
BAB 2
Sebuah mobil minibus berwarna hitam berjenis avanza dengan plat surabaya.
berhenti tepat didepan rumah tersebut.
Saat pintu mobil terbuka turun lah seorang pria dengan perawakan tegap dengan tinggi
172cm.Turun sangat tergesa-gesa sekali.
Memasuki rumah bercat dinding putih tersebut.
Netra tajamnya menatap sekeliling seperti mencari seseorang.
Dengan setengah berlari menghambur masuk kedalam rumah.Iya dia pak Hendra yang baru pulang dari surabaya.
“ibu, apa yang terjadi ?”tanya Hendra pada ibunya.
“Ibu juga tidak tahu.Ketika ibu datang sudah seperti ini kejadian nya.”ujarnya.
“Coba kamu tanyakan pada istrimu itu.
Karena dia lah yang menyebabkan semua ini terjadi .”lanjutnya lagi.
“Anak-anakku mana bu,anak-anakku mana ?”tanya Hendra seperti anak kecil yang mencari mainannya.
Tangisnya pun pecah di pelukan ibunya.
“Sabar ya pak Hendra yang sabar anak-anak bapak masih ada di dalam .”sahut salah seorang warga.
Seraya memeluk dan mengelus punggung pak Hendra agar tetap tenang.
Hendra di ajak masuk oleh pak Guntur.
Dan di antarkan ke kamar dimana jenazah Galih masih ada diatas tempat tidur.
Karena pihak kepolisian belum datang jadi satupun warga tak ada yang berani menyentuh atau pun mendekati tempat kejadian perkara.
Dengan berlahan penutup kain jenazah dibuka.Betapa terkejutnya Hendra menatap putranya yang sangat dia sayangi sudah terbujur kaku meninggal secara tragis ditangan ibunya sendiri.
“Galiiih,Kenapa kamu jadi begini ?maafkan ayah yang tidak bisa menjaga mu disaat-saat terakhirmu .”
Bulir bening tak dapat dibendung lagi Hendra menangis sejadi-jadinya.Betapa tidak anak yang dia sangat sayangi dan dia perjuangkan masa depan nya harus berakhir seperti ini.
“huhuhuhuhu ,Galiiiih.jangan tinggalkan ayah.”
Hendra tanpa malu-malu lagi dengan orang-orang yang masih berkumpul.
Dia menangis sesenggukan di hadapan jenasah anak nya.
"Syasa mana Syasa?dimana Syasa."tanya nya lagi sembari mata nya melihat kesana kemari.
__ADS_1
"Sabar ya pak. Syasa masih ada di dapur kami tidak berani menyentuh nya sebelum polisi datang."sahut pak Guntur.
Hendra pun berlari seperti orang kesetanan.Tak perduli jalan nya terhalang sesuatu dia tetap berlari.
Sesampainya di pintu dapur seketika tubuh Hendra diam tak bergeming.Matanya menatap tajam pada sosok anak kecil yang tertelungkup penuh darah di lantai.
Lama-lama tatapan itu berubah menjadi kesedihan yang sangat mendalam.Tangis Hendra pecah kembali ketika berlahan dia mendekati sosok anak kecil yang terbujur kaku tertutupi kain panjang.
Kain pun berlahan di buka.Dan membuat semua orang yang berada disitu ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Hendra.
"Syasaaa…!! Maafin ayah nak ."Hendra memeluk erat tubuh Syasa dan hendak mengangkatnya untuk membawa kerumah sakit.
Tapi semua itu di larang oleh pak rt. Juga beberapa orang yang berada di lokasi.
Netra tajam Hendra beralih ke pojok ruangan tersebut.Menatap sang istri yang masih dalam keadaaan ketakutan.
Wajah nya yang masih penuh dengan cipratan darah segar anak-anaknya.Begitupun pakaian Karina sungguh siapapun merasa iba jika melihatnya.
Tapi tidak hal nya dengan sang suami Hendra.Pelan-pelan dia menghampiri masih dengan tatapan tajamnya.
Hendra berupaya ingin mendekati berharap penjelasan dari Karina.
"Mah,kenapa kamu lakukan ini mah? Kenapa kamu bunuh anak-anak kita?"
Ratap Hendra.
Dia berlutut di hadapan Karina dengan matanya yang berkaca-kaca.Seakan-akan
memohon penjelasan.
Sorot mata Karina menyiratkan sebuah ketakutan yang penuh dengan tanda tanya.
Kegelisan Karina tak dapat disembunyikan.ketakutan nya menjadi tanda tanya siapakah yang di maksud mereka oleh Karina.
“Mereka itu siapa,Dan apa maksud dari ucapanmu.mah,” ucapnya.
