AKU BUKAN SEORANG PEMBUNUH

AKU BUKAN SEORANG PEMBUNUH
TEGA NYA KAMU MAS HENDRA


__ADS_3

Bab 10


“Kamu jangan banyak menuntut mah! papa tidak suka di atur-atur,” pekik nya.


“Mama tidak mengatur, mama cuma ingin ada yang membantu mama mengurus kedua anak kita saja,” ujarku.


“Praaang!” 


Mas Hendra membanting gelas yang sedang di pegangnya, dan berjalan menghampiri. Dengan jari telunjuk mengarah ke  wajahku.


“Ingat  aku tidak suka dia atur-atur dan jangan sekali-kali mengaturku,” tukas nya.


Aku terdiam menahan air mataku yang hampir jatuh, aku tidak ingin menangis di depan mas Hendra lalu aku membawa kedua anakku masuk kedalam kamar.


Di kamar itu aku tumpah kan segala tangisku, dadaku  yang terasa sesak. Menahan semua perlakuan suamiku dan ibunya.


 Pagi-pagi sekali mas Hendra sudah bersiap untuk berangakat ke tempat kerja nya, dan dia akan disana selama satu bulan.


“Mah, duit belanjamu selama sebulan sudah ku tititpkan pada  ibu ya, mama ambil aja kesna, aku pergi dulu,” pamit mas Hendra..


"Kenapa tidak papa berikan langsung ke mama?" tanyaku.


 


"Tidak usah nanti mama repot mengatur nya.Jadi lebih baik papa titip di ibu jadi mama tinggal minta jatah  aja klu mau masak.


Setelah sebelum nya dia mencium kening ku dan juga kedua pipi anak-anaknya.


Kutatap kepergian mas Hendra dengan kepedihan hati.


Setelah kepergian  mas  Hendra  aku bergegas  pergi kerumah ibu untuk meminta uang,  karena kebetulan susu  syasa abis.


“Ibu, Karin minta uang  belanja yang di titipkan mas  Hendra  pada  ibu,” pintaku.


ibu segera masuk kekamar 10  menit  kemudian ibu keluar lagi, dengan menggenggam  uang ratusan ribu   ditangannya.


Lalu meletakan nya  di meja.


“Ini  jangan boros-boros ya!! dan  itu untuk  semua jangan  minta-minta  lagi,” ujar ibu mertuaku.


Aku mengambilnya, lalu aku menghitungnya,  aku tercengang kala  menghitung jumlah  uang yang  ibu berikan.Hanya berjumlah 3  juta rupiah  dan itu  untuk satu bulan.


“bu, kenapa  hanya segini,,segini hanya untuk  kami makan saja , lalu untuk bayar listrik,bayar air dan  lain-lain bagaimana?

__ADS_1


belum lagi buat susu Galih dan  Syasa belum pampesnya,” tanyaku  pada ibu.


“Dasar istri tidak tau bersyukur, sudah diberi segitu  masih saja kurang, jadi istri harus pintar-pintar dong  mengatur  keuangan yang  di berikan  suamimu,” seloroh ibu.


“Tapi bu, ini benar-benar tidak cukup, dan saya harus mencari kamana kekurangan nya,” tanyaku lagi.


Aku benar-benar bingung  dan tak habis  pikir dengan apa yang di lakukan ibu mertuaku, 


“Sasya sudah umur 2 tahun tidak usah pake pampes lagi, sama jangan kasih  susu, kasih aja  air gula saja, Sedangkan Galih kamu kasih asi saja gampang kan,” ujarnya.


“Tapi bu.”


“Sudah tidak usah cerewet, sudah bagus aku kasih! sudah pulang  sana ibu mau pergi shoping bareng mbak lastri,” perintahnya.


Sambil mendorongku keluar dari pintu rumahnya dan buru-buru menutupnya.


Aku hanya  bisa  mengelus dada ku.


Aku pulang dengan Jalan yang  gontai ,aku benar-benar bingung  dengan uang  itu. Sampai  dirumahpun aku terduduk mematung, sampai-sampai aku  tak tahu kalau Syasa terjatuh  di teras saat  mengejar se ekor kucing.


Syasa yang baru belajar berjalan memang  masih sering sekali terjatuh, dan naasnya kejadian itu  terlihat oleh ibu saat ibu melintas di depan rumahku menuju  mall bersama mba Lastri.


“Aduuuuuuhh!!!, gimana sih menjaga anak sampai  terjatuh begitu,” Teriaknya.


Ibu berlari menghampiri Syasa yang masih ku pegang. Lalu buru-buru mengusap tubuh  Syas.


“ Iiiih dasar ibu gak bener, egois gak becus rawat anak, kalau gak bisa rawat anak taro aja di panti asuhan sana,” teriak salah satu ibu-ibu.


