
Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Ahan dan Hamzah baru saja kembali. Keadaan rumah sangat hening. Mungkin semua orang sudah tertidur. Saat Ahan berjalan ke kamarnya, ia melihat pintu kamar Anna yang masih terbuka. "Apakah dia belum tidur?" ucapnya. Ahan pergi melihatnya. Di sana ia mendapati Anna yang sedang duduk di balkon. Sebelum Ahan melangkah masuk, dia mengetuk pintu kamar Anna terlebih dahulu. Namun, tidak terdengar jawaban dari Anna. Entah dia mendengarnya atau tidak akhirnya Ahan memberanikan diri untuk masuk. Langkah kaki Ahan terdengar jelas di telinga Anna.
"Siapa Keisya?" tanya Anna to the point.
"Kenapa kau menanyakan hal itu?" tanya balik Ahan bingung.
"Kau telah berbohong padaku, Ahan. Kau menyembunyikan kebenaran jika ternyata kau ini sudah memiliki tunangan." Anna terlihat sangat marah. Dia menunjukkan ponsel Ahan padanya. Anna mengatakan jika sejak tadi Keisya terus saja meneleponnya. Ahan sangat terkejut melihat ponsel miliknya ada pada Anna.
"Kenapa ponselku ada padamu." tanya Ahan.
"Itu tidak penting untuk aku jawab."
Teriakan Anna terdengar oleh Hanna dan Hamzah. Mereka pergi untuk melihatnya.
"Ada apa, nak? Kenapa kau berteriak seperti itu?" tanya Hanna.
"Dia sudah berbohong, ibu. Ahan sebenarnya sudah memiliki tunangan." Anna tidak lagi bisa menahan tangisnya. Hamzah terlihat diam saja. Ia merasa sama bersalahnya karena sudah menutupi hal itu dari Anna.
"Aku bisa menjelaskan semuanya." ucap Ahan.
Hati Anna terlanjur terluka karena kebohongan Ahan. Dia menyuruh semua orang untuk keluar dari kamarnya. Ahan masih bingung dari mana Anna tahu soal Keisya. Seingatnya, hari ini hanya Dave yang bicara dengan Kei di telepon. Ahan pergi menemuinya. Wajah Ahan terlihat sangat serius. Dave yang sedang membereskan kamarnya, langsung pergi saat mendengar teriakan Ahan.
"Ada apa Ahan?" tanya Dave.
"Apa kau mengatakan tentang Keisya pada Anna?"
Dave menggeleng tidak tahu. Sementara itu, seorang pelayan memberanikan diri untuk menemui Ahan. Dia meminta maaf karena dialah yang sudah memberitahu akan Keisya pada Anna. Ahan tidak percaya jika pelayan di rumahnya berani membuka rahasia sebesar itu.
"Maafkan bibi, tuan muda. Tadi non Keisya menghubungimu melalui telepon rumah. Dia sempat menanyakan mu padaku, hanya saja bibi tidak memberitahunya. Bibi tidak tahu jika di belakang ada non Anna. Dia sempat mendengar perbincangan bibi dengan non Keisya di telepon. Dia bertanya pada bibi akan hal itu. Tapi percayalah bibi mencoba untuk menutupi semuanya, hanya saja non Anna memaksa bibi untuk memberitahunya."
Setelah mendengar penjelasan pelayan itu, Ahan langsung mempercayai perkataannya. Sudah lama Ahan mengenalnya, dan tidak mungkin pelayan itu mengkhianati kepercayaannya. Di kamarnya Ahan tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan Anna. Gelisah terus saja menyelimuti perasaan Ahan. Ia pergi menemui Anna untuk meminta maaf. Ahan melihat Anna yang belum juga tidur. Ia tengah duduk di sofa sambil menangis.
"Boleh aku masuk?" pinta Ahan.
Anna langsung menghapus air matanya. Ahan berjalan masuk. Dia duduk di sebelah Anna.
__ADS_1
"Kenapa kau melakukan ini? Apa kau tidak pernah memikirkan perasaan Keisya jika ia tahu kalau tunangannya itu sudah menikah dengan perempuan lain?" tanya Anna.
