AHANNA'S LOVE STORY

AHANNA'S LOVE STORY
CIUMAN PERTAMA


__ADS_3

Siang itu, Ahan mengajak Anna pergi melihat keindahan kota. Mereka mengunjungi salah satu restoran mewah untuk makan siang. Saat sedang makan, tidak jauh dari tempat mereka makan ternyata ada seorang pria yang terus memperhatikan ke arah mereka.


"Kenapa pria itu terus menatap kemari?" gumam Anna risih.


"Kau kenapa?" tanya Ahan.


"Tidak apa-apa," jawab Anna.


Di satu sisi pria tadi mengeluarkan kamera miliknya dan memotret Anna. Dia melakukannya beberapa kali. Perbuatannya itu diketahui Anna. Dia langsung pergi menghampiri pria itu.


"Permisi... apa yang kau lakukan? Kenapa kau memotret ku?" tanya Anna.


Pria itu tersenyum pada Anna. Dia memberikan beberapa foto Anna yang tadi sempat di potretnya.


"Anna Nicolette, seorang mahasiswi asal Jerman yang mengambil jurusan pertanian. Senang bisa bertemu denganmu, Anna." ucap pria itu.


Anna sulit percaya jika pria itu mengenalnya, bahkan dia tahu dimana Anna kuliah dan mengambil jurusan apa.


"Siapa kau sebenarnya?"


Pria tadi memperkenalkan dirinya sebagai Wilson Junior, seorang mahasiswa yang kuliah di universitas yang sama dengan Anna. Hanya saja Wilson ini sedang menyelesaikan S2 nya di bidang kedokteran. Wilson memberitahu Anna jika sudah lama ia sangat mengaguminya. Wilson sering mencaritahu kabar Anna dari temannya. Dia sangat senang bisa bertemu Anna di Netherlands. Melihat Anna yang masih berbincang dengan pria itu, Ahan pergi menghampirinya.


"Apa kau sudah selesai bicara dengannya?" tanya Ahan.


"Apa kabar Ahan?" tanya Wilson.


"Kau mengenalku?" tanya Ahan heran.


"Siapa yang tak mengenalmu, kau ini adalah seorang Anderson, sekaligus cucu dari pemilik rumah sakit dimana tempatku bekerja."


Anna mendapat fakta baru lagi jika suaminya itu benar-benar sangat terkenal. Kemanapun ia melangkah, di situ ada saja orang yang mengenalnya. Ahan memegang tangan Anna dan membawanya pergi.


"Ada hubungan apa Anna dengan Ahan? Kenapa mereka terlihat begitu dekat? Apa mereka seorang kekasih?" ucap Wilson pada dirinya sendiri.


Selesai makan siang, Ahan membawa Anna pulang. Rencananya setelah makan siang Ahan ingin mengajak Anna ke tempat lain, hanya saja ia mulai khawatir jika ada yang mengenal Anna dan mengajaknya berbincang. Bukan karena rasa khawatir yang dirasakan Ahan, mungkin saja ia mulai cemburu saat melihat Anna bersama yang lain.


"Bukankah ini jalan menuju arah pulang?" tanya Anna.


"Ya, kita akan segera tiba di rumah."


"Tapi... bukankah kau akan mengajakku melihat tempat lain?"


"Lain waktu saja, tadi kakek menghubungi ku dan menyuruh kita untuk segera pulang."


Sesampainya di rumah, Anna langsung pergi ke kamar. Dia mengeluarkan koper dan mulai mengemas semua barangnya. Saat Hanna datang, dia melihat wajah putrinya yang sedikit cemberut.


"Kenapa dengan wajah putri kesayanganku ini? Apa kau bertengkar lagi dengan suamimu?" tanya Hanna.


Anna hanya diam tanpa mengatakan apapun. Ia mengambil semua baju yang ada di lemari dan memasukkannya ke dalam koper.


"Baiklah, jika kau tidak ingin menjawabnya. Ibu akan pergi."

__ADS_1


Anna menahan ibunya. Ia menyuruh sang ibu untuk duduk di sebelahnya. Anna memberitahu ibunya jika ia merasa kesal pada Ahan karena dia sudah mengingkari janjinya. Harusnya mereka masih jalan-jalan melihat keindahan kota, hanya saja Ahan mengajaknya pulang lebih awal.


"Apa kau sudah bertanya alasan Ahan melakukan semua itu?" tanya Hanna.


"Alasannya sangat tidak masuk akal, ibu. Dia merasa tidak suka jika ada orang lain yang dekat dengan ku."


"Apa kau menemui seseorang saat bersamanya?"


Anna menceritakan pertemuannya dengan seorang pria yang ternyata ia juga kuliah di universitas yang sama dengannya. Ia mengatakan secara langsung dihadapan Anna jika ia sudah lama mengaguminya. Saat Ahan mendengar hal itu, sikapnya berubah. Ia langsung memutar balik mobilnya dan pulang dengan alasan jika kakek menyuruhnya untuk segera pulang. Mendengar hal itu, Hanna tertawa karena melihat sikap putrinya yang lucu saat mempraktekkan semua itu.


