
Bab 10
“Kamu jangan banyak menuntut mah! papa tidak suka di atur-atur,” pekik nya.
“Mama tidak mengatur, mama cuma ingin ada yang membantu mama mengurus kedua anak kita saja,” ujarku.
“Praaang!”
Mas Hendra membanting gelas yang sedang di pegangnya, dan berjalan menghampiri. Dengan jari telunjuk mengarah ke wajahku.
“Ingat aku tidak suka dia atur-atur dan jangan sekali-kali mengaturku,” tukas nya.
Aku terdiam menahan air mataku yang hampir jatuh, aku tidak ingin menangis di depan mas Hendra lalu aku membawa kedua anakku masuk kedalam kamar.
Di kamar itu aku tumpah kan segala tangisku, dadaku yang terasa sesak. Menahan semua perlakuan suamiku dan ibunya.
Pagi-pagi sekali mas Hendra sudah bersiap untuk berangakat ke tempat kerja nya, dan dia akan disana selama satu bulan.
“Mah, duit belanjamu selama sebulan sudah ku tititpkan pada ibu ya, mama ambil aja kesna, aku pergi dulu,” pamit mas Hendra..
"Kenapa tidak papa berikan langsung ke mama?" tanyaku.
"Tidak usah nanti mama repot mengatur nya.Jadi lebih baik papa titip di ibu jadi mama tinggal minta jatah aja klu mau masak.
Setelah sebelum nya dia mencium kening ku dan juga kedua pipi anak-anaknya.
Kutatap kepergian mas Hendra dengan kepedihan hati.
Setelah kepergian mas Hendra aku bergegas pergi kerumah ibu untuk meminta uang, karena kebetulan susu syasa abis.
“Ibu, Karin minta uang belanja yang di titipkan mas Hendra pada ibu,” pintaku.
ibu segera masuk kekamar 10 menit kemudian ibu keluar lagi, dengan menggenggam uang ratusan ribu ditangannya.
Lalu meletakan nya di meja.
“Ini jangan boros-boros ya!! dan itu untuk semua jangan minta-minta lagi,” ujar ibu mertuaku.
Aku mengambilnya, lalu aku menghitungnya, aku tercengang kala menghitung jumlah uang yang ibu berikan.Hanya berjumlah 3 juta rupiah dan itu untuk satu bulan.
“bu, kenapa hanya segini,,segini hanya untuk kami makan saja , lalu untuk bayar listrik,bayar air dan lain-lain bagaimana?
__ADS_1
belum lagi buat susu Galih dan Syasa belum pampesnya,” tanyaku pada ibu.
“Dasar istri tidak tau bersyukur, sudah diberi segitu masih saja kurang, jadi istri harus pintar-pintar dong mengatur keuangan yang di berikan suamimu,” seloroh ibu.
“Tapi bu, ini benar-benar tidak cukup, dan saya harus mencari kamana kekurangan nya,” tanyaku lagi.
Aku benar-benar bingung dan tak habis pikir dengan apa yang di lakukan ibu mertuaku,
“Sasya sudah umur 2 tahun tidak usah pake pampes lagi, sama jangan kasih susu, kasih aja air gula saja, Sedangkan Galih kamu kasih asi saja gampang kan,” ujarnya.
“Tapi bu.”
“Sudah tidak usah cerewet, sudah bagus aku kasih! sudah pulang sana ibu mau pergi shoping bareng mbak lastri,” perintahnya.
Sambil mendorongku keluar dari pintu rumahnya dan buru-buru menutupnya.
Aku hanya bisa mengelus dada ku.
Aku pulang dengan Jalan yang gontai ,aku benar-benar bingung dengan uang itu. Sampai dirumahpun aku terduduk mematung, sampai-sampai aku tak tahu kalau Syasa terjatuh di teras saat mengejar se ekor kucing.
Syasa yang baru belajar berjalan memang masih sering sekali terjatuh, dan naasnya kejadian itu terlihat oleh ibu saat ibu melintas di depan rumahku menuju mall bersama mba Lastri.
“Aduuuuuuhh!!!, gimana sih menjaga anak sampai terjatuh begitu,” Teriaknya.
Ibu berlari menghampiri Syasa yang masih ku pegang. Lalu buru-buru mengusap tubuh Syas.
“ Iiiih dasar ibu gak bener, egois gak becus rawat anak, kalau gak bisa rawat anak taro aja di panti asuhan sana,” teriak salah satu ibu-ibu.
“Iya betul itu, taro aja sana di panti asuhan anak-anaknya,” seloroh tetangga yang satunya.
