
BAB 4
Jarum jam saat itu sudah menunjukan pukul 17;30 sore kebetulan mas Hendra sedang ada lembur di kantornya.
Aku pun sedang mempersiapkan makan malam untuk mas Hendra pulang nanti tapi tiba-tiba ibu mertuaku memanggil.
“Ada apa bu.”
Dengah tergopoh-gopoh aku mendatangi ibu mertua ku.
“Karina,ibu minta uang cepet ibu mau shoping.”ujarnya.
‘’Uang jatah bulanan ibu kan sudah aku kasih 3 hari yang lalu.masa sekarang sudah habis .”jawabku.
“Itu urusan ibu mau sudah habis atau belum tidak ada urusannya denganmu.
yang aku minta itu uang anakku bukan uangmu juga kan.”Hardik Rima pada menantunya.
“Tapi bu, Karina memperlihatkan dompet nya didepan ibu mertuanya.Inilah uang yang di berikan mas Hendra hanya tersisa segini bu .”
Uang pecahan lima puluh ribu tiga lembar dan pecahan dua puluh ribuan satu lembar.Kuperlihatkan pada ibu.
“Hanya ini bu,dan ini harus tahan sampai mas Hendra gajian dua hari lagi .”ujarku.
“Dasar menantu tidak berguna, berikan uang itu semua nya sini !” Ibu langsung menyambar dompet yang dipegang olehku.
Lalu menggeledah semua isi nya.Satu persatu sela-sela dompet di buka nya.
Tapi ibu tak menemukan lebih dari uang tersebut.
“Mana uang tabungan yang untuk biaya kamu melahirkan.Cepat sini berikan pada ibu juga!”hardiknya.
"Tidak ada bu,kami belum mempunyai tabungan untuk persalinan nanti."ucapku berbohong.
Aku punya uang tabungan untuk persalinan yang aku dapat dari uang belanja yang tersisa.Tapi tanpa sepengetahuan mas Hendra dan ibu.
******"
“Tolong bu,kembalikan dompet itu.Tolong.” pinta ku.
“Tidak akan !!”Tukas ibu dengan sinis.
“Bu,ayo cepat katanya mau pergi ke mall .”Panggil kak Lastri kakak perempuannya mas Hendra.
"Iya tunggu sebentar Lasrtri,ibu sedang minta uang pada menantu yang tidak berguna ini,"
Ibu mengucapkan kata-kata itu tanpa ada perasaan bersalah atau pun memikirkan perasaanku.
Aku mencoba meminta kembali dompet tersebut dengan cara baik-baik.Tapi ibu tetap saja tidak mau memberikannya.
__ADS_1
Hingga Aku pun kehilangan kesabaran. Dan terjadi lah saling tarik menarik dompet tersebut.Tapi tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku.
“Ada apa ini Ribut-ribut?” Tanya Hendra yang tiba-tiba muncul dari arah pintu depan.
“Mas Hendra kamu sudah pulang ?”Tanyaku sambil aku bergegas menghampirinya.
“Iya, aku tidak jadi lembur .”Sahut Mas Hendra.
“Ada apa mah,kenapa papa lihat tadi mama seperti sedang berebut sesuatu dengan ibu?”
Hendra menanyakan kembali tentang apa yang dilihatnya tadi padaku.
“Ibu mas ingin meminta uang belanja terakhir kita untuk shopping katanya.Padahal uang kita tinggal sdikit. Kita kan juga harus berhemat dan menabung.Untuk biaya melahirkan .” ujarku.
“Bohong!,jangan percaya dengan ucapan nya.Ibu tidak pernah melakukan itu .”sanggah nya.
Hendra sedikit mengernyitkan dahi nya,ekor mata seakan bertanya siapakah yang harus dipercaya.Untuk sesaat mas Hendra terpaku.
“Mas Hendra,mas kenapa!”panggilku sambil menggoyangkan bahunya.
“Iya ada apa?”
Hendra malah balik bertanya.
“Hendra,bilang sama istrimu itu jangan pelit-pelit sama ibu.Uang bulanan yang kamu berikan buat ibu setiap bulannya.
Tidak pernah sedikitpun dikasihkan ke ibu oleh Karina.” ucap Rima dengan raut wajah kesedihan.
“Bohong mas,ibu berbohong setiap bulan jatah ibu selau tidak pernah terlambat aku berikan.” ujarku.
“Sudah,sudah.Hentikan kebohonganmu itu mah.Karena aku lebih mempercayai ibu.Aku yakin ibu tak akan pernah berbohong padaku .”bentaknya.
“Tapi mas!”
“Sudah,tidak membela diri lagi sudah jelas-jelas kamu salah masih saja mau membela diri.”tukas Hendra.
Dihadapan ibunya yang tersenyum puas melihat pertengkaran kami berdua.