"Aku tidak mencintainya Anna, aku terpaksa menjalani hubungan dengannya karena keluargaku." jelas Ahan.
"Kau bisa menolaknya baik-baik. Jika sudah seperti ini kita akan apa? Bagaimana aku harus bersikap ketika bertemunya nanti?" Anna merasa sangat bersalah karena dia juga seorang perempuan. Dia tahu persis sakitnya akan seperti apa jika ada dalam posisi Keisya. Dia akan sangat terluka, hatinya akan hancur. Mimpi yang ia bangun untuk bisa hidup bersama Ahan akan musnah. Ahan sangat tidak nyaman dengan hubungan yang ia jalin dengan Keisya tapi bagaimana lagi hubungan keluarga Anderson sangat erat dengan keluarga Keisya. Ahan pun tidak punya keberanian untuk menolak perjodohan itu.
"Setelah kita kembali dari Netherlands, aku tidak akan tinggal bersamamu, aku akan tinggal di rumahku." ucap Anna.
"Kenapa seperti itu? Kau ini kan istriku, bagaimana bisa kita tinggal berpisah?" ucap Ahan.
"Ini demi kebaikan kita semua, Ahan. Aku akan sangat tidak nyaman berada di tengah-tengah keluargamu. Tolong pahami posisiku saat ini." jelas Anna.
***
Pagi itu udara masih terasa sangat dingin. Semua orang masih berada di bawah selimut mereka. Hanna yang sudah bangun lebih awal pergi ke dapur untuk membantu pelayan menyiapkan sarapan. Sementara itu, Anna terlihat sedang bersiap-siap untuk mengikuti ujian akhir semester mata kuliahnya. Ia terpaksa harus mengikuti ujian itu secara online. Sebelum ujian di mulai, Anna merasa sangat lapar. Ia pergi ke dapur mencari sesuatu yang bisa di makan. Sesampainya di dapur, pelayan ternyata masih memasak makanannya.
"Kau mencari apa sayang?" tanya Hanna.
"Aku sangat lapar, ibu. Tapi sepertinya makanannya belum ada yang matang." ucap Anna.
"Selamat pagi tuan muda," ucap Hanna.
"Kau tidak perlu lagi memanggilku tuan muda, karena sekarang ini aku adalah putramu dan kau ibuku." ucap Ahan.
Anna meminta maaf pada Ahan karena tidak bisa pergi. Hari ini dia akan melaksanakan ujian akhir semester mata kuliahnya. Anna kembali ke kamar karena beberapa menit lagi ujian akan berlangsung. Ahan merasa kasihan melihat Anna yang harus mengerjakan ujian dengan perut kosong.
"Apa ada roti ibu?" tanya Ahan.
"Ini rotinya, nak. Ibu baru saja membelinya di supermarket."
"Biasanya Anna makan roti dengan selai apa, Bu?"
"Dia sangat suka dengan selai strawberry."
Ahan langsung membuatkan roti dengan selai strawberry untuk Anna. Tidak lupa ia juga membuat segelas susu untuknya. Ahan membawa sarapan itu ke kamar Anna. Tiba di sana, Anna terlihat sangat serius mengerjakan soal ujiannya. Ahan berjalan masuk dan duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Apa yang kau bawa?" tanya Anna.
"Roti dan segelas susu untukmu. Tadi kau bilang sangat lapar bukan? Makanlah dulu!" ujar Ahan.
"Terima kasih, tapi aku akan memakannya nanti."
Ahan meminta Anna untuk membuka mulutnya. "Fokus saja pada ujiannya, biar aku yang akan menyuapi mu." Ahan dan Anna saling menatap cukup lama. Anna tidak pernah membayangkan sebelumnya jika ternyata Ahan sangat perhatian padanya. Berbeda dengan Ahan, dia merasa detak jantungnya itu berdegup sangat kencang saat menatap Anna lama. Mereka langsung mengalihkan pandanganya. Ahan terus memperhatikan Anna. Ia sangat cepat juga teliti dalam mengerjakan soal ujiannya. Sisa waktu yang tersisa masih tiga puluh menit lagi, tetapi Anna sudah selesai mengerjakan ujiannya. Ia terlihat sangat senang karena bisa menyelesaikan itu semua lebih awal. Saat mereka sedang berdua di kamar, seorang pelayan datang. Ia memberitahu mereka jika makanannya sudah siap. Anna dan Ahan turun untuk sarapan. Saat di meja makan, Anna mulai melayani Ahan selayaknya istri pada suami. Ia mengambilkan nasi dan lauk untuk Ahan. Anna duduk di sebelah Ahan. Ia hanya memperhatikan Ahan yang sedang makan.
