
Selesai makan malam, Hamzah meminta Ahan untuk membawa Hanna ke ruangannya. Di luar sudah ada orang yang Hamzah tugaskan untuk berjaga. Melihat kepergian Hanna ke ruangan Hamzah, membuat banyak pertanyaan bagi semua orang terutama Hanum. Ia tahu persis jika Hamzah sudah meminta seseorang untuk datang ke ruangannya, itu berarti akan ada hal penting yang mereka bicarakan.
"Untuk apa ayah memanggil Hanna ke ruangannya ibu?" tanya Ayana yang juga penasaran.
"Entahlah, aku sendiri belum mengetahuinya."
Di ruangan, Hamzah memberitahu akan rencana pernikahan Ahan bersama Anna. Mendengar hal itu, Hanna sangat terkejut. Hamzah mengatakan semua itu dengan alasan yang jelas. Ia mencoba untuk memenuhi permintaan terakhir Hasan sebelum meninggal dunia. Hanna merasa sangat bingung. Ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan semuanya pada Anna. Sementara itu, Kanya dan Anna baru saja pulang. Kanya terlihat sangat lega karena sudah mendapatkan semua bahan yang ia perlukan untuk ujiannya besok. Mendengar akan kepulangan Anna, Hamzah meminta Hanna untuk membujuk putrinya supaya mau menerima pernikahan ini.
"Ayo ikut denganku kak! Akan aku tunjukkan kamarku padamu." ucap Kanya.
"Dia harus segera pulang, nak." ucap Hamzah dari atas.
"Tapi kakek... aku baru saja akan menunjukkan kamarku padanya."
"Lain waktu saja, nak. Kasihan jika dia pulang terlalu malam. Besok Anna harus kembali kuliah."
"Baiklah, tapi kau harus janji akan datang lagi kemari, kak..." ujar Kanya.
"Baiklah, aku janji." ucap Anna tersenyum tipis.
Hamzah meminta sopir untuk mengantar Hanna dan putrinya pulang. Di dalam mobil Anna melihat ibunya yang terus melamun. Sikapnya berubah saat ia keluar dari ruangan Hamzah. Perkataan Hamzah terus terngiang di telinga Hanna. "Bagaimana aku harus mengatakan semuanya pada Anna?" ucap Hanna dalam hati. Tidak lama mobil pun sampai di depan rumah mereka.
"Kau kenapa ibu? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Anna.
"Tadi tuan Hamzah..."
"Apa yang dia katakan pada ibu?" tanya Anna penasaran. Hanna pun menceritakan semuanya. Saat mendengar akan hal itu Anna terdiam tidak percaya.
"Semua terserah padamu nak, ibu tidak akan memaksamu untuk menyetujui pernikahan ini. Akan tetapi... mungkin di atas sana ayahmu sangat menginginkan pernikahan ini. Maafkan ibu, sayang. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena semua ini hanya untuk memenuhi permintaan terakhir ayahmu pada tuan Hamzah."
"Aku bersedia untuk menerima pernikahan ini, ibu. Entah keluarga besar itu menerimaku atu tidak, demi ayah aku rela melakukan semua ini." ucap Anna dengan mata berkaca-kaca.
Setelah mendapat persetujuan dari Anna, Hanna langsung memberi kabar itu pada Hamzah. Tanpa berpikir panjang, Hamzah menentukan hari pernikahan mereka yang akan berlangsung besok. Mereka akan melangsungkan pernikahan di Netherlands, sekaligus untuk ikut menghadiri acara peresmian perusahaan baru milik salah satu teman kerjanya. Malam itu juga, Hanna meminta Anna untuk segera berkemas. Mereka akan pergi pagi-pagi sekali. Besok akan ada sopir yang akan mengantarnya ke bandara. Mendengar hari pernikahannya besok, Anna merasa siap tidak siap. Hanna tahu persis apa yang sedang dirasakan putrinya itu.