Aku menatap wajah mas Hendra tanpa berkedip.karena aku tak menyangka dengan jawaban yang diutarakan Hendra barusan yang lebih mempercayai ucapan ibu nya dibandingkan denganku istrinya.
“Mulai besok biarlah uang belanja dan uang gajiku semua nya ku serahkan pada ibu saja.
Biar lah ibu saja yang mengatur semuanya.”ucap Hendra dengan tegas.
“Tapi mas!”
“Tidak usah berbicara apapun lagi.Jika mama perlu sesuatu tinggal bilang saja sama ibu.”
“Betul itu apa yang di katakan Hendra,Jika kamu memerlukan sesuatu bicara saja sama ibu ya.Ibu janji akan berbuat adil kok dan terbuka tentang keuangan yang dititipkan Hendra kepada ibu.”sahut Rima.
__ADS_1
Menyela Pembicaraan kami.
Ucapan mas Hendra seakan-akan akulah yang bersalah dan juga akulah yang boros dengan keuangan kami.
Dia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.Mas Hendra terlalu percaya sama ibunya.
Bahkan ucapan dan pengakuan ibunya di telan mentah-mentah tanpa berusaha mencari tahu yang sebenarnya.
Setelah keuangan keluarga kami di kendalikan oleh ibu Rima mertuaku.Aku sangat tertekan jangan kan untuk periksa hamil.Untuk makan pun aku diberikan sisa makanan yang tidak habis.
Tapi kalau untuk mas Hendra ibunya selalu memberinya yang baru.Dan ibunya akan beralasan dan bilang pada mas Hendra kalau aku tidak menyukai makanan yang dia masak.
Tak terasa kehamilanku sudah memasuki 32 minggu.Yang artinya sebentar lagi aku akan melahirkan.Tapi sedikitpun aku belum mempunyai selembarpun baju bayi apalagi peralatan bayi lainnya.
Pernah aku mencoba membicarakan pada ibu tapi jawaban yang ku terima sungguh membuatku sakit hati.
Sore itu aku mnencoba datang kerumah ibu mertuaku bu Rima yang rumahnya hanya berjarak 2 rumah dari rumahku..
“Bu,apa aku bisa minta uang untuk membeli peralatan bayi karena sebentar lagi aku akan melahirkan?”tanyaku ppada ibu yang saat itu sedang duduk didepan tivi.
“Tidak ada uang buat hal-hal yang tidak berguna seperti itu.”jawabnya.
“Kenapa ibu bilang tidak berguna?sedangkan ibu tahu ini sangat penting untuk cucu ibu!”
“Bagi bu itu tidak penting.Lagian kan bayi kalian bisa tuh pake baju-baju bayi bekas kak Lastri masih pada bagus-bagus kok.”tukas nya.
Rima berbicara sambil tetap membuang muka nya ke arah televisi.Dia sama sekali tak menghargai lawan bicara nya.
“Tapi bu, tidak bisa seperti itu.Ini anak pertama kami dan semua harus baru.”Aku terus berusaha membujuk agar ibu mertua ku mau memberikan uang gaji mas Hendra untuk keperluan persalinan nanti.
“Aku mohon bu,Tolong!”
Sekali lagi aku memohon dengan melipat kan kedua tanganku didepan ibu.
“Benar yang ibu bilang bayi kita masih bisa kok pakai peralatan bekas anak mba Lastri.”sahut mas Hendra .Entah sudah berapa lama dia ada disitu.
Aku spontan menoleh keasal suara.Ternyta mas Hendra sudah ada di belakang ku.Dan mungkin saja dia sudah mendengar semua pembicaraan aku dan ibu nya dari tadi.
“Tapi mas,ini anak pertama kita.Jadi tidak mungkin memakai pakaian bekas ,”ujarku.
“Apa beda nya baju bekas dan baju baru toh sama saja.Sudah lah tidak usah buang-buang uang ayo lebih baik kita pulang.Aku lapar aku mau makan .”tukas mas Hendra.
Dengan terpaksa aku mengikuti mas Hendra untuk pulang.Kebetulan tadi siang ibu mertuaku memang sudah mengantarkan makanan baru kerumahku untuk anaknya.
Sesampainya dirumah aku hanya bisa diam seribu bahasa aku masih benar-banar sakit hati mendengar ucapan mas Hendra tadi dirumah ibunya.
Aku berlari kekamar menumpahkan semua Kesedihan dan kekesalan ku disana.Mas Hendra sudah benar-benar berubah dia lebih mendengarkan perkataan ibunya dari pada aku istrinya.
“Karinaaa!!”
__ADS_1
Sebuah suara yang sangat keras tiba-tiba terdengar memanggilku dari depan rumah.
Entah siapa yang memanggil tapi aku seperti mengenalnya.