AHANNA'S LOVE STORY

AHANNA'S LOVE STORY
HARI PERNIKAHAN


__ADS_3

Tepat pukul 20.00 malam pesawat menuju Netherlands akhirnya tiba. Saat keluar dari bandara sudah ada seseorang yang menjemput mereka. Dia adalah Dave, kaki tangan Ahan. Melihat kedatangan Ahan bersama seorang perempuan, membuat banyak pertanyaan di kepala Dave hanya saja ia tidak berani menanyakannya langsung di hadapan banyak orang. Malam itu, Dave mengantar mereka ke sebuah mansion milik keluarga Anderson yang sering dipakai untuk berlibur. Tiba di sana mereka disambut oleh beberapa pelayan. Hamzah meminta pelayan itu untuk membawa Hanna dan putrinya menuju kamar mereka. Sementara itu, kamar Hamzah dan Ahan bersebelahan. Dave membawa koper milik Ahan ke kamarnya.


"Apa yang ingin kau tanyakan Dave? Tanyakan saja!" ucap Ahan yang sudah bisa menebak isi kepala Dave.


"Siapa gadis yang datang bersamamu? Seingatku gadis yang bertunangan denganmu beberapa tahun lalu bukanlah dia."


"Besok kau akan mengetahuinya sendiri. Untuk saat ini aku merasa sangat lelah." Mendengar hal itu, Dave langsung pergi meninggalkan kamar. Sementara itu, setelah membersihkan tubuhnya, Anna pergi tidur. Perjalanannya kali ini benar-benar melelahkan. Tidak lama seorang pelayan datang dan memberitahu Hanna jika Hamzah ingin bicara dengannya di ruang tengah. Hanna langsung pergi menemuinya.


"Dimana Anna?" tanya Hamzah.


"Maaf tuan, dia baru saja tidur."


"Tidak masalah, mungkin dia sangat lelah."


Hamzah memberitahu Hanna jika besok pagi akan ada seseorang yang datang untuk merias Anna sekaligus membawa gaun pengantin untuknya. Dia harap Hanna bisa membantu dalam hal ini. Pernikahan mereka akan berlangsung di sebuah gedung yang hanya dihadiri beberapa orang saja. Mereka yang hadir sama sekali tidak tahu dengan identitas keluarga Anderson yang sebenarnya. Setelah menikah nanti, Hamzah meminta Hanna dan putrinya untuk menyembunyikan pernikahan ini dari keluarga besarnya karena selain dirinya dan juga Ahan tidak ada yang tahu akan pernikahan ini. Hamzah mengungkapkan kebahagiaannya karena Anna akan segera menjadi menantunya. Hamzah tahu lama kelamaan pernikahan itu akan diketahui semua orang. Marah, benci, kecewa, pasti akan semua orang tunjukkan terhadap Anna. Walau begitu Hamzah bersumpah pada Hanna jika selama ia masih hidup Anna tidak akan mendapatkan perlakuan buruk dari siapapun, terutama dari keluarganya sendiri. Ia akan tinggal bersama Ahan di rumah besar itu sebagai menantu keluarga Anderson. Saat mereka sedang berbincang, secara diam-diam ternyata Anna menguping pembicaraan mereka. Ia sudah salah menilai Hamzah. Ia begitu baik dan peduli pada keluarganya. Besok adalah hari pernikahannya bersama Ahan, dimana dia adalah pria yang baru saja ditemuinya beberapa hari lalu di kampus. Anna tidak tahu persis seperti apa kepribadian Ahan yang sebenarnya. Dia tidak tahu akan seperti apa nantinya jika mereka sudah sah menjadi seorang suami istri. Dalam pikiran Anna, namanya suami istri mereka akan tidur dalam satu ranjang. Saling berbagi suka dan duka, tapi Anna tidak dapat membayangkan bagaimana malam pertama mereka nanti. Anna langsung menepis pikiran anehnya itu. Ia kembali ke kamar sebelum ibunya tahu akan keberadaannya di sana.


***


Hari sudah pagi. Seperti yang dikatakan Hamzah, seorang perempuan sudah ada di rumahnya. Hanna membawa perempuan itu ke kamar. Di sana sudah ada Anna yang sedang duduk sambil menghadap ke cermin. Ia seperti sudah siap untuk di rias menjadi seorang pengantin. Orang itu mulai merias Anna. Di satu sisi, Ahan pun tengah bersiap. Semua barang yang ia butuhkan sudah tersedia di kamarnya. Tinggal menunggu jas pengantinnya. Kurang lebih lima belas menit, akhirnya Dave tiba dengan membawa jas itu. Ahan langsung mengenakannya.


"Apa kau akan menikah tuan muda?" tanya Dave yang masih bingung.


"Ya, Dave. Gadis yang datang bersamaku tadi malam adalah calon istriku." Dave terkejut tidak percaya.


"Lalu, bagaimana dengan tunanganmu? Apa hubungan kalian sudah berakhir?"


"Ceritanya panjang, Dave. Aku berjanji akan memberitahumu semuanya, tapi nanti. Aku harus segera bersiap dulu."


Saat semua sudah berada di bawah, dari atas terlihat Anna dengan gaun putihnya berjalan menuruni anak tangga. Dia terlihat sangat anggun. Di tambah lagi riasan wajahnya yang tidak terlalu mencolok membuatnya terlihat mungil dan cantik. Satu persatu tangga ia turuni dengan di dampingi ibu tercintanya.

__ADS_1


"Dia sangat cantik tuan muda." ujar Dave. "Jaga dia baik-baik! Jangan sampai ada orang lain yang berani menatapnya."


