADS_1
Sudah pukul satu lebih, Ahan akhirnya sampai di rumah Anna. Melihat kedatangan Ahan, Hanna langsung membangunkan Dave. Ahan mengajak Ara untuk masuk. Hanna terkejut melihat Ara.
"Non Ara?" ucap Hanna.
Ara memeluk Hanna sambil menangis.
"Kau kenapa non?" tanya Hanna.
Ara terus bungkam. Ia belum berani untuk mengatakan semuanya. Dia takut jika Ahan akan marah padanya. Hanna mencoba menenangkan Ara. Dia pergi ke dapur untuk membawakannya segelas air.
"Apa yang sebenarnya terjadi Ara?" tanya Ahan.
Tiba-tiba saja ponsel Ara berdering. Sebuah panggilan masuk dari Keenan. Ara mendiamkan panggilan itu tanpa mau mengangkatnya. Dia tidak tahu harus mengatakan apa jika ayahnya itu bertanya padanya.
"Kenapa kau tidak mengangkatnya?" tanya Ahan.
"Sudahlah, jangan memaksanya untuk mengatakan semua itu sekarang. Biarkan dia menenangkan dirinya terlebih dahulu." ucap Anna.
"Kau tinggal disini juga?" tanya Ara.
Hanna memberitahu Ara jika dia adalah Anna, putrinya. Ara sangat senang bisa mengenalnya. Malam itu Ahan dan Dave pamit pulang. Ketika merek akan pergi Ara menolak untuk ikut. Dia tidak berani pulang malam ini. Ara meminta Hanna untuk mengizinkannya tidur di rumahnya. Besok pagi ia akan kembali ke rumah bersama Hanna. Kebetulan besok Hanna akan mulai lagi bekerja di rumah besar itu. Ahan semakin yakin jika ada sesuatu yang Ara sembunyikan darinya.
"Kau jangan khawatir tuan muda, non Ara akan pulang bersama bibi besok pagi." ucap Hanna.
Semalaman itu Ara tidak bisa tidur. Ia terus mengingat kejadian tadi.
"Jika kau ingin cerita, aku siap mendengarkannya." ucap Anna.
"Apa kau berjanji untuk merahasiakan semua ini dari siapapun?" tanya Ara.
Anna mengangguk setuju. Kejadian itu bermula dari Ara yang sedang berbincang dengan temannya di sebuah klub. Tanpa dia ketahui, temannya itu membawa Ara ke sebuah kamar. Ia meminta Ara untuk menunggunya di sana. Sesaat kemudian temannya itu belum juga kembali. Terdengarlah suara pintu kamar terbuka. Ara pikir itu adalah temannya, tetapi saat dilihat ternyata seorang pria yang tidak dikenal. Pria itu terus menatapnya dari atas sampai bawah. Dia bilang malam itu akan menjadi malam bahagia untuknya. Dia memojokkan Ara ke sudut kamar. Dengan sangat buas dia melepas pakaiannya. Pria itu menarik Ara ke tempat tidur. Ketika pria itu siap untuk menindihnya, seketika Ara dengan cepat menghindar, hanya saja pria tadi menarik lengan baju Ara sampai sobek. Ara terlihat ketakutan. Dia berteriak meminta tolong hanya saja pintu kamar itu terkunci. Pria itu berjalan ke arahnya. Ara melihat sebuah vas di kamar itu dan memukulkannya tepat di kepala pria itu. Ara mencari kunci kamar itu dan mendapatkannya. Dia langsung berlari keluar. Mendengar cerita Ara, mata Anna terlihat berkaca-kaca. Ia sangat bersyukur tidak terjadi hal buruk pada Ara. Jika semua itu sampai terjadi, entah bagaimana keadaan Ara saat ini. Anna memeluk Ara seperti seorang kakak pada adiknya. Dia mencoba menenangkannya . Dalam pelukan Anna Ara merasa sangat tenang. Ia mulai memejamkan matanya. Di satu sisi, Ahan dan Dave baru saja tiba di rumah. Saat berjalan ke ruang tengah, Ahan melihat Kei yang tidur di sofa. Tidak lama Hamzah datang. "Sejak tadi dia menunggumu pulang, sampai akhirnya ketiduran di sofa seperti itu." ucapnya.
Ahan pergi untuk mengambilkannya selimut. Sementara Dave, dia tidur bersebelahan dengan kamar Ahan. Saat sedang menyelimuti Kei, Ahan melihat cincin pertunangan mereka yang melekat di jari Kei. Sementara itu, di jarinya sekarang ini hanya ada cincin pernikahannya dengan Anna. "Maafkan aku Kei... aku sudah menyakiti perasaanmu seperti ini." ucap Ahan dalam hati. Seketika Kei terbangun karena merasa ada sesuatu di atas tubuhnya. Melihat kedatangan Ahan, Kei langsung memeluknya. Dia meminta Ahan untuk menemaninya tidur. Dia langsung mengajak Ahan ke kamar. Malam itu mereka tidur bersama.
