AHANNA'S LOVE STORY

AHANNA'S LOVE STORY
JATUH SAKIT


__ADS_3

Ketika Ahan menuju ke tempat itu, ia melihat Anna dan Ara di pinggir jalan.


"Berhenti Dave!" ucap Ahan. Dia pergi menghampiri mereka.


"Apa yang terjadi? Kenapa kalian basah kuyup seperti ini?" tanya Ahan.


"Nanti saja bertanya nya, cepat tolong Ara sekarang! Dia menggigil kedinginan."


"Masuklah ke dalam mobil!"


Semua orang di rumah besar itu terlihat panik. Keenan sudah menyuruh orang untuk mencari keberadaan Ara. Beberapa jam kemudian, akhirnya Ahan sampai di rumah. Dia membawa Ara masuk ke dalam.


"Ara..." ucap Kanya.


"Kau akhirnya pulang, nak. Ayah sangat mengkhawatirkan mu sejak tadi." ucap Keenan.


"Jangan menyentuhku!" ucap Ara.


Ahan meminta pelayan untuk mengambilkan handuk. Hanna melihat putrinya yang juga basah kuyup. Dia langsung membawanya masuk.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" bisik Hanna.


"Nanti aku ceritakan semuanya, ibu." jawab Anna.


Ara meminta pelayan untuk menyiapkan pakaiannya. Bella datang menghampiri putrinya itu. Dia meminta maaf padanya di hadapan semua orang. Ara tidak menjawab permintaan maaf ibunya itu, dia sudah terlanjur sakit hati padanya. Tamparan itu akan berbekas sampai kapanpun. "Maaf nona, semua sudah aku siapkan di kamarmu." ucap pelayan.


Ketika akan kembali ke kamar, Ara memperingatkan pelayan untuk tidak membiarkan siapapun datang menemuinya. Di kamar Ara melihat wajahnya di cermin. Pipinya masih terlihat merah karena tamparan itu. Di satu sisi, Ahan pergi menemui kakeknya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Malam itu, Hamzah memberitahu Ahan jika Bella sudah menampar Ara. Dia sangat marah saat tahu anak gadisnya itu sedang berkumpul di sebuah klub malam bersama teman-temannya. Hamzah menunjukkan foto itu pada Ahan. Entah siapa orang yang telah menyebarkan foto itu, tapi tidak menutup kemungkinan juga Ara tidak sengaja terlihat ketika seorang temannya sedang mengambil foto. Seketika Ahan teringat dengan Anna. Dia tidak tahu kenapa mereka bisa basah kuyup seperti itu. Ahan pergi untuk melihat keadaan Anna.


Saat keluar dari kamar, Ahan melihat Hanna yang membawakan minuman hangat untuk Ara.


"Maaf ibu, apa Anna bersamamu?"


"Dia ada di kamarku, nak."


"Untuk siapa minuman itu?"


"Ini untuk non Ara. Tapi ibu juga sudah membuatkannya untuk Anna. Minumannya masih ada di dapur."


"Baiklah, biarkan aku yang akan membawakannya pada Anna." ucap Ahan.


Saat masuk ke kamar, Ahan melihat Anna yang berbaring di tempat tidur. Mendengar suara pintu terbuka, Anna pikir jika itu adalah ibunya, tapi ternyata tanpa ia sadari itu adalah Ahan.


"Ibu... aku sangat merindukan ayah," ucap Anna. "Apa kau juga merindukannya?" Walau Ahan tidak dapat melihatnya, tapi ia tahu jika Anna sekarang ini sedang menangis.


"Sebentar lagi hari wisudaku, dan aku harus merayakannya tanpa ayah." Anna menangis terisak-isak.

__ADS_1


"Ibu... kenapa kau diam saja?" tanya Anna. Saat melihat kebelakang ternyata Ahan yang sejak tadi berdiri di sana.


"Untuk apa kau datang kemari?" tanya Anna .