"Kau masih bisa membatalkan pernikahan ini, nak. Ibu tidak ingin kau terus bersedih karena keputusan yang kau ambil ini." ucap Hanna.
"Aku sudah siap untuk hari pernikahanku besok, ibu. Apapun resikonya aku siap untuk menghadapinya."
***
Malam itu, Hamzah menemui Ahan di kamarnya. Mereka sepakat untuk tidak memberitahu tentang pernikahan ini pada keluarganya. Saat mereka sedang membicarakan soal pernikahan, tiba-tiba saja Hanum datang. Ia langsung ikut dalam topik pembicaraan.
"Kenapa kau membicarakan masalah sepenting ini hanya pada kakekmu nak? Nenek dan juga semua keluarga berhak tau atas keputusanmu ini."
__ADS_1
"Keputusan apa yang nenek maksud?"
"Sudahlah, kau tidak perlu lagi menutupi semuanya dariku. Kau sedang membicarakan soal rencana pernikahanmu dengan Keisya bukan?"
Ahan menatap kakeknya bingung. Ia berpikir jika neneknya itu sudah salah paham.
"Nenek akan meminta Keisya dan orang tuanya untuk datang kemari. Kita bisa membicarakan semua ini secara kekeluargaan." ucap Hanum.
"Tapi nek..."
"Sudahlah, percayakan semuanya pada nenek."
"Kau bisa memanggilnya setelah kami kembali dari Netherlands." perkataan Hamzah membuat Hanum sedikit terkejut. Hamzah memberitahu Hanum jika besok ia dan Ahan akan pergi ke Netherlands untuk beberapa hari.
"Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?" Hanum merasa ada yang aneh dengan sikap Hamzah. Tidak biasanya ia ikut pergi bersama Ahan ke luar negeri apalagi jika ini ada hubungannya dengan bisnis. Hamzah selalu mempercayakan semuanya pada Ahan.
"Ada urusan apa kau pergi kesana nak?" tanya Hanum pada Ahan.
"Aku menjadi wakil perusahaan untuk menghadiri peresmian perusahaan baru milik tuan Leo, nenek."
"Lalu, kenapa kakekmu harus ikut juga?"
"Kakek adalah selaku pemilik perusahaan Anderson, sementara aku hanya di utus untuk menjadi wakilnya. Jadi kami akan pergi bersama." perkataan Ahan cukup masuk akal. Hanum akhirnya percaya dan mengizinkan Hamzah untuk pergi.
***
"Lebih cepat lagi, pak!" suruh Ahan pada sopirnya.
"Kenapa nak?" tanya Hamzah.
"Ada mobil yang terus mengikuti kita dari belakang kek," jawab Ahan.
Saat menengok ke belakang benar saja sebuah mobil berwarna silver terus mengintainya. Melihat mobil itu Hamzah merasa tidak asing lagi.
"Mobil siapa itu?" ucapnya.
"Mobil ibu, kek. Dia mencoba mencaritahu kemana kita pergi." jawab Ahan.
Hamzah tidak heran lagi terhadap menantunya itu. Ayana selalu ingin tahu apa yang di lakukan semua orang di rumah. Kelihatannya saja tidak peduli, tapi kenyataannya dia mata-mata yang harus diwaspadai semua orang. Ahan meminta Hamzah untuk menghubungi sopir yang membawa Hanna pergi. Tidak lama ponsel itu tersambung. Ahan memerintahkan sopir itu untuk menurunkan Hanna di sebuah tempat yang tidak jauh dari bandara. Mereka akan masuk lewat pintu utama, sementara Hanna akan masuk lewat pintu lain. Sesampainya di bandara, Ahan dan Hamzah langsung turun. Mereka berjalan masuk menuju pesawat. Saat akan mengikuti langkah mereka, tiba-tiba saja ponsel Ayana berdering. Dia mendapat telepon dari Hanum.
"Pagi-pagi sekali kau pergi kemana?" tanya Hanum.
"Aku hanya sedang pergi keluar sebentar, ibu."
