AHANNA'S LOVE STORY

AHANNA'S LOVE STORY
KEMATIAN SANG AYAH


__ADS_3

Malam mulai larut. Ahan pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Di sana ia mendapati Hanna yang masih membereskan dapur. Hanna terkejut melihat kedatangan Ahan.


"Kau membutuhkan sesuatu tuan muda?" tanya Hanna.


"Aku ingin meminta segelas air, bi."


"Ini airnya tuan muda."


"Tidurlah bi! Kau bisa melanjutkan pekerjaannya besok pagi."


"Tinggal sedikit lagi tuan muda."


Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 malam. Hanna mencoba menelpon Anna untuk memberitahunya jika malam ini ia akan tidur di rumah besar itu karena pekerjaannya yang baru saja selesai. Saat dicoba, ternyata ponsel Anna berdering. Tidak lama ia mengangkatnya.


"Halo Ibu."


"Halo, nak. Maaf sudah membangunkan mu tengah malam seperti ini. Tolong bilang pada ayahmu jika malam ini ibu akan tidur di sini."


"Baik bu, akan aku beritahukan ayah nanti."


"Apa kau belum tidur sayang?"


"Mmm... belum ibu. Aku sedang mengerjakan tugas untuk kuliah besok."


"Jika sudah selesai, cepat tidurlah! Jangan sampai kau mengantuk di jam kuliahmu nanti."


"Baiklah."


Setelah selesai, Hanna mematikan lampu dapurnya dan pergi ke kamar. Di balik pintu Ahan ternyata mendengar percakapan Hanna dan putrinya di telepon. Ahan yakin jika tugas yang dimaksud Anna adalah tugas yang tadi sore tersiram air oleh Kanya. Dia harus menyalin tugasnya kembali.


***


Hari sudah pagi. Saat semua tengah berkumpul di meja makan, Bella tidak melihat putrinya.


"Sema!" teriak Bella pada pelayan putrinya. Sema yang sedang berada di dapur langsung berlari menghampiri.


"Ya nyonya, apa kau membutuhkan sesuatu?"


"Dimana Arabella? Kenapa dia belum juga turun?" tanya Bella.


"Maaf nyonya, aku tidak berani membangunkannya karena tadi malam nona pulang sangat larut."


"Benarkah? Jam berapa dia kembali?"


"Jam 04.00 pagi nyonya."


"Apa yang dilakukannya malam tadi sampai dia pulang selarut itu?" gumam Bella. Ia langsung pergi ke kamar putrinya. Dengan paksa ia membangunkan Ara.


"Bangunlah! Ini sudah jam berapa? Kau harus kuliah bukan?" ucap Bella sambil menarik selimut putrinya.


Ara tidak terusik sedikitpun. Ia terlihat sangat pulas. Cahaya mentari yang mengenai wajahnya tidak mampu membuatnya terbangun. Ia malah menarik selimutnya dan melanjutkan tidurnya. Bella sudah hilang kesabaran. Dia mengambil air dan mencipratkannya di wajah Ara.


"Ibu... kau ini apa-apaan? Biarkan aku tidur sebentar lagi, aku sangat mengantuk."


"Cepat bangun Ara! Jangan membuat ibu marah. Apa kau ingin semua fasilitas mu ibu ambil kembali?"


Mendengar fasilitasnya akan di ambil, Ara langsung membuka matanya. Ia langsung bergegas ke kamar mandi. Ia tidak mau semua yang ibunya berikan di tarik kembali. Dengan fasilitas itu Ara bisa membeli apapun yang ia mau. Semua itu seperti sebuah ATM berjalan untuknya dimana nominalnya sangat banyak. Saat sedang makan, semua orang dikejutkan dengan suara teriakan Ara. Mereka pergi untuk melihatnya.

__ADS_1


"Keributan apa yang terjadi pagi-pagi seperti ini?" ucap Hanum.


"Ada apa nak?" tanya Keenan.


"Ibu terus saja bertanya padaku ini, dan itu. Aku capek mendengarnya, ayah." keluh Ara sambil menangis.


"Jangan menangis!" bentak Bella. "Kau hanya perlu menjawab pertanyaan ibu."


"Kau bertanya seperti kepada seorang musuh, kau menekanku, kau membentak ku, aku ini putrimu. Kau bisa bicara denganku secara baik-baik." ucap Ara melangkah pergi.