"Aku membawakan minuman hangat ini untukmu. Ibu yang membuatkannya." ucap Ahan.


"Taruh saja minumannya di atas meja. Kau bisa pergi sekarang." ucap Anna sambil memalingkan wajahnya.


Ahan merasa jika Anna masih marah padanya. Ahan pergi memeluk Anna dari belakang. Anna mencoba melepas pelukan itu, tapi Ahan semakin mendekapnya kuat.


Anna begitu nyaman dengan pelukan itu.


"Maafkan aku soal kejadian tadi pagi. Semua tidak seperti yang kau pikirkan. Kei terus saja memaksaku untuk menemaninya tidur, malam itu aku sangat lelah dan tanpa aku sadari aku tidur bersamanya. Percayalah! Kami tidak melakukan apapun malam itu." ucap Ahan menjelaskan.


Anna sepenuhnya percaya pada Ahan. Ia tidak akan berbuat macam-macam di belakangnya. Anna terlihat bersin-bersin. Dia sepertinya flu. Bukan hanya itu tubuhnya juga panas. Anna meminta Ahan untuk menjaga jarak darinya. Ia tidak mau jika Ahan ikut sakit. Saat mendengar suara langkah kaki, Ahan melepas pelukan itu dan bersembunyi. Dia takut jika orang lain yang datang. Saat dilihat, ternyata Hanna.


"Ibu... aku pikir orang lain yang datang."


"Apa kau demam sayang?" tanya Hanna.


"Tidak perlu khawatir ibu, aku akan merawatnya malam ini." jawab Ahan.


Saat memastikan tidak ada orang yang melihatnya, Ahan membawa Anna ke kamarnya. Saat masuk, kamar Ahan begitu besar. Mungkin ukurannya tiga kali dari kamar Anna. Ahan meminta Anna untuk berbaring di tempat tidur. Sementara Ahan akan pergi mandi. Tidak lama saat Ahan keluar dari kamar mandi, Anna sudah tidak ada di tempat tidur.


"Anna!" panggil Ahan.


Ahan mendengar suara, tapi Anna tidak terlihat dimana pun. Tidak lama Anna keluar dari balik lemari yang dipenuhi buku-buku.


"Kenapa kau bisa masuk kesana?" tanya Ahan.


"Tadi saat aku sedang melihat buku-buku ini, tidak sengaja aku menjatuhkannya. Dan lemari ini terbuka begitu saja."


Tidak ada yang tahu tentang ruangan rahasia itu. Di balik rak buku miliknya, ternyata ada sebuah ruangan yang sering Ahan gunakan untuk bersantai. Di sana Anna melihat banyak kaset. Menonton film sepertinya akan sangat menyenangkan. Jam baru saja menunjukkan pukul 23.45 malam. Kelihatannya Anna masih belum mengantuk. Ia meminta Ahan untuk menonton film bersamanya. Ahan tidak bisa menolak permintaan Anna. Ini kali pertamanya mereka menghabiskan waktu berdua.


"Kau ingin menonton film apa?" tanya Ahan.


"Terserah kau saja," jawab Anna.


Ketika film akan dimulai, Ahan mematikan lampunya. Film yang dipilih Ahan sangat seru. Sebuah film horor Amerika yang sangat menyeramkan. Walau terkesan seram, Anna biasa saja saat menontonnya. Ketika film akan selesai, tidak lagi terdengar suara Anna. Saat dilihat ternyata dia sudah tidur. Ahan menggendong Anna ke tempat tidur dan menyelimutinya. Saat tengah malam, Ahan terbangun karena mendengar Anna yang terus saja batuk.


Dia memberikannya segelas air.


"Minumlah dulu!" ucap Ahan.


"Uhuk... Uhuk... Uhuk... tenggorokanku sangat sakit," ucap Anna.


"Apa kau ingin aku memanggil ibu?"