“Aku yang salah.Aku juga yang sangat ceroboh.Aku juga gak becus jadi ibu.”Racaunya sembari membenturkan kepalanya ke dinding.
Kini kondisi Karina benar-benar memprihatinkan.Karina seperti dalam tekanan batin yang sangat hebat.
“Mah.mah, sudah mah sudah.Berhenti stop jangan kamu benturkan lagi kepalamu.”
ujar Hendra dengan bergegas meraih tubuh Karina untuk menenangkannya.
Kini keduanya berpelukan untuk saling menguatkan.
Kemarahan yang sudah hampir meledak yang akan lakukan Hendra ke istrnya kini sirna karena melihat kondisi Karina yang sangat hancur menghadapi persoalan berat ini.
Dengan berlahan Hendra memapah istrnya untuk duduk di atas kursi agar istrinya sedkit lebih tenang.Itulah yang ada di benak Hendra.
“Tidak.tidak,”Karina kembali histeris.
__ADS_1
“ bukan aku.bukan aku.”Dia melepaskn tangan Hendra yang sedari tadi memapahnya.
Masih dengan penuh ketakutan Karina berlari menuju pintu keluar.Namun berhasil digagalkan oleh bapak-bapak yang sedang duduk di teras rumah.
“mah,ada apa denganmu mah?
tolong cerita kan.tolong jangan membuat aku bertanya -tanya .”pinta Hendra.
Dengan tangaan kekarnya Hendra terus memeluk Karina denngan sesekali telapak tangan dan jari jemarinya meraih wajah Karina untuk dihadapkan kewajahnya sendiri.
“Tenang ya mah,tenang. lihat wajah ku dan percayalah kalau aku akan tetap setia dan sayaang padamu.walau apapun yang akan terjadi.
“Ninu.ninu.ninu .”
Suara sirine ambulance memecah keheningan dan berlahan tapi pasti suara ambulance semakin terdengar jelas.Saling bersahutan dengan suara sirine mobil kepolisian.
Tidak sampai 10 menit kedua mobil itu sampai juga di depan rumah semi permanen tersebut.
“Permisi pak,apa boleh kami masuk kedalam ?” Ujar salah seorang anggota polisi yang berpangkat AKBP.
“Silahkan pak.”sahut Hendra yang buru-buru bergeser dari pintu.
“Silahkan masuk cari saja apa yang kalian mau cari.tapi aku minta, tolong pelan-pelan karena mereka tidak suka dikasari.” Tukasnya.
Pihak kepoisian dan ambulance bergegas masuk kedalam untuk olah tempat kejadian perkara.Dan petugas rumah sakit juga ikut masuk kedalam untuk meng evakuasi para korban.
Satu-satu para korban di masukan ke dalam kantong jenazah. Diiringi dengan tatapan ngeri orang-orang yang menyaksikan dan juga para tetangga.Jenasah yang pertama diangkat Galih karena dia berada di kamar depan. Dan yang kedua Syasa yang berada di dapur.
Selesai olah tempat kejadian perkara pihak kepolisian berniat ingin membawa pelaku sekaligus saksi untuk di mintai keterangan.Tapi sayang upaya polisi mendapat perlawanan.
Karina tiba-tiba kembali histeris ketakutan hingga menangis tersedu-sedu.Juga melempar barang-barang yang ada didekat nya sambil menyeracau.
"Jangan,jangan!! Aku bukan seorang pembunuh. Mereka yang membunuh anak-anak ku.Mereka yang menginginkan aku dan anak-anakku pergi dari sini ."Ucapnya.
Hendra pun tak tinggal diam dia terus berusaha untuk menenangkan Karina agar mau di bawa ke kantor polisi.
Sekaligus dia juga penasaran apa maksud kata-kata istrinya itu.
"Tenang mah,tenang ya!! Iya mamah bukan pembunuh papa percaya kok.Sekarang mamah tenang ya tenang ." Bujuk Hendra.
Akhirnya dengan upaya yang melelahkan.Pihak kepolisian berhasil juga membawa Karina.Tapi di iringi oleh Hendra suaminya.Juga dengan perjanjian Karina akan di dampingi oleh pengacara dan pihak-pihak terkait terutama psikolog
Atau dokter ahli kejiwaan.
"Huuuuuuuuuuuu,dasar pembunuh!!"
Teriakan para warga terutama ibu-ibu menggema memekakan telinga.Ketika melihat Karina berjalan menuju mobil polisi di dampingi suaminya.
Hendra memeluk sangat erat hingga Karina bisa kuat menghadapi teriakan demi teriakan dan cemooh para tetangga.
Yang terus saja berteriak.Mencemooh.Dan berteriak.
__ADS_1
Ibu mertua Karina hanya menatap kepergian mereka dengan tatapan sinis
Dan juga penuh dengan kebencian.