AKU BUKAN SEORANG PEMBUNUH

AKU BUKAN SEORANG PEMBUNUH
penderitaan Karina


__ADS_3

Bab 13


Mereka sama-sama saling membuang pandangannya. Sesekali AKBP Samuel mencuri pandang pada dokter cantik tersebut.


" Melvita!! maaf Apakah saya boleh hanya memanggil bu dokter dengan sebutan nama saja?" Tanya AKBP Samuel dengan terbata-bata.


" Silakan, lagi pula kita kan seumuran jadi lebih enak memanggil dengan sebutan nama saja," jawab nya.


"Terima kasih dok, eh terima kasih Vita."


Keduanya benar-benar sangat canggung, terkadang mereka beradu pandang, terkadang AKBP  Samuel juga mencoba mencuri pandang.


Sedangkan yang sedang dipandang, tetap cuek dan tak memperhatikan.


"Mau pesan apa pak,Bu?" tanya salah seorang pelayan yang menghampiri meja kedua sejoli yang sedang masa pendekatan.


AKBP Samuel terkejut lalu memcoba memperbaiki posisi duduknya, begitupun dokter Melvita.


"Dok,mau pesan apa?" tanya AKBP Samuel.


"Terserah pak Samuel saja," sahut dokter cantik tersebut.


Mereka pun memesan dua ice lemon tea pada pelayan.


Setelah menerima pesanan pelayan itu pun segera pergi kedapur, untuk menyerahkan pesanan itu ke bagian chef.


Sambil menunggu pesanan mereka pun masih melanjutkan obrolan yang tadi sempat terputus.


"Jadi bagaimana kondisi bu Karina saat ini  dok? Apakah sudah bisa kita lanjutkan ke penyelidikan?" tanya akbp Samuel.


"Sementara ini belum pak, karena kondisi nya masih belum stabil, dan kejiwaannya benar-benar masih sulit ditebak. Insyallah sekitar minggu-minggu ini pemeriksaan saya selesai dan saya akan beritahu hasil nya pada pak Samuel,"


" Baik lah dok, saya akan tunggu hasilnya," sahutnya.


Pembicaraan mereka terhenti karena pelayan restoran sudah datang untuk membawakan pesanan.


************


"Kriiiiiiiiiiing!"


Disaat mereka sedang asyik mengobrol tiba-tiba Hanphone dokter Melvita berbunyi.


Ditatap layar yang menyala tertulis nama seorang anggota dari kepolisian dimana tempat klien nya ditahan.


"Halo, dok, bisa minta tolong datang karena bu Karina entah kenapa tiba-tiba mengamuk dan berbicara tak jelas," ujar suara diseberang telepon.


"Kenapa bisa seperti itu? apa ada yang membuatnya seperti itu?" tanya dokter Melvita.

__ADS_1


"Saya tidak tahu dok, tapi saya menerima laporan dari polisi yang menjaga didepan, katanya sekitar 10menit yang lalu ada wanita setengah baya yang mengunjunginya."


"Penjaga tidak tahu apa yang dilakukan oleh wanita tersebut, tapi tiba-tiba setelah wanita itu pergi, bu Karina jadi seperti ini," jawabnya panjang lebar.


"Ok, saya segera kesana, tolong dijaga dulu ya bu karina nya," pesan dokter Melvita kemudian segera menutup teleponnya dan memasukannya kedalam tas yang tergeletak diatas meja.


Lalu segera beranjak dari tempat tersebut dengan langkah  terburu-buru, diikuti oleh akbp Samuel dengan tatapan kebingungan.


Akbp Samuel memang belum sempat diberitahu oleh dokter Melvita apa yang sedang terjadi, sehingga membuat panik dirinya.


"Apa yang terjadi dok?" Tanya akbp Samuel disela-sela langkah mereka yang seperti berpacu dengan waktu.


"Nanti lihat saja sendiri," sahut dokter Melvita.


Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai juga ditujuan, yaitu kamar penjara Karina.


Terlihat jelas karina yang sedang melempar barang-barang yang ada disana. Dan terkadang dia menangis sangat memyedihkan, sambil berteriak-teriak seperti seseorang yang kehilangan sesuatu, 


"Tidaaaak! Aku tidak gila! Aku juga bukan pembawa sial," teriak nya.


"Galih, Syasya, kamu dimana sayang maafin mamah sayang, karena mamah tidak bisa memjadi ibu yang baik buat kalian seperti yang nenek kalian dan orang-orang bilang itu benar sayang," ratap Karina dalam kesedihannya air matanya pun keluar dari bola matanya yang sangat indah.


Air mata dokter Melvita dan orang-sekitar yang menyaksikan juga ikut mengalir deras dipipi mereka masing-masing.


Mereka sepertinya tak tega melihat penderitaan seorang wanita yang notabenenya seorang ibu sedang mencari-cari kedua buah hatinya. Padahal kenyataannya kedua buah hati  itu sudah meninggal ditangannya sendiri.


"Tolong buka pintunya!" Perintah dokter Melvita pada petugas yang sedang berjaga.


