
Pagi itu, sebelum menuju ke kantor Ahan pergi ke kampus untuk menemui Anna. Dia merasa sangat bersalah padanya karena kejadian pagi tadi. Sesampainya di kampus, Ahan mencoba menghubungi ponsel Anna, tapi Anna tidak mengangkatnya. Sudah sangat jelas jika Anna marah padanya. Ahan meminta Dave untuk tetap di mobil. Dia akan pergi ke dalam mencari Anna. Melihat kedatangan Ahan, semua mata tertuju padanya. Pesona Ahan selalu berhasil membuat perempuan manapun terpikat padanya. Ahan bingung harus mencari Anna kemana, sementara ia saja tidak tahu jurusan apa yang diambil Anna saat ini. Ia lupa untuk menanyakan semua itu. Saat menuruni anak tangga, tidak sengaja Ahan menabrak seorang mahasiswa.
"Maaf, aku tidak sengaja." ucap Ahan.
"Tidak apa-apa, pak."
Saat akan pergi, Ahan mencoba bertanya pada mahasiswa itu tentang Anna.
"Permisi! Apa kau mengenal Anna Nicolette?" tanya Ahan.
Mahasiswa itu mencoba mengingat nama itu. Nama yang sudah tidak asing lagi di seluruh kalangan mahasiswa. Seorang gadis yang menjadi impian semua orang di kampus.
"Tentu saja aku tahu, aku ini salah satu mahasiswa yang sangat mengidolakan nya." ucap mahasiswa itu.
"Apa kau tahu dimana dia sekarang?"
"Aku tidak tahu dimana dia, tapi kau bisa mencarinya ke kelas. Dia mengambil jurusan pertanian. Kelasnya tidak jauh dari sini. Kau lurus saja, nanti belok kanan. Tiga kelas dari sana."
Ahan langsung menuju kesana. Pagi itu keadaan kelas sangat ramai. Ahan masuk dan mengejutkan semua orang.
"Permisi!" ucap Ahan. Seketika kelas hening.
"Ya ampun... bukankah kau ini Ahan Anderson?" ucap seorang mahasiswi heboh. "Apa aku ini sedang bermimpi?"
"Kau ini..." ucap salah satu temannya.
"Kau ingin bertemu dengan siapa pak?" tanya Zoe selaku teman Anna.
"Apa aku bisa bicara dengan mahasiswi bernama Anna?"
Zoe memberitahu Ahan jika Anna pergi ke kampus sebelah. Ia sedang mengadakan perkumpulan bersama anggota lain untuk menyiapkan acara ulang tahun kampus tahun ini.
"Bisakah kau mengantarku kesana?" pinta Ahan pada Zoe.
"Tentu saja, mari aku antarkan."
Zoe mencari-cari keberadaan Anna. Di ruangan ia tidak ada. "Itu Anna!" ucap Zoe.
Saat Ahan akan menghampirinya, tidak lama seorang pria datang. Dia adalah Wilson, pria yang sempat ditemuinya saat di Netherlands kemarin.
"Siapa pria yang bersama Anna?" tanya Ahan.
"Dia senior disini. Namanya Wilson, mahasiswa jurusan kedokteran sekaligus ketua di kampus ini."
Melihat kedekatan Anna dengan Wilson, Ahan merasa cemburu. Ahan tidak bisa menemui Anna sekarang karena ada orang lain bersama mereka. Cukup lama Dave menunggu, akhirnya ia menghubungi Ahan. Pagi ini Ahan memiliki meeting penting dengan seorang klien. Dave meminta Ahan untuk segera kembali.
***
__ADS_1
Saat sedang berjalan dengan temannya, Kanya melihat Ara yang sedang fokus mengerjakan tugasnya di halaman depan kampus. Kanya menghampiri dan duduk di sebelahnya.
"Semalam kau kemana?" tanya Kanya.
"Jangan bertanya apapun dulu padaku, kau tidak lihat aku sedang apa?"
Kanya heran dengan sikap Ara. Tidak biasanya dia mau mengerjakan tugas kuliahnya. Beberapa saat kemudian, datanglah Anna. Kanya terkejut melihat kedatangan Anna di kampusnya.