"Kau tidak makan nak?" tanya Hamzah.
"Tidak kakek, tadi aku sudah makan roti dengan susu. Ahan yang membuatkannya sendiri untukku." ucap Anna tersenyum lebar.
Ketika sedang makan, ponsel Ahan berdering. Saat dilihat ternyata Kei yang menghubunginya. Ahan menatap ke arah Anna dan langsung mematikan ponselnya.
"Kenapa kau tidak menjawabnya? Kasihan dia. Sejak tadi malam dia terus saja menanyakanmu. Cobalah bicara dengannya." ucap Anna.
Senyum yang tadi sempat terpancar di wajahnya kini hilang seketika. Selesai Ahan sarapan, ia kembali ke kamarnya. Hamzah meminta Ahan untuk bicara dengan Kei di telepon. Yang dikatakan Anna mungkin benar. Kei terus saja meneleponnya karena ingin tahu keadaannya atau bahkan ia sangat merindukannya. Sudah tiga hari mereka di Netherlands, Hamzah akhirnya memutuskan untuk kembali. Dia meminta Dave untuk memesan tiket keberangkatan mereka menuju Jerman. Tidak lupa Hamzah mengajak Dave untuk ikut bersamanya juga. Dia akan tinggal bersamanya dan menempatkan Dave di perusahaan miliknya sebagai kaki tangan Ahan. Mendengar hal itu Dave terlihat sangat senang. Hamzah sempat mengingatkan Dave untuk menjaga rahasia besar ini dari semua keluarganya. Mereka tidak boleh tahu jika sebenarnya Ahan dan Anna sudah menikah.
"Kau tenang saja kakek, aku pasti akan menjaga rahasia ini sebaik mungkin."
"Terimakasih nak, aku tidak salah memilihmu untuk menjadi orang kepercayaannya Ahan."
***
Siang itu, Anna melihat Ahan yang sedang menelpon seseorang di dekat kolam renang. Ia yakin jika itu adalah telepon dari Keisya. Anna terus memperhatikan Ahan dari kamarnya. Ahan seorang pria yang bisa dikatakan mendekati sempurna. Dia begitu tampan, gagah, lembut, dan penuh perhatian. Selain itu dia seorang pengusaha muda yang sukses di tambah lagi dia adalah seorang Anderson. Dimana orang tahu jika keluarga itu merupakan keluarga terkaya dan sangat terpandang. Wajar saja jika banyak gadis yang menginginkannya. Tanpa Anna sadari, sang ibu tengah berdiri di belakangnya dan menatap ke arah yang sama dengannya.
"Ahan pria yang baik, nak. Dia sopan dan sangat berwibawa. Semua terlihat jelas setiap kali dia bertindak." ucap Hanna. "Kau kini sudah menjadi bagian dari keluarga Anderson, apa kau bahagia dengan pernikahan ini?"
"Entahlah ibu, tapi kau benar. Ahan pria yang sangat baik dan lembut. Dia begitu perhatian padaku, bahkan dia menyuapiku tadi pagi saat aku sedang mengerjakan ujian."
"Ibu hanya bisa mendo'akan untuk setiap kebahagian mu, nak. Semoga pernikahanmu dengan Ahan terus sampai tua nanti."
Hanna datang bukan tanpa alasan. Ia memberitahu Anna jika nanti malam mereka akan kembali ke Jerman. Saat menatap ke arah kolam, Ahan sudah tidak ada di sana.
"Dimana dia?" ucap Anna.
__ADS_1
"Aku disini, jawab Ahan yang sudah berdiri di luar kamar Anna.