__ADS_1


"Tidak perlu, biarkan dia istirahat."


Anna terus meminum air putih untuk meredakan batuknya. Ahan tidak tahu harus berbuat apa. Dia merasa kasihan melihat Anna yang terus batuk. Ahan membawa Anna dalam pelukannya. Sudah jam 4 pagi, akhirnya Anna bisa tidur nyenyak. Dia tidur dalam pangkuan Ahan.


***


Pagi sudah datang. Ahan melihat Anna yang masih tidur. Dia tidak tega untuk membangunkannya. Tiba-tiba saja Ahan dikejutkan dengan kedatangan seorang pelayan di luar kamarnya.


"Tuan muda, sarapannya sudah siap." ucap pelayan.


"Baiklah, kau diam di situ. Jangan masuk sebelum aku perintahkan."


Ahan memindahkan Anna ke ruang rahasia. Di sana dia akan aman. Tidak satupun orang yang mengetahuinya. Tidak lama Ahan keluar dan menemui pelayan itu.


"Tolong panggilan bibi Hana dan suruh dia datang kemari." pinta Ahan.


"Baik tuan."


Di meja makan, Aidan merasa heran dengan pria yang baru saja datang. Dia duduk dan ikut makan bersama semua orang.


"Siapa kau? Kenapa aku baru melihatmu baru-baru ini? Apa kau pelayan baru di rumah ini?" tanya Aidan.


"Dia adalah Dave, orang kepercayaan Ahan di perusahan." jawab Keenan.


"Bagaimana bisa orang asing dengan mudahnya bekerja di perusahan kita ayah?" tanya Aidan heran.


"Aku sendiri yang mempekerjakannya, jika kau merasa keberatan bicara saja padaku secara langsung." ucap Hamzah.


Aidan langsung diam karena ia tahu siapapun tidak ada yang berani menentang keputusan kakeknya itu.


Sementara itu, di kamar Ahan memberitahu Hanna jika Anna sedang sakit. Dia terus batuk malam tadi. Hanna pergi melihat keadaan putrinya. Saat diperiksa ternyata tubuhnya masih demam.


"Dia terbangun karena tenggorokannya merasa sakit. Sepertinya dia terkena radang juga, ibu. Dia bisa tidur lagi pukul 04.00 pagi. Dia terus saja mengigau saat tidur." ucap Ahan.


"Anna memang seperti itu ketika sedang sakit, nak. Aku khawatir karena setiap kali dia sakit butuh beberapa hari untuk sembuh." ucap Hanna.


Hanna akan membawa Anna ke dokter. Dia akan libur bekerja untuk beberapa hari sampai Anna pulih betul. Ahan meminta Hanna untuk tetap di rumah. Dia akan menghubungi dokter pribadinya untuk memeriksa Anna. Lagi pula suasananya tidak memungkinkannya jika Ahan harus membawa Anna keluar dari kamarnya.


Di satu sisi, Ara baru saja turun. Dia meminta pelayan untuk menyuruh sopir menyiapkan mobil. Sikap Ara terlihat sangat cuek pada semua orang.


"Kau akan pergi kemana, Ra?" tanya Kanya.


"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku akan pergi ke kampus." jawab Ara.


"Duduklah nak! Sebelum pergi kau sebaiknya sarapan dulu." ucap Keenan.


Ara melangkah pergi. Dia tidak menghiraukan semua orang. Melihat Ara sudah pergi, Hanna berlari mengejarnya. Dia memberikan kotak bekal untuk Ara makan di kampus. Pagi itu Hanna sengaja memasak makanan kesukaan Ara. Awalnya Ara menolak dan memilih untuk makan di kantin, tetapi saat dibuka isinya adalah makanan kesukaannya. "Terima kasih banyak, bibi Hanna. Aku pasti akan menghabiskan makanannya." ucap Ara terlihat senang.

__ADS_1


__ADS_2