“Iya betul itu, taro aja sana di panti asuhan  anak-anaknya,” seloroh tetangga   yang satunya.


Sambil mulut mereka menunjukan exfresi yang seperti menghina dengan tersungut-sungut.


Aku yang mendengarnya hnya biisa menangis tanpa bisa membela diri  karena  aku masih menghormati mereka  sebagaii orang yang lebih tua dariku.


Belum lagi mereka  adalah teman-teman ibu nmertuaku. Aku menghargai ibu mertuaku, makanya aku lebih memilih diam.


Padfahal hatiku sangat sesak sekali mendengarnya.


“ Benar  apa yang di bilang teman-teman ibu, kalau  kamu tidak becus rawat  cucu-cucu ibu taro aja mereka di panti agar mereka  bahagaia disana, dari pada hidup dengan  seorang ibu seperti kamu.” ucap  ibu mertuaku.


Aku menarik nafas panjang, dan menghembuskan nya dengan kasar, lalu aku bergegas masuk ke dalam rumah setelah sebelumnya aku izin pada  mereka  kalau aku mau mandi.


Sampai di  dalam dan disaat pintu rumah sudah tertutup, aku mencoba mengintip lewat jendela.

__ADS_1


Apa yan ku dapati sungguh di luar  dugaan, ibu mertuaku menjelek-jelek kan aku dan bergosip dengan para teangga kalau aku menantu yang tidak baik, dan tidak  pintar juga  tidak becus menjaga anak dan suaminya.


Ibu juga bilang ke  tetangga,  kalau aku menguasai semua uang  Hendra anaknya, dan dia hanya di beri jatah sesuka hatiku saja.


Ingin rasanya aku membantah semua fitnah tersebut, tapi aku tidak punya keberanian aku memilih untuk tetap diam, aku takut yang ada malah aku yang  di permalukan  oleh ibu di depan para tetangga teman ibu itu.


Bulir bulir bening kembali menetes dipipiku, ku biiarkan kedua ankku masih di depan ruang tamu, dan aku berlari msuk kedalam kamar, aku menangis sejadi-jadinya di tempat pembaringan.


Susana rumah ramai dengan riuh tangisan kedua anakku, tapi  sama sekali tak ku hiraukan. Aku tetap larut dalam tangiisan ku di  atas bantal.


“Tok, tok tok, Karin, Karin itu kenapa anakmu? kok dua-dua nya nangis kamu tidak apa-apa  kan?” 


Aku  menhentikan tangisku, dan cepat-cepat menuju ruang tamu karena aku mendengar  suara ketukan pintu beberapa kali, ditambah  suara  riuh anak-anakku dan aku baru menyadarinya.


“Tok,tok, tok , kariiiiiiiiin kamu tidak apa-apa kan,” suara itu kembali  terdengar.


Aku mencoba mengintip dari balik jendela dulu  dan ternyata aku melihat bu Mega yang datang kerumahku.


“ceklek.”


Aku membukakan pintu rumahku untuk bu Mega, lalu dia pun segera menyongsongku dengan memberondong  beberapa  pertanyaan.


“Karin kamu tidak apa-apa kan? anak-anakmu juga  sehat-sehat saja kan?


dan kenapa itu mata mu seperti habis menangis?” Tanya  bu  Mega, tanpa memberiiku kesempatan menjawab.


“Saya  tidak apa-apa bu, anak-anak juga  sehat- sehat kok, dan mata saya  hanya  kelilipan debu sedikit aja kok,”  jawabku pada bu Mega.


“Alhamdulilah, kalau kalian baik-baik saja,


kalau  nak  Karin inggin ada  yang di ceritakan sini cerita sama ibu, gak apa-apa ibu siap kok jadi pendengar yang baik,” Ujar bu Mega.


“Iya bu teriam kasih atas perhatiannya, tapi beneran saya baik-baik saja kok,” sahutku.


Aku sengaja menyembunyikan semua masalah ku karena  aku tidak mau orang tahu tentang masalah yang terjadi di rumah tangga kami, aku sulit untuk mempercayai seseorang untuk menyimpan rahasia.


Aku takut rahasia ku bocor kemana-mana akibat salah  orang untuk ku curhati, dan ujung-ujungnya menjadi bomerangg untuk diriku sendiri.


Setelah sebelumnya syasa di gendongg bu Mega dan diem anteng, lalu bu Mega pun berpamitan padaku untuk kembali pulang.


Aku mengantarnya sampai depan teras rumah. 


“Nak Karin kalau ada apa-apa, atau kamu memerlukan sesuatu jangan sungkan-sungkan minta tolong ibu ya,

__ADS_1


ibu akan siap menolong nak Karin, kapan pun,” ujar bu Meha.


Aku sampai terharu mendengarnya tak terasa air mata ku kembali jatuh.


__ADS_2