
Bab 7
Bayi perempuan ku bertambah hari bertambah sehat gemuk,dan menggemaskan dia ku beri nama Syasa.
Dia tmbuh menjadi gadis yang sangat cantik sekrang usia nya sudah hampir 2 tahun.
Dan aku juga sedang mengandung lagi anak keduaku bersama mas Hendra.
Karena Syasa masih kecil maka dia pun juga masih mengkomsumsi susu formula.
Namun gara-gara susu iitu lah ibu mertuaku selalu sinis padaku. sering sekali ibu mengataiku tak becus mengurus anak.
belum lagi bila anak sakit pasti yang disalahin juga aku dan susu formula itu.
Tentunya dia berbicara seperti itu. Selalu di depanku dan tak berani di depan mas Hendra ank nya.
“ Kariiiiiiiiin!!. Apa-apaan ini tiap harri yang kamu beli selalu susu dan diapers, anak mu kan sudah besar juga, sudah beri air teh manis saja.” Pekik ibu. disaat datang sore itu ke rumahku.
“Tapi bu, Syasa ini belum 2 tahun bu jadi dia masih perlu susu untuk asupannya.” Sahutku.
“ Anak-anak ibu dulu tak pernah tuh minum susu kaya gitu tapi sehat-sehat aja.”
“ Kamu juga sih jadi seorang ibu sama sekali gak becus.dari bayi anak itu kasih asi, bukan malah di kasih susu fomula, liatkan jadi kebiasaan sampai besar.” Ujarnya panjang lebar
Ibu duduk diteras sambil terus mengoceh dan mengatakan akau bukan istri yang baik. Yang hanya bisa menghabiskan uang suami aja.
kebetulan di depan ada para ibu-ibu yang sedang berkumpul. Sambil menyuapi dan mengajk anak mereka main.
Ada ibu Eka yang memang ratunya gosip
mulai melirik-lirik aku yang masih sibuk mayusui Syasa.
“Ibu-ibu liat dah doyan bnget ya orang anak masih kecil tapi udah hamil lagi.
Pdahal kerja juga gak kan kerjaan dia cuma habis-habisin duit suami nya aja.” Ujar ibu Eka dengan sedikit bibir di tersungging ke atas.
“Iya bener itu setiap gajian ibu mertua nya tak pernah di kasih jatah.,uang dari suaminya selalu di habiskan nya sendiri untuk keperluan dia dan anak nya.” Ujar ibu-ibu yang lain menimpali.
“Kita lihat aja nanti. Azab menzalimmertua pasti ada aja.” Tukas bu Eka lagi.
__ADS_1
Aku bergetar mendengar penuturan pra tetangga, yang mengatakan gaji mas Hendra ku habiskan sendiri, padahal semua gaji mas Hendra ibu yang pegang dan aku hanya di beri 1 juta rupiah untuk satu bulan, itu semua sudah termasuk biaya yang lain-lain nya.
Sedangakan sisa yang 4 juta rupiah ibu yang pegang, karena mas Hendra menyerah kan semua gaji nya ke ibu.
“Maaf bu Eka. saya mau tanya dari mana ibu tau kalau saya tidak memberi jatah ke ibu mertua saya?” Tanya ku. Pada bu eka yang masih berdiri didepan.
“Kenapa mau bilang kalau itu bohong?”
“Tidak mungkin lah ibu mertuamu bohong toh dia juga ceritanya ke kami sambil nangis-nangis.” Tutur u Eka. Penuh emosi.
Aku tertegun sesaat untuk mencerna pa yang di ucapkan bu Eka, netra ku melirik ke arah ibu mertuaku yang sedang bermain bersama Syasa di dalam’
“ Apakah mungkin ibu berbicara seperti itu pad para tetangga?. Dan mengapa ibu bisa tega melakukan kebohongan itu padaku.” Aku hanya bisa berkata dalam hati.
Tapi aku penasaran dengan ucapan bu Eka akau ingiin menemukan kebenaran nya. Jadi aku berencana ingin bertanya nanti kalau ibu sedang santai.
“Ibu apakah saya boleh bertanya sesuatu?” Ujarku sambil pelan-pelan ku hampiri ibu mertua ku.
