
Bab 5
Aku sebenarnya malas untuk keluar dari kamar.Karena aku masih sakit hati dengan perkataan mas Hendra tadi siang.
Tapi dengan terpaksa aku harus keluar juga.
Suara teriakan memanggil namaku terus terdengar.Karena penasaran aku mencoba keluar.Kulangkahkan kaki ku dengan pelan-pelan.
Aku buka pintu kamar dan aku berjalan ke arah pintu depan.Aku sempat melihat mas Hendra masih duduk di kursi depan televisi menonton film kesukaan nya.
Setelah sampai pintu aku mencoba mengintip dulu lewat jendela untuk memastikan siapa yang sedari tadi berteriak memanggil-manggil namaku.
“Karinaaaaaa!!.Cepat keluar,kemana sih orang nya?Dari tadi dipanggil gak keluar ,”
Ternyta yang dari tadi teriak memanggil ku kak Lastri dan kak puput kakak iparku.
“Ada apa mereka mencariku malam-malam begini ,”pikirku.
Ku buka pintu lalu aku berjalan kedepan menghampiri kedua kakak iparku.
“Ada apa kak? memanggil ku,” tanyaku.
“Dari mana sih dari tadi dipanggil lama banget keluarnya?”sahut kak Lastri.
“Aku tadi sedang di kamar kak.Jadi tidak mendengar panggilan kakak .”
“Memang ada apakah kakak berdua memanggil ku?” aku bertanya balik pada mereka alasan mereka memanggil ku.
“Ibu.bapak.kak Lastri juga keluarga yang lain ingin pergi makan malam diluar,termasuk Hendra juga akan kami ajak.Jadi kakak mau minta tolong kamu jagain bayi kak Lastri karena gak mungkin seorang bayi di ajak keluar malam-malam.” ujar kak Puput panjang lebar.
“Lalu kalau aku jaga bayi nya kak Lastri bagaimana aku bisa ikut ?”tanyaku lagi.
“Yang mau ngajak kamu siapa? kakak gak bilang kan mau ajak kamu kakak cuma bilang mau ajak kak Hendra saja .” tukas kak Lastri.
“Hendaraaaaa!!.Cepat ganti baju keluarga yang lain sudah menunggu .” kak Puput memanggil mas Hendra yang masih asyik dengan gawainya.
“Iyaaaa,kak.Tunggu sebentar ya .” sahut mas Hendra.
Tak sampai 15 menit mas Hendra sudah keluar dari kamar dalam keadaan sudah sangat rapi.Dan bersiap untuk pergi.
“Karina,ayo cepat kunci pintu rumahmu dan ayo ikut kakak kerumah jagain Dafa.
Karena kami semua sudah terlambat .” tutur kak Lastri.
Yang langsung menarik tanganku.Dan aku berusaha melepaskan tanganku,untuk meminta penjelasan dahulu.
__ADS_1
“Jadi maksud kakak cuma aku yang gak ikut kalian makan malam gitu?” tanyaku memimta penjelasan.
“Iyalah, karena kamu kan disini orang lain.Kebetulan saja kamu menikah dengan adik ku jadi bisa tinggal disini .” sahut kak Puput dengan entengnya.
“Apa!!,kalian bilang aku orang lain dirumah ini?”sela ku.
“Emang iya kan, kamu kira setelah menikah dengan Hendra otomatis
kamu akan dianggp keluarga gitu .” tukas kak Puput.
Aku tidak menyangka kalau aku tidak dianggap keluarga oleh mereka. padahal sudah jelas-jelas aku ini istri sahnya mas Hendra. Yang berarti aku ini adik ipar mereka. Tapi kenapa ucapan mereka seperti itu padaku.
Dadaku rasa nya bergemuruh dan sesak. mendengar ucapan kakak-kakak iparku yang terasa menusuk hati,
“Eh,kenapa malah bengong udah ayo cepat kerumahku.” Ajak kak Lastri.
Kak Lastri terus menarik tanganku sangat keras. Kak Puput juga mas Hendra mengiringi kami dari belakang.
“Mas, mas. mas Hendra kenapa mas diam saja dari tadi? tolong aku mas,” panggilku memohon pada suamiku sendiri.
Aku berharap Mas Hendra terketuk hatinya untuk menolongku dari kedua kakak nya.
Tapi sayang harapanku sia-sia. Mas Hendra sama sekali tak bergeming.Dia tetap diam tanpa bersuara ataupun bertindak.
Bermaksud agar mas Hendra sadar akan tindakan kedua kakaknya kepadaku.
“Sudahlah mah, ikuti saja kemauan kak Lastri toh yang kamu jaga itu keponakanmu juga kan .” ujar mas Hendra.