"Kau disini kak?" tanya Kanya.
"Ya, Ara yang memintaku datang. Ia ingin aku mengajarinya mata kuliah matematika." jawab Anna. Mereka mulai belajar. Anna begitu sabar mengajari Ara sampai ia mengerti sedikit demi sedikit. Mereka berdua terlihat sangat serius sampai mengabaikan Kanya yang ada di sampingnya. Tidak lama Kanya menyingkah dari tempat itu. "Sejak kapan Ara menjadi dekat seperti itu dengan kak Anna?" ucapnya.
Di satu sisi, Bella sedang berkumpul dengan grup sosialitanya. Salah satu dari mereka membawa sebuah kalung berlian dan menawarkannya dengan harga yang cukup fantastis. Untuk pertama kalinya Bella langsung jatuh cinta pada kalung itu. Dia langsung mengambil kalung itu dengan harga lebih dari yang ditawarkan. Saat mereka sedang berbincang, salah seorang menerima pesan dari ponselnya.
"Ya ampun... apa benar yang aku lihat ini?" ucap perempuan itu dengan ekspresi wajah yang sangat terkejut.
"Ada apa Queen?" tanya Bella.
Perempuan itu memperlihatkan sebuah foto dimana terlihat Ara bersama teman-temannya di sebuah klub. Awalnya Bella tidak percaya, setelah melihatnya sendiri wajah Bella memerah. Ia menahan rasa malu di depan teman-temannya.
"Apa dia sudah mendapatkan izin darimu untuk pergi kesana?"
"Jika pun dia meminta izin padaku, mana mungkin aku mengizinkannya untuk pergi ke tempat seperti itu?" jawab Bella kesal.
"Sudahlah, mungkin yang ada di foto itu adalah orang lain, bukan Ara."
Bella terlanjur malu. Ia pergi sebelum pertemuannya selesai. Saat dirinya sudah pergi, ternyata semua temannya itu sibuk membicarakannya. Di depan saja mereka sering memuji Bella, padahal kenyataannya di belakang banyak hal buruk yang mereka singgung tentang kehidupan Bella.
"Sepertinya memang dia tidak tahu, Anita. Lagi pula aku yakin jika di rumahnya itu dia jarang sekali memiliki waktu untuk anak gadisnya, kita sendiri tahu hampir setiap hari Bella menghabiskan waktunya di luar. Dia selalu mengirimkan foto kebersamaannya dengan orang-orang penting."
"Kasihan gadis itu..."
***
Hari sudah mulai gelap. Ara terlihat sangat senang ketika sampai di rumah. Baru kali ini dia mendapat ujian matematika dengan nilai 9. Saat akan ke kamarnya, terlihat Bella berjalan ke arahnya.
"Plak!" satu tamparan mendarat di pipi Ara.
"Bella!" teriak Keenan. "Apa yang kau lakukan?"
"Apa kau tidak apa-apa sayang?" tanya Keenan.
"Lepaskan aku! Jangan bersikap seolah-olah kau peduli padaku. Kau dan dia sama saja."
"Nak, bicara lebih sopan. Mereka adalah ayah dan ibumu." ucap Hanum.
"Ibu dan ayah macam apa mereka itu? Ketika aku sedang sedih, apa mereka ada untuk menghiburku? Ketika aku sedang kesulitan, apa mereka ada membantuku? Tidak ada!" timpal Ara. "Jika kalian memang ayah dan ibuku, bersikaplah seperti seorang ayah dan ibu yang baik bagi putrinya."
__ADS_1
Wajah Ara merah. Bekas tamparan itu masih terasa sangat sakit.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Hanum.
Bella menunjukkan pada semua orang tentang foto Ara yang sedang berada di sebuah klub malam. Semua orang berpikir jika foto itu bisa saja editan, tapi setelah Ara mengakui semuanya semua orang percaya jika di foto itu adalah Ara.
"Apa yang kau lakukan disana, nak?" tanya Hanum.
"Apa kalian semua mencoba untuk menginterogasi ku?"
