
Bab 8
Pagi-pagi tiba-tiba aku merasakan sakit di perut ku. Darah bercampur lendir sudah membasahi baju yang aku pakai.
Aku segera beranjak ke kamar mandi. Karena aku berpikir mungkin hanya ingin buang air kecil saja.
Tapi ternyata dugaan ku salah, perutku semakin lama semakin sangat menyakitkan. Tnagn kananku tak hentinya meremas perut yang sakit sambil berteriak
memanggil mas Hendra, ysng kebetulan sedang ada dirumah.
“Pah,pah papa, tolong, tolong, bangun aku sepertinya akan melahirkan.” Dengan berpegangan tangan dari kamar mandi aku menuju kamar.
Tapi teriakanku tak di dengar atau pun di respon mas Hendra. Dia tetap asyik tidur
memeluk guling.
Setelah berusaha keras, akhirnya sampai juga aku di dalam kamar.
“Pah, papa!!!, bangun tolong aku antar aku ke bidan perutku sakit.” Teriakku.
Dengan tangan kiri berusaha terus menguncang-guncang tubuh suamiku.
“Apa sih mah, jangan ganggu aku tidur aku capek dan aku nanti malam harus berangkat lagi keluar kota.” Jawab nya,
Dengan mata tetap terpejam.
“Tapi mas, aku gimana, masa aku harus jalan sendiri ke bidan?” Ujarku.
Kali ini mas Hendra tidak lagi menjawab dan tetap melanjutkan tidurnya.
Padahal aku sudah benar-benar tidak tahan lagi. Lalu aku berjalan dengan tetep berpegangan tangan di barang-barang yang aku lewati. Menuju pintu depan.
Bermaksud untuk ke rumah ibu mertuaku.
walau dalam keadaan begitu lemah karena menahan rasa sakit.
akhirnya aku sampai juga.
“Tok, tok, tok, asyalamualaikum bu.”
“ Ceklek, ibu membuka pintu. Ada apa datang kesini pagi-pagi?” Tanya ibu.
“Saya minta tolong bu, antar saya ke bidan karena perut saya sakit sekali.” jawabku.
Bukannya menolong ibu malah bersiap-siap untuk menutup pintu kembali.
“Ah, kirain ada apaan buang-buang waktu aku aja,” Ujarnya sambil membanting pintu tersebut.
Aku menangis sejadi-jadinya di jalanan depan rumah ibu. disatu sisi aku tak tahan lagi dengan rasa sakit di perutku. Disatu sisi aku kesal dengan sikap mas Hendra dan ibu nya yang begitu tega memperlakukanku.
Jika saja aku punya orang tua pasti aku akan meminta bantuan mereka. tapi sayang nasibku sangat buruk dari bayi aku di besarkan di panti asuhan.
Aku tidak tahu dimana orang tua ku.
__ADS_1
Yang aku tahu hanya ibu-ibu pengurus di panti asuhan tersebut.
Oooooooo“Karin,kamu kenapa nangis?”
Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan ku.
Aku menoleh ke atas dan ternyata itu suara ibu Mega.
“Tolong Saya bu, saya gak kuat lagi. Tolong antar saya kebidan.” mohonku pada bu Mega.
“YA ampun kemana suami dan ibu mertuamu?” Tanya bu Mega.
sambil kedua tangan nya membantuku untuk berdiri.
“Mereka da bu, cuma mereka tidak mau di ganggu dan tidak mau menolong.” sahutku.
“Bohong!, Karin bohong jangan percaya omngan Menantu saya bu Mega.”
Sebuah suara mengagetkan aku dan bu Mega. Kami menoleh bersamaan, dan ku dapati ibu mertuaku sudah berdiri tegak di teras rumahnya sambil memegang sapu.
“Eh bu Rima, buat kaget aja,” ujar bu Mega.
Ibu berjalan menghampiri kami berdua. Sapu di letakan di depan pintu rumah.
Semakin lama jarak antara aku dan ibu mertua ku semakin dekat.
“Ayo nak masuk kedalam dulu, ibu mau ganti baju, habis ganti baju baru nanti ibu anter ke bidan,” ucap ibu sambil memapahku berjalan menuju rumahnya.
“Alhamdulilah, sudah ada yang menolong kamu Rin, kalau gitu ibu pulang dulu ya.”
“Braak, ouwwwww!!, sakit bu.”
Punggung dan pantat ku sakit sekali.
Karena sampai di dalam rumah ibu mendorong ku ke lantai sangat kuat sekali.