Kanya merasa kasihan pada Ara. Ia pergi mengejarnya. Terlihat Ara sedang menunggu sopir pribadinya. Ia merasa sangat marah.


"Ara tunggu aku!" ucap Kanya.


Melihat kedatangan Kanya, Ara langsung menghapus air matanya.


"Kau akan pergi kemana?"


"Bukan urusanmu. Pergilah! Jangan bersikap seolah kau peduli padaku."


"Aku peduli padamu karena kau ini saudara perempuanku."


"Pergi!" bentak Ara.


Tidak lama sopir pribadinya datang. Ara segera masuk ke dalam mobil lalu pergi.


Di ruang tengah Bella terlihat sibuk sendiri. Ia berjalan mundar mandir sambil menelpon seseorang. Ia nampak kesal karena sejak tadi panggilannya itu tidak tersambung. Ia melempar ponsel miliknya ke sofa.


"Kau ini kenapa kakak ipar?" tanya Eve.


"Aku mencoba menghubungi semua teman Ara, tapi tidak satupun yang menjawabnya."


***


Siang itu, Hamzah datang untuk melihat proyek barunya. Saat ia sedang berbincang dengan salah satu pegawainya, sebuah tiang yang berada di belakang Hamzah terlepas tali penyanggahnya. Hasan yang menyadari akan hal itu langsung berlari ke arahnya.


"Tuan awas....!" teriak Hasan.


"Bug!" tiang besar itu menimpa Hasan. Semua orang berlari untuk menolong Hasan. Hamzah segera menghubungi ambulance. Ketika perjalanan menuju rumah sakit, Hasan sempat sadarkan diri. Dengan sangat berat Hasan mencoba untuk mengatakan sesuatu pada Hamzah.


"Tuan... aku sangat mencintai putriku, Anna. Keinginan terakhir ku adalah ketika aku bisa melihatnya menikah dengan laki-laki yang tepat. Mungkin waktuku tidak banyak. Setelah aku sudah tiada nanti, tolong nikahkan putriku dengan pria pilihanmu. Aku yakin kau akan memilihkan pasangan yang tepat untuknya."


Tidak lama Hasan tak sadarkan diri.


Saat sedang mengikuti kelas, Anna mendapat kabar akan ayahnya yang mengalami kecelakaan. Ia langsung pergi meninggalkan kampus. Sesampainya di rumah sakit, Anna mendapati ibunya yang sudah ada di sana.


"Ibu... apa yang terjadi pada ayah?" tanya Anna berlinang air mata.


"Semua ini terjadi karena aku, nak. Ayahmu menyelamatkanku dari sebuah tiang yang akan menimpaku. Jika tidak ada ayahmu, mungkin aku yang terbaring dalam ruangan itu." ucap Hamzah.


Mendengar kecelakaan yang menimpa Hasan, sebagian dari keluarga Anderson datang ke rumah sakit. Sudah cukup lama dokter di dalam, akhirnya ia keluar.


"Bagaimana keadaan suamiku dokter?" tanya Hanna.


"Maaf nyonya, aku sudah berusaha semaksimal mungkin tapi nyawa suamimu tidak tertolong." ucap dokter melangkah pergi.


"Itu tidak mungkin!" Anna berlari ke dalam. Ia melihat sang ayah yang terbaring dengan wajah pucat, dan seluruh badannya yang sudah dingin.

__ADS_1


"Ayah... bangunlah! Kau tidak boleh meninggalkan aku dan juga ibu. Kau harus bangun..." tangis Anna pecah. "Ayah....!!!"


Semua orang hanya diam membisu menyaksikan kematian Hasan. Hamzah merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi pada Hasan. Sampai kapanpun ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Tidak lama beberapa orang perawat datang untuk mengurus jenazah Hasan. Anna merasa terpukul dengan kepergian sang ayah. Ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan tetesan air matanya yang jatuh membasahi lantai. Saat menuruni tangga, Anna tidak sengaja berpapasan dengan Ahan. Anna terus berjalan tanpa menghiraukannya. Sementara Ahan pergi mencari keberadaan Hamzah.


"Kakek? Apa kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" tanya Ahan khawatir. "Aku mendapat kabar dari pekerja proyek jika kau hampir saja tertiban tiang besar."


