
BAB 3
Mobil polisi yang ditumpangi Hendra dan Karina.Berjalan beriringan dengan mobil ambulance yang membawa kedua anak mereka.
Tapi sampai di lampu merah kedua mobil itu berpisah.Hendra tetap harus mendampingi Karina sampai kekantor polisi,setelah memastikan kondisinya aman Hendra baru akan mengurus jenasah anak-anaknya.
Setelah setengah jam perjalanan akhirnya sampai juga mereka di sebuah kantor polisi.
Dengan berlahan Hendra membawa dan menuntun Karina memasuki sebuah ruangan tertutup.Yang didalam nya ada penyidik ,polisi wanita dan tentunya dokter
spesialis kejiwaan.
“Kamu baik-baik disini ya mah,tenang dan tidak usah takut.mereka semua orang disini baik-baik kok .”bujuk Hendra.
Sambil memapah Karina untuk duduk di sebuah kursi.Tapi Karina menolak dia lebih memilih duduk di lantai di pojok ruangan.
Karina hanya menjawab dengan gelengan kepala dan exfresi ketakutannya.Sesekali dia membenturkan kepalanya.
“Cukup bu,cukup hentikan yang ibu lakukan.Karena pa yang ibu lakukan tidak akan merubah apapun yang sudah terjadi.Dan juga tidak akan membuat anak -anak ibu hidup kembali .”
“Kenalkan saya dokter Melvita saya yang akan menemani ibu disini.Saya juga yang menjadi teman ibu,saya tahu ibu hanya butuh didengar ibu butuh tempat berkeluh kesah,saya siap bu menjadi pendengar yang baik untuk bu Karina .”ujar dokter Melvita panjang lebar.
Karina yang awalnya masih ketakutan dan masih mencoba menyakiti diri sendiri.
Berlahan mulai tenang dan mencoba menatap dokter tersebut.
Di tatapnya lekat-lekat wajah dokter Melvita dan sejurus kemudian Karinamenghamburkan pelukannya ke tubuh dokter tersebut.
Karina pun menangis sejadi-jadinya di pelukan dokter Melvita.
“Keluarkan semua tangis mu bu Karina.Keluarkan semua agar beban dihatimu bisa lepas satu persatu .”ujar nya sambil sesekali mengelus punggung Karina.
“Saya bukan pembunuh bu dokter,tapi mereka lah yang seorang pembunuh .”ucap Karina masih di dalam pelukan.
Setelah dilihat kalau Karina mulai tenang,Hendra pun pamit dengan semua yang ada disitu.Dia akan mengurus jenasah anak-anaknya dirumah sakit.
Walaupun hatinya hancur berkeping-keping karena harus menerima kenyataan.Kalau anak-anaknya tewas dibunuh ibu kandungnya sendiri yang berarti istrinya juga..
Tapi Hendra tak sanggup untuk marah atau pun membenci Karina istrinya .Dia tak tega melihat kondisi Karina yang juga hancur hatinya menghadapi kenyataan pahit ini.
__ADS_1
Hendra sangat yakin ada suatu alasan yang membuat Karina bisa berbuat nekat dan melakukan perbuatan sekeji itu pada anak-anak mereka..
“Iya saya faham bu Karina ,tapi yang saya belum faham siapa yang ibu maksud dengan kata mereka?”tanya dokter Melvita .
“Mereka menekan saya,mereka bilang saya seorang ibu yang tidak benar,saya tidak becus saya ibu yang ceroboh dan saya tak pantas disebut ibu kata
mereka .”Karina kembali menyeracau dan menyalahkan dirinya sendiri.
“Iya tapi siapa yang ibu sebut mereka itu,tolong dijawab pertanyaan saya bu .”Dokter Melvita mulai kehabisan kesabaran.
Setelah manarik nafas panjang dokter Melvita mulai berpikir mencari cara lain untuk membujuk ibu Karina agar mau bercerita tentang apa sebenarnya yang terjadi.
“Bu Karina usia berapa menikah,dan apakah itu langsung mengandung?”dokter Melvita memulai obrolan untuk mengorek
keterangan dari mulut Karina sendiri..
Karina yang awal nya masih merunduk.
Pelan-pelan mulai mengangkat wajahnya.Menatap lekat wajah seseorang yang bertanya padanya,karena selama dia menikah baru inilah ada yang mengajaknya berbicara selayak nya teman.