"Ibu... kenapa kau malah tertawa?" ucap Anna terlihat cemberut.


"Maafkan ibu sayang, kau terlihat sangat lucu ketika mempraktekkan semua itu." Hanna memberitahu putrinya jika sikap Ahan seperti itu karena dia mulai merasa cemburu padanya. Ia tidak suka jika ada orang lain yang dekat dengannya.


"Ibu bilang dia cemburu? Ah, tidak mungkin." ucap Anna.


"Dia cemburu karena dia sudah mulai mencintaimu. Jika tidak, mana mungkin dia bersikap seperti itu."


Jika Ahan mulai mencintainya, lalu bagaimana dengan perasaan Anna sendiri?


***


Malam sudah tiba. Hamzah dan semua orang pergi menuju bandara. Mengetahui Dave yang juga ikut bersamanya, Ahan merasa sangat senang setidaknya ia memiliki teman mengobrol saat merasa bosan di kantor. Perjalanan dari Netherlands menuju Jerman hanya memakan waktu kurang dari dua jam. Di tengah perjalanan, Hamzah mendapat pesan dari Hanum. Ia memberitahunya jika Selim dan Kanya akan menjemputnya di bandara. Bukan hanya mereka, melainkan Keisya juga ikut untuk menjemput Ahan. Anna belum sanggup menemui Keisya sekarang ini. Saat tiba nanti, Anna meminta Hamzah dan Ahan untuk pergi lebih dulu sementara dia dan sang ibu akan menyusul dari belakang. Mereka akan pulang ke rumah dengan menggunakan taksi. Awalnya Ahan tidak setuju, hanya saja ia mencoba memahami posisi Anna saat ini. Mobil sudah tiba di bandara. Pesawat akan lepas landas lima menit lagi. Mereka semua berjalan masuk. Ahan melihat Anna yang memilih duduk bersama ibunya, dari pada dengannya. Sikapnya mulai dingin lagi seperti waktu itu. "Silahkan duduk tuan!" ucap salah satu pramugari pesawat itu.


Ahan, Dave, dan Hamzah berada dalam satu kursi. Sementara Anna dan ibunya dua kursi di belakangnya. Pramugari mengingatkan kembali kepada semua penumpang pesawat untuk mentaati semua peraturan yang ada. Tidak lama pesawat akhirnya lepas landas.


***


"Bagaimana dengan ujianmu, sayang?' tanya Selim.


"Semua berjalan lancar, ayah. Kau tahu? Tadi ujian menggambar ku mendapat nilai A."


"Waw... hebat sekali adik ipar." sambung Keisya.


"Terima kasih, kak Kei."


"Apa tadi kau ada pelajaran tambahan putriku?" tanya Selim.


"Tidak ada, ayah."


"Lalu, kenapa kau pulang sangat sore?"


Kanya memberitahu ayahnya jika tadi ia sempat berkunjung ke kampus sebelah untuk mencari seseorang. Dia adalah Anna Nicolette, mahasiswi semester akhir jurusan pertanian. Sudah tiga hari ini, dia tidak datang ke rumah bahkan Hanna juga tidak datang untuk bekerja. Karena itu Kanya mencoba mencaritahu keberadaannya di kampus. Hanya saja temannya mengatakan jika Anna sedang pergi ke luar negeri untuk sebuah urusan.


"Siapa Anna ?" tanya Keisya.


"Dia yang sudah menemaniku membeli semua bahan untuk ujian menggambar ku. Jika tidak ada dia, mungkin sejauh ini aku tidak bisa mendapatkan nilai A seperti tadi."


Kei melihat sikap yang berbeda dari Kanya. Dia seperti sangat menyukai gadis yang bernama Anna ini. Sejauh ini tidak ada perempuan yang dekat dengannya kecuali Keisya sendiri karena sebentar lagi dia akan menjadi kakak iparnya. Tapi, berbeda ketika Kanya mengatakan nama itu rasanya seakan ia bahagia saat mengenalnya. Tidak terasa akhirnya mereka sudah tiba di bandara. Syukurlah walau jalanan tadi cukup macet akhirnya mereka sampai di bandara tepat waktu.


Di satu sisi, pramugari memberitahu semua penumpang jika pesawatnya akan mendarat. Saat telah tiba, Ahan menggandeng tangan Anna untuk turun bersamanya, hanya saja Anna langsung menolaknya. Ia akan turun bersama ibunya. Dari jauh, terlihat Kanya yang sudah melambaikan tangannya ke arah Ahan.

__ADS_1


"Itu kakak!" ucapnya dengan sangat senang. Kanya berlari untuk memeluk kakaknya itu.


