AKU BUKAN SEORANG PEMBUNUH

AKU BUKAN SEORANG PEMBUNUH
TANDA TANYA HENDRA


__ADS_3

Bab 9


Halaman parkir poltabes yang sangat luas di penuhi mobil-mobil polisi yang terparkir, juga mobil para tamu yang akan menjenguk tahanan disana.


Tak terkecuali mobil toyota raz milik dokter Melvita juga terparkir disana.


Saat tangan nya sedang sibuk mengambil sesuatu dari dalam tas nya tiba- tiba suara menyapa nya.


“Dok, apakah kita bisa berbicara sebentar?” 


Hendra menyapa nya dari arah belakang.


Spontan dokter Melvita menoleh.


“Oh pak Hendra, saya kira siapa tadi, apakah ada yang ingin bapak tanyakan tentang istri bapak?” tanyanya.


“Iya dok, saya ingin tahu kondisi istri saya yang sebenarnya saat ini seperti apa,” jawab Hendra.


Dokter Melvita berjalan pelan lalu memutar kesebelah kanan menuju mobil nya, kemudian memencet alarm mobil dan langsung membukanya.


“Silahkan naik pak, kita cari tempat yang enak untuk mengobrol,” ajak dokter Melvita.


Setelah kedua nya masuk kedalam, mobil pun meluncur di jalanan yang padat, menuju sebuah cafe.


Setelah setengah jam perjalanan, akhirnya mereka menemukan sebuah cafe yang lokasinya sangat strategis dan pas untuk mengobrol.


Kedua nya turun dari mobil, lalu menuju sebuah kursi di sudut ruangan, yang tempat nya agak jauh dari pengunjung lain. 


“Silakan duduk pak.”


“Terima kasih bu dokter.” 


Setelah duduk mereka pun memesan minuman pada pelayan, ice lemon tea dan kopi panas.


Sambil menikmati minuman mereka masing-masing mereka pun memulai  obrolan.


“Ada yang bisa saya bantu pak?” tanya dokter Melvita sambil meminum ice nya.


“Iya dok, saya ingin bertanya  keadaan istri saya saat ini pada dokter,” jawab Hendra.


“Apa yang  bapak ingin ketahui dari istri bapak? bukan nya selama ini bapak tidak pernah perduli terhadap bu Kariin.” 


“Maksud bu dokter apa?” tanya Hendra penasaran.

__ADS_1


“Tidak mungkin bapak tidak tahu maksud dari omongan saya tadi,” sahut nya.


Hendra menatap dokter Melvita penuh tanda tanya, entah apa yang dia pikirkan. Sehingga otak nya tidak bisa mencerna apa yang disampaikan padanya.


“Saya benar-benar tidak mengerti apa yang dokter bicarakan,” tukasnya.


Dokter Melvita segera membetulkan posisi duduk nya, juga meminum ice nya sedikit saja sekedar  membasahi kerongkongannya yang kering.


Begitupun Hendra menyeruput kopi panasnya sebelum pembicaraan di mulai.


“Coba bapak ingat -ingat lagi, apa yang bbapak lakukan selama ini pada istri bapak?”ucapnya.


“Saya benar-benar tidak mengerti dengan yang dokter ucapkan, tolong di jelaskan.”


Dokter Melvita menarik nafas panjang, dan menghembuskan nya lagi dengan kasar.


“Baiklah, kalau pak Hendra benar-benar tidak faham apa yang saya maksud, akan saya jelaskan.”


“Keadaan bu Karin saat ini benar-benar sangat memprihatinkan, alam bawah sadarnya masih menolak kalau dia telah membunuh kedua  anak-anaknya. Karena yang ada di pikirannya saat itu adalah ingin membahagiakan kedua anaknya, supaya tidak menderita seperti dirinya,” ucap dokter Melvita panjang lebar.


Hendra yang mendengar  penuturan dokter yang menangani istrinya tersebut, sedikit tercengang.


“Istri saya menderita? apa yang membuatya menderita. Semua kebutuhan nya saya penuhi, dan uang untuk memenuhi kebutuhannya sudah aku titipkan pada ibu saya, yaitu mertua nya,” jawab Hendra.


Dokter Melvita tersenyum tipis, menanggapi jawaban yang di ucapkan Hendra padanya.


“Dan pak Hendra selaku suaminya hanya memihak satu sama lain, bukan malah menjadi penengah di anatara kedua nya.”