“Tapi mas,Aku bukan baby sister yang harus menjaga bayi. Aku iini istrimu apakah kamu lupa itu mas ?” sahutku setegah memohon agar mas Hendra sadar dengan keberadaanku dirumah itu.
bukan jawaban atau pembelaan yang aku dapatkan dari mas Hendra .Tapi mas Hendra malah berlalu pergi dengan alasan ingin memanaskan mobil.
Aku benar-benar sangat kecewa. Aku tidak menyangka kalau mas Hendra bisa berbuat seperti itu padaku.
Tak sampai 10 menit kami sampai juga di rumah kak Lastri. Lalu suami kak Lastri datang menggendong Dafa yang baru berusia 6 bulan.Dan langsung menyerahkan nya pada Lastri istrinya.
“Lastri,Puput. Ayo cepat kita sudah terlambat,tiba-tiba ibu memanggil dari arah luar.”
“Karina,jaga baik-baik Dafa ya jangan sampai dia kenapa-kenapa.” perintah nya padaku.
“Iya kak.” sahutku tanpa sadar bulir-bulir bening meluncur tanpa bisa kuu bendung lagi.
Aku hanya bisa menatap dari kejauhan kepergian mereka. Dan mas Hendra yang menyetir mobil.
Tinggalah aku sendiri bersama seorang bayi dan dengan perut ku yang kian membuncit. karena sebentar lagi aku kan melahirkan anak pertamaku.
__ADS_1
**********
Sebuah mobil memasuki halaman sebuah restoran. Lalu sebuah keluarga terlihat satu persatu turun dari mobil tersebut.
Mereka beriringan memasuki restoran yang sangat mewah dengan arsitektur yang di desain gaya kekinian.
Mereka mulai mencari tempat duduk dan segera memesan beberapa menu.Seperti ikan gurame terbang. Cumi saos padang, juga cah kangkung. Dan masih banyak lagi menu lain yang mereka pesan. Juga beberapa minuman.
Mereka semua makan dengan lahapnya
tanpa memikirkan aku dirumah kak Lastri yang kelaparan.
Aku mencoba menghubungi mas Hendra. Tapi ponselnya seperti tidak di aktifkan.
Sambil menggendong Dafa aku terus menghubungi nya. Tapi tetap tak bisa di hubungi ponselnya.
Aku mencoba berjalan keruang makan rumah kak Lastri berharap ada sisa makanan di meja makannya. Tapi nasib baik tidak berpihak padaku karena di meja makan tidak ada makanan sedikitpun tersisa untuk aku makan. Meja makan itu kosong.
Sambil mengelus perut buncitku .
Aku mencoba untuk berbicara pada bayi yang masih dalam perutku.
“Sabar ya nak,kita tunggu ayahmu pulang. mudah-mudahan ayahmu membawa makanan untuk kita makan.”
Pukul 10 malam mas Hendra pulang bersama kelurga besarnya. Aku lihat sebuah kotak sterefoam berada ditangan kak Lastri. Dan meletakan nya di atas meja makan tepatv dihadapanku.
“Mereka ternyata tidak melupakan aku. Buktinya mereka membawakan makanan di kotak makanan itu.” pikirku.
“Mas, makanan ini khusus buatku ya?” aku mencoba bertanya pada mas Hendra ketika dia lewat didepanku.
“Iya betul, itu memang khusus buat kamu.karena kami tahu pasti kamu belum makan dirumah. jadi kami bwain pulang saja makanan sisa -sisa kami makan tadi dari pada dibuang kan mubazir .” sela kak Puput.
Deg……
Rasa bagai disamber petir telingaku mendengarnya. Aku yang sudah jelas-jelas menanntu dirumah itu. dan apa lagi aku juga sedang mengandung calon cucu dan calon keponakan mereka.
Tapi dengan teganya mereka memberikan makanan sisa. Yang seharusnya di buang tapi ini malah memberikan nya padaku.
“Makan lah Karina.nanti kamuu sakit kalau tidak makan .Kami sengaja membungkusan nya untuk kamu masa kamu gak mau menghargai sih .’” ujar kak Lastri.
Aku memang lapar tapi masa iya aku haarus memberikan makanan sisa untuk anak di dal;am kandunganku.
“pah,apa kamu tega kasih makanan sisa untuk aku dan untuk anak kita yang masih dalam kandunganku.” panggilku dengan sangat penuh permohonan pada suamiku sendiri.
Dan tanpa di duga jawaban mas Hendra sungguh membuat rasa sakit hati yang lebih dalam lagi.
__ADS_1