AKU BUKAN SEORANG PEMBUNUH

AKU BUKAN SEORANG PEMBUNUH
SHASA MASUK RUMAH SAKIT


__ADS_3

Bab 11


Kening Syasa  sangat panas,, aku mulai mengompres kepalanya dengan air perasan jeruk nifis, dan untuk tubuhnya aku mengusapkan campuran bawang merah dan minyak goreng.


Obat penurun panas juga sudah di berikan, tapi itu semua tak bisa menurunkan panasnya.


“Uhuk, uhuk,uhuk.”


Aku menoleh ke arah Galih yang terbatuk-batuk. Galih memang sudah hampir tiga hari an tak henti-hentinya batuk, segala cara sudah ku lakukan untuk meredakan batuk nya, tapi tak juga sembuh.


Hanya kedokter yang belum aku lakukan, karena aku ttak mempunyai uang sama sekali, sedangkan mas Hendra juga belum pulang-pulang.


Uang belanja yang di titipkan mas Hendra lewat ibu mertuaku juga sudah habis, aku benar-benar bingung menghadapi kedua ankku yang sakit nya barengan. Aku menjaga anak-anakku semalaman tanpa di temani siapapun.


*********


Hari menjelang pagi aku memutuskan 


ingin pergi kerumah sakit membawa kedua anakku, dengan meminjam uang dulu pada ibu mertuaku.


Ku gendong Galih dan Syasa ku masukan ke dalam stroler, lalu ku dorong menuju rumah ibu.


“Tok, tok tok, asyalamualaikum bu.”


Pintu pun di buka dan kebetulan ibu yang membukanya.


“Mau apa kamu datang kesini?” tanyanya.


“Ibu Karin mau pinjam uang untuk bawa berobat Galih dan Syasa ke  dokter,” jawabku.


Ibu tercengang dan berjalan ke arah kedua anakku, lalu memegang kening keduanya.


“Ah yang seperti ini kasih aja bodrexin, gak perlu ke dokter buang-buang duit aja,” ujarnya.


Tanpa merasa kasian ibu buru-buru ingin menutup pntu rumah nya lagi, tapi aku berhasil menahannya.


“Tunggu bu, tunggu!!, Karin sudah mencoba mengobati secara alami dan pakai obat warung, tapi sakit mereka tak kunjung sembuh,” ujarku.


Ibu urung menuutup pintu dan berlahan menghampiriku, aku yang mengira ibu akan menolong merasa senang sekali.

__ADS_1


O


Tapi ternyata dugaanku salah besar, bukan menolong tapi ibu malah mengacungkan   jari telunjuk nya ke arah wajahku.


“Berarti kamu ibu yang tidak becus mengurus anak, sampai anak sakit bebarengan gini,” tukasnya.


Ku tepis jari telunjuk ibu, dan aku bergeser mundur dari hadapannya, dan mencoba  bicara baik-baik.


“Karin sudah berusaha bu, tapi memang terpaksa harus tetap kerumah sakit, ibu masih ada kan sisa uang yang di berikan mas Hendra?,


“Kalau masih ada ,Karin pinjam dulu, nanti kalau mas Hendra pulang ibu bisa menagihnya,” ujarku memohon.


Sambil tetap menggendong Galih, aku terus memohon tapi sayang nya permohonanku sia- sia.


"Pergi kamu dari sini, bawa anak-anakmu!!.Bikin sial aja pagi- pagi datang mau pinjam uang," usir ibu mertuaku.


Sejurus kemudian ibu mendorong tubuhku keluar pintu. Hatiku sakit sekali dengan berurai air mata aku pun pergi dari rumah ibu mertuaku.


Galih masih di gendonganku. Dan Syasa yang masih di atas sepeda roda tiga nya, aku terus mendorong dengan berjalan kaki aku terus berjalan menyusuri jalanan yang mulai terik.


Pikiranku sangat gamang saat itu, aku bingung ingin membawa anak-anakku ke puskesmas pun aku tak punya uang.


"Kariiiiiiin!!,. Hei nak Karin."


"Ah,,,ini pasti hanya halusinasi ku saja, karena terlalu lelah," pikirku.


"Nak Karin, mau kemana?" tanya bu Mega.


Aku menengok ke sebelah kanan, ternyata benar itu bu Mega dari sekian banyk rumah tetangga yang ku lewati, hanya bu Mega yang memanggilku, selebihnya 


Hanya mencibir dengan sinis padaku.


"Oh bu Mega, ada apa bu?" tanyaku. 


"Kamu itu yang kenapa?" bu Mega bertanya balik padaku.


