
Saat di meja makan, Hanum meminta Ahan untuk pulang lebih cepat. Dia sudah mengundang keluarga Kei untuk makan malam bersama di rumahnya sekaligus membicarakan rencana pernikahan mereka.
"Kenapa kau tidak membicarakannya dulu padaku?" tanya Hamzah.
"Apa lagi yang harus dibicarakan Hamzah? Pernikahan mereka harus segera berlangsung, ini demi nama baik dua buah keluarga." ucap Hanum.
Selesai sarapan Hanum mengumpulkan semua pelayan, termasuk Hanna.
"Nanti malam kita akan kedatangan tamu, tolong persiapkan semuanya. Pastikan tidak ada kekurangan apapun." ucap Hanum.
Di dapur pelayan saling membicarakan tentang tamu itu. Sepertinya mereka sangat istimewa sampai Hanum mempersiapkan semuanya dengan sempurna. Salah satu pelayan mengatakan jika tamu istimewa itu adalah keluarga besar dari calon pengantin wanita. Mendengar hal itu Hanna yakin jika kedua keluarga itu akan membicarakan tentang hubungan Ahan dengan Keisya lebih jauh lagi. Saat semua sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, Hanna pergi melihat kondisi putrinya. Anna terlihat masih tidur. Hanna mencoba membangunkannya perlahan. Anna membuka matanya berat.
"Nak, apa kau kuat untuk berjalan?" tanya Hanna.
"Entahlah, ibu. Aku merasa sangat tidak enak. Semua badanku sakit, begitu juga dengan tenggorokanku."
Hanna membantu putrinya berjalan. Mereka harus segera pergi dari kamar Ahan sebelum ada yang melihatnya. Hanna menyuruh putrinya untuk menunggu di luar. Sementara itu, ia akan pergi menemui Hanum untuk memintanya izin pulang sebentar. Saat itu Hanum sedang pergi ke luar. Kebetulan di ruang tengah terlihat Hamzah yang sedang membaca koran. Hanum pergi menemuinya.
"Permisi tuan Hamzah, aku ingin meminta izin untuk pulang sebentar." ucap Hanna.
"Apa ada masalah sampai kau harus pulang?" tanya Hamzah.
"Anna sedang sakit, tuan. Aku akan mengantarnya pulang. Biarkan dia istirahat di rumah saja."
Setelah mendapatkan izin, akhirnya Hanna membawa Anna pulang. Sementara itu, di kantor Ahan baru saja selesai meeting. Dia mencoba menghubungi Hanna, tapi sepertinya ponsel Hanna tertinggal di dapur. Salah satu dari pelayan mengangkatnya.
"Halo tuan muda."
"Kenapa kau yang menjawab teleponnya? Dimana bibi Hanna?"
"Ponselnya tertinggal di dapur, tuan. Dia baru saja pergi untuk mengantar putrinya karena sakit."
Ahan tidak tahu jika akhirnya Hanna membawa Anna pulang ke rumahnya. Saat Ahan akan pergi menemui Anna, dia tertahan oleh kedatangan sang ayah bersama rekan kerjanya. Mereka ingin membicarakan urusan penting dengan Ahan.
****
Tiba di kampus, Ara langsung memakan makanannya. Tidak lama teman-temannya datang menghampiri. Mereka mengajak Anna untuk pergi ke acara party temannya di sebuah klub. Ara langsung menolak ajakan temannya itu. Dia tidak ingin jika ibunya menampar dia untuk kedua kalinya karena pergi ke tempat yang sama. Ara tidak ingin lagi pergi ke sana. Tempat itu membuatnya hampir saja kehilangan kehormatannya karena pria hidung belang itu. Mulai hari ini Ara akan fokus pada kuliahnya. Dia akan memperbaiki semua nilai mata kuliahnya yang jelek. Dia harus lulus tahun depan. Semua dia lakukan supaya keluarganya bangga padanya. Bukan hanya Kanya yang dibangga-banggakan, tetapi ia juga berhak menjadi kebanggaan semua orang.
Saat pergi ke kantin, Kanya melihat Ara yang tengah duduk sendiri sambil menikmati makanannya.
"Apa aku boleh duduk disini?" tanya Kanya.
