
Bab 6.
“Makanan itu masih enak kok dan masih layak di makan. Yang penting kan bukan makan basi. Sudah dimakan saja dari pada kamu lapar,”
Dengan enteng nya mas Hendra mengucapkan kata-kata itu. Tanapa memikirkan perasaanku dia tega menyuruhku makan-makanan sisa. Padahal dia tauhu kalau aku sedang mengandung darah daging nya.
“Mas tega sekali menyuruhku makan -makanan itu. Ingat mas aku ini sedang mengandung anakmu.” aku coba mengingatkan mas Hendra atas kekeliruannya.
“Sudah lah, jangan drama terus masih untung kami semua ingat untuk membawakan makanan untuk kamu. Kalau kami lupa kamu bisa kelaparan .” seloroh Rima ibu mertuaku.
Rupanya mertuaku dari tadi menguping pembicaraan antara aku dan mas Hendra. hingga dengan enteng nya berbicara seperti itu. Disaat mas Hendra sedang menaruh barang-barang nya di kamar kami.
“Tapi bu,makanan itu tak l;ayak di makan oleh ibu yang sedang mengandung seperti saya.” Aku mencoba memberi pengertian pada ibu tentang makanan yang sehat untuk ibu hamil sepertiku.
Tapi kenyataan nya ibu tidak terima beliau malah pura-pura menangis. Ketika Mas Hendra keluar dari kamar.
Ibu mengatakan pada mas Hendra kalau aku membentaknya dan juga memarahinya gara-gara masalah makanan sisa tadi
Hingga terjadi kesalah faham antara aku dan juga mas Hendra. Yang lebh parahnya mas Hendra lebih percay dengan kebohongan yang ibunya buat.
*******
Hari itu berlalu untuk yang ke sekian kali nya aku mengalah lagi. Karena aku berpikir percuma aku membela dirii toh mas Hendra tetap akan lebih percaya pada ibunya..
Tak terasa kehamilan ku sudah memasuki 9 bulan sebentar lagi akan melahirkan anak pertamaku bersama mas Hendra.
Aku mulai mempersiapkan semua keperluan bayiku. Walaupun dengan seadanya, baju-baju bekas anak kak Lasstri terpaksa ku terima, Kasur bayi dan perlengkapan juga dari kak Lastri.
“Papa tolong pulang dulu ya. Perut ku sakit sekali rasanya aku akan melahirkan malam ini .”
Aku mencoba menelpon mas Hendra yang ada dirumah ibunya. Krena dari siang tadi dia memang pamit nya ngin pergi kerumah ibunya. Tapi sampai tengah malam mas Hendra tak kunjung pulang.
“Iya mah, sebentar lagi papa pulang sabar ya .” Sahut Hendra dari seberang telpon.
“Iya, cepat ya pah aku tunggu .” ujarku.
“Ibu, Hendra pulang dulu ya .”pamit Hendra pada ibunya.
“ Kenapa cepat bnget? Emang tadi Siapa yang telepon Hen?” tanya ibu Rima.
“Itu Karin yang telepon katanya prutnyya sakit.” jawab Hendra.
“Apa Karin tak bisa gitu jalan sendiri ke bidan kan deket juga,” ujarnya.
__ADS_1
Memang jarak rumahku dan klinik bersalin hanya berjarak 10 rumah saja.
Tapi bagi ibu hamil seperti ku yang dalam keadaan kontraksi jarak sepuluh rumah sangat lah past akan melelahkan buatkau.
Jadi aku bermaksud mamanggil mas Hendra agar dia mau membantuku.
dalam melahirkan karena ini anak dia juga.
Lima menit berjalan.sepuluh menit berjalan samapai setengah jam berjalan tapi mas Hendra tak kunjung sampai rumah.
Akhirnya aku pun pergi sendiri kerumah bidan. Diguyur deras nya hujan aku berjalan kaki dan dengan menahan rasa sakit yang teramat sangat . Aku terus berjalan tak sampai 10 menit akupun sampai.
“Tok tok, bu bidan tolong saya, aku mengetuk pintu klinik. Tolong saya bu,”
“Ya ampun, bu Karin, kenapa jalan sendiri kemana suami ibu?” Tanya bu bidan.
“Entah bu bidan saya juga tidak tahu. Dimana suami saya.” Sahut ku.
“yah, sudah ayo masuk bu Karin.’”
Bidan memapah ku untuk masuk keruang bersalin. Dengan beberapa kali mengatur nafas.
Aku berhasil melahirkan bayiku yang berjenis kelamin perempuan. Dengan sehat dan sempurna.
Sampai batas aku di perbolehkan pulang baru mas Hendra menjemputku.
Itupun karena dia sekalian ingin memberi kabar penting tentang pekerjaannya padaku.
“Mah hari ini kan mamah sudah boleh pulang. Ayo kita pulang tapi papa sekalian mau pamit.” Ujar mas Hendra.
“Apa, pamit. emang papa mau kemana ?” Tanyaku.
“Papa resind dari kantor.” Sambungnya lagi.
Aku sedikit mengernyitkan dahi mendengar penuturan mas Hendra, aku seolah tak percaya dengan apa yang barusan aku dengar.
“Apa papa resign ,kok bisa?”
“Bisa mah, papa resign bukan tanpa alasan. Tapi karena papa ada tawaran kerja lain yang gaji nya l[ebih besar dari kerjaan yang sekarang.” Imbuhnya.
“Pekerjaan apa itu pah?” Tanyaku penasaran.
“Aku diterima di kantor exfedisi jadi aku akan sering keluar kota untuk urusan pekerjaan .” Jawab nya,
__ADS_1
Aku sangat terkejut mendengar penuturan Mas Hendra. Aku tak habis fikir dengan jalan fikiran nya mas Hendra.
Bisa -bisa nya dia mengambil keputusan itu tanpa meminta pendapatku terlebih dahulu, dan malah mengambil keputusan sendiri.
“Lalu bagaimana dengan aku dan anak kita pah? Kamu kan tau pah kalau aku baru saja melahirkan. Yang tentu nya sangat butuh bantuan orang lain untuk merawat.” Tanyaku panjang lebar.
“Kan ada ibu, tiba-tiba ibu Rima muncul dari balik pintu. Jangan kwatir ya nanti ibu pasti akan bantu. Kamu tenang aja ya.”
Aku tersentak dengan kemunculan ibu mertuaku yang sangat tiba-tiba.
“Nah, itu ibu bersedia membantu kamu mah, jadi kamu jangan galau lagi ya. Aku juga di saat bekerja akan tenang karena kamu dan anak kita ada yang menjaga dan mengurusnya.” Ucap mas Hendra.
Aku hanya menganggukan kepala ku mendengar ucapan mas Hendra walaupun aku tak yakin percaya sama sekali dengan ucapan ibu mertuaku itu. Karena aku tahu bagaimana perangai ibu mertuaku,
Namun untuk memberitahu kan ke mas Hendra sangat lah sulit aku bingung harus memulai dari mana.
“Tapi ya sudahlah aku mencoba berfikir positif saja. Mungkin ibu memang sudah berubah.” ucapku dalam hati.
Siang itu aku pulang dari klinik dan bayiku di gendong oleh ibu.
Sampai rumah aku langsung di antar masuk ke kamar oleh ibu dan juga mas Hendra.
Kebetulan semua kakak nya mas Hendra sudah berkumpul. Menambah keriuhan rumah ku saat itu.
Malam hari bayiku menangis aku mmencoba menyusui nya. Tapi ternyata asi ku belum keluar.
Bayiku menangis sangat kencang saat ku coba membuatkan susu formula untuk sementara,
“Kariiiin, itu bayi mu nangis kenapa tidak kamu susui?” Tiba-tiba ibu datang lalu masuk kekamarku karena mendengar tangisan bayiku.
“Asi saya belum keluar bu, makanya saya akan memberi nya susu formula dudlu untuk sementara.” Ujarku.
“Habis-habisin duit aja bayi mau di kasih susu formula. Udah paksain kasih asimu saja.” perintahnya.
“Tapi bu,saya sudah coba terus tapi tetap saja gagal.”
“Sudahlah bu, gak apa-apa Karin kasih susu formula dulu untuk sementara buat bayi kami. Toh besok-besok pasti asi Karin pasti keluar.”
Aku terkesima mendengar ucapan mas Hendra karena baru kali ini dia membela ku dari awal pernikahan yang dia tahu dan yang dia bela hanya ibu nya,
Tak ada sedikitpun rasa sayang terselip tempat di hatinya. Apa lagi membelaku didepn keluarga nya .Seolah-olah aku merindukan hujan turun dari langit yang tentunya entah kapan.
“
__ADS_1