
Malam itu, Wilson sedang mengerjakan tugas di ruang tengah. Sementara Anna, ia sudah tidur di kamarnya. Tidak lama suara bel rumah berbunyi. Wilson pergi untuk membukanya.
"Ahan?" ucap Wilson.
"Dimana Anna?" tanya Ahan.
"Dia sedang tidur di kamarnya." jawab Wilson.
Ahan masuk begitu saja dan pergi menuju kamar Anna. Saat akan masuk, Wilson menahan Ahan. Ia memintanya untuk tidak mengganggu Anna. Sempat terjadi perdebatan kecil di antara mereka yang membuat Anna akhirnya terbangun.
"Ahan?" ucap Anna.
Secara spontan Ahan memeluk Anna di depan Wilson. Melihat sikap Ahan membuat Wilson sangat yakin jika ada hubungan spesial di antara mereka. Anna melepas pelukan itu. Ahan baru menyadari jika di sana ada Wilson yang sedang menatap mereka.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Ahan.
Anna meminta Wilson untuk meninggalkan mereka berdua. Di kamar, Ahan memberitahu Anna jika malam ini ia akan menemui Kei dan keluarganya. Mendengar hal itu Anna tidak merespon apapun. Dia sendiri bingung harus berbuat apa. Anna merasa jika ia sudah hadir menjadi orang ketiga di antara Ahan dan Kei. Mungkin seharusnya mereka bersatu dan dirinya yang harus mundur.
"Apa yang harus aku lakukan, Ann? Apa aku harus mengatakan di hadapan keluargaku dan Kei jika sebenarnya aku sudah menikah denganmu?" ucap Ahan.
"Temui mereka saja dulu, setelah itu kau baru bisa memutuskan apa yang akan di lakukan selanjutnya." jawab Anna.
Di satu sisi, Kei dan keluarganya sudah tiba di kediaman Anderson. Semua keluarga menyambut mereka hangat. Orang tua Kei sengaja datang dari Las Vegas hanya untuk menemui calon besannya itu. Bukan hanya mereka yang datang, tetapi juga Anita selaku ibu dari Kei membawa awak media untuk meliput acara penting putrinya itu. Semua orang harus tahu hubungan yang terjalin di antara dua keluarga besar itu.
"Kenapa mereka tidak bilang jika akan membawa awak media? Jika aku tahu, aku akan memakai perhiasan mewah di depan mereka." gumam Bella.
Hanum membawa mereka ke meja makan. Sementara awak media pergi ke ruang tengah untuk menyiapkan semuanya.
"Dimana Ahan?" tanya Kei.
Semua anggota keluarga diam. Anita merasa ada yang tidak beres dengan semua itu.
"Kenapa kalian diam saja? Jangan bilang Ahan tidak datang karena dia sibuk bekerja. Aku harap Ahan bisa menghargai kedatangan kami di sini."
Hanum memberitahu Anita jika Ahan sedang pergi ke luar. Tidak lama lagi ia akan segera kembali. Hanum merasa gelisah karena sampai saat ini Ahan belum juga tiba. Dia meminta Selim untuk segera menghubunginya. Hanum menjamu mereka dengan hidangan mewah. Berbagai makanan, minuman, dan cake di suguhkan. Tidak lama Selim datang dan memberitahu semua orang jika Ahan sedang dalam perjalanan pulang. Kei merasa lega mendengarnya.
Tiba di rumah, Ahan langsung pergi ke kamarnya berganti pakaian. Dia menemui Kei dan orang tuanya di ruang tengah. Anita dan Roy banyak memuji tentang calon menantunya itu. Ahan tidak bereaksi apapun hanya senyum tipis yang terpancar di wajahnya. Ketika semua sudah siap, seorang perempuan yang Anita undang undang mewawancarai mereka sudah tiba. Ahan terkejut mengetahui jika perbincangan mereka akan diliput dan ditayangkan oleh awak media.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak memberitahuku lebih dulu Kei jika akan ada media seperti ini?" ucap Ahan.
"Aku sendiri tidak tahu, Ahan. Ibu yang mengatur semuanya." jawab Kei.
Di satu sisi, Hanna menyaksikan semua itu. Ia tidak tahu bagaimana reaksi putrinya saat melihat Ahan dan Kei muncul di televisi. Hanna baru saja membereskan dapur. Semua pekerjaannya sudah selesai. Ia langsung pulang karena merasa tidak enak dengan Wilson yang sudah lama menjaga Anna. Siaran itu tersebar di mana-mana. Kedua keluarga besar itu menunjukkan keharmonisannya pada awak media. Ini adalah acara penting Kei dan Ahan. Banyak pertanyaan yang reporter ajukan, hanya saja semua itu Anna yang menjawabnya. Ahan diam saja sejak tadi. Wajahnya bahkan tidak menunjukkan jika ia sangat bahagia dengan pertemuan itu.
"Kapan rencana pernikahan kalian?" tanya reporter itu.
Dengan sangat bahagia Kei mengumumkan di hadapan awak media jika pernikahan mereka akan berlangsung satu Minggu lagi. Walau waktunya singkat, tetapi Kei akan pastikan jika semua persiapan akan selesai sebelum hari pernikahannya. Dia berterima kasih pada semua teman dan rekan kerja yang siap membantunya mempersiapkan semuanya. Reporter itu memberikan ucapan selamat pada mereka. Akhirnya acara perbincangan mereka telah selesai. Semua keluarga memberikan ucapan pada Ahan dan juga Kei.
"Apa nenek tahu sebelumnya jika pernikahan ini akan berlangsung satu Minggu lagi?" tanya Ahan.