"Tidak apa-apa nak Karin, klu mau jujur sama ibu atau mau cerita silahkan, ibu siap mendengarkan, Kalau kamu butuh petolongan dan ibu bisa bantu," ujar bu Mega.


Karin ingin menutupi masalahnya tapi Dia ternyata tak mampu menutupinya.Seketika air matanya Turun dengan derasnya, 

__ADS_1


"Tolong saya bu, tolong anak saya, Karin mengatupkan kedua telapak tangannya didepan bu Mega, APA yang bisa ibu bantu nak Karin?"


"Anak-anak saya sakit bu dari semalam, tapi saya tidak punya uang untuk bawa mereka ke rumah sakit," ucapku memohon pertolongan.


Wajah bu Mega agak terkejut mendengar penuturanku. Dengan cepat dia segera meraih syasa kedalam gendongannya.


"Kenapa kamu tidak datang kerumah ibu dari semalam? Ibu pernah bilang kalau perlu apa-apa datang kerumah ibu, ayo cepat buruan kita kerumah sakit."


Bu Mega mempercepat langkahnya, dengan menggendong Syasa, Karin pun juga mengikutinya dari belakang.


Setengah jam kemudian mereka sampai di klinik. Bu Mega segera meletakkan Sasa di atas meja pemeriksaan dokter pun datang untuk memeriksa dan ternyata Sasha terkena penyakit tipes Dan Galih hanya batuk biasa.


" Maaf Bu terpaksa Sasha harus dirawat sementara di sini silakan urus administrasinya," ujar dokter tersebut.


Karin pun gelisah dan kegelisahan itu dirasakan dan dilihat oleh Bu Mega.


" sudah nak Karin kamu nggak usah khawatir tenang ya nanti biaya administrasinya biar ibu yang urus," kata bu Mega sambil mengelus lembut rambutku.


" Terima kasih banyak Bu entah apa yang terjadi pada anak-anak saya kalau tidak bertemu dengan ibu," sahutku dengan memeluk bu Mega.


Mereka pun berpelukan hangat layaknya ibu dan anak, sejurus kemudian Bu Mega membawa Galih ke dokter lain untuk memeriksakan batuknya sedangkan aku masuk ke dalam kamar di mana Sasha dirawat.


Setelah semuanya selesai Bu Mega berpamitan untuk pulang,karena Galih tidak dirawat dirumah sakit dan hanya berobat Jalan, bu Mega menawarkan diri untuk merawat Galih selama aku menjaga Sasha. Aku sebenarnya tidak enak hati karena takut merepotkan tapi karena Bu Mega memaksa akhirnya aku pun mengiyakan.


Pagi menjelang kabar tentang Sasha dirawat di rumah sakit sampai juga di telinga ibu mertuaku dan ipar iparku, Mereka beramai-ramai datang ke tempat Sasha dirawat.


Aku yang mengira mereka datang untuk memberi support atau bantuan materi untuk aku selama di rumah sakit ini tapi ternyata dugaanku salah besar.


" dasar menantu bisanya bikin malu,  anak cuma sakit tipes aja pakai ngerepotin Tetangga, mau taruh di mana muka ibu nih dengan kelakuanmu yang sudah membuat ibu malu di kampung ini disangkanya Ibu tidak perduli sama cucu sendiri," tukas ibu mertuaku dengan tatapan sinis.


Wajah-wajah iparku juga tak kalah sinisnya. Aku hanya diam mendengarkan celotehan mereka karena menurutku percuma aku menjawab Tak akan ada benarnya di mata mereka.


" Halo Hendra kamu Cepat pulang sini anak kamu dirawat di rumah sakit gara-gara istrimu yang memalukan ini."


Tiba-tiba Ibu menelpon mas Hendra, dengan kata-kata yang sangat menyakitkan hatiku padahal aku hanya ingin terbaik untuk anak-anakku, tapi mereka menganggap itu hal yang sangat memalukan.


"APA!! Anakku dirawat di rumah sakit, kok bisa,, waktu aku tinggal mereka masih sehat kok kenapa sekarang tiba-tiba sakit?" Tanya mas Hendra pada ibunya.


Aku mendengar percakapan mereka di telepon karena Ibu me-load speaker handphonenya di depanku.

__ADS_1


" Ibu juga sudah tahu, tiba-tiba pagi ini sudah ada di rumah sakit Sasha, pakai minta bantuan tetangga lagi,Ibu kan malu Hendra Nanti disangkanya Tetangga ibu tidak sayang sama Anak dan istrimu." 


Ibu mulai bersandiwara di depan mas Hendra dan sialnya mas Hendra pun menelan mentah-mentah ucapan ibunya.


__ADS_2