"Duduk saja, lagi pula kursi itu bukan punyaku." ucap Ara terlihat cuek.
"Kenapa kau ini selalu bersikap tidak baik padaku? Kau bersikap seperti aku ini musuhmu. Tidak bisakah kau bicara padaku seperti seorang saudara?" tanya Kanya.
"Aku iri padamu, hidupmu sempurna. Kau memiliki seorang ayah dan ibu yang sangat mencintaimu, belum lagi kak Ahan, dia begitu perhatian dan sayang padamu. Kalian sering menghabiskan waktu bersama. Aku tidak seberuntung dirimu, Kanya. Ayah dan ibuku hanya memikirkan diri mereka sendiri dan pekerjaannya saja. Belum lagi Aidan, dia hanya cinta uang dan popularitas saja." ucap Ara dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kau salah menilai mereka, Ra. Ayah dan ibumu sangat mencintaimu begitu juga dengan kak Aidan." ucap Ara.
"Kau tahu tentang apa, Ra? Aku yang merasakan semua ini. Jadi aku paham benar bagaimana mereka. Apa kau pernah melihat sekali saja mereka menghabiskan waktunya untukku? Tidak kan? Jadi tolong jangan membela mereka di depanku. Aku pergi ke klub saat itu karena ingin mencari kebahagiaan yang tidak bisa aku dapatkan di rumah."
__ADS_1
Kanya hanya diam mendengarkan semua keluhan Ara padanya. Dia mulai menangis. Kanya selalu menjadi kebanggan keluarga. Dia baik, dia pintar, dia penurut. Sementara Ara, tidak sekalipun orang tuanya membanggakan dia di hadapan semua orang.
"Sudahlah, jangan menangis." pinta Kanya.
"Apa aku seburuk itu sampai tidak pantas mendapatkan cinta dari semua orang?" tanya Ara.
"Kau ini bicara apa? Kita ini saudara. Semua orang mencintai kita. Tidak ada yang lebih unggul di antara kita. Orang tuaku, orang tuamu juga. Begitu pun kak Ahan, dia bukan hanya kakakku tapi juga kakakmu."
Mendengar perkataan Kanya, Ara menangis tersedu-sedu. Selama ini dia sering kali bersikap tidak baik padanya, tapi hari ini Ara melihat Kanya yang benar-benar tulus mencintainya.
"Maafkan aku..." ucap Kanya.
"Aku sudah memaafkan mu, mulai hari ini kita tidak akan lagi bermusuhan karena kau adalah saudara perempuan terbaik yang aku miliki."
****
Tiba di rumah, Hanna membawa putrinya ke kamar. Selepas itu dia pergi membuatkannya bubur. Tidak lama saat kembali ponsel Anna berdering. Hanna menjawabnya.
"Halo Anna! Kau dimana? Aku menunggumu di taman dekat kampus."
"Maaf nak Wilson, ini ibu. Anna tidak bisa masuk kampus hari ini. Dia demam dan flu sejak tadi malam."
"Benarkah? Baiklah aku akan datang melihat Anna." ucap Wilson.
Di kantor Ahan merasa gelisah memikirkan Anna. Dia tidak bisa pergi meninggalkan kantor. Di tambah lagi nanti malam ia akan menemui Kei dan kedua orangtuanya. Ketika sedang berbincang dengan ayahnya, Ahan terlihat terus melamun sampai membuatnya tidak fokus. Selim memaklumi putranya itu mungkin dia gerogi karena akan bertemu dengan calon mertuanya.
Siang itu, Hanna terus di hubungi oleh pelayan rumah Anderson untuk segera kembali. Mereka tidak tahu apa lagi yang harus dikerjakan karena semua pelayan di dapur bekerja atas instruksi dari Hanna.
Hanna sangat bingung. Dia harus kembali bekerja sementara putrinya sendiri di rumah. Tidak lama bel rumahnya berbunyi. Saat dilihat ternyata Wilson yang datang. Hanna mempersilahkannya masuk.
"Demamnya sudah turun, nak. Mungkin sebentar lagi juga dia akan bangun. Apa aku bisa meminta bantuanmu nak Wilson?"
"Katakan saja ibu! Apa yang harus aku bantu?"