"Tentu saja, tadi sebelum kau kembali kami sempat membicarakan hari baik untuk kalian menikah dan kami sepakat jika hari pernikahannya satu Minggu lagi."
Ahan merasa sangat lelah. Ia pergi ke kamarnya sebelum Kei dan kedua orangtuanya pulang. Sementara itu, Semua orang tengah berbincang di ruang tengah. Sejak tadi Ahan belum juga kembali. Kei pergi ke kamarnya untuk menemuinya.
"Ahan... apa kau di dalam?" ucap Kei.
"Aku sangat lelah Kei, tolong tinggalkan aku!" pinta Ahan.
Saat di bawah, Anita melihat wajah putrinya itu sedikit murung.
"Tidak apa-apa ibu, aku merasa lelah saja. Bisa kita pulang sekarang?"
"Baiklah, kita akan pulang."
Saat mereka sudah pergi, Hanum pergi ke kamar Ahan. Ia butuh penjelasan kenapa sikapnya tadi menunjukkan kalau ia seakan tidak senang jika pernikahannya itu akan berlangsung dalam waktu dekat. Hanum mencoba mengetuk pintu kamar Ahan, namun Ahan tidak membukanya.
"Ahan, tolong buka pintunya, nak! Nenek ingin bicara denganmu sebentar." ucap Hanum dari luar.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Hanum pikir jika cucunya itu mungkin sudah tidur karena sangat lelah dengan acara malam ini.
***
Hanna sudah tiba di rumah. Ia sangat berterima kasih pada Wilson karena sudah menjaga Anna seharian ini. Tidak lama Wilson pun pulang. Hanna melihat putrinya yang sudah tertidur di kamar. Sudah pukul 23.55 malam mungkin wawancara itu sudah selesai. Hanna merasa sangat penasaran apa yang mereka perbincangkan. Ia mengambil repot dan menghidupkan televisi. Saat sedang menonton, Hanna dikejutkan dengan kedatangan putrinya.
"Ibu... kau sudah pulang?" ucap Anna sambil membaringkan tubuhnya di sofa.
__ADS_1
Ketika akan mematikan televisinya, Anna sempat melihat Ahan dan Kei.
"Tunggu ibu! Acara apa itu?" tanya Anna.
Mau tidak mau Hanna memberitahu putrinya. Anna terlihat sangat serius. Dia membesarkan volume televisinya. Lama mereka menyaksikan acara itu, raut wajah Anna seketika berubah saat tahu jika acara pernikahan Ahan dan Kei satu Minggu lagi.
Hanna mengambil remote dan mematikan televisinya.
"Sudahlah nak, jangan terlalu kau pikirkan." ucap Hanna.
"Bagaimana bisa aku tidak memikirkannya ibu? Aku sudah merebut Ahan dari perempuan yang begitu mencintainya. Apa aku ini sangat jahat?"
"Sudahlah, ini semua bukan kemauanmu nak, tetapi sudah menjadi jalan takdirmu dengan Ahan."
Berita semalam tersebar di mana-mana. Saat pagi datang banyak orang yang membicarakannya. Pagi itu, Anna pergi bersama ibunya ke rumah besar itu. Tiba di sana Hanna langsung menyiapkan sarapan. Sementara Anna, ia pergi ke kamar Ahan diam-diam. Dia mencoba mengetuk pintu kamarnya pelan. Tidak lama Ahan membukanya dan membawa Anna masuk ke dalam. Ahan begitu merindukan Anna, ia terus memeluknya erat walaupun Anna memintanya untuk melepaskannya tetapi Ahan terus memeluknya. Ia mencurahkan segala isi perasaannya pada Anna.
"Apa yang harus aku lakukan, Ann?" tanya Ahan.
"Kau tidak perlu melakukan apapun, selain menikahi Kei." jawaban Anna membuat Ahan tidak mengerti.
"Apa maksudmu?"
"Ceraikan aku, Han!" ucapan Anna begitu menusuk. "Hanya Kei satu-satunya perempuan yang pantas untukmu."
"Apa kau akan menyerah pada pernikahan kita? Bahkan pernikahan ini belum mencapai satu bulan."
"Pernikahan ini seharusnya tidak ada, Han. Tidak seharusnya aku masuk dalam hubunganmu dengan Keisya. Sebelum lebih jauh lagi, aku minta kau ceraikan aku secepatnya."
"Tidak, Ann. Sampai kapanpun aku akan menjaga pernikahan kita. Bila perlu sekarang juga aku akan mengatakan di hadapan semua orang jika aku tidak akan menikahi Kei."
"Jangan melakukan itu, Han. Kau tidak pernah bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Kei jika ia tahu kau membatalkan pernikahan ini."
Tanpa mereka ketahui, di luar sudah ada pelayan Ahan yang sempat menguping pembicaraan mereka. Pelayan itu hanya mendengar suara perempuan dari kamar Ahan. Dia tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka perbincangkan di dalam. "Siapa gadis yang bersama tuan Ahan? Apakah nona Kei? Ah, sepertinya tidak mungkin. Jika nona Kei datang pasti nyonya besar akan menyuruhku untuk melayaninya." ucapnya.
Tidak lama Anna keluar. Pelayan itu berdiri tidak percaya. "Anna? Jadi, kau yang bersama tuan Ahan di dalam?"
Tidak lama Ahan datang. Anna pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan pelayan tadi.
__ADS_1
"Jangan bilang pada siapapun tentang Anna yang berada di kamar ku. Jika tidak, kau akan tahu apa yang bisa aku lakukan padamu." ucap Ahan memperingatkan pelayannya.
"Ba-baik tuan muda," jawab pelayan dengan suara gemetar.