“Mau tanya apa?, cepat ibu gak bnyak waktu untuk ngeladenin menantu macam kamu,” Tukas bu Rima.
“Saya cuma mau tanya, apakah benar ibu bilang ke orang-orang, kalau saya menghamburkan uang mas Hendra sampai jatah ibu tidak saya berikan?” Tanyaku panjang lebar.
“Siapa yang bilang itu sama kamu?” Sahutnya.
“ibu Eka dan tetangga sini bu.” ucapku.
Agak takut-takut sebenarnya aku ingin bertanya karena aku yakin ibu tiak akan mengaku seperti yanmg sudah-sudah. Tapi karemna aku penasaran terpaksa aku beranikan bertanya.’
“Bohong itu, Ibu Eka mengada-ngada saja itu.Ibu tidak pernah bilang apa-apa sama tetangga disisni.”
Aku bingung saat kitu siapa yang harus akau percaya ibu mertuaku kah? atau bu Eka tetangga depan rumah ?
Aku benar-benar bingung dibuat nya. Dengan omngan ibu seperti itu lah yang membuat anak-anak dari mertuaku pada masa bodo.”
Aku lebih baik pulang saja percuma aku minta penjelasan, aku tidak akan mendapatkan kejelasan apapun.
"Dari mana saja kamu mah.?
__ADS_1
Baru saja aku membuka pintu sebuah suara membuatku terperanjat kaget.
Tapi setelah ku lihat baik-baik ternyata orang yang mengagetkan ku. Adalah mas Hendra suamiku sendiri.
Dia pulang tidak memberi kabar dulu padaku.
" Oh iya mas, kamu kok pulang tak memberi kabar dulu padaku.? Tanyaku.
"Aku kebetulan ada yang mau ku ambil makanya aku pulang sebentar." jawab mas Hendra.
Mas Hendra berjalan menghampiri ku dan duduk disampingku.
"Kamu tadi belum jawab pertanyaannya." ujarnya lagi.
"Hmmm,anu mas. Aku abis dari rumah ibu,ada yang mau aku tanyakan." Kataku agak terbata-bata. Karena aku takut mas Hendra tidak suka kalau aku kerumah ibunya.
"Tanya apa? Pasti kamu bertanya yang membuat ibuku kesal iyakan!" Bentak suamiku.
"Tidak mas, aku cuma bertanya soal, aku berhenti bicara sejenak untuk mengatur ritme jantung ku yang merasa takut..
Ibu bicara sama tetangga kalau aku tidak pernah memberi ibu uang dari gajimu mas."
"Padahal kan uang gaji ibu yang pegang dan aku lah yang di jatah oleh ibu kenapa ibu tega sekali bicara seperti itu." Ujarku panjang lebar.
"Ah tidak mungkin ibu bicara seperti itu, aku percaya sangat pada ibu. Mungkin itu bisa-bisa tetangga saja yang ingin mengadu domba antara kamu mah. Dan ibu." Tukas mas Hendra.
Aku hanya bisa mengangguk pelan. Pikirku percuma aku jawab lagi toh dia tak akan percaya dan akan lebih percaya ke ibunya..
**********
"Benar-benar kecewa saya bu dokter, suami yang,saya anggap akan membela saya yang jelas-jelas istri sah nya yang mendampingi nya. Dari nol tapi harapan saya hanya harapan dok."
Dokter Melvita tetap setia mendengarkan apa yang Karin cerita kan. Setiap detail kisah yang Karin ucapkan akan di catat di bagian hal-hal yang penting.
Untuk menjadi point waktu menentukan diagnosis nanti nya.
Yang tentunya di butuh kan penunjang-penunjang gejala yang menjadikan seseorang mengambil jalan membunuh.
Apalagi yang di bunuhnya adalah orang terdekat yang sangat-sangat dia sayangi pasti membutuhkan kekuatan yang tinggi.
__ADS_1
Dan dari sini dokter akan mencari sebab terjadinya.
"Ayo teruskan lagi bu Karin, cerita kan curhat kan apa yang bu Karin ingin ceritakan. Saya siap jadi pendengar yang baik." Ujar dokter Melvita.