AHANNA'S LOVE STORY

AHANNA'S LOVE STORY
MEMBICARAKAN HAL PENTING


__ADS_3

Pagi itu, Keisya datang ke rumah besar Anderson dan membuat kejutan bagi semua orang. Ayana begitu senang menyambut kedatangan calon menantunya itu. Dia mengajak Keisya ke meja makan. Saat akan turun, langkah Ahan terhenti ketika melihat Keisya berada di rumahnya. Dia kembali ke kamar untuk menghindarinya. Semua sudah berkumpul di meja makan.


"Kapan kau datang kak?" tanya Kanya.


"Kemarin sore, dek."


"Oooh... tapi kak Ahan tidak memberitahuku soal itu. Mungkin dia lupa karena kemarin sore dia ada bersamaku menikmati pameran lukisan itu." ucap Kanya sambil memakan makanannya.


"Pameran lukisan? Tapi kemarin sore Ahan mengatakan padaku jika ia akan pergi untuk melihat proyek barunya."


"Ahan mungkin ingin menghindar darimu, karena itu dia terpaksa membohongimu." ucap Aidan yang sedang mengambil buah lalu bergegas pergi. Keisya mulai menyimpan keraguan dalam hatinya. Ia tidak tahu kemana sebenarnya Ahan pergi kemarin sore. Tidak lama Ahan turun. Ia menemui semua orang dan berpamitan untuk pergi ke kantor.


"Kau tidak sarapan dulu nak?" tanya Hanum.


"Aku akan sarapan di kantor saja nek, lagi pula aku sedang terburu-buru karena ada rapat pagi ini."


"Selamat pagi, Ahan." ucap Keisya.


"Selamat pagi," jawab Ahan tanpa menoleh padanya.


"Sarapan dulu sebentar, nak. Keisya sengaja datang hanya untuk menemui mu." pinta Ayana.


"Maaf ibu, aku benar-benar harus segera pergi."


Ketika Keisya akan ikut dengan Ahan, sang kakek langsung berdiri dari tempat duduknya. Ia meminta Ahan untuk mengantarnya ke suatu tempat. Niat Keisya untuk bisa pergi berdua bersama Ahan ternyata gagal. Selera makan Keisya menjadi hilang. Ia pamit pergi pada semua orang. Saat sedang berada di ruang tengah, Eve melihat kiriman baru dari teman yang ia ikuti di akun instagramnya. Ia melihat Ara yang berada di sebuah klub malam bersama teman-temannya. Saat Bella datang, Eve langsung menaruh ponselnya. Ia takut jika Bella sampai melihatnya ia akan sangat marah pada Ara.


"Kenapa kau menutup ponselmu saat aku datang Eve? Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" tanya Bella curiga.


"Tidak ada kakak ipar, aku hanya sedang tidak ingin bermain ponsel saja."


Saat Bella sedang berbincang dengan teman sosialitanya di telepon, Eve pergi ke kamarnya. Ia mencoba menghubungi Keenan. Saat itu ponsel Keenan tidak bisa di hubungi. Eve mencoba menghubungi Selim dan saat itu juga ponselnya berdering.


"Halo kak, apa aku bisa meminta waktumu sebentar? Ada hal penting yang ingin aku bicara padamu."


"Katakan saja!"


"Aku tidak bisa mengatakannya di telepon. Aku akan datang menemui di kantor."


"Baiklah, kalau begitu datanglah kemari."


***


Di dalam perjalanan, Hamzah meminta Ahan untuk mengantarnya ke rumah Hasan. Ia akan bicara mengenai pernikahan itu dengan Anna. Sesampainya di sana, Ahan melihat Anna yang sedang membantu ibunya menjemur pakaian. Melihat kedatangan Hamzah, Hanna langsung meninggalkan pekerjaannya dan bergegas menemuinya.


"Selamat datang tuan Hamzah, mari silahkan masuk!"


"Terima kasih, Hanna."

__ADS_1


Hamzah membawa Ahan masuk bersamanya. Hanna pergi ke dapur untuk membuatkannya minum.


"Silahkan di minum tuan..." ucap Hanna sambil menyuguhkan dua gelas teh. "Ada keperluan apa kau datang kemari tuan Hamzah?" tanya Hanna.


"Aku ingin menemui putrimu, Anna. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padanya."


Hanna pergi memanggil Anna di halaman belakang.


"Nak... tuan Hamzah datang ingin menemui mu." ucap Hanna.


"Aku tidak ingin menemui siapapun untuk sekarang ini, ibu."