Ahan terkejut dengan jenazah yang baru saja keluar dari ruangan.


"Paman Hasan..." ucap Ahan tidak percaya.


Jenazah itu di bawa ke ruang pemandian di ikuti Hanna dari belakang. Setelah jenazah selesai di mandikan, Anna melihat kembali sang ayah untuk terakhir kalinya.


"Kau harus kuat, sayang." ucap Hanna menguatkan.


"Semua butuh waktu ibu. Seorang putri akan sangat terpuruk ketika ia harus kehilangan cinta pertama dalam hidupnya."


"Tidak perlu berlebihan nak, semua pasti akan kembali padanya." ucap Bella yang tiba-tiba datang.


"Kau seenaknya saja bicara nyonya, jika karena bukan ayahku mungkin tuan Hamzah yang akan..."


"Nak... jangan bicara seperti itu." ucap Hanna mengingatkan.


"Kenapa ibu? Memang itu kenyataannya bukan? Ayah meninggal karena menolong tuan Hamzah. Jika tidak, mungkin ayah masih ada sampai saat ini."


"Waw... apa kau ini sedang mengungkit kebaikan yang ayahmu lakukan terhadap keluargaku?"


"Kau berhutang nyawa pada keluarga ku, jika tidak mungkin saat ini keluarga besar Anderson yang sedang berduka."


Saat akan melangkah pergi, Anna melihat Hamzah dan Ahan yang sedang berdiri di dekat pintu. Mereka mendengar semua yang dikatakan Anna.


"Tidakkah kau bisa menjaga mulutmu itu Bella?" ucap Hamzah terlihat marah. "Kau seharusnya bisa menjaga perasaan gadis itu. Dia sedang bersedih, hatinya sedang berduka."


Setelah selesai pemakaman, saat malam hari Hamzah meminta Ahan untuk menemuinya. Dia teringat dengan keinginan terakhir Hasan untuk memintanya mencarikan pria yang baik untuk Anna.


"Apa kau sudah siap untuk menikah nak?" Pertanyaan Hamzah seperti sebuah anak panah yang baru saja melesat dari busurnya. Ahan berpikir jika kakeknya ingin ia cepat-cepat menikah dengan Keisya.


"Semua yang terjadi pada Hasan itu karena dia menolongku. Jika tidak, mungkin saat ini aku tidak bisa berbincang seperti ini dengan cucuku."


"Jangan bicara seperti itu, kakek. Kami semua tahu jika paman Hasan dan keluarganya sangat berjasa untuk keluarga kita. Lalu untuk apa kakek terus menyalahkan diri sendiri terhadap apa yang sudah terjadi?"


"Ketika aku membawa Hasan ke rumah sakit, ia sempat sadarkan diri."


Hamzah memberitahu keinginan terakhir Hasan pada Ahan. Dia harus segera memenuhi keinginan itu supaya Hasan tenang di alam sana. Hamzah bingung siapa pria baik yang bersedia menikahi Anna. Tiba-tiba saja terlintas dalam kepalanya jika Ahan lah yang cocok untuk Anna.


"Jika aku meminta sesuatu padamu apa kau akan memenuhinya?" tanya Hamzah.


"Tentu saja kakek."


"Apapun sesuatu itu?"


"Ya, ini kali pertamanya kakek meminta sesuatu padaku. Mana mungkin aku menolaknya."


"Bersediakah kau untuk menikahi putri dari Hasan?" Ahan diam seribu bahasa.


"Apa maksudmu aku harus menikahi Anna?"


Hamzah mengangguk mengiyakan. Ahan terlihat sangat bingung. Mana mungkin ia menikahi perempuan yang baru-baru ini di temuinya. Hamzah memberi waktu satu hari untuk Ahan memikirkannya. Jika memang ia tidak mau, maka Ahan harus membawa seorang pria yang benar-benar pantas untuk Anna.

__ADS_1


"Tidak ada yang mengenalmu sebaik diriku, nak. Kau cocok untuk Anna. Jika tidak, pria mana lagi yang harus aku percaya untuk menjalankan amanat sebesar ini?" ucap Hamzah. "Pikirkan lah dulu. Besok aku akan menemui Anna dan bicara tentang masalah ini. Anna gadis yang baik. Demi memenuhi permintaan ayahnya dia pasti akan menerima pernikahan ini."


__ADS_2