
Bab 12
"Sudah, jika sudah keluar dari rumah sakit mama dan anak-anak tinggal dirumah ibu saja agar Kalian ada yang jaga selama aku pergi," ucap mas Hendra.
Aku terperangah mendengar ucapan mas Hendra.Ibu sangat membenciku mana mungkin aku bisa hidup bersamanya.
“Tidak mas!aku tidak mau tinggal bersama ibu, aku tidak mau merepotkan ibu,” ujarku mencari alasan.
Tentunya aku berbicara seperti itu disaat ibu mertuaku sedang keluar ruangan, jika ibu ada pasti ibu akan berusaha untuk memaksa ku tinggal tentunya dengan suatu maksud.
“Ibu tidak akan merasa direpotkan kok mah!, justru ibu akan senang jika menantu dan cucunya kumpul dirumahnya,” tukasnya.
Tangan lembut mas Hendra menyentuh pipi ku, seakan -akan dia sangat faham apa yang ada di pikiranku.
“Benar apa kata Hendra, ibu tak akan merasa direpotkan, malah ibu sengat senang bisa berkumpul dengan kalian.”
Aku dan mas Hendra sangat terkejut karena tiba-tiba ibu sudah ada di belakang kami yang sedang berbincang.
“Tuh kan apa aku bilang mah, ibu setuju kan,” ucap mas Hendra.
Aku pun hanya menjawab dengan senyuman getir, karena aku sangat faham apa rencana ibu memperboehkan aku tinggal bersama mereka.
Tapi entah kenapa mas Hendra sangat mempercayai semua ucapan ibunya, tak sedikitpun dia memikirkan perasaanku, dan juga pendapatku yang sangat keberatan dengan perintahnya.
Mas Hendra hanya ingin di dengar tanpa mau mendengar.
Ibu mendekat padaku dan tiba-tiba memelukku.
*************
“Kenapa bu Karin menangis? apa yang membuat bu Karin bersedih.”
Dokter Melvita berpindah posisi duduk mendekati pasiennya, mengusap rambutnya dan mengelus bahu nya lalu merangkulnya,
“Saya tidak gila kan dok? seperti yang mereka sering ucapkan kepda saya.”
“Siapa yang bilang kalau bu Karin itu gila?” tanya dokter Melvita.
Tapi yang ditanya hanya menggerakan tangan kanannya, seperti menunjuk ke arah seseorang.
Ketika dokter Melvita mengikuti arah yang ditunjuk, dia tidak menemukan siapa-siapa disana.
“Saya ibu yang baik kan bu dokter? saya bukan ibu yang sakit jiwa seperti yang mereka ucapkan pada saya?”
“Tenang bu Karin tenang, bersama saya ibu akan aman, tidak akan ada yang berani bilang ibu seperti itu,” ucap dokter Melvita dengan lembut.
__ADS_1
Sambil memeluk dengan erat dokter tyeru saja menenangkan Karin yang benar- benar terlihat panik dan juga ketakutan.
Setelah beberapa saat akhirnya Karin kembali tenang, dia duduk kembali ditempat nya berhadap-hadapan dengan dokter tersebut.
“Ini di minum dulu,” ucap dokter sambil menyodorkan minuman kaleng yang sengaja di bawa nya tadi.
Karin meminum minuman yang disodorkan nya tadi seteguk demi steguk di dia meminumnya.
“Bagaimana bu Karin udah agak enakankah?” tanya nya.
Dokter Melvita segera beranjak dari tempat duduknya, memutari meja untuk duduk disamping kliennya.
“Lebih baik kita sudahi pertemuan hari ini, karena saya lihat ibu sedang tidak merasa nyaman dengan pembicaraan kita tadi, lebih baik bu Karin istirahat dulu 3 hari lagi kitya bertemu lagi, oke,” ujar dokter panjang lebar.
Seorang polisi wanita datang menghampiri mereka lalu menggandeng Karin untuk kembali ke sel nya.
Dokter Melvita menatap penuh kasihan terhadap keadaan Karin.
“Sejauh ini giimna keadaan bu Karin dok?”.
Sebuah suara tiba-tiba terdengar sehingga membuat dokter Melvita terkejut.
Lalu mengalih kan pendangan nya ke arah asal suara, yang ternyta itu suara akbp Samuel.
“Saya kira siapa ternyata bapak Samuel,”ucap dokter..
“Keadaan klien saya sepertinya belum stabil pak, jadi dia untuk saat ini belum bisa diperiksa oleh pihak kepolisian. apalagi di introgasi.”
“Pihak kepolisian juga sepertinya harus bersabar sampai pihak tersangka tunggal bisa di mintain keterangan motif pembunuhan tersebut.”