__ADS_1
"Cepatlah kembali!"
"Baiklah, aku akan segera pulang."
Usaha Ayana untuk mengikuti Ahan ternyata gagal. Dia langsung bergegas pulang. Saat tahu ibunya sudah pulang, Ahan menjemput Hanna di suatu tempat. Dia membantu Hanna membawakan kopernya. Saat bertemu dengan Anna, Ahan merasa sangat canggung. Tatapan Anna padanya begitu datar dan dingin. Ia berjalan di depan Ahan.
"Aku tidak pernah membayangkan jika perempuan yang berada di hadapanku ini tidak lama lagi akan menjadi istriku." ucap Ahan dalam hati.
Pesawat menuju Netherlands pun akhirnya lepas landas. Saat di pesawat, seorang pelayan datang dengan membawakan sarapan.
"Makanlah sarapannya!" ucap Hamzah pada Hanna.
"Terima kasih tuan."
Sejak tadi Anna terlihat melamun. Ia tidak menyentuh sedikit pun dari makanannya. Hanna merasa terpukul dengan sikap putrinya yang seperti itu. Tatapan Anna lurus ke depan. Hanna melepas earphone yang terpasang di telinga Anna.
"Kau tidak makan sarapannya, nak?" tanya Hanna.
"Aku tidak lapar, ibu." ucap Anna sambil memasang kembali earphone nya.
Di satu sisi, saat semua sudah berada di meja makan, mereka tidak melihat Hamzah dan Ahan.
"Dimana ayah dan Ahan?" tanya Selim.
"Mereka tidak memberitahumu?" tanya Hamzah.
Selim menggeleng tidak tahu. Hanum memberitahu semua orang jika Hamzah dan Ahan pergi ke Netherlands untuk urusan bisnis. Mereka pergi untuk beberapa hari. Setelah kembali nanti, Hanum akan mengundang Keisya dan kedua orangtuanya untuk membicarakan tentang pernikahan mereka.
"Kakak akan menikah nek?" tanya Kanya.
"Tentu saja, lagi pula kakakmu itu dan Keisya sudah bertunangan sejak lama. Kenapa harus menunggu lagi?" ucap Hanum.
Pagi itu, Keisya datang ke kediaman Anderson hanya untuk menemui Ahan. Namun sayang keberangkatan Ahan keluar negeri membuat Kei sedikit kecewa karena Ahan sama sekali tidak memberitahunya. Lagi-lagi Ahan membuat hati perempuan yang mencintainya itu terluka. Hanum mencoba menghibur Kei. Dia memberitahu Kei jika setelah Ahan pulang nanti mereka akan langsung membicarakan mengenai pernikahannya. Mendengar hal itu, Kei merasa sangat senang. Tidak ada lagi yang Kei khawatirkan karena sebentar lagi Ahan akan menjadi milik dia seutuhnya. Saat akan berangkat ke kantor, Selim mengajak Keenan untuk pergi bersama sekaligus ada hal penting yang ingin ia bicarakan dengannya. Di dalam perjalanan Selim menunjukkan foto Ara yang berada di sebuah klub malam.
"Kau mendapatkan foto ini dari mana kak?" tanya Keenan.
"Eve yang membagikannya padaku. Foto itu tersebar di mana-mana. Hanya saja mereka belum tahu jika salah satu dari mereka adalah seorang Anderson."
Selim meminta Keenan untuk bicara dengan Ara. Jika Bella sampai tahu foto ini, maka akan dipastikan jika Ara akan mendapat hukuman dari ibunya.
"Kalian terlalu sibuk dengan urusan masing-masing, sampai Ara tidak nyaman berada di rumah. Tolong luangkan waktu untuknya. Dia membutuhkan perhatian dan juga waktu kalian." ucap Selim mengingatkan.
"Baiklah kak, aku akan bicara dengannya nanti. Terima kasih untuk sarannya." ujar Keenan.
__ADS_1