
BAB 1
"Tooolong,tooolong ."
Sebuah suara memecah keheningan pagi Itu jarum jam baru menunjukan pukul 04:00 pagi.
Semua warga kampung berhamburan Keluar rumah untuk mencari tahu asal Suara teriakan tersebut.
Seorang pria dengan terburu-buru Melewati warga lain dengan setengah Berlari menuju sebuah rumah asal suara Yang terdengar meminta tolong.
"Ada apa pak Guntur ?"tanya salah Seorang warga pada warga lain yang Kebetulan lewat didepan rumahnya.
"Saya tidak tahu bu Mega ini baru saya Mau lihat kalau ibu mau ayo Bareng-bareng kita menuju kesana ."tawar Pak guntur.
"Iya.iya terima kasih pak biar nanti saya Bareng sama anak saya saja kesana Nya."tolak bu Mega secara halus.
"Ya sudah kalau begitu saya duluan ya Bu."pamit pak Guntur.
"Ohiya silahkan pak ."sahut bu Mega lagi.
Warga pun terus berbondong-bondong Menuju sebuah rumah tipe 36 di ujung Jalan dengan setengah permanen rumah Itu di tinggali satu keluarga.
Terdiri dari pak Hendra .Karina istri pak Hendra.Galih anak mereka yang berusia 5 Tahun dan Syasa yang berusia 7 tahun.
Pak Hendra yang bekerja sebagai sopir Logistik memang jarang terlihat dirumah di Karena kan pekerjaan yang menuntut nya Untuk lebih banyk berada diluar.
Sedang kan Karina yang hanya ibu rumah Tangga lebih banyk tinggal dirumah Mengurus semua kebutuhan Anak-anaknya.
Disebelah rumah mereka berdiri juga ada Rumah orang tua Hendra rumah mereka Hanya disekat dengan tingginya tembok.
Disana warga sudah ramai berada Didepan rumah asal suara tersebut Mereka semua terus menerus merangsek Mendorong berebut masuk demi ingin Melihat apa yang terjadi.
Tak terkecuali pak Guntur dan bu Mega Juga warga yang lain banyak berkerumun Di depan rumah pak Hendra bahkan Sampai ada yang berbisik-bisik tentang Apa yang terjadi dengan keluarga Tersebut.
Ada juga yang menebak-nebak apa yang Sebenarnya terjadi.
“Permisi.permisi tolong beri saya jalan .”ujar pak Guntur yang ternyata seorang Ketua rt di kampung itu.
Memberi perintah pada orang-orang yang Berkerumun didepan pintu .didalam sudah Ada keluarga pak Hendra yang sedang Menangis.
Setelah sampai di dalam rumah pak Guntur dibuaat terkejut dengan Pemandangan yang tersaji di depan mata Kepala nya sendiri.
Di atas tempat tidur ada seorang anak Laki-laki berusia 5 tahun tergeletak Bersimbah darah dengan pisau masih Tertancap tepat d jantung nya dengan Darah yang sudah tergenang di sepray Putih di kamar itu.
__ADS_1
Sedangkan bu Mega yang menyusul pak Guntur ke dalam rumah pak hendra Bersama anaknya hampir menjerit melihat Pemandangan tersebut.
“Itu Galih ya allah kenapa bisa jadi seperti Ini .”tanya bu Mega.
Bu Mega berniat ingin menghampiri Jenazah Galih tapi di tahan oleh anak nya Sendiri karena takut merusak tempat Kejadian perkara.
“Saya tidak tahu bu Mega saya lihat Sudah seperti ini kejadian nya makanya Saya cepat-cepat teriak meminta tolong .Coba ibu tanya pada pembunuh itu Mungkin dia tau jawabannya .”ujar bu Rima ibu mertua Karina.
Jari tangan bu Rima segera menunjuk ke Arah karina yang sedang duduk meringkuk Di pojok lemari dengan tatapan tajam.
“Tidaaaaak.aku bukan pembunuh aku Hanya ingin anakku hidup bahagia di Surga dari pada mereka hidup di neraka Bersamaku disini .”teriak Karina histeris.
Dengan masih dalam keadaan ketakutan Dan badan yang gemetar Karina menatap Nanar orang-orang disekitarnya.
“Namu memang pembunuh Karina dasar Menantu tidak berguna .”ujar buRima tak Kalah sengit.
“Bukan.aku bukan pembunuh kalian lah Yang membunuh anak-anakku .”teriak Karina untuk kedua kali nya.
“Kamu memang pembunuh bukan kami Juga bukan orang lain yang membunuh Tapi kamu ibunya sendiri yang membunuh Anak-anakmu semua yang ada disini saksi Nya .”tukas bu Rima tetap tidak mau Kalah.
“Aku bukan pembunuh.aku bukan Pembunuh.aku bukan pembunuh.aku Hanya ingin anak-anakku bahagia dan Tidak tersiksa hidup nya bersamaku .”Ratap nya.