“Saat ini kondisi psikologis masih terganggu, terlalu bnyak tekanan yang dia terima selama ini sehingga membuat jiwa nya sangat terguncang, di tambah lagi efek baby blues yang tidak tertangani dengan baik, menjadi sebuah boom waktu yang kapanpun bisa meledak,” ujar dokter Melvita memberi keterangan panjang lebar.
Pak Samuel hanya diam mendengar kan dengan sexsama apa yang disampaikan.
“Oke kalau begitu bu Dokter, saya akan tunggu sampai tersangka sudah bisa dimintai keterangan untuk mengetahui motif dari pembunuhan yang terjadi,” ucap pak Samuel.
Lalu mereka berdua bergegas keluar ruangan bersama-sama menuju tempat parkir.
Kebetulan mobil mereka berda di parkiran yang sama.
“Bu dokter apakah ada waktu sebentar?” tanya Samuel, sebelum kedua nya masuk kedalam mobil masing-masiing.
“Ada, tapi waktu untuk apa ya pak kalau boleh tahu?”
“Tidak ada apa-pa sih, saya cuma ingiin mengajak bu Dokter ngopi-ngopi aja di cafe depan sana, santai sedikit dari pekerjaan kan bisa rilex,” ajak Samuel dengan ujung jari nya menujuk kearah cafe didepan kantor polisi tersebut.
__ADS_1
"Boleh, boleh kebetulan saya masih ada waktu ½ jam lagi untuk melanjutkan pekerjaan saya," jawabnya dokter Melvita.
Mereka berdua segera beranjak dari tempat parkir disebut menuju Cafe seberang jalan.
Sampai di Cafe mereka memilih tempat duduk di sudut Ujung menghadap ruangan terbuka.
Lalu seorang pelayan menghampiri, mereka dan menyodorkan daftar menu untuk mereka pilih, dan keduanya sepakat hanya memesan coffee latte dan sebuah kue sebagai cemilannya.
Tidak lama kemudian pesanan mereka pun datang, keduanya langsung menyantap dan menyeruput kopi yang sudah di atas meja, sambil mereka melanjutkan obrolan mereka yang tadi sempat tertunda.
" Bagaimana Pak? adakah yang mau Bapak tanyakan lagi tentang tersangka?" Tanya nya.
" Sebelum saya menjawab pertanyaan dari ibu dokter Bolehkah saya meminta sesuatu?" pak Samuel bertanya balik.
"Boleh silahkan," jawabnya.
"Apakah ibu berkenan jika diluar dari pekerjaan Jangan memanggil bapak atau ibu, tapi cukup nama aja."
Dokter melvita tercengang mendengar penuturan Pak Samuel dia tidak menyangka jika Samuel bisa berbicara seperti itu.
Samuel yang seorang pria lajang dan punya kedudukan tinggi di kepolisian, dengan wajah yang sangat tampan, dengan wajah seperti orang korea dia juga tinggi, putih benar-benar idaman para wanita,
Sedangkan dokter Melvita seorang wanita cantik, dengan tubuh sangat profesional, hidung yang mancung putih dan juga tinggi semampai, sangat mirip dengan artis shiren sungkar, membuat para pria yang memandangnya akan terpesona ketika melihatnya walaupun itu baru pertama kali.
"Kenapa harus seperti itu pak?" tanyanya dengan penuh keheranan.
"Hmmm, bagaimana ya saya menjelaskan nya, saya bingung. Tapi intinya ibu bekenankah jika sedang berdua kita cukup memanggil nama masing-masing saja?" Ujar Samuel dengan terbata-bata.
"Saya sih tidak masalah kalau ingin memanggil nama saja, tapi yang saya masih bingung kenapa harus seperti itu apa maksudnya?" tanya dokter Melvita dengan penuh keheranan.
"Tadi pak Samuel bilang ingin melanjutkan obrolan kita tentang tersangka disini terus kenapa permintaannya jadi seperti ini?" Lanjutnya lagi.
"Maaf kan saya bu dokter.saya sudah membuat bu dokter bingung, tapi saya yakin bu dokter pasti mengerti dan faham dengan maksud saya," tukas pak Samuel.
Dokternya melvita semakin kebingungan melihat sikap Samuel yang penuh tanda tanya.
Belum lagi tatapan Pak Samuel pada dokter melvita sangat penuh makna dan seperti mengandung arti.
" Sejak tadi kita bertemu entah kenapa saya seperti merasakan sesuatu dihati. saya pun bingung kenapa bisa seperti ini," ujar pak Samuel.
"Kok malah bapak yang bingung, seharusnya kan saya pak yang bingung,"
Dokter melvita benar-benar sangat polos dia sama sekali tidak mengerti dan paham dengan maksud perkataan dari rekan kerjanya itu.
Mereka berdua saling menatap agak lama mereka saling menatap sampai akhirnya pak Samuel membuang wajahnya dengan cara menunduk dan dokter melvita juga membuang wajah ke arah lain.
__ADS_1