
Jantungku rasanya berhenti brdetak saat rumah kami kedatangan seorang gadis cantik yang begitu cantik namun dalam keadaan hamil.
Perasaan ku sudah tidak karuan saat dia datang dan menanyakan keberadaan Mas ILyas dan ingin bicara dengan ku tentang mereka.
"Tentang mereka?maksudhnya apa?ada memang dengan mereka?" benak ku bertanya tanya namun belum sempat aku bertanya pada suami ku,gadis itu sudah lebih dulu menjelaskan nya.
"Aku hamil,dan anak ini adalah anak dari Bapak ILyas," jelasnya.
Duaaarrrrr...
Bagai tersambar petir disiang hari,dunia ku seketika terasa runtuh saat gadis itu menyatakan jika dirinya hamil oleh suamiku.
"Tidak,tidak mungkin," gumam ku dalam hati.
Entaha mengapa,hari itu suaraku mendadak tidak bisa keluar.Begitu banyak pertanyaan yang ingin aku layang kan pada mereka berdua.
__ADS_1
Namun Allah sepertinya menahan agar aku tidak terbawa hawa nafsu dan berakhir dengan sebuah kemarahan yang mungkin akan aku sesali nantinya.
Diam,hanya diam yang bisa aku lakukan sambil melihat bagaimana marahnya Abah Yusril dan betapa sedih nya Ummi Aida hingga kamu berdua hanya bisa saling berpegangan tangan demi saling menguatkan.
Kami memang tidak pernah melarang adanya poligami.Namun,Abah Yusril adalah pria yang memilih untuk tidak melakukan nya.
Karena Abah Yusril masih merasa jika dirinya belum sanggup berlaku adil dan tentu saja hal itu akan menyakiti salah satu istrinya kelak jika dia melakukan poligami.
Abah Yusril juga tidak pernah melarang anak anaknya untuk poligami,namun itu semua harus berdasarkan ijin dan restu dari istri pertama.
Yang jelas hal itu membuat Abah Yusril marah semarah marahnya.Bahkan Abah Yusril sampai menampar Mas Ilyas.
Dan aku,aku hanya bisa diam membeku sembari menatapa gadis itu dengan rasa sakit yang teramat dalam menoreh hatiku.
"Ya Allah,inikah yang dirasakan oleh Kak Maysa saat aku bermain api dengan suaminya?inikah hukum alam yang engkau berikan agar aku tahu bagaimana perasaan istri yang suaminya bermain api dibelakang nya?ya Allah,ampuni segala dosa dosaku dimasa lalu.Sungguh,aku berserah diri padamu." lirihku lagi,masih didalam hati.
__ADS_1
Bahkan sampai gadis itu pergi,aku masih belum bisa mengeluarkan suaraku dan menyerukan kesakitanku pada pria yang sudah 10 tahun ini menjadi suamiku.
Namun entah kenapa suara ku tiba tiba keluar dan begitu lantangnya berkata,agar Mas Ilyas menikahi gadis itu saat Mas Ilyas terus menolak berganggung jawab padanya dan juga pada janin itu.
"Nikahi dia Mas,aku ikhlas."ucapku dengan lantangnya.
Padahal aku sendiri masih belum tahu,apa aku siap berbagi?apa aku siap menerima wanita lain dalam rumah tangga kami?sungguh aku belum tahu.
Namun,janin itu butuh pertanggung jawaban orang orang yang sudah menghadirkan nya.Yang bersalah adalah orang tuanya bukan janin itu.Janin itu layak mendapatkan pengakuan dan pertanggung jawaban.
Mendengar ucapanku,Mas Ilyas datang menghampiriku dan duduk bersimpuh didepan ku.Wajahnya tampak basah oleh air mata dan pipinya memerah akibat tamparan yang diberikan oleh Abah Yusril.
"Tapi sayang,Mas sungguh tidak merasa jika Mas sudah menyentuhnya.Mana mungkin Mas bertanggung jawab disaat ingat melakukan hal itu saja tidak."jawab Mas ILyas yang kini sudah duduk bersimpuh didepan ku.
"Tapi anak itu butuh pertanggung jawabanmu Mas,terleps Mas ingat atau tidak,anak itu kini hadir di antara kalian.Nikahi dia Mas,aku ikhlas berbagi suami dengan nya."jawabku menahan sesak didada.
__ADS_1