Sambil mulut mereka menunjukan exfresi yang seperti menghina dengan tersungut-sungut.
Aku yang mendengarnya hnya biisa menangis tanpa bisa membela diri karena aku masih menghormati mereka sebagaii orang yang lebih tua dariku.
Belum lagi mereka adalah teman-teman ibu nmertuaku. Aku menghargai ibu mertuaku, makanya aku lebih memilih diam.
Padfahal hatiku sangat sesak sekali mendengarnya.
“ Benar apa yang di bilang teman-teman ibu, kalau kamu tidak becus rawat cucu-cucu ibu taro aja mereka di panti agar mereka bahagaia disana, dari pada hidup dengan seorang ibu seperti kamu.” ucap ibu mertuaku.
Aku menarik nafas panjang, dan menghembuskan nya dengan kasar, lalu aku bergegas masuk ke dalam rumah setelah sebelumnya aku izin pada mereka kalau aku mau mandi.
Sampai di dalam dan disaat pintu rumah sudah tertutup, aku mencoba mengintip lewat jendela.
__ADS_1
Apa yan ku dapati sungguh di luar dugaan, ibu mertuaku menjelek-jelek kan aku dan bergosip dengan para teangga kalau aku menantu yang tidak baik, dan tidak pintar juga tidak becus menjaga anak dan suaminya.
Ibu juga bilang ke tetangga, kalau aku menguasai semua uang Hendra anaknya, dan dia hanya di beri jatah sesuka hatiku saja.
Ingin rasanya aku membantah semua fitnah tersebut, tapi aku tidak punya keberanian aku memilih untuk tetap diam, aku takut yang ada malah aku yang di permalukan oleh ibu di depan para tetangga teman ibu itu.
Bulir bulir bening kembali menetes dipipiku, ku biiarkan kedua ankku masih di depan ruang tamu, dan aku berlari msuk kedalam kamar, aku menangis sejadi-jadinya di tempat pembaringan.
Susana rumah ramai dengan riuh tangisan kedua anakku, tapi sama sekali tak ku hiraukan. Aku tetap larut dalam tangiisan ku di atas bantal.
“Tok, tok tok, Karin, Karin itu kenapa anakmu? kok dua-dua nya nangis kamu tidak apa-apa kan?”
Aku menhentikan tangisku, dan cepat-cepat menuju ruang tamu karena aku mendengar suara ketukan pintu beberapa kali, ditambah suara riuh anak-anakku dan aku baru menyadarinya.
“Tok,tok, tok , kariiiiiiiiin kamu tidak apa-apa kan,” suara itu kembali terdengar.
Aku mencoba mengintip dari balik jendela dulu dan ternyata aku melihat bu Mega yang datang kerumahku.
“ceklek.”
Aku membukakan pintu rumahku untuk bu Mega, lalu dia pun segera menyongsongku dengan memberondong beberapa pertanyaan.
“Karin kamu tidak apa-apa kan? anak-anakmu juga sehat-sehat saja kan?
dan kenapa itu mata mu seperti habis menangis?” Tanya bu Mega, tanpa memberiiku kesempatan menjawab.
“Saya tidak apa-apa bu, anak-anak juga sehat- sehat kok, dan mata saya hanya kelilipan debu sedikit aja kok,” jawabku pada bu Mega.
“Alhamdulilah, kalau kalian baik-baik saja,
kalau nak Karin inggin ada yang di ceritakan sini cerita sama ibu, gak apa-apa ibu siap kok jadi pendengar yang baik,” Ujar bu Mega.
“Iya bu teriam kasih atas perhatiannya, tapi beneran saya baik-baik saja kok,” sahutku.
Aku sengaja menyembunyikan semua masalah ku karena aku tidak mau orang tahu tentang masalah yang terjadi di rumah tangga kami, aku sulit untuk mempercayai seseorang untuk menyimpan rahasia.
Aku takut rahasia ku bocor kemana-mana akibat salah orang untuk ku curhati, dan ujung-ujungnya menjadi bomerangg untuk diriku sendiri.
Setelah sebelumnya syasa di gendongg bu Mega dan diem anteng, lalu bu Mega pun berpamitan padaku untuk kembali pulang.
Aku mengantarnya sampai depan teras rumah.
“Nak Karin kalau ada apa-apa, atau kamu memerlukan sesuatu jangan sungkan-sungkan minta tolong ibu ya,
__ADS_1
ibu akan siap menolong nak Karin, kapan pun,” ujar bu Meha.
Aku sampai terharu mendengarnya tak terasa air mata ku kembali jatuh.