"Aku harus kembali bekerja, bisakah kau menemani Anna sampai aku kembali nanti? Ibu khawatir jika dia membutuhkan sesuatu tidak ada orang yang bisa membantunya."
"Ibu tenang saja, aku akan menjaga Anna sampai kau kembali."
***
Siang itu, Kei pergi berbelanja bersama ibunya. Dia membeli banyak barang untuk persiapan nanti malam. Dia harus terlihat cantik di depan Ahan dan semua anggota keluarganya. Di satu sisi, setelah melakukan pertemuan penting dengan ayahnya, Ahan menghubungi Anna. Dia terkejut saat tahu yang menjawabnya adalah seorang pria.
"Siapa kau? Dimana Anna?"
"Maaf Ahan, Anna sedang istirahat. Kau bisa menghubunginya lagi nanti." Wilson langsung menutup teleponnya.
Ahan semakin khawatir dengan Anna. Dia tidak tahu siapa pria yang tadi bicara di telepon. Ahan mencoba menghubungi Hanna.
"Halo ibu!" ucap Ahan.
"Kenapa nak?" tanya Hanna.
__ADS_1
"Siapa pria yang bersama Anna di rumah?"
"Oh... dia Wilson, teman kampus Anna."
"Untuk apa dia disana?"
"Tadi dia datang untuk menjenguk Anna, tapi karena ibu harus kembali bekerja, ibu meminta Wilson untuk menjaga Anna sampai ibu kembali nanti."
"Itu berarti dia akan bersama Anna sampai nanti malam?" ucapnya dalam hati.
"Baiklah ibu, akan aku tutup dulu teleponnya."
***
Hari sudah mulai gelap. Ahan dan Dave sudah tiba di rumah. Sementara itu, sejak tadi Hanum tidak melihat Ara dan Kanya. Seharusnya mereka sudah pulang sejak tadi sore.
"Dimana Kanya dan Ara? Kenapa mereka belum juga pulang?" tanya Hanum pada Ayana.
"Mereka tadi meminta izin padaku untuk makan malam di luar." sambung Selim yang baru datang.
"Kau mengizinkannya?"
"Tentu saja ibu, lagi pula ini kali pertama mereka pergi bersama. Sebelumnya hubungan mereka tidak begitu baik. Biarkan mereka menikmati dunianya sendiri."
"Tapi Selim, Kei dan keluarganya akan segera tiba."
"Lalu apa masalahnya, ibu? Mereka itu akan bertemu dengan Ahan, itu yang terpenting. Tidak ada urusannya dengan mereka berdua. " ucap Selim.
Di kamar Ahan belum juga bersiap. Dia ingin tahu keadaan Anna sekarang ini. Kei akan tiba empat puluh lima menit lagi. Ahan pergi secara diam-diam. Namun di bawah dia bertemu dengan neneknya.
"Kau akan pergi kemana, nak? Kenapa belum juga bersiap?"
"Aku akan pergi sebentar, nek."
"Tapi Ahan... Kei akan datang sebentar lagi."
"Aku akan kembali sebelum Kei datang, nek."
Ahan langsung pergi dengan mobilnya. Di satu sisi, Wilson tengah menyuapi Anna di ruang tengah. Kondisi Anna sudah mulai membaik hanya saja tubuhnya masih lemas.
"Kau membutuhkan sesuatu yang lain?" tanya Wilson.
"Tidak, terima kasih. Maaf sudah merepotkan mu." ucap Anna.
Anna meminta Wilson untuk mengambilkan ponselnya. Saat dilihat ternyata beberapa kali Ahan menghubunginya.
"Apa tadi Ahan menelepon?"
"Ya, maaf jika aku lancang mengangkatnya."
"Apa yang dia katakan?"
__ADS_1
"Tidak ada, dia hanya ingin bicara denganmu. Tapi aku menyuruhnya untuk menelpon lagi nanti karena tadi kau sedang istirahat. Apa sebenarnya hubungan yang ada di antara kalian? Apa kalian seorang kekasih, atau lebih?"
Pertanyaan Wilson membuat Anna terdiam lama. "Lupakan saja pertanyaanku itu! Sekarang kau harus istirahat supaya besok badanmu kembali segar." ucap Wilson.