“Tidak mungkin!!, ibu saya sangat menyayangi Karin bu dokter dan saya pun sangat mencintai Karin bu dokter,” sahut Hendra dengan keras.


“Tapi itulah kenyataannya, dan itu belum final masih banyak yang belum bu Karin ceritakan pada saya,” ujar dokter Melvita.


“Saya yakin ibu saya tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini, apalagi dituding sebagai penyebab Karin melakukan aksi pembunuhan tersebut.”


Dokter Melvita memundurkan kursinya lalu bergerak berdiri sambil menenteng tas nya.Sebelum pergi dia ber ujar


“Begini saja pak Hendra, saya rasa pembicaraan kita ini tidak akan menemukan titik terang dan akan sia-sia, jika pak Hendra sendiri belum mencari tahu apa yang sudah di lakukan pada ibunya pak Hendra  pada bu Karin.”


“Nanti kalau pak Hendra sudah menemukan jawabannya, silahkan temui saya kantor ini.”


Dokter Melvita segera beranjak pergi setelah menyerahkan sebuah kartu nama pada suami kliennya tersebut.


“Oke, pak Hendra saya pergi dulu ya,” ujar dokter Mevita sambil berlalu pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Hendra menatap kepergian dokter Melvita dengan penuh tanda tanya. Apakah benar apa yang terjadi dengan Karin istrinya ada sangkut paut dengan ibu nya.


Setelah mobil Dokter Melvita berlalu pergi, Hendra pun juga pergi menuju rumah ibunya untuk menanyakan apa yang menjadi tanda tanya di pikirann nya saat ini.


***************"


“Selamat pagi bu Karin, gimana kabar ibu hari ini?” tanya dokter Melvita.


Pukul 10 pagi dokter Melvita sudah berada di kantor polisi untuk menjalan kan tugas tugasnya mendampingi Karin, demi mengungkap misteri pembunuhan  yang di lakukan Karin terhadap anak-anaknya.


“Kabarku baik bu dokter,” Jawab Karin.


Tatapan mata nya kosong menatap dinding ruang tunggu penjara, sesekali netra nya melirik dokter cantik tersebut.


“Bu Karin apakah ibu sudah siap untuk kita ngobrol selayak nya teman dengan saya?”


tanya dokter Melvita dengan lemah le,but.


Sesekali tangannya mengelus bahu Karin yang tampak berwajah murung.


“Galih, Syasa dimana kamu nak?” ujar Karin yang tiba-tiba menangis memanggil nama anak-anak nya.


Dokter Melvita sampai terkejut mendengar nya, bu Karin rindu ya pada Galih dan Syasa?” tanya dokter Melvita.


Karin mengangguk tanda membenarkan kalau dia memang benar-benar merindukan anak nya.


“Iya bu dokter saya ingin sekali menemui mereka di tempat nya yang baru, tempat yang saya pilih kan untuk mereka agar mereka bahagia.Dan tidak hidup sengsara bersama saya, seorang  ibu yang tidak becus merawat mereka seperti yang sering oramg-orang bilang terhadap saya,” jawab Karin pajang lebar.


Kali ini air matanya tak dapat di bendung lagi bulir bening itu mengalir deras di pipi indahnya, serasa  sesak didada nya ingin membuncah. Meledakan segala kegundahan hatinya yang  selama ini mungkin terpendam.


“Keluarkan semua apa yang ingin bu Karin luapkan, anggap aja disini hanaya ada kita berdua abaikan polisi-polisi yang berjaga disini.”


Wajah  Karin menengadah ke atas mata nya mulai menerawang jauh ketika anak-anaknya masih hidup.


*********


Sepulang dari rumah sakit, aku harus mengurus kedua anakku sendirian.


Syasa yang baru berusia 2 tahun dan Galih yang baru lahir.


Aku mengurus mereka sendirian tanapa bantuan siapapun, Hendra suamiku orang satu-satunya yang ku harapkan bisa membantu, nyatanya jauh dari anganku.


Dia sangat sibuk bekerja dan terlalu sering pergi-pergi keluar kota untuk mengantarkan barang pesanan.

__ADS_1


“Pah, apa tidak seharusnya papa cari pekerjaan disini saja agar kita bisa sering bertemu dan papa juga bisa membantuku merawat kedua anak kita,” ujarku suatu hari itu.


Tapi jawaban yang ku dengar sungguh membuatku sakit hati dan tak percaya suamiku bisa berkata demikian.


__ADS_2