Ara terlihat sangat marah. Tidak satupun dari keluarganya yang membela dia. Ara pergi meninggalkan rumah. Saat sedang menunggu taksi di pinggir jalan, Anna melihat Ara yang keluar dari rumah besar itu sambil menangis. Dia memberhentikan taksi dan langsung pergi. Tidak lama Anna mendapatkan taksi. Ia langsung menyusul Ara dari belakang. Sementara itu, di rumah semua orang terlihat sangat panik akan kepergian Ara. Hamzah sangat kecewa dengan sikap Bella.
"Kau sudah keterlaluan Bella, kau menampar putrimu sendiri di depan kami semua."
"Aku tidak bisa mengontrol diriku, Keenan. Karena perbuatannya itu harga diriku jatuh di depan teman-temanku. Mereka berpikir jika aku ini bukanlah ibu yang baik untuknya, entah hal buruk apa lagi yang mereka bicarakan tentangku."
"Kau hanya memikirkan tentang harga dirimu saja, Bella. Kau ini sangat egois." ucap Hamzah.
"Bukankah perkataan mereka itu benar adanya kakak ipar? Kau ini memang sangat sibuk sampai tidak bisa meluangkan waktu sedikit pun untuk Ara. Jadi dimana kesalahan mereka?" sambung Eve.
"Diam lah Eve!" bentak Bella. "Jangan ikut campur dengan urusanku. Kau pikirkan saja mengenai dirimu sendiri. Kasihan sekali suamimu itu, sampai saat ini kau belum juga bisa memberikannya seorang anak."
"Sudah cukup!" bentak Hamzah. "Tidak ada gunanya kalian berdua bertengkar, yang terpenting sekarang kita harus mencari keberadaan Ara."
***
Taksi yang ditumpangi Ara berhenti di pinggir jalan. Terlihat Ara berjalan menuju ke sebuah tempat. Di sana Anna melihat sebuah danau yang indah dengan cahaya lampu berwarna-warni. Terlihat Ara duduk di kursi dekat danau sambil menangis. Anna masih memantaunya dari jauh. Cukup lama mereka di sana, tiba-tiba ponsel Anna berdering. Dia langsung bersembunyi sebelum Ara mengetahuinya. Saat Anna sedang mengangkat teleponnya, tiba-tiba saja...
"Byur!" Anna melihat Ara yang loncat ke arah danau.
"Ara...!" teriak Anna.
Anna pergi menolong Ara. Sementara itu, Anna menjatuhkan ponselnya di dekat rerumputan. Ponsel itu ternyata masih tersambung. Mendengar suara teriakan Anna, Ahan merasa sangat khawatir. Dia langsung melacak ponsel Anna.
Anna menyelam mencari keberadaan Ara. Saat mendapatkannya, dia langsung membawa Ara ke tepi danau.
"Ara... bangunlah!" ucap Anna sambil menekan dada Ara.
"Uhuk... Uhuk.... Uhuk..." Tidak lama Ara sadarkan diri.
"Akhirnya kau sadar juga. Aku sangat khawatir jika terjadi hal buruk padamu. Kenapa kau melakukan hal konyol seperti itu?" Anna benar-benar mengkhawatirkan Ara. Tubuh Ara menggigil kedinginan. Anna memeluknya erat. Ia mengambil jaket miliknya dan memakaikannya pada Ara.
"Pakailah! kau akan merasa lebih hangat dengan jaket ini."
Anna mengambil ponselnya yang tadi sempat di jatuhkan di antara rerumputan. Dia mencoba menghubungi ibunya, tapi baterai ponsel itu habis. Anna membantu Ara untuk berjalan. Mereka pergi ke jalanan kota untuk mencari kendaraan. Cuaca malam itu benar-benar sangat dingin. Bukan hanya Ara yang menggigil saat ini, tetapi juga Anna.
"Kenapa tidak ada satupun taksi yang lewat?" ucap Anna.
__ADS_1
"Di jalanan ini jarang sekali kendaraan lewat apalagi sudah malam seperti ini." ucap Ara. "Maafkan aku kak, semua ini salahku."
"Sudah tidak apa-apa, tapi ingat jangan pernah melakukan hal konyol seperti itu lagi!" ucap Anna mengingatkan Ara, layaknya seorang kakak pada adiknya.