Perkataan Anna dapat di dengar oleh Hamzah dan Ahan. Tidak lama Hanna datang dan menyampaikan permintaan maaf pada Hamzah karena putrinya tidak ingin menemuinya. Hamzah dapat memahami bagaimana perasaan Anna saat ini. Dia baru saja di tinggal sang ayah, dan sekarang ia harus menemui orang yang telah menyebabkan ayahnya meninggal. Semua tidak mudah bagi Anna.


"Apa aku bisa menemui putrimu sebentar?" pinta Hamzah. Sepertinya perkataan Hamzah itu terdengar oleh Anna.


"Sudah aku bilang ibu, aku tidak ingin bertemu atau berbicara pada siapapun." ucap Anna dari belakang. Hamzah tidak bisa memaksa Anna untuk bicara dengannya. Tapi ia menyampaikan pesan pada Hanna jika Anna sudah mau bicara padanya, ia bisa menemuinya di rumah besar itu. Tidak lama Hamzah dan Ahan pamit pulang. Setelah mereka pergi, Anna muncul dari belakang. Ia pergi bersiap untuk pergi ke kampus. Hanna tau putrinya itu masih sangat sedih akan kepergian ayahnya, karena itu ia tidak banyak bertanya dulu padanya. Biarkan semua kesedihan itu hilang dengan berjalannya waktu. Semua akan kembali seperti semula. Pada akhirnya mereka yang ditinggalkan akan ikhlas dengan kepergian orang tercintanya.


***


Saat waktu makan siang, secara diam-diam Ahan pergi menemui Anna di kampusnya. Siang itu Anna sedang mengerjakan tugas di halaman depan kampus. Ia tengah duduk sendiri sambil fokus pada laptopnya. Dari jauh salah seorang mahasiswa mengarahkan Ahan pada Anna yang sedang duduk. Langkah Ahan terasa berat untuk menemui Anna. Tanpa Anna sadari Ahan tengah berdiri di belakangnya. Ahan terus memperhatikan Anna. Ternyata ia sedang memandangi foto sang ayah dalam laptopnya. "Hari wisudaku tinggal beberapa bulan lagi. Kau berjanji akan menghadirinya. Lalu, kenapa ayah harus pergi lebih cepat sebelum hari itu?" ucapnya berlinang air mata.


Ahan yang mendengar hal itu ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Anna. Saat itu, Anna melihat Ahan dalam laptopnya. Ia langsung menengok ke belakang. Anna segera menghapus air matanya, dan bergegas pergi.


"Tunggu!" ucap Ahan. "Ada sesuatu yang sangat penting yang ingin aku bicarakan padamu."


"Tapi ini tentang permintaan terakhir ayahmu."


"Tahu apa kau tentang semua itu?"


"Datanglah nanti malam ke rumahku bersama ibumu. Kakek akan menceritakan semuanya."


Anna merasa sangat penasaran dengan apa yang akan di sampaikan Hamzah tentang ayahnya karena itu Anna menyetujui pertemuannya bersama Ahan nanti malam.


***


Siang itu, Hanum berkunjung ke rumah Hanna. Ia berbincang banyak dengannya. Saat Hanna mengambil cuti beberapa minggu ini, Hanum memanggil orang untuk menggantikan Hanna mengurus dapur juga memasak makanan. Sudah dua kali Hanum mengganti orang, tidak satupun dari mereka yang masakannya cocok dengan lidah kelurga Anderson. Sudah satu Minggu ini keluarga Anderson sarapan dan makan malam di luar. Hanum meminta Hanna untuk segera kembali bekerja di rumahnya. Hanna begitu teliti dalam segala hal. Setiap makanan yang di buat oleh tangannya selalu terasa lezat. Hanna merasa tidak enak dengan pujian kecil itu. Mengingat sebentar lagi Anna akan ujian, biaya yang dibutuhkan pastilah tidak sedikit. Bagaimana pun juga Hanna harus bekerja kembali untuk bisa membayar semua kebutuhan kuliah putrinya. Mulai besok Hanna akan kembali bekerja di rumah besar itu. Hanum sangat senang mendengarnya. Hari mulai gelap. Terlihat Anna yang baru keluar dari kampus dan pergi mencari taksi. Kurang lebih tiga puluh menit, tidak satupun taksi yang melintas di jalan itu. Tidak lama sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Saat membuka kaca mobilnya, ternyata itu adalah Ahan.


"Masuklah! Aku akan mengantarmu pulang."


"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku? Kenapa kau terus saja menggangguku? Ooh... apa jangan-jangan sejak tadi kau mengikutiku?" ucap Anna penuh curiga.


Langit malam itu terlihat sangat gelap. Mulai terdengar suara petir mungkin tidak akan lama lagi hujan akan turun. Anna tidak memiliki pilihan lain selain ikut dengan Ahan. Sejak tadi ibunya terus saja menghubunginya. Ia mulai mengkhawatirkannya. Di dalam mobil Ahan meminta Anna untuk menghubungi ibunya. Saat ponsel itu terhubung, Hanna terkejut mengetahui putrinya yang sedang bersama Ahan.