***
Pagi kembali menyapa. Sebelum pergi bekerja Hanna menyiapkan sarapan terlebih dahulu untuk putrinya dan Ara. Selesai sarapan mereka pergi bersama ke rumah besar itu. Tiba di sana Hanna langsung pergi ke dapur menyiapkan sarapan untuk semua orang. Sementara Ara, dia diam-diam pergi ke kamarnya sebelum ada orang yang menyadarinya jika semalam itu dia tidak pulang. Melihat kedatangan Anna, Kanya terlihat sangat senang. Dia mengajak Anna ke kamarnya. Kamar Anna tidak jauh dari kamar Ahan. Saat mereka berjalan ke kamar, terdengar teriakan Kei. Dia merasa sangat kesal karena sejak tadi tidak ada pelayan yang datang menghampirinya. Kei akhirnya keluar dari kamar itu.
"Ada apa kak? Kenapa kau berteriak seperti itu?" tanya Kanya.
"Dimana semua pelayan? Sejak tadi aku memangilnya tapi mereka tidak ada yang datang satupun."
"Siapa pelayan yang disuruh nenek untuk melayani mu?"
Mendengar hal itu Kei terdiam tidak tahu. Kanya memberitahu Kei jika pelayan di rumahnya itu memiliki tugas masing-masing. Mereka tidak akan datang jika bukan majikan mereka yang memanggilnya. Dengan baik hati Kei memanggil pelayannya, dan meminta dia untuk melayani Kei dengan baik. Melihat Ahan yang sudah bangun, Kei menyapanya manis.
__ADS_1
"Selamat pagi, kau tidur sangat nyenyak malam tadi." ucap Kei.
Kanya penasaran dengan siapa Kei bicara. Dia melihat ke dalam kamar dan ternyata itu adalah kakaknya.
"Apa semalam kalian tidur bersama?" tanya Kanya.
"Ya, aku dan Ahan tidur bersama."
Wajah Anna seketika berubah. Ahan terkejut melihat dirinya yang tidur satu ranjang dengan Kei. Dia langsung bangun dan bergegas ke kamarnya, hanya saja di depan pintu Ahan melihat Anna yang sedang berdiri bersama Kanya. Dia diam mematung. Anna langsung memalingkan wajahnya lalu pergi.
"Kak tunggu aku..." ucap Kanya.
Ahan merasa sangat buruk. Dia marah padanya sendiri kenapa bisa-bisanya tadi malam dia tidur bersama Keisya. Ahan pergi untuk bersiap. Dia akan bicara pada Anna nanti.
Saat semua berada di meja makan, Hamzah meminta Hanna dan Anna untuk sarapan bersama. Semua orang menatap Hamzah heran.
"Kenapa kalian semua menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan perkataanku?" tanya Hamzah.
"Maafkan aku kakek, tapi mereka itu pelayan. Apa kita harus sarapan bersama seorang pelayan? Lagi pula jika pelayan di rumahku mereka akan makan bekas dari majikannya." ucap Kei seenaknya.
Anna merasa tidak terima saat Kei menghina ibunya. Ia ingin sekali melawannya, hanya saja ia mencoba menahan emosinya. Ia tidak mau membuat keributan di rumah besar itu.
"Kita dan mereka tidak ada bedanya, nak. Kenapa kau bicara seperti itu? Jika bukan Hanna yang membuat semua makanan ini, belum tentu kita bisa sarapan seperti ini." ucap Hamzah.
Mendengar hal itu, Kei langsung diam. Bukan hanya Hamzah yang meminta Hanna untuk sarapan bersama, tetapi Hanum juga mempersilahkannya. Saat Hanna mengajak Anna, ia terlihat menolaknya. Anna beralasan jika dia harus segera pergi ke kampus.
"Kenapa kau sangat terburu-buru? Duduklah dan sarapan dulu bersama kami!" pinta Hamzah.
"Terima kasih kakek, aku akan sarapan di kampus saja." jawab Anna.
Saat Anna melangkah pergi, Ara meminta pelayan untuk segera mengambil tas miliknya. Ia akan pergi ke kampus bersama Anna. Lagi pula kampus Ara tidak jauh dari kampus Anna.
"Kak Anna tunggu aku..." teriak Ara sambil berlari.
"Apa tidak salah jika Ara pergi ke kampus bersama putri pelayan itu?" tanya Kei.
"Namanya Anna, kak Kei. Mulai sekarang kau bisa memanggilnya Anna, bukan lagi anak pelayan." ucap Kanya sedikit keras.
Kei terdiam. Dia merasa jika kehadiran Anna sudah membawa pengaruh buruk untuk Kanya dan Ara. Saat semua orang sudah selesai sarapan, Ahan baru saja turun. Dia tidak melihat Anna di sana. "Dimana Anna?" ucapnya dalam hati. Melihat pelayanan Ara yang baru saja turun, Ahan pergi untuk menanyakannya.
"Apa kau melihat Anna?" tanya Ahan. "Mmm... maksudku apa Ara ada di kamarnya?"
"Dia sudah pergi ke kampus bersama nona Anna, tuan muda." jawab pelayan itu.
Ahan langsung meminta sopir untuk menyiapkan mobil. Mulai hari ini Ahan akan berangkat ke kantor bersama dengan Dave.
__ADS_1