Dan langsung menghampiri Karina yang sedang duduk meringkuk disudut ruangan, dengan tangisan yang sangat menyayat hati.


"Bu Karina kenapa nangis? apa yang ibu rasakan, coba sini cerita sama saya, katanya kita ini sahabat, jadi sebagai sahabat saya siap jadi pendengar yang baik loh," bujuk dokter Melvita.


Tangan halus nya sesekali  mengusap rambut indah Karina. Sedangkan  tangan kirinya merogoh tas sandang yang dibawanya.


Untuk mencari selembar tisu, yang akan diberikan kepada Karina untuk mengeringkan air matanya.


"Bu dokter! Saya takut dok, saya takut!"


Tiba-tiba tanpa disangka-sangka Karina langsung memeluk dokter Melvita sangat erat sekali.


Badannya gemetaran, keringatnya keluar  sebesar biji jagung mengalir deras diwajah polosnya.


"Sabar bu,sabar tenang, tenang jangan takut disini ada banyak orang. Ada saya, ada akbp Samuel Dan juga banyak petugas jaga. Jadi ibu jangan takut ya," ujar dokter Melvita seraya membalas pelukannya kliennya tak kalah eratnya.


Bujukan dokter Melvita sebagai seorang sahabat  akhirnya berhasil. Pelan-pelan Karina mulai melepaskan pelukannya, dan juga berhenti menangis.


Karina yang sudah agak tenang pun, beranjak dari sudut ruangan menuju tempat tidurnya, dengan berjalan gontai dan sorot matanya yang kosong, dia tetap berjalan menuju tempat pembaringannya Selama ini.

__ADS_1


"Tadi ibu tua itu datang kesini, dan bilang kalau saya menantu kurang ajar, menantu durhaka, dan menantu pembawa sial," ujar Karina seperti berbicara sendiri.


"Siapa ibu tua itu, bu?" Tanya dokter Melvita sambil terus mengikuti langkah kliennya.


Karina tidak menjawab. Matanya menatap ke segala arah, sambil  terus berjalan kearah tempat tidurnya.


Sejurus kemudian dia menghenyak kan tubuhnya dipingir ranjang.


Dokter Melvita pun ikut duduk juga disamping nya. Akbp samuel disamping kanan mereka.


"Coba bu Karin ceritakan pelan-pelan ada apa  sebenarnya? Kenapa ibu bisa sehisteris itu setelah didatangi ibu tua tersebut," dokter Melvita masih mencoba membujuk  sambil mengusap punggung tangan Karina dengan lembut.


Pelan-pelan Karina membuka mulut nya, dan mulai bercerita.


******** 


Hari itu aku dan syasa dan Galih dengan  terpaksa ikut perintah suamiku Hendra, untuk tinggal dirumah orang tuanya.


Walaupun sangat berat langkah ku untuk menginjakan kakiku dirumah itu, Karena aku tahu akan seperti apa  hidupku disana, tapi aku tak berdaya melawan perintah mas Hendra.


"Mari masuk anggap aja rumah sendiri kan ini rumah nenek kalian juga," ujar bu Rima berbicara pada cucunya syasa dan Galih.


"Karina jangan sungkan-sungkan ya disini, kalau butuh bantuan kamu bilang aja ya sama ibu," lanjut bu Rima.


Aku hanya mengangguk pelan, aku tau kalau sikap mertua ku seperti itu hanyalah didepan anaknya Sana.


"Tuh  ibu sangat menyayangi kalian kan, jadi jangan kuatir dan mamah  juga  jangan selalu suuzon sama ibu ku." 


Mas Hendra benar-benar sangat terkesan dengan sikap ibunya padaku juga anak-anakku.


Aku mencoba  mendekat ke  telinga kiri mas Hendra. Kebetulan ibu mertuaku sedang mengantarkan Syasa dan menggendong  Galih untuk masuk kekamar.


"Tapi pah sikap ibu mu tidak seperti ini bila kamu tidak ada," ucapku setengah berbisik.


"Cukup, sudah cukup mah! aku tidak mau lagi mendengar kamu menjelekan ibu ku terus menerus," bentak nya.


Disertai tangannya yang melempar tas berisi pakaian Syasa yang sedari tadi dipegangnya.


Dan langsung pergi meninggalkanku  seorang diri diruang tamu tersebut, menuju kamar nya.


Beberapa menit kemudian mas Hendra keluar lagi, sambil membawa tas ransel yang berisi beberapa baju yang ada dilemari, kebetulan waktu dia pulang kemaren memang tas itu ditinggalkan dirumah ibunya.


"Papa, mau kemana?" tanya ku.


"Aku mau berangkat kerja lagi lah mah, emang dikiranya mau kemana sih," jawab mas Hendra.


"Tapi pah kenapa secepat ini? kan Syasa masih belum sehat, dan dia masih membutuhkan papah nya."

__ADS_1


Aku menghampiri mas Hendra, dengan tujuan agar suaminnya  tidak jadi  pergi, sekalian aku ingin membisikkan sesuatu agar mas Hendra berpikir ulang untuk meninggalkan anak dan istrinya,  tapi sebelum aku sampai.


 


__ADS_2