"Kakak... apa kabar? Aku sangat merindukanmu." ucapnya.


"Ayah..." ucap Selim. "Siapa dia?"


"Dia Dave, kaki tangan Ahan saat di sana. Aku mengajaknya kemari karena ingin menempatkan dia di perusahaan untuk menemani Ahan."


"Selamat datang Ahan," ucap Keisya sambil memeluknya erat.


Sementara itu, dari belakang terlihat Anna dan sang ibu berjalan melewati mereka. Anna sempat melirik ke arah Ahan. Mungkin dia gadis bernama Keisya itu. Dia memeluk Ahan erat. Melihat Anna yang baru saja melewatinya, Ahan meminta Keisya untuk melepas pelukannya. Selim meminta sopir untuk membawa semua barang mereka ke dalam mobil. Di satu sisi, Ahan melihat Anna yang masih menunggu taksi. Saat semua berjalan ke mobil, langkah Ahan terhenti. Ia bersama Dave memilih untuk pulang dengan taksi. Keputusannya itu membuat semua orang merasa aneh.


"Kenapa tidak pulang bersama kami saja? Ayah sengaja menjemputmu supaya kau tidak perlu memesan taksi lagi." ucap Selim.


Ahan menatap kakeknya. Ia seperti memberikan kode padanya. Hamzah membiarkan mereka untuk pulang dengan taksi lagi pula jam baru saja menunjukkan pukul 20.00 malam mungkin mereka ingin jalan-jalan sebentar melihat pemandangan kota kebetulan Dave belum pernah pergi ke Jerman pasti ia sangat penasaran bagaimana suasana di kota saat malam hari.


"Apa aku boleh ikut denganmu?" tanya Kei.


"Itu tidak perlu nak, biarkan mereka pergi berdua. Lagi pula kau masih memiliki banyak waktu untuk bisa pergi bersama Ahan. " jawab Hamzah.


Setelah mereka pergi, Ahan berlari ke arah Anna. Tidak lama dua taksi yang dipesan Ahan sudah datang. Ahan menyuruh ibu mertuanya itu untuk pergi bersama Dave, sementara Anna akan pergi bersamanya. Ketika Anna ingin menolaknya, sang ibu lebih dulu masuk ke dalam mobil. Tidak lama taksi itu melaju. Mau tidak mau Anna harus pulang bersama Ahan. Di tengah perjalanan, Ahan menyuruh sopir taksi untuk berhenti. Ahan mengeluarkan dompet dan membayarnya.


"Terimakasih, pak. Kau bisa pergi sekarang." ucapnya.


"Kenapa kita turun disini?" tanya Anna.


Ahan mengajak Anna ke sebuah restoran yang berada di pinggir jalan.


"Kenapa kita pergi kesini? Bagaimana jika ibu menunggu kita?" tanya Anna.


"Kau tidak perlu khawatir, aku sudah memberitahu Dave jika kita akan makan malam sebentar."


Ahan langsung memesan makanannya. Ia merasa sangat lapar. Saat di pesawat tadi, ia tidak menyentuh makanannya sedikit pun karena melihat Anna yang juga tidak menyentuh makanannya. Saat makanan sudah tiba, Ahan mulai bersikap manja pada Anna. Ia meminta Anna untuk menyuapinya.


"Jangan bersikap dingin seperti ini padaku, setelah kemarin kita tertawa bersama. Aku tidak bisa menerimanya. Aku mulai terbiasa dengan senyum yang ada di wajahmu, perhatian kecil yang kau tunjukkan untukku, kenyamanan yang kau berikan padaku, tetaplah seperti itu. Aku merasa tersiksa saat kau tidak lagi menunjukkan semua itu padaku. Kau sudah berhasil membuatku jatuh cinta, Anna..."


Anna terkejut mendengar pengakuan Ahan. Secepat itukah Ahan jatuh cinta padanya? Mendengar semua itu, hati Anna luluh. Senyum itu kembali nampak di wajahnya.


"Maafkan aku Ahan..." ucap Anna tulus.


Sekarang giliran Ahan yang marah pada Anna. Ia belum bisa memaafkan sikap Anna padanya tadi. Anna mencari cara supaya Ahan mau memaafkannya. Tiba-tiba saja terlintas dalam pikiran Anna untuk melakukan sesuatu.


"Kemari lah!" ucap Anna.


Ahan mendekatkan wajahnya pada Anna.


"Muach!" satu ciuman manis Anna berikan untuk Ahan. "Bagaimana? Apa kau masih belum bisa memaafkan ku?"


Ahan tersenyum senang. Ia tidak menyangka Anna melakukan hal seberani itu. Orang yang menatap mereka mulai merasa iri dengan keromantisan Ahan dan Anna.


"Ini lebih dari cukup. Aku sudah memaafkan mu." ucap Ahan.

__ADS_1


__ADS_2