“Setelah mereka pergi akupun akan Menyusulnya .”ujar Karina sambil Mengeluarkan sebotol racun dari dalam Saku baju nya.
“Sudah.sudah bu Rima hentikan Pertengkaran ini sekarang yang harus kita Lakukan ialah menelpon pihak berwajib .”
Pak Guntur mencoba menenangkan Suasana di dalam rumah tersebut agar Kembali tenang sambil jari nya mengetik Sebuah nomor di ponsel nya untuk Menelpon polisi.
“Karina itu pak yang jadi sumber masalah Jadi ibu gak becus jadi menantu juga tidak Berguna belum lagi jadi istri yang boros Sampai semua gaji suaminya di habiskan Hanya untuk membeli susu dan pampers Untuk kedua anakny .”
“Padahal bisa aja kan anak-anak nya di Beri asi saja atau lebih rajin cuci celana Agar tak perlu repot -repot dan buang Uang untuk beli pampes .”tukas bu Rima Panjang lebar.
“Sudah bu sudah stop jangan diteruskan Jangan membuat gaduh suasana yang Akan menjadikan permasalahan ini Tambah rumit.”
Lagi pula apakah ibu tidak iba melihat Menantu ibu yang merasa sudah sangat Tertekan dengan semua ini jadi jangan lagi Di tambah dengan cacian ibu yang Menjadikan menantu ibu tambah nekat .”Ujar pak Guntur memberi nasehat pada Bu Rima.
Tapi tiba-tiba sejurus kemudian pak Guntur Seperti mengingat sesuatu.
“Oh iya di mana Syasa dari tadi saya tidak Melihatnya jangan-jangan .”ucap pak Guntur dengan kata yang sengaja ditahan Sambil matanya menengok kesana dan Kesini seperti mencari sesuatu.
__ADS_1
Fanjutkan dengan tergesa-gesa kaki nya berjalan menuju dapur kamar mandi juga halaman belakang bersama beberapa orang warga yang sengaja di ajak unruk membantu pencarian dan kali ini untuk kedua kali nya pak Guntur di buat terkejut.
karena mereka menemukan Syasa tergeletak di dapur di depan pintu belakang dengan kondisi lebih mengenaskan lagi di karenakan luka tusukan diperut sebelah kanan.
darah juga membanjiri tempat dimana Syasa tergeletak sepertinya Syasa meninggal karena kehabisan darah itu terlihat dari posisi jenasah dan juga volume darah yang menggenang.
pak Guntur dan warga yang lainnya tak berani mengangkat jenazah Syasa atau Galih mereka harus menunggu pihak kepolisian datang terlebih dulu.
baru kedua jenasah kakak beradik ini bisa dipindahkan.
tanpa di disangka ternyata bu Rima menyusul orang-orang yang mencari Syasa ke belakang dan dia pun kembali histeris melihat pemandangan yang tidak kalah mengerikan yang tersaji di depan matanya.
“huhuhuhuhu!!
“Syasa kenapa cucu nenek jadi begini .”isak nya.
“sabar bu sabar .”ujar salah satu warga berusaha menenangkan.
bu Rima bermaksud ingin memeluk cucunya tapi di halangi oleh warga lain sebelum pihak kepolisian datang.
“apakah ibu sudah menelpon pak Hendra?”tanya pak Guntur.
“sudah pak dan anak saya sudah dalam perjalanan pulang kesini dari surabaya .”sahut bu Rima.
“oke kalau begitu yang kita lakukan sekarang hanya tinggal menunggu sambil tetap mengaman kan tempat kejadian perkara .”
di ruang depan bu Mega dan para ibu lain mencoba menenangkan Karina yang masih dalam keadaan ketakutan dan tubuh yang masih gemetaran.
Karina terus menyeracau dengan menyebut kalau dia bukan seorang pembunuh tapi mereka yang membunuh eentah siapa yang di maksud Karina dengan sebutan mereka hanya Karina sendiri yang mengetahui nya.
“saya bukan pembunuh bu .”pekiknya.
hanya kata -kata itu yang terus keluar dari mulut Karina dan hanya di jawab anggukan kepala oleh ibu-ibu yang hadir.
“tenang bu Karina tenang kita disini percaya kok kalau bu Karina ini orang baik jadi tidak mungkin ibu membunuh .”rayu bu Mega.
di susul dengan pelukan hangat yang di berikan oleh dua orang ibu lagi yang bersama-sama ikut menenangkan Karina.
pak Guntur dan beberapa bapak-bapak beranjak menuju ke teras bermaksud untuk menunggu ambulance dan polisi datang.
karena perjalanan yang jauh dan medan yang dilalui begtu sulit hingga sampai 3 jam pun yang ditunggu belum juga datang.
tapi tiba-tiba ada sebuah mobil avansa hitam berhenti didepan rumah tersebut.
__ADS_1