
Satu minggu berlalu dan kondisi Mayra pun sudah mulai berangsur membaik begitu pun dengan bayi yang dilahirkan oleh Manda.
Berat badan nya sudah mulai bertambah namun masih belum bisa dibawa pulang karena takut masih belum siap untuk dibawa keluar ruangan itu.
Sementara Manda sendiri masih setia dengan tidur panjang nya dan karena itu,operasi yang dijadwalkan satu minggu usai melahirkan pun urung dilakukan karena terlalu beresiko.
Selain karena telah mengalami pendarahan hebat,kondisi Manda yang kian hari kian menurun pun menjadi alasan kenapa operasi pengangkatan tumor di otaknya belum bisa dilaksanakan.
"Mas,bisa antar aku keruangan Manda?aku ingin menjenguknya,"tanya Mayra saat Ilyas datang untuk giliran menemani dirinya.
"Sayang,lebih baik nanti saja ya.Setelah kamu pulih benar baru kesana,"
"Tapi Mas,aku ingin melihat keadaan nya,lagi pula,aku sudah jauh lebih baik,"
"Baiklah,jika kamu merasa kamu sudah lebih baik Mas antar kesana.Tapi jangan lama lama ya,ingat kamu masih harus banyak istirahat,"
"Iya sayang,terima kasih,"
Ilyas pun meraih kursi roda yang biasa dipakai oleh Mayra untuk sekedar menghirup udara segar atau berjemur dipagi hari.
Dengan dibantu oleh suaminya,Mayra pun akhirnya bisa melihat keadaan Manda setelah satu minggu berlalu dari kejadian dimana dirinya dan madunya itu menjadi korban tablak lari.
"Permisi suster,maaf istri saya mau melihat keadaan pasien,"ijin Ilyas pada suster jaga yang tengah memeriksa keadaan ibu muda itu.
__ADS_1
"Oh silahkan Pak,tapi mohon maaf sebelum nya Ya.Kalau bisa jangan terlalu lama ya Bu,Pak,takutnya berpengaruh pada kondisi Ibunya yang belum pulih sepenuhnya."jawab suster itu sedikit memberi saran pada Mayra yang memang masih dalam tahap pemulihan.
"Baik suster,saya hanya sebentar kok.Hanya mau lihat keadaan nya saja,"
"Baik kalau begitu,silahkan Bu,"
Mayra pun semakin mendekati tubuh Manda yang terbaring di atas brangkar dengan mata yang tertutup rapat.
Beberapa alat bantu pernafasan terpasang dibeberapa bagian tubuhnya dan itu semakin membuat Mayra semakin sedih dan merasa bersalah.
"Dek,bagaimana kabarmu?ini Mbak datang,ayo bangun Dek,anak kita sudah lahir.Dia membutuhkan kamu Dek,ayo bangun,"lirih Mayra tidak bisa lagi menahan air mata dan isak tangisnya saat mengingat bayi mungil yang sampai detik ini belum menerima ASI dari wanita yang melahirkan nya.
Ilyas pun mendekat lalu mendekap erat tubuh Mayra yang bergetar karena menangis melihat kondisi madunya yang memprihatinkan.
Dia bahkan rela merendahkan harga dirinya sebagai seorang wanita dan rela menjadi istri kedua dari pria itu.
Namun apa yang dilakukan Manda tidak serta merta membuat Ilyas luluh.Pria itu begitu keras kepala dan berpendirian teguh.
Setelah semua yang terjadi dan semua yang dilakukan Manda tidak juga membuatnya jatuh cinta pada wanita yang sudah melahirkan anak kedua untuknya.
Bahkan sampai detik ini,Ilyas masih enggan memanggil bayi mungil itu anaknya karena masih belum ada jejelasan dari hasik tes DNA yang dilakukan oleh Ilyas beberapa waktu yang lalu.
"Mas,,,"lirih Mayra setelah keduanya keluar dari ruangan dimana Manda berada.
__ADS_1
"Iya,apa sayang?apa ada yang kamu inginkan?"
"Aku ingin melihat bayinya,"
"Boleh,tapi apa kamu tidak lelah?"
"Tidak Mas,kan dari tadi aku hanya duduk.Kamu yang cape dorong kursi roda aku,"
"Baiklah,sekarang kita kesana ya?"
Ilyas pun mulai mendorong kursi roda Mayra menuju ke arah ruangan nicu,dimana anak dari Manda berada dan dirawat disana.
Keadaan nya sudah mulai membaik namun masih dalam peninjauan dokter anak.Maka dari itu,bayi mungil itu belum diperbolehkan untuk keluar ruangan dan belum bisa dibawa pulang.
"Assalamu'alaikum sayang,apa kabar kamu Nak?ini Umma sayang,hai cantik,kamu mirip sekali sama Abi mu Nak,"cicit Mayra saat sudah ada didepan sebuah inkubator yang berisi putri yang dilahirkan oleh Manda
Ilyas sendiri hanya diam terpaku menatap bayi mungil yang wajah nya begitu mirip dengan dirinya.
"Siapa nama nya Mas?disini belum ada nama nya?"tanya Mayra saat melihat indetitas yang tertera di depan box inkubator itu hanya tertera nama sang Ibu Manda Selvia.Sementara nama bayi nya masih kosong.
"Belum sayang,aku gatau harus memberikan nya nama apa?aku nggak tahu,dulu saja saat Ilham lahir, Abah yang memberikan nama."jelas Ilyas yang membuat Mayra berdecak tak percaya.
Sulit dipercaya,jika seorang pengusaha sukses dan calon penerus pondok tidak bisa memberikan nama untuk anaknya sendiri.
__ADS_1