"Bi, tolong bersiaplah! Aku akan datang menjemputmu sekarang juga."


Tanpa banyak bertanya Hanna mengiyakan permintaan Ahan. Tidak lama mobil Ahan sampai di depan rumah Hanna.

__ADS_1


"Masuklah bi!" pinta Ahan.


Hanna melihat putrinya yang duduk di depan. Dia tidak berani bertanya di depan tuan mudanya itu. Ahan seakan tahu apa yang ada dalam pikiran Hanna.


"Saat dalam perjalanan pulang, aku melihat Anna yang sedang menunggu taksi. Tapi tidak ada satupun taksi yang lewat. Jadi aku memberi tumpangan padanya." ucap Ahan mencoba menjelaskan.


Kurang lebih satu jam, akhirnya Ahan tiba di rumah. Semua orang dibuat terkejut melihat kedatangan Ahan bersama Hanna dan putrinya. Berbeda dengan Hamzah, ia begitu senang melihat kedatangan mereka. Malam itu kebetulan makan malam sudah siap. Hamzah mengajak Hanna dan putrinya makan malam bersama tapi Anna menolaknya. Hamzah tahu persis kenapa Anna bersikap seperti itu. Ia mencoba untuk memakluminya. Tidak lama Kanya turun.


"Kakak?" ucapnya terlihat senang. "Jadi... kau ini putri bibi Hanna? Aku sedikit terkejut saat mengetahuinya soalnya selama bibi bekerja di sini, dia tidak pernah bicara sedikitpun tentang putrinya. Maafkan aku kak..."


"Anna Nicolette. Kau bisa memanggilku Anna." ucap Anna pada Kanya.


"Baiklah, kalau begitu aku akan memanggilmu kak Anna."


Yang awalnya Anna menolak untuk makan malam bersama, akhirnya mau karena paksaan dari Kanya. Ketika sedang makan malam, Kanya teringat akan sesuatu. Dia melupakan tugas kuliahnya untuk besok. Ia harus membeli beberapa bahan untuk menggambar. Tanpa ia sadari Kanya menghubungi temannya saat di meja makan.


"Halo Di, apa kau sudah membeli semua bahan untuk menggambar besok?" tanya Kanya spontan.


Kanya melihat semua orang menatapnya. Ia baru menyadari jika saat sedang makan tidak ada yang memainkan ponsel. Kanya langsung mematikan ponselnya dan meminta maaf pada semua orang.


"Kenapa kau melanggar aturan saat di meja makan sayang?" tanya Selim.


"Maafkan aku ayah, aku melupakannya."


"Apa ada masalah dengan kuliahmu?"


"Tidak ada, semua baik. Hanya saja aku lupa membeli semua bahan untuk ujian menggambar besok, ayah."


"Kenapa kau bisa melupakannya nak? Ibu selalu mengingatkanmu supaya selalu teliti dalam kuliahmu itu."


"Baiklah ibu, aku minta maaf. Lagi pula tadi siang aku kurang enak badan. Sepulang kuliah aku langsung pergi tidur. "


"Sudahlah Ayana, kenapa kau selalu saja memperpanjang masalah." sambung Selim.


"Tapi masalahnya dimana dia akan mendapatkan semua bahan itu malam-malam seperti ini?"


"Jika kau mau, aku bisa mengantarmu. Aku tahu dimana membeli semua bahan itu. Ya, bisa di bilang toko ini terbaik karena selain menjual barang yang lengkap, juga menjadi andalan setiap orang di kampus. Banyak dari mereka yang pergi ke toko ini untuk membeli barang apapun." ucap Anna menawarkan.


"Baiklah, aku akan pergi bersama kak Anna." Kanya meminta pelayannya untuk menyuruh sopir menyiapkan mobil. Tidak lama seorang bodyguard datang. Ia diperintah Ayana untuk mengawal Kanya.


"Tolong jaga putriku, pastikan dia aman." ucap Ayana pada bodyguardnya.


"Itu tidak perlu, lagi pula aku pergi bersama kak Anna."


"Tapi kau tidak tahu nak bisa saja di perjalanan nanti dia berbuat sesuatu yang buruk padamu."


"Sudahlah ibu, pemikiranmu itu yang selalu buruk terhadap orang lain. Kau tidak bisa melihat kebaikan yang ada dalam diri seseorang."

__ADS_1


"Permisi nona, mobilnya sudah siap." ucap pelayan. Kanya langsung mengajak Anna untuk pergi.


__ADS_2