Spontan ku pegangi perut ku, yang sudah mulai mengeluarkan darah segar dari sela-sela selangkanganku.
“Bu, sakit bu, tolong aku bu.”
“Tidak sudi aku menolongmu, seenaknya kamu mau mempermalukan keluargaku di depan orangh luar,” tukasnya.
Aku sudah tidak tahan lagi menahan rasa sakit yang teramat sangat, hingga ocehan ibu mertuaku tak dapat ku dengar lagi.
Aku tak sadar kan diri di rumah itu entah apa yang terjadi, aku sudah tidak ingat lagi.
Saat ku membuka mata, aku dudah berada dirumah sakit dengan infus tertancap di tanganku,
“Kemana bayi ku, kemana bayiku, suster tolong kemana bayiku.”
Aku sangat panik saat tangan ku meraba bagian tengah ternyta perutku sudah dalam keadaan mengempis.
“Tidak usah takut anakmu sehat sudah lahir dengan selamat,” ujar ibu mertuaku.
__ADS_1
Entah kapan datangnya tiba-tiba dia sudah masuk kedalam kamar rawatku dengan menggendong serta bayiku, juga di iringi mas Hendra, mbak Puput dan mba Lastri.
“Kamu ini gimna sih? kenapa kamu bisa jatuh, apa kamu gak inget kalau kamu lagi mengandung,” teriak mas Hendra.
Aku kaget plus heran, kenapa bisa mas Hendra berbicara seperti itu.
Apkakah ibu tidak bercerita apa yang terjadi,
“Ah, tak mungkin sekali ibu meneceritakan apa yang terjadi dan apa yang dia lakukan pada anaknya,” pikirku.
“Tapi pah, ini tidak seperti apa yang papa pikirkan,” sahutku.
“Tidak usah banyak alasan atau berkeliit, ibu sudah menceritakan semuanya padaku,” pekiknya.
Semua mata orang yang berada di kamar itu satu-persatu memperhatikanku, dengan tatapan tajam. termasuk ibu dan saudara iparku.
*********
“Bu, dokter, saya sudah tak sangguup lagi untuk bercerita, semua yang saya alami benar-benar membuat hati saya sakiit,”
Dokter Melvita terus menguatkan Karin sambil sesekali memeluknya juga mengusap punggungnya.
“Yang sabar ya bu Karin, saya yakin semua nya akan baik-baik aja, jangan terlalu di anggap beban, jika masih ada yang ingin ibu ceritakan lagi silahkan, saya akan mencatat point-pont penting untuk pertimbangan hakim di persidangan nanti,” ujar dokter Melvita panjang lebar.
Disaat obrolan di ruang tunggu penjara antara dokter Melvita dan Karin, tiba-tiba
Hendra datang menghentikan obrolan mereka.
“Kenapa selama ini kamu tidak pernah bercerita padaku mah,” tanya Hendra.
Lalu menghampiri Karin yang masih terdiam mematung di tempat duduknya.
Pertanyaan Hendra pun tak di jawabnya, Karin tetap menutup mulut nya di depan suaminya.
Bahkan sentuhan lembut juga kecupan hangat yang mendarat di rambut dan kening nya, tetap tak menggoyahkan kebisuan Karin.
“Tolong maaf kan aku mah, karena aku tidak peka terhadap apa yang kamu alami selama ini,’’ ujar Hendra.
Sambil berlutut di hadapan istrinya, seraya memegang kedua tangan Karin yang masih duduk terdiam mematung dengan tatapan mata yang yang kosong.
Tapi Karin malah pergi meninggalkan suami nya tersebut, dan berlalu masuk kedalam sel nya lagi, tanpa menengok sedikitpun.
“mamah, maaf kan aku mah, maafkan aku, aku mohon,” pinta Hendra sambil terus memohon dan ingin mengejarnya.
Tapi dokter Melvita mencegahnya.
“sudah pak Hendra biarkan bu Karin menengkan dirinya dulu, kita tidak usah mengganggunya,” ujarnya.
“Tapi bu dokter!!”
“Sudah pak turuti saja saran saya, bu Karin masih sangat terluka hatinya, berikan dia waktu untuk sendiri,” ujar nya lagi.
Kali ini Hendra menuruti saran dari dokter istrinya tersebut, lalu berlalu pergi setelah sebelumnya menitipkan makanan ke petugas penjara untuk Karin.
__ADS_1
Di susul dengan dokter Melvita. Yang uga ikutan pamit dan berjanji besok akan datang kembali kesitu.