Saat sampai di bawah, Anna membuat Hamzah dan ibunya tidak percaya. Ia tersenyum tipis pada Ahan dan menerima rangkulan tangannya. Mereka berjalan menuju mobil. Mereka berada di mobil yang berbeda dengan Hamzah. Saat di dalam mobil, Ahan maupun Anna merasa sangat canggung. Sesekali Ahan melirik ke arah Anna seperti ada sesuatu yang ingin ia bicarakan tapi tidak ada sedikitpun keberanian untuk mengatakannya.


"Maaf jika situasi ini membuatmu tidak nyaman. Sungguh, aku sendiri pun sangat tidak nyaman." ucap Ahan memberanikan diri. "Semua aku lakukan atas permintaan kakek, aku yakin dia tidak berniat untuk membuatmu berada di posisi seperti ini, hanya saja ia berusaha untuk memenuhi permintaan terakhir ayahmu yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya sendiri."


"Aku mencoba untuk memahami semua situasi ini, mungkin ini bagian dari rencana tuhan yang sudah ia tuliskan untukku. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa setelah menjadi istrimu nanti, tapi aku akan belajar untuk semua itu. Aku akan menjadi istri yang baik untukmu." perkataan Anna membuat Ahan terdiam. Sikapnya seolah dia menunjukkan bahwa dia sudah sangat siap untuk menjadi istrinya. Berbeda dengan sikapnya pertama kali yang dia tunjukkan saat di bandara tatapannya begitu datar dan dingin. Tidak lama mobil tiba di gedung pernikahan. Saat Anna masuk hanya ada beberapa orang yang hadir di acaranya itu. Tidak berselang lama akhirnya akad itu terlantunkan. Hari itu juga Anna sah menjadi istri Ahan. Saat semua tamu sudah pulang, Ahan mendapat telepon dari neneknya. Dia pergi ke luar untuk menjawab telepon itu.


"Halo nenek..."


"Halo nak. Kau sedang apa?" tanya Hanum.


"Mmm... aku sedang bersiap untuk menghadiri acara resmi tuan Leo, nek. Oh iya, ada apa nenek menghubungiku?"


"Nenek hanya ingin tahu saja sedang apa cucu kesayangan nenek ini di sana. Oh iya, dimana kakekmu?"


"Dia sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil. Kau ingin bicara dengannya?"


Ahan merasa bersalah karena sudah berbohong pada neneknya. Lantas harus bagaimana lagi tidak mungkin ia mengatakan semua kebenarannya. Tidak lama ponsel Ahan berdering kembali. Mengetahui Keisya yang menghubunginya, Ahan langsung meminta Dave untuk mengangkatnya. "Tolong jawab teleponnya! Jika dia menanyakan aku, bilang saja aku sedang ada pertemuan penting dan tidak bisa di ganggu." ucap Ahan sambil melangkah pergi.


Ketika Dave sedang berbincang dengan Kei di telepon, tiba-tiba saja Anna datang menghampirinya. "Apa kau melihat Ahan?" Tidak sengaja perkataan Anna terdengar oleh Keisya di telepon.


"Itu siapa Dave? Kenapa dia mencari Ahan?" tanya Kei penasaran. Dave hanya diam tidak mengatakan apapun. Dia langsung menutup teleponnya.


"Maaf, aku tidak tahu jika kau sedang berbincang dengan seseorang di telepon." ucap Anna.


"Tidak masalah." jawab Dave santai.


***

__ADS_1


Malam itu Ahan dan Hamzah akan pergi menemui tuan Leo. Saat sudah di bawah Ahan melupakan sesuatu. Dia lupa membawa ponselnya. Di kamar Ahan tidak menemukan ponselnya. Di satu sisi, Anna baru saja selesai mandi. Ia melihat ponsel Ahan yang tertinggal di kamarnya. Anna pergi mencari Ahan untuk mengembalikan ponselnya.


"Permisi, apa kau melihat Ahan?" tanya Anna pada seorang pelayan.


"Tuan muda baru saja pergi, nona."


"Oh, baiklah. Terima kasih."


Anna kembali ke kamarnya dengan membawa ponsel itu. Saat Anna sedang mengerjakan tugas susulan kuliahnya, tiba-tiba saja ponsel Ahan berdering. Panggilan pertama Anna membiarkannya karena baginya tidak sopan jika harus membuka ponsel Ahan tanpa izin darinya. Ponsel itu terus saja berdering. Anna melihat nama perempuan di ponsel Ahan. Terpaksa ia menjawabnya.


"Halo, Ahan. Kenapa kau lama sekali menjawabnya?" tanya Keisya.


"Maaf, ini dengan siapa ya?"


Keisya sangat marah ketika tahu jika seorang perempuan yang mengangkat ponsel Ahan.


"Dasar lancang! Dimana Ahan? Kenapa ponselnya ada padamu? Siapa kau sebenarnya?"


"Aku..."


Ketika akan mengatakan sesuatu, tiba-tiba saja Hanna datang. Ia mengajak Anna untuk turun makan malam. Anna langsung mematikan panggilannya.


"Siapa yang menelepon?" tanya Hanna.


"Tidak ada ibu, barusan hanya salah sambung saja." jawab Anna.


Saat di meja makan, Anna masih penasaran dengan perempuan di telepon tadi. Dia terdengar sangat marah saat tau orang lain yang menjawab telepon Ahan . Malam itu, sebuah panggilan masuk melalui telepon rumah. Pelayan pergi untuk mengangkatnya. Saat Anna kembali dari dapur ia melihat pelayannya yang terus berdiri sambil memegang telepon rumah.


"Siapa yang menelepon bi?" tanya Anna. Pelayan itu ragu untuk memberitahunya.

__ADS_1


"Nona Keisya, non." jawab pelayan itu.


"Keisya? Siapa dia?"


__ADS_2