“Saya menikah disaat usia saya baru 17 tahun bu dokter,dan 2bulan kemudian saya hamil.”Karina mulai mau berbicara dengan orang lain dengan tenang.
“Lalu apakah ibu bahagia setelah menikah.”tanya dokter Melvita.
Sikapnya pun kembali seperti semula.Ketakutan dan mulai menyeracau lagi.
Bulir bening kali ini menghiasi pipinya. Karina menangis sesenggukan sambil menyebut nama anak-anaknya.
Sejak kejadian tragis tersebut baru ini lah Karina menangis seperti seseorang yang sedang meratapi nasib.
Entah apa yang dia rasakan dan apa yang dia pendam selama ini. Sampai tega berbuat sedemikian rupa dengan darah daging nya sendiri.
“Bercerita lah bu, jika ibu ingin cerita anggap saja saya ini sahabat ibu.Kita bisa sharing sama-sama .”ujar dokter Melvita..
Karina terdiam sejenak lalu membuang pandangan nya ke arah lain.Pelan-pelan dia mulai mau bercerita.
**********************
Hari itu adaah hari yang sangat membahagiakan buatku.Karena disaat itulah hari pernikahan ku dengan Mas Hendra.
__ADS_1
Kami menggelar pesta yang sangat meriah.Saat itu aku merasa menjadi wanita yang sangat beruntung.Betapa tidak aku bisa menikah dengan orang yang sangat aku cintai dan juga mencintaiku.
Mas Hendra adalah seorang laki-laki yang Tampan,gagah dan mempunyai perawakan yang banyak di kagumi para wanita dan dia juga sudah sangat mapan.
Karena pekerjaannya di bidang perbangkan menuntutnya untuk selalu menjaga bentuk tubuhnya.
Setelah menikah aku tinggal di sebuah rumah yang sengaja dibeli mas Hendra sebelum menikah.Rumah itupun sudah dilengkapi dengan perabotan yang sangat lengkap.
Disebelah rumahku berdiri juga rumah orang tua mas Hendra dan juga rumah kakak-kakak nya mas Hendra.
Aku yang saat itu masih sangat polos tidak berpikir yang macam-macam .Aku hanya berpikir senang karena akan ada yang membantu jika aku kerepotan mengurus anak -aanakku nanti.
Tapi ternyata apa yang aku pikirkan sanagt jauh dari apa yang aku alami.
Dua bulan setelah menikah aku mengandung anak pertama kami.Mas Hendra sangat bahagia mendengar berita itu.
Tapi tidak dengan mertuaku.Dia sangat marah mendengar kabar kehamilanku alasan pun sangat tidakk masuk akal.
“Baru aja dua bulan menikah udah buru-buru bnget pengen punya anak .”ucap ibu mertuaku.
“Ini rejeki dari alloh bu,kita tidak bisa menolak nya.”sahutku. memcoba untuk memberi penjelasan.
“Ah,alasan!bilang saja kalau kamu sudah tidak sabar ingin menguasai semua gaji Hendra.Dengan dalih sudah ada anak .”
“Tapi bu,bukan seperti itu .”aku mencoba memberi penjelasan lagi tapi percuma..
bu Rima sepertinya sangat membenciku.Apa yang aku lakukan selalu salah dimatanya.
Belum lagi adik dan kakak nya mas Hendra yang selalu ikut menyalahkan,memojokan dan memfitnahku seperti seperti ibu mereka.
Terkadang mereka juga sering mengangapku sebagai seorang pembantu gratisan..Yang dengan seenaknya bisa mereka suruh-suruh.
Tentunya mereka berani berbuat demikian jika mas Hendra sedang tidak ada dirumah.
Iya mas Hendra adalah anak ketiga dari lima bersaudara.Yang kesemuanya sudah menikah dan mereka tinggal tak jauh dari rumah orang tua mereka termasuk aku dan mas Hendra.
Almarhum bapak mertuaku.Udah membagi rata warisan nya yang berbentuk rumah-rumah semi permanen.
Dan rumah-rumah tersebut berjejer tidak jauh dari rumah mertuaku itu.
__ADS_1
“Karinaaa,,!! cepat kesini .”teriak mertuaku sore itu beliau teriak-teriak sepeti orang kesurupan di depan rumahku.
